Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pengaruh Aging dan Variasi Kecepatan Putaran Terhadap Laju Korosi Propeller Berbahan Aluminium Paduan Hendra Setiawan Karokaro; Kurnia Hastuti
Journal of Renewable Energy and Mechanics Vol. 4 No. 02 (2021): Journal of Renewable Energy and Mechanics (REM)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.417 KB) | DOI: 10.25299/rem.2021.vol4.no02.5510

Abstract

Salah satu bahan baling-baling yang banyak digunakan adalah aluminium paduan. Kerusakan propeller yang terjadi di dominasi oleh terjadinya patah pada salah satu atau beberapa daunnya. Kerusakan berupa patahnya propeller tidak hanya disebabkan oleh beban kerja propeller, melainkan sebagai hasil akumulasi antara kerja propeller dan lingkungan kerjanya yang korosif. Salah satu cara meningkatkan sifat mekanis paduan aluminium adalah dengan perlakuan panas penuaan (aging treatment). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan laju korosi akibat pengaruh kecepatan putaran propeller dan aging. Pada penelitian ini material Al paduan di-aging pada temperatur 170°C selama 180 menit. Material tanpa aging dan hasil aging kemudian diuji korosi dengan metode celup pada variasi putaran propeller 800 rpm, 1000 rpm, 1200, dan 1500 rpm dengan waktu perendaman 12 jam , 24 jam, 48 jam,dan 168 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan putaran propeller mempengaruhi laju korosi material. Spesimen yang diputar pada kecepatan 1500 rpm memiliki laju korosi 1,0084 mm/year untuk material tanpa aging dan 0,9447 mm/year untuk material dengan aging. Laju korosi ini lebih besar dibandingkan spesimen yang diputar pada kecepatan 800 rpm, 1000 rpm dan 1200 rpm. Laju korosi pada putaran 800 rpm adalah 0,6472 mm/year untuk material tanpa aging dan 0,5141 mm/year Utuk material dengan aging. Aging yang dilakukan pada material dapat menurunkan laju korosi dari 0,6472 mm/year menjadi 0,5141 mm/year pada putaran 800 rpm, 0,7913 mm/year Menjadi 0,6775 mm/year pada putaran 1000 rpm, 0,8805 mm/year menjadi 7438 mm/year Pada putaran 1200 rpm dan 1,0084 mm/year menjadi 0,9447 mm year pada putaran 1500 rpm. Pengamatan foto mikro menunjukan bahwa jenis korosi yang terjadi adalah korosi kavitasi.
The Effect of Natural Fiber Composite of Acasia Bark and Oil Palm Empty Fruits Using Epoxy Resin Adhesive on Mechanical Properties: Pengaruh Campuran Serat Alam Komposit Kulit Kayu Akasia dan Tandan Kosong Kelapa Sawit Menggunakan Perekat Resin Epoxy Terhadap Sifat Mekanis Dody Yulianto; Muhammad Rintami; Irwan Anwar; Kurnia Hastuti
Journal of Renewable Energy and Mechanics Vol. 5 No. 02 (2022): REM VOL 5 NO 02 2022
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.966 KB) | DOI: 10.25299/rem.2022.vol5.no02.9709

Abstract

ABSTRAK Perkembangan teknologi komposit tidak hanya pada komposit sintetis, akan tetapi juga mengarah pada komposit alam (Natural Composite) dikarenakan keistimewaan sifatnya yang dapat di daur ulang atau istilah lain terbarukan. Penelitian ini bertujuan membuat bahan komposit serat alam dan resin epoxy terhadap sifat mekanis. Pada penelitian ini, komposisi tandan kosong kelapa sawit dan serat kulit akasia dengan nilai 15%+5%, 10%+10% dan 5%+15% dengan bahan perekat resin epoxy 80%. Hasil uji bending menunjukkan bahwa campuran komposit 80% resin epoxy, 15 % serat tandan kosong kelapa sawit dan 5 % serbuk kayu akasia mempunyai nilai kekuatan bending yang terendah yaitu 9,95N/mm2, sedangkan campuran komposit 80% resin epoxy, 5% serat tandan kosong kelapa sawit dan 15 % serbuk kayu akasia mempunyai nilai kekuatan bending tertinggi yaitu 20,84 N/mm2. Hal ini disebabkan karena campuran serbuk kayu akasia memiliki struktur dari serat akasa lebih kasar, kuat, padat dan lebih berat dari pada tandan kosong kelapa sawit yang memiliki stuktur serat yang lebih ringan, rapuh dan berongga (tidak padat). Hasil kekuatan impact yang paling tinggi dari campuran serat alam 80% resin epoxy, 15% serbuk kayu akasia dan 5% TKKS dengan nilai 134 J/mm2. Hal ini disebabkan dari jumlah campuran dari akasia lebih besar maka kekuatan spesimen lebih tinggi kekuatannya karena semakin banyak serat akasia maka semakin terus meningkat kekuatan spesimen tersebut. Kata kunci : Serat Alam, Kulit Kayu Akasia, Resin Epoxy, Tandan Kosong Kelapa Sawit, Sifat Mekanik
Studi aliran fluida melalui ventilasi penangkap angin bangunan gedung di Kota Pekanbaru Eddy Elfiano; Kurnia Hastuti; Ibrahim Rasyid; M. Arif Rahmat Firgiyandi; Alfinovawan Lumban Tobing
Jurnal Teknik Mesin Indonesia Vol. 17 No. 1 (2022): Jurnal Teknik Mesin Indonesia
Publisher : Badan Kerja Sama Teknik Mesin Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36289/jtmi.v17i1.294

