Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PENGARUH KEGIATAN EKSTRAKULIKULER PRAMUKA TERHADAP KECAKAPAN HIDUP SOSIAL Ayu Yulianti; Adang Danial; Syaefuddin Syaefuddin; Ahmad Hamdan
Jendela PLS: Jurnal Cendekiawan Ilmiah Pendidikan Luar Sekolah Vol 4, No 2 (2019): JENDELA PLS
Publisher : Jurusan Pendidikan Masyarakat Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.346 KB) | DOI: 10.37058/jpls.v4i2.1600

Abstract

Pembentukan kepribadian generasi muda memiliki peran yang penting untuk mempersiapkan generani muda yamg unggul, salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk membentuk karakter para pemuda yaitu ekstrakulikuler pramuka. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data mengenai pengaruh ekstrakulikuler pramuka terhadap kecakapan hidup sosial peserta didik di SMA N 5 Kota Tasikmalaya. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 62 orang peserta didik yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler pramuka di SMA N 5 Kota Tasikmalaya. Hasil pengolahan dan analisis data diperoleh variable kegiatan ekstrakulikuler pramuka berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecakapan hidup sosial peserta didik. Hasil analisis data dari variable y yaitu sebanyak 7 indikator, dan terdapat 5 indikator yang dominan atau korelasinya kuat dan 2 indikator yang tidak dominan yaitu kepedulian dan berpartisipasi. Hasil koefisien korelasi (R2) sebesar 0,682. Nilai t hitung sebesar 11,340, t table 1,617 dan signidikasi 0,033. Karena nilai t hitung 11,340 t table 1,617 dan signifikan 0,033 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya berarti hipotesis penelitian di terima. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara ekstrakulikuler pramuka terhadap kecakapan hidup sosial peserta didik di SMA N 5 Kota Tasikmalaya dan kontribusi pengaruh ekstrakulikuler pramuka sebesar 68,4 terhadap kecakapan hidup sosial tergolong kuat. Sedangkan 31,8% dipengaruhi indikator dari variable Y yang tidak dominan yaitu kepedulian dan berpartisipasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa kegiatan ekstrakulikuler pramuka berpengaruh terhadap kecakapan hidup sosial.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI KERAJINAN KAIN TENUN SUTRA BERMOTIF KEARIFAN LOKAL Winwin Amelia; Syaefuddin Syaefuddin; Lesi Oktiwanti; Ahmad Hamdan
Jendela PLS: Jurnal Cendekiawan Ilmiah Pendidikan Luar Sekolah Vol 4, No 2 (2019): JENDELA PLS
Publisher : Jurusan Pendidikan Masyarakat Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.541 KB) | DOI: 10.37058/jpls.v4i2.1605

Abstract

Pengembangan Desa wisata Sukajaya perlu didukung oleh partisipasi masyarakat dalam mengenalkan produk ciri khasnya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan desa wisata melalui kain tenun sutra bermotif kearifan lokal di Desa Wisata Sukajaya Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Jenis pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu melalui Observasi, Wawancara dan Dokumentasi. Sumber data didapatkan dari Pengelola Desa Wisata, masyarakat Kelurahan Sukajaya dan pengrajin kain tenun. Teknik pengambilan data penulis menggunakan teknik purposive sampling. Teknik analisis data yang dipilih adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam pengembangan desa wisata dilakukannya sebuah pemberdayaan masyarakat yang ditunjukan dengan ikut berpartisipasi dalam pengelolaan aspek Desa Wisata Sukajaya dan mengikuti kegiatan pelatihan sebagai usaha untuk memberikan keterampilan bagi masyarakat agar dapat terjun ke dunia pertenunan. Ciri khas yang membedakan kain tenun sutra dari Desa Wisata Sukajaya dengan yang lain terletak pada motifnya. Kain tenun sutra dari Desa Wisata Sukajaya memiliki motif bunga yang berukuran cukup besar yang dinamakan dengan motif bunga puspa. Motif bunga pada kain tenun sutra yang mempunyai filosofi keindahan alam Kabupaten Garut. Kain tenun sutra bisa menjadi produk ciri khas Desa wisata Sukajaya yang mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Desa Wisata dan membeli hasil kain tenun sutra sehingga Desa Wisata Sukajaya menjadi lebih berkembang menjadi lebih baik.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI BUDIDAYA IKAN LELE Mutiara Santi; Adang Danial; Ahmad Hamdan; Lilis Karwati
Jendela PLS: Jurnal Cendekiawan Ilmiah Pendidikan Luar Sekolah Vol 4, No 1 (2019): JENDELA PLS
Publisher : Jurusan Pendidikan Masyarakat Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.612 KB) | DOI: 10.37058/jpls.v4i1.1596

