Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Pemodelan Reduksi Gelombang Terhadap Hutan Mangrove Menggunakan Software Delft3D pada Pantai Bama Situbondo: Wave Reduction Modeling of Mangrove Forest Using DELFT3D Software on Bama Beach Situbondo Prihartami, Sabrina; Agung Wiyono, Retno Utami; Saifurridzal
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jrsl.v9i1.53711

Abstract

Bama Beach is a beach located in Baluran National Park, Sumberwaru, Banyuputih, Situbondo. This beach has a mangrove forest ecosystem that servers to protect waves coming from the deep sea to the shallow sea with the concept of Building with Nature (BWN). The propagation of these waves produces high and wave energy. The height and energy of this wave should decrease as the wave approaches shallow sea. This is so that erosion does not occur. Therefore, to model the waves that occur on Bama Beach requires software. One of the software that can be used is Delf3D. The sea waves reviewed are waves with the dominant wind direction at the location, that is from east. This modeling was made 2 schemes. Each scheme has 3 observation points. Assumed the distance between mangroves is 2 meters. The wave height reduction result at observation points A, B and C were 22.48%, 25.76% and 35.12% for the first scheme and 23.37%, 28.54% and 37.18% for the second scheme. The result of wave energy reduction at observation points A, B and C were 45.49%, 54.31% and 68.29% for the first scheme and 46.73%, 57.67% and 70.27% for the second scheme. AbstrakPantai Bama adalah pantai yang berlokasi di Taman Nasional Baluran, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Pantai ini memiliki ekosistem hutan mangrove yang berfungsi untuk melindungi gelombang yang datang dari laut dalam menuju laut dangkal dengan kosep Building with Nature (BWN). Perambatan gelombang ini menghasilkan tinggi dan energi gelombang. Tinggi dan energi gelombang ini harus berkurang apabila gelombang mendekati laut dangkal. Hal ini agar tidak terjadi erosi. Oleh sebab itu, untuk memodelkan gelombang yang terjadi pada Pantai Bama diperlukan bantuan perangkat lunak. Salah satu perangkat lunak yang dapat digunakan adalah Delft3D. Gelombang laut yang ditinjau adalah gelombang dengan arah angin dominan di lokasi penelitian yaitu dari arah timur. Pemodelan ini dibuat 2 skema dengan asumsi jarak antar mangrove adalah 2 meter. Tiap skema terdapat 3 titik observasi. Hasil reduksi tinggi gelombang pada titik observasi A, B dan C berturut-turut sebesar 22,48%, 25,76% dan 35,12% untuk skema pertama dan 23,37%, 28,54% dan 37,18% untuk skema kedua. Hasil reduksi energi gelombang pada titik observasi A, B dan C berturut-turut sebesar 45,49%, 54,31% dan 68,29% untuk skema pertama dan 46,73%, 57,67% dan 70,27% untuk skema kedua.
PERBANDINGAN SISTEM RAINWATER HARVESTING DI KOTA DAN DESA SEBAGAI ALTERNATIF MENGATASI KEKERINGAN (STUDI KASUS DESA KRAJAN TIMUR DAN DESA PANDUMAN, KAB. JEMBER) Wiyono, Retno Utami Agung; Hidayah, Entin; Hassan, Fahir; Pebriyanti, Fista; Ningsih, Alfiati
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 11 No. 1 (2021): Maret 2021
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v11i1.420