Abstract

Sistem penangkap angin (wind catcher) sudah dimanfaatkan di beberapa negara di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara bahkan di Eropa. Sistem ini digunakan untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruangan dan mengurangi ketergantungan pada beban pendingin. Sirkulasi alami fluida ini disebabkan adanya perbedaan densitas, sehingga densitas fluida yang ringan akan didesak oleh densitas fluida yang berat untuk keluar melalui ventilasi di dalam ruangan. Studi ini fokus untuk mengkaji aliran melalui ventilasi hingga masuk ke dalam ruangan bangunan. Data empirik yang diperoleh dari literatur hingga eksperimen menunjukkan adanya sifat-sifat fluida berdasarkan perbedaan tekanan dan kecepatan yang bergerak berawal turbulance hingga akhirnya melambat dengan laminar. Penangkap angin ini memiliki ventilasi dengan model lingkaran dan empat persegi dalam bentuk vertikal dengan luasan laluan fluida yang sama. Tinggi bangunan gedung tempat penangkap angin yang diletakkan yaitu 12 meter dan tinggi penangkap angin dari permukaan datum adalah 4 meter. Salah satu data yang diperoleh dari anemometer pada kajian ini menunjukkan adanya perbedaan kecepatan fluida yang masuk melalui ventilasi berbentuk lingkaran dan empat persegi vertikal yaitu 0,60 m/s dan 1,10 m/s, sementara kecepatan fluida yang sampai ke dalam ruangan sebesar 0,30 m/s dan 0,80 m/s berturut-turut. Beberapa studi menyatakan bahwa kenyamanan penghuni ruangan didapat mulai dari kecepatan 0,25 m/s hingga 0,50 m/s. Model penangkap angin ini berdasarkan keadaan alam, sehingga disebut juga dengan sistem pendinginan pasif. Berdasarkan hasil kajian ini dan faktor geografi kota Pekanbaru, memungkinkan untuk disosialisasikan pemanfaatan wind catcher sebagai pendinginan suatu bangunan.
Evaluasi Kebijakan Program MBKM dalam Meningkatkan Capaian Pembelajaran Lulusan Perguruan Tinggi Kurnia Hastuti; Heni Susanti; Tomi Erfando
EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol 4, No 6 (2022): December 2022
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/edukatif.v4i6.4119

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi impelementasi kebijakan MBKM di Indonesia. Pendekatan evaluasi dalam kajian ini menggunakan pendekatan kualitataif. Pastisipan dalam penelitian ini adalah seluruh stakeholder yang mengelola kegiatan MBKM yang terdiri dari Rektor, Wakil Rektor Bagian akademik, Direktorat Akademik yang berperan aktif dalam mengelola program MBKM di pada empat kampus di Indonesia yaitu Pekanbaru, Bandung, Pontianak, dan Makasar. Teknik pengumpulan data dalam kajian evaluasi ini adalah observasi dan wawancara mendalam untuk mendapatkan data tentang impelementasi kebijakan program MBKM yang ada di Indonesia. Teknik analisis data dalam penelitian menggunakan Creswell (2014): preparing and defining data, reading the data as a whole, encoding data, defining themes and creating descriptions, linking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan program MBKM yang diterapkan pada beberapa kampus di Indonesia belum berjalan dengan maksimal. Hal ini dikarenakan belum maksimalnya koordinasi antara pimpinan tertinggi di Kampus sampai dengan ketua prodi pada masing-masing jurusan. Hal yang paling sulit dirasakan oleh kampus adalah sulitnya mengkonversi kegiatan di luar kampus dengan mata kuliah yang disajikan dalam kurikulum yang dirancang oleh oleh universitas.
The Effect of Silica Sand Size on Mechanical Properties, Permeability and Proppant Microstructure Nover Martaheru; Dedikarni; Rieza Zulrian Aldio; Dody Yulianto; Kurnia Hastuti
Journal of Renewable Energy and Mechanics Vol. 6 No. 01 (2023): REM VOL 6 NO 01 2023
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/rem.2023.vol6.no01.11274