Abstract

Pemberdayaan merupakan upaya untuk membantu orang lain agar memiliki kekuatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah atau swasta untuk memberdayakan masyarakat, bahkan tidak sedikit pula masyarakat yang memiliki inisiatif sendiri untuk memberdayakan lingkungannya, salah satunya melalui program P2KK GEMA MADANI yang dilakukan oleh kelurahan Purbaratu Kota Tasikmalaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan budidaya ikan lele di kelompok subur makmur Kelurahan Purbaratu Kecamatan Purbaratu Kota Tasikmalaya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah proses pemberdayaan masyarakat melalui kegaitan budidaya ikan lele di kelompok subur Makmur ini menggunakan strategi 5P, pertama pemungkinan yaitu menciptakan iklim agar masyarakat dapat meningkatkan potensinya secara optimal melalui pemanfaatan pekarangan rumah yang dapat digunakan untuk budidaya ikan lele sebagai peluang usaha. Kedua, penguatan yaitu memperkuat pengetahuan dan kemampuan masyarakat melalui pelatihan budidaya ikan lele yang diberikan oleh TPK GEMA MADANI-SIMPATI. Ketiga, perlindungan yaitu pemerintah berperan melindungi masyarakat menghadapi persaingan usaha. Keempat, penyokongan yaitu pemerintah kelurahan memberikan dorongan, arahan dan pengawasan kepada masyarakat yang termasuk dalam kelompok usaha budidaya ikan lele. Kelima, pemeliharaan yaitu komunikasi antar anggota kelompok, pengurus dan pemerintah agar masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraannya.
Community Synergy In Alternative Education Movements Through Home Schooling In The New Normal Era Ana Lusiana; Mitri Sopiatun; Cici Fauziah; Ahmad Hamdan
Pancaran Pendidikan Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : The Faculty of Teacher Training and Education The University of Jember Jember, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.187 KB) | DOI: 10.25037/pancaran.v10i1.283

Abstract

The current education process is hampered by the existence of the Covid-19 pandemic which requires education to be carried out online at home to cut the spread of the virus which will harm children, educators and education personnel. To anticipate this the need for community synergy to jointly find alternative movement solutions for education through home schools to optimize education in the new normal era. The purpose of this study was to determine the application of community synergy in the alternative movement of education through home schools. In the application process parents will not be burdened by the learning process of their children while at home because it will synergize with the teacher or tutor and also students as those who help in the application of the learning model of blended learning. The research method used is a descriptive qualitative approach. Data collection techniques through literature review / literature review. The results of this research are clearly seen how the community synergy will take place without walking between parents and teachers, because in essence education is our shared responsibility.
MENTORING CHILDREN TO LEARN AT HOME IN DISTANCE LEARNING DURNG THE COVID-19 PANDEMIC IN TASIKMALAYA CITY Lilis Karwati; Ahmad Hamdan
Empowerment : Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Luar Sekolah Vol 11, No 2 (2022): September 2022
Publisher : IKIP Siliwangi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/empowerment.v11i2.3124

Abstract

Learning activities during the pandemic are carried out online at home, of course it is the responsibility of the family, especially parents, to accompany the child during home study. Parents should be prepared to accompany and guide their children learning from home. People play a role in accompanying and guiding children during online learning, parents must also understand the applications used during online learning.  This research is qualitative phenomenology research, it aims to analyze children's learning assistance during distance learning during the Covid-19 pandemic in Tasikmalaya City. The data collection techniques used in this study are interviews, observations and documentation. The subjects of this study were parents of children who did online learning. The results showed that during the pandemic almost the entire primary school (SD) in Tasikmalaya city learning was conducted online. Learning carried out online has several problems, namely the limitations of teachers in delivering materials that make the child do not understand the material in its entirety, parents should increase the cost of spending on internet costs during online learning. Learning at home accompanied by parents makes the child closer to the parents, the child feels safe and comfortable being close to the parents so that the child becomes more confident.
PENGARUH STIGMA LULUSAN PENDIDIKAN KESETARAAN TERHADAP KEPUTUSAN REKRUTMEN DI DUNIA KERJA Bayu Adi Laksono; Ahmad Hamdan; Muhammad Rafli Alviansyah
Comm-Edu (Community Education Journal) Vol 6, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : IKIP Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/comm-edu.v6i2.17099

