Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Upaya Pemerintah India Mengatasi Tradisi Dowry tahun 2015-2020 Feni Cikita; Yusnarida Eka Nizmi; Yessi Olyvia
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 2 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i2.1507

Abstract

Fenomena kekerasan terhadap perempuan bukan merupakan kelainan individu melainkan karena adanya kesenjangan hak dan kewajiban serta peran laki laki dan perempuan yang disebabkan oleh sistem patriarki. Masyarakat di India masih hidup di bawah patriarki, yang artinya mereka selalu mendahulukan hak-hak pria dibandingakan wanita. Perempuan dalam masyarakat modern dan masyarakat tradisional, sangat rentan terhadap kekerasan baik yang bersifat kriminal maupun yang bersumber dari tradisi,praktik budaya tradisional India yang terkenal ini salah satunya adalah sistem dowry atau mahar. Yaitu dimana pihak pengantin perempuan dalam suatu tradisi pernikahan di India akan memberikan sejumlah dowry kepada pihak pengantin laki-laki. Dowry diibaratkan sebagai simbol pendatang karena pengantin perempuan akan menjadi anggota keluarga baru di keluarga suaminya. Permintaan dowry tidak kunjung terpenuhi mendorong terjadinya kasus kekerasan yang dilakukan oleh pihak pengantin laki-laki terhadap pengantin perempuan. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori feminisme liberal dan teori gender dalam hubungan internasional. Konsep teori feminsime liberal untuk menjelaskan bahwa perempuan dan pria itu diciptakan sama, dan memiliki hak dan kesempatan yang sama pula. Yang artinya, perempuan memilih kebebasan secara penuh dan individual. Dalam hal ini feminisme liberal memandang dalam kasus dowry murder tindakan pelanggaran HAM pada wanita tidak dapat ditolerir, karena nilai budaya dowry dijadikan suatu kebenaran dalam melakukan kekerasan terhadap perempuan, dan feminisme liberal mengganggap bahwa penyimpangan menjadi tujuan awal dari budaya dan tradisi dowry pada era modern menjadi pemahaman yang turun-menurun
Edukasi Pengenalan dan Pencegahan Kekerasan Seksual Kepada Siswa Sebagai sebagai Upaya Responsif Mengantisipasi Darurat Kekerasan Seksual di Lingkungan Sekolah Yusnarida Eka Nizmi; Yessi Olivia; Nur Laila Meilani; Umi Oktyari Retnaningsih; Hesti Asriwandari
Madaniya Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.496

Abstract

Jumlah kasus pelecehan dan kekerasan seksual di Indonesia telah mencapai tahap yang memprihatinkan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia dalam laporannya mengatakan bahwa pada tahun 2019 terdapat 123 kasus kekerasan seksual yang terjadi di seluruh level pendidikan, dasar, menengah, hingga menengah atas. Fakta yang menyedihkan ini bahkan mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia untuk mendeklarasikan bahwa lingkungan pendidikan Indonesia tengah memasuki masa darurat kekerasan seksual. Kekerasan seksual adalah masalah yang sangat berdampak terhadap kesehatan fisik dan mental seseorang. Namun begitu, banyak korban kekerasan seksual yang ragu untuk melapor karena ketidakpahaman mereka tentang apa yang dimaksud dengan kekerasan seksual atau bagaimana cara melapor karena mereka diliputi rasa malu. Untuk mencegah pelecehan dan kekerasan seksual di sekolah, kerja sama dan komitmen dari para pemangku kebijakan sangat diperlukan. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman untuk anak-anak belajar dan bermain dan mereka harus dilindungi dari ancaman seperti kekerasan seksual. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan pemahaman anak sekolah menengah atas tentang kekerasan dan pelecehan seksual, kami menjalankan kegiatan workshop sehari di SMA Negeri 1 Tambang, Kampar. Di dalam workshop tersebut, siswa dikenalkan dengan informasi terkait dengan kekerasan seksual dan bagaiman meresponnya. Siswa juga didorong untuk menyampaikan pendapatnya tentang masalah kekerasan seksual ini.
Edukasi dan Sosialisasi Perubahan Perilaku Pada Peserta Didik Jenjang Pendidikan Sekolah Dasar Sebagai Upaya Strategi Penerapan Perilaku Nonfood Waste di Indonesia Yusnarida Eka Nizmi; Winna Sarikusumaningtyas; Ahmad Ibrahim Roni Surya Hasibuan; Mandataris Mandataris
Madaniya Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.550

Abstract

Perilaku membuang-buang makanan dengan beragam alasan menjadi isu kekinian yang mengkhawatirkan bagi keberlangsungan pangan yang layak konsumsi bagi populasi dunia. Mengadopsi perilaku food waste menjadi tren yang terjadi hampir di seluruh belahan bumi termasuk di Indonesia. Perilaku ini sangat merisaukan karena erat berkaitan dengan keberlangsungan ketersediaan pangan di Indonesia sebagai negara yang masih harus berhadapan dengan persoalan kemiskinan dan kelaparan. Tanpa adanya pengendalian terhadap isu food waste atau biasa disebut dengan sampah makanan, maka Pemerintah Indonesia pada tahun 2045, memperkirakan akan ada 344 kg/kapita/tahun sampah makanan di Indonesia. Angka ini tentu harus diwaspadai dan membutuhkan serangkaian tahapan strategi dalam penyelesaiannya. Untuk mengimplementasikan satu dari lima strategi dalam pengelolaan sampah makanan, tepatnya strategi perubahan perilaku menjadi basis utama yang sangat esensial untuk dipertimbangkan karena sampah makanan terbesar terjadi pada tahapan konsumsi. Strategi perubahan perilaku menjadi elemen tahapan yang krusial dalam mengatasi persoalan food waste (sampah makanan) di Indonesia. Inilah yang menjadi alasan utama kegiatan penyuluhan dan edukasi terhadap peserta didik di jenjang Pendidikan dasar tepatnya di Sekolah Dasar Islam As- Shofa Pekanbaru dilakukan. Menanamkan nilai-nilai agar perilaku food waste bisa berubah menjadi perilaku yang nonfood waste, sekaligus memberi pemahaman betapa bahayanya food waste bagi lingkungan menjadi prioritas dari kegiatan edukasi dan sosialisasi ini.