Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Potret Kemampuan Sosial Peer Counselor dalam Program Training of Trainer Puspitasari, Dwi Nikmah; Hapsari, Ayu Dyah; Multisari, Widya; An-Nisa, Lhulu
Flourishing Journal Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i12026p137-155

Abstract

Social skills are essential to adolescent development and support success in social, academic, and future professional contexts. This study employed the Training of Trainers (ToT) approach to enhance the social skills of peer counselors in Malang. The participants were 58 peer counselors divided into two groups: an experimental group and a control group. The ToT module was adapted from the Social Skills among Adolescents Module and had previously undergone feasibility testing. Social skills were assessed using a 23-item Social Skill Measurement instrument, which demonstrated good validity and reliability (Cronbach’s Alpha = 0.84). Paired sample t-test analysis yielded significance values of 0.071 for the control group and 0.184 for the experimental group, indicating no significant differences between pretest and posttest scores in either group. The lack of training effectiveness was influenced by several factors, particularly the pretest results, which showed that 20 participants (68.97%) were already in the high-skill category and the remaining 9 participants (31.03%) were at a moderate level, leading to a ceiling effect. Improvements are needed, including a reassessment of instrument selection, more detailed activity scheduling, the addition of ice-breaking sessions, and increased time allocation for discussion and practical exercises. AbstrakKeterampilan sosial merupakan aspek penting dalam perkembangan remaja dan berperan dalam mendukung keberhasilan di bidang sosial, akademik, serta profesional di masa depan. Pendekatan training of trainers (ToT) digunakan dalam meningkatkan keterampilan sosial konselor sebaya di Malang. Partisipan penelitian adalah 58 konselor sebaya yang dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Modul ToT diadaptasi dari Social Skills among Adolescents Module dan telah melalui uji kelayakan sebelumnya. Keterampilan sosial diukur menggunakan instrumen Social Skill Measurement yang terdiri dari 23 butir, yang menunjukkan validitas dan reliabilitas yang baik dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,84. Hasil uji paired sample t-test menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,071 pada kelompok kontrol dan 0,184 pada kelompok eksperimen, yang menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest pada kedua kelompok. Ketidakefektifan pelatihan dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama hasil pretest yang menunjukkan bahwa 20 partisipan (68,97%) telah berada pada kategori keterampilan tinggi, sementara 9 partisipan lainnya (31,03%) berada pada kategori sedang, sehingga menimbulkan ceiling effect. Beberapa aspek masih perlu ditingkatkan, antara lain evaluasi pemilihan instrumen, perincian jadwal kegiatan, penambahan sesi icebreaking, serta penambahan alokasi waktu untuk diskusi dan latihan praktik.
Efektivitas Pelatihan Peer Counselor untuk Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Praktik Konseling Dasar Siswa Fatmawiyati, Jati; Puspitasari, Dwi Nikmah; Hapsari, Ayu Dyah; An-Nisa, Lhulu; Artha, Sholicahtud Devytta; Andayani, Sri
Flourishing Journal Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i12026p171-181

Abstract

The imbalance between school counsellors and students limits the effectiveness of psychosocial services, requiring preventive student-empowerment approaches. This study aimed to examine the effectiveness of peer counsellor training in improving students’ knowledge and basic counselling practice skills. A quasi-experimental one-group pretest-posttest design was conducted with 26 vocational high school students selected through purposive sampling. Instruments consisted of a basic counselling knowledge questionnaire and practice observation sheets, and data were analysed using a paired sample t-test. Results indicated a significant post-training improvement (p < .001; d = 1.135), with mean scores increasing from 119.6 to 151.9. The findings suggest that integrating counselling concepts, ethics, empathic communication, role-play simulation, and structured feedback facilitates the transformation of declarative knowledge into procedural competence and enhances self-efficacy. The training also strengthened interpersonal readiness to provide peer support as an extension of school counselling services. In conclusion, peer counsellor training effectively improves students’ basic counselling competencies and offers a collaborative strategy to expand access to school mental-health services, although further controlled and longitudinal studies are recommended to strengthen external validity. AbstrakKeterbatasan rasio guru bimbingan dan konseling dengan jumlah siswa menyebabkan layanan psikososial di sekolah belum optimal, sehingga diperlukan pendekatan preventif berbasis pemberdayaan siswa. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas pelatihan peer counselor dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktik konseling dasar siswa. Metode penelitian menggunakan kuasi eksperimen dengan desain one-group pretest post-test pada 26 siswa sekolah menengah kejuruan yang dipilih secara purposive. Instrumen berupa kuesioner pengetahuan konseling dasar dan lembar observasi praktik, sedangkan analisis data menggunakan paired sample t-test. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan skor pasca pelatihan (p < 0,001; d = 1,135) dengan kenaikan mean dari 119,6 menjadi 151,9. Pembahasan mengindikasikan bahwa kombinasi psikoedukasi konsep konseling, etika, empati, role-play, dan umpan balik reflektif memfasilitasi transformasi pengetahuan deklaratif menjadi keterampilan prosedural serta meningkatkan efikasi diri peserta. Pelatihan juga memperkuat kesiapan interpersonal dalam memberikan dukungan sebaya sebagai perpanjangan layanan konselor sekolah. Sehingga, pelatihan peer counselor efektif meningkatkan kompetensi konseling dasar siswa dan berpotensi menjadi strategi kolaboratif untuk memperluas akses layanan kesehatan mental di sekolah, meskipun penelitian lanjutan dengan kelompok kontrol dan follow-up diperlukan untuk memperkuat validitas eksternal.