Abstract

The purpose of this study was to determine the stigma of Equality Education graduates from the employer's point of view and its impact on their decision to accept prospective workers from Equality Education graduates. Equality education is known as a flexible education system that is not limited by age, time, or learning methods. The flexibility of the learning system is considered by the community that equality education is a place to get a diploma with the easy way. On the other hand, in the world of work, competencies are needed that must be possessed by job applicants. One of these competencies is generated from the learning process in the scope of formal and non-formal education. Employers in deciding to accept a worker certainly have considerations, one of which is of course the stigma that is formed in society. This research method uses a quantitative approach with a survey method involving 100 employers (HRD/Personnel/Business Owners) in Tasikmalaya City. Collecting data using a questionnaire and deepened by interviews. Data analysis with descriptive approach and simple linear regression analysis using statistical software version 23.0 for windows. The results showed that the stigma of equality education graduates had a positive but not significant effect on job acceptance decisions.
PENGARUH STIGMA LULUSAN PENDIDIKAN KESETARAAN TERHADAP KEPUTUSAN REKRUTMEN DI DUNIA KERJA Bayu Adi Laksono; Ahmad Hamdan; Muhammad Rafli Alviansyah
Comm-Edu (Community Education Journal) Vol 6, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : IKIP Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/comm-edu.v6i2.17099

Abstract

The purpose of this study was to determine the stigma of Equality Education graduates from the employer's point of view and its impact on their decision to accept prospective workers from Equality Education graduates. Equality education is known as a flexible education system that is not limited by age, time, or learning methods. The flexibility of the learning system is considered by the community that equality education is a place to get a diploma with the easy way. On the other hand, in the world of work, competencies are needed that must be possessed by job applicants. One of these competencies is generated from the learning process in the scope of formal and non-formal education. Employers in deciding to accept a worker certainly have considerations, one of which is of course the stigma that is formed in society. This research method uses a quantitative approach with a survey method involving 100 employers (HRD/Personnel/Business Owners) in Tasikmalaya City. Collecting data using a questionnaire and deepened by interviews. Data analysis with descriptive approach and simple linear regression analysis using statistical software version 23.0 for windows. The results showed that the stigma of equality education graduates had a positive but not significant effect on job acceptance decisions.
Edukasi Keagamaan Melalui Program Fast and Trend dalam Upaya Pemberdayaan Pemuda di Kota Tasikmalaya Saeful Karim Zaelani; Andini Aini Sukma; Mega Silpia Agustin; Deni Rizky Supriatna; Amilia Ze; Ahmad Hamdan
Inovasi Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 2 (2023): IJPM - Agustus 2023
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/ijpm.110

Abstract

Secara umum, jumlah jam pelajaran agama di sekolah formal rata-rata hanya dua jam perminggu. Dua jam perminggu merupakan waktu yang singkat dan tidak akan cukup mengingat pembelajaran agama sangat penting untuk perkembangan moral pemuda yang saat ini mengalami penurunan semenjak kita berhadapan dengan era globalisasi. Tujuan Program Fast and Trend yaitu untuk meningkatkan keimanan serta keilmuan kita tentang agama yang kita anut, yaitu agama Islam dengan pembelajaran diskusi santai dan bertukar pikiran antar pemateri dan peserta program. Sifat kegiatan ini berupa edukasi dengan metode ceramah dan tanya jawab antara pemateri dengan peserta didik terkait materi-materi keagamaan, dimana banyak pemuda yang kurang paham akan ilmu-ilmu agama. Maka diperlukan suatu upaya edukasi mengenai ilmu-ilmu keagamaan dan kehidupan. Hasil dari pelaksanaan program yaitu menambah wawasan terkait materi islami dan perubahan mindset atau cara berpikir pemuda serta masyarakat umum bahwa islam itu memiliki arti yang luas dan juga banyak hal yang harus dipelajari untuk membentuk karakter dan melalui program “Fast and Trend” para pemuda mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan yaitu pemuda mendapatkan edukasi dan pembelajaran mengenai agama dan Al-Qur’an lebih mendalam dari yang mereka dapatkan di sekolah.
Kelompok Kerja Sosial Kolaboratif Dalam Menyelenggarakan Pendidikan Kesetaraan (Studi pada Program Lantera Bumi oleh Pemuda Penggerak Tasikmalaya di Kampung Galumpit, Setiawargi, Kota Tasikmalaya) Analiana, Shinta; Oktiwanti, Lesi; Hamdan, Ahmad
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 13, No 2 (2025): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37064/jpm.v13i2.27185