Abstract

Pellet silika merupakan produk teknologi keramik komposit berbahan penguat pasir silika yang diaplikasikan dalam industri minyak dan gas sebagai proppant (pasir frank) maupun sebagai filter air dan industri perminyakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh ukuran pasir silika terhadap kekuatan tekan, permeabilitas dan mikrostruktur. Pada penelitian ini, ukuran pasir silika yang dipilih ukuran pasir silika halus yaitu (200 mesh) dan pasir silika kasar yaitu (20 mesh) dan diikat oleh polyethylene glycol (PEG) 400. Hasil uji kekuatan tekan terendah didapat pada sampel I yaitu 33,24 MPa sedangkan kekuatan tekan tertinggi pada sampel III yaitu sebesar 34,05 MPa. Karena semakin banyaknya ukuran butir pellet silika halus mampu memberikan ikatan interfacial pada polyethylene glycol (PEG) 400, dengan ukuran diameter lebih kecil akan memudahkan terjadi ikatan pada matriks sehingga meningkatkan nilai kekuatan tekan. Namun, uji permeabilitas berbanding terbalik pada kekuatan tekan dimana nilai permeabilitas tertinggi didapat pada sampel I yaitu 29,93 mD, sedangkan nilai permeabilitas terendah pada sampel III yaitu sebesar 23,35 mD. Hal ini karena adanya hubungan ukuran pasir silika halus yang berlawanan arah dengan ukuran pasir silika kasar. Artinya, apabila ukuran butir pasir silika halus naik dan ukuran butir silika kasar turun maka nilai permeabilitas turun. Hasil pengamatan mikrostruktur pada sampel I terlihat lebih sedikit rongga atau porosity dan membuat suatu ikatan interfacial yang lebih kuat. Karena adanya ukuran butir pasir silika halus lebih dominan banyak dari pada ukuran butir pasir silika kasar serta dibantu oleh pengikat berupa polyethylene glycol (PEG) 400.
Perbandingan Efisiensi Inhibitor Organik dan Anorganik pada Penurunan Laju Korosi Material Radiator Kurnia Hastuti; Argak Dwi Wandana; Dody Yulianto; Dedikarni; Jhonni Rahman; Irwan Anwar
Journal of Renewable Energy and Mechanics Vol. 6 No. 02 (2023): REM VOL 6 NO 02 2023
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/rem.2023.vol6.no02.12338

Abstract

Radiator adalah suatu sistem atau komponen yang berfungsi utuk menjaga supaya temperatur mesin dalam kondisi ideal. Inhibitor anorganik telah terbukti dapat menurunkan laju korosi namun memiliki efek negatif karena materialnya yang tidak ramah lingkungan dan bersifat racun. Berdasarkan hal tersebut maka penggunaan inhibitor anorganik perlu dibatasi. Pada penelitian ini akan dibandingkan efisiensi inhibitor organik dan anorganik dalam menurunkan laju korosi. Inhibitor anorganik yang digunakan adalah Natrium Kromat (Na2CrO4) dengan konsentrasi 0,5%, 0,7%, dan 0,9%. Sedangkan inhibitor organik adalah Minyak Biji Kapas dengan variasi konsentrasi yaitu 25%, 30% dan 35% dalam waktu perendaman 21 hari dalam setiap inhibitor. Selanjutnya akan diuji ketahanan korosinya dengan media air biasa. Hasil pengujian laju korosi natrium kromat terendah pada konsentrasi 0,9% dengan nilai 0,0815 mm/y (0,628%) dengan waktu 21 hari. Laju korosi terendah pada konsentrasi 25% dengan nilai 0,1614 mm/y (0,273%). Penelitian ini menunjukan efisiensi perbandingan terbaik masih di lihat pada inhibitor anorganik natrium kromat, setaiap konsentrasi laju korosi semakin rendah.