Abstract

Abstrak: Permasalahan keterbatasan pendidikan bagi masyarakat Desa Galumpit mendorong munculnya inisiatif komunitas Penggerak Muda Tasikmalaya (Pager Asik) untuk menyelenggarakan kesetaraan pendidikan secara kolaboratif sehingga menarik untuk diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelompok kerja sosial kolaboratif dalam menyelenggarakan kesetaraan pendidikan melalui program Lantera Bumi oleh Gerakan Pemuda Tasikmalaya di Desa Galumpit, Setiawargi, Kota Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian kelompok kerja sosial kolaboratif dalam menyelenggarakan pendidikan kesetaraan melalui program Lantera Bumi oleh Gerakan Pemuda Tasikmalaya di Desa Galumpit, Setiawargi, Kota Tasikmalaya yaitu a) Engagement, intract, contract, pendekatan awal Pager Asik, penyamaan visi untuk membuat kontrak kerjasama dengan PKBM Al-Fattah, Desa Setiawargi, dan Karang Taruna; b) Asesmen, mengidentifikasi kebutuhan masyarakat Desa Galumpit melalui transect walk dan diskusi warga berbasis MPA; c) Perencanaan, meliputi sosialisasi paket sekolah, pendataan warga belajar, penentuan jadwal & tempat belajar, perekrutan tutor sukarela, dan pembagian peran antar pihak terkait; d) Intervensi, kegiatan pembelajaran, dan pelatihan komputer; e) Monitoring dan Evaluasi, pemantauan dan evaluasi berkala setahun sekali; f) Terminasi, belum dilakukan oleh Pager Asik karena dirasa masyarakat belum mandiri. Kesimpulannya, kelompok kerja sosial kolaboratif yang dipimpin oleh komunitas pemuda yang berkolaborasi dengan berbagai pihak mampu menciptakan sistem kesetaraan pendidikan yang partisipatif, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan lokal . Kata kunci: kerja kelompok sosial, kolaboratif, penggerak pemuda, kesetaraan pendidikan Abstrak: Masalah batasan pendidikan bagi masyarakat Kampung Galumpit mendorong munculnya inisiatif komunitas Pemuda Penggerak Tasikmalaya (Pager Asik) untuk menyelenggarakan kesetaraan pendidikan secara kolaboratif sehingga menarik untuk diteliti. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kelompok kerja sosial kolaboratif dalam menyelenggarakan kesetaraan pendidikan melalui program Lantera Bumi oleh Pemuda Penggerak Tasikmalaya di Kampung Galumpit, Setiawargi, Kota Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian mengenai kelompok kerja sosial kolaboratif dalam menyelenggarakan pendidikan kesetaraan melalui program Lantera Bumi oleh Pemuda Penggerak Tasikmalaya di Kampung Galumpit, Setiawargi, Kota Tasikmalaya yaitu a) Engagement, intract, contract, Pager Asik pendekatan awal, penyamaan visi hingga melakukan kontrak kerja sama dengan PKBM Al-Fattah, Kelurahan Setiawargi, dan Karang Taruna; b) Pengkajian, mengidentifikasi kebutuhan masyarakat Kampung Galumpit melalui transect walk dan rembug warga berbasis MPA; c) Perencanaan, meliputi sosialisasi paket sekolah, pendataan warga belajar, penentuan jadwal & tempat belajar, pendanaan tutor relawan dan pembagian peran antar pihak yang terlibat; d) Intervensi, kegiatan pembelajaran dan pelatihan komputer; e) Monitoring dan Evaluasi, pemantauan secara rutin dan monev setiap satu tahun sekali; f) Terminasi, belum dilakukan oleh Pager Asik karena dirasa masyarakat belum mandiri. Simpulannya yaitu kelompok kerja sosial kolaboratif yang dipimpin oleh komunitas pemuda yang berkolaborasi dengan berbagai pihak mampu menciptakan sistem kesetaraan pendidikan yang partisipatif, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan lokal.Kata kunci: kelompok kerja sosial, kolaboratif, pemuda penggerak, kesetaraan pendidikan
Andragogy Training Model in Advanced Level Training by Early Childhood Educators to Improve Learning Lulu Yuliani; Achmad Hufad; Oong Komar; Lilis Karwati; Ahmad Hamdan
Journal of Nonformal Education Vol. 10 No. 2 (2024): Equivalency education and community education
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jone.v10i2.12358

Abstract

level training is a curriculum designed to enhance the knowledge, abilities, and attitudes of early childhood educators throughout the material-deepening phase of their professional tasks. This teaching strategy targets adults, namely early childhood educators. This study's objective was an advanced description of the andragogy training paradigm. This study used a qualitative approach and descriptive methodologies. It utilized data-gathering methods, including observation, interviews, and documentation. The findings of this study indicated that the training was conducted in accordance with the andragogy philosophy. Training at the advanced level in managing the education and training process with an andragogy approach included: (1) planning learning designs; (2) implementing learning activities with methods and techniques appropriate for adult learning; (3) evaluating learning outcomes and diagnosing learning needs; (4) Creating an environment and climate that encourages individual learning; (5) Developing tools and strategies that facilitate collaborative learning; (6) Diagnosing unique learning requirements; and (7) Formulating training program objectives based on the needs of the learners. The andragogy training approach does an outstanding job of providing early childhood educators with advanced training and enhancing early childhood learning.