Abstract

Abstrak Air adalah sumber daya yang terus dibutuhkan manusia. Dengan menggunakan sistem Rainwater Harvesting RWH), air hujan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Penelitian ini tidak hanya membahas potensi air yang dapat dimanfaatkan dari sistem RWH yang ada pada satu lokasi saja, akan tetapi mempertimbangkan dua lokasi yang merupakan lokasi yang lebih padat penduduk dan dikategorikan sebagai wilayah kota (Desa Krajan Timur, Sumbersari) dan lokasi yang lebih jarang penduduknya dan dikategorikan sebagai wilayah desa (Desa Panduman, Jelbuk). Dalam penelitian ini digunakan beberapa data yaitu peta lokasi, data curah hujan, dan data kebutuhan air penduduk. Untuk mengetahui kebutuhan air dan sumber air yang digunakan penduduk sehari-hari, dilakukan survey kepada masyarakat yaitu 20 rumah di wilayah kota dan 20 rumah di wilayah desa. Perhitungan potensi air dari sistem RWH dilakukan dengan metode F. J. Mock menggunakan debit andalan 50%. Dari studi ini diperoleh hasil bahwa pada 20 rumah di wilayah kota, sistem RWH berpotensi menghasilkan air sejumlah 3,168 liter/bulan sampai 31,825 liter/bulan. Adapun pada 20 rumah di wilayah desa, potensi air dari sistem RWH pada setiap rumah berkisar antara 15,090 liter/bulan sampai 33,952 liter/bulan. Potensi air tersebut dapat memenuhi seluruh kebutuhan air pada 20 rumah di desa dan 17 rumah di kota, serta dapat memenuhi 44% sampai 72% kebutuhan air pada 3 rumah di wilayah kota. Kata kunci: Rainwater harvesting, kebutuhan air, kesetimbangan air, kota, desa  Abstract Water has always become a vital resource that is needed by a human being. Rainwater may play an essential role as a domestic water supply by rainwater harvesting system. This study compares potential rainwater harvested at two locations considered an urban area with higher population density and a rural area with lower population density. The studied urban area and rural area are Desa Krajan Timur, Sumbersari and Desa Panduman, Jelbuk, respectively. Several data utilized in this study are location maps, precipitation data, and water needs data. Surveys are conducted by interviewing twenty residences in each urban and rural area to obtain water needs and water sources data. Water harvested potential was calculated using F J Mock method. The study results showed that rainwater harvesting system in 20 houses in the urban area could produce 3,168 liters/month until 31,825 liters/month of water. While the rainwater harvesting system in 20 houses in the rural area could produce 15,090 liters/month until 33,952 liters/month of water. The harvested water could fulfill all water needs in 20 houses in the rural area, 17 houses in the urban area, and 44% until 72% of water needs in 3 houses in the urban area. Keywords: Rainwater harvesting, water needs, water balance, urban area, rural area
ANALISIS KEKERINGAN METEOROLOGI MENGGUNAKAN METODE STANDARDIZED PRECIPTATION INDEX (SPI) DI DAS BEDADUNG KABUPATEN JEMBER Malini, Citra; Halik, Gusfan; Agung Wiyono, Retno Utami
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 11 No. 2 (2021): Volume 11 Nomor 2, September 2021
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v11i2.483

Abstract

Abstrak Bencana kekeringan di DAS Bedadung terindikasi dengan tidak terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pasokan air. Kekurangan air akibat defisit curah hujan menjadi indikator kekeringan meteorologi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai indeks kekeringan di DAS Bedadung kabupaten Jember. Metode Standardized Precipitation Index (SPI) digunakan untuk mendapatkan tingkat kekeringan. Tingkat kekeringan meteorologi yang dihitung tergantung jumlah curah hujan yang terukur pada alat penakar di stasiun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa indeks kekeringan ekstrim terjadi pada tahun 2018 dan 2019. Nilai indeks kekeringan (SPI-6) memiliki nilai tertinggi sebesar -2,69 di stasiun Ajung dan nilai     -1,13 di stasiun Kottok. Hasil pemetaan sebaran indeks kekeringan memiliki kesesuaian dengan kondisi kekeringan observasi. Hal ini ditunjukkan dari nilai validasi sebaran kekeringan antara SPI-6 dan data kekeringan observasi dengan tingkat keandalan sebesar 82%. Kata kunci: DAS Bedadung, bencana kekeringan, indeks kekeringan meteorologi, SPI   Abstract Drought disaster in the Bedadung watershed is indicated by the unfulfilled sociaty needs for water supply. Lack of water due to deficit in rainfall is an indicator of meteorological drought. This study aims to obtain the drought index value in the Bedadung watershed, Jember district. The Standardized Precipitation Index (SPI) method is used to obtain the drought saverity index. The meteorological drought index depends on the amount of rainfall observed on the rainfall gauge stations. The results of this study indicated that extreme drought index occurred in 2019. The drought index value (SPI-6) had the highest value of -2.69 at the Ajung station and a value of   -1.13 at the Kottok station. The results of the mapping of the distribution of the drought index are suitable with drought existing conditions. This is indicated by the validation value of the drought distribution between SPI-6 and the observed drought data with a reliability level of 82%. Keywords: Bedadung watershed, drought disaster, meteorological drought index, SPI
Perencanaan Bangunan Pelindung Pantai Di Desa Pesisir Besuki Kabupaten Situbondo Akbar, Sabda Alam; Wiyono, Retno Utami Agung; Hidayah, Entin
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 13 No. 1 (2023): Volume 13 No 1, Maret 2023
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v13i1.816

Abstract

Abstrak Desa Pesisir yang terletak di Timur Pelabuhan Besuki Kabupaten Situbondo mengalami tangkis jebol dan rusak sepanjang 450 meter akibat diterjang gelombang laut. Angin kencang dan ombak besar yang menerjang tangkis pada 28 Januari 2021 itu mengakibatkan tangkis hancur di beberapa titik sepanjang garis pantai. Penelitian ini direncanakan 2 alternatif pelindung pantai yaitu revetment dan seawall sebagai perbandingan bangunan pelindung pantai yang cocok di Desa Pesisir Besuki untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Hasil perhitungan dimensi untuk bangunan revetment yaitu elevasi puncak sebesar 5.90 m dan lebar yaitu 2.13 dan dimensi seawall yang didapat yaitu tinggi puncak bangunan yaitu 6.10 m dan lebar 2.55 m. Total Rencana Anggaran Biaya (RAB) perencanaan kedua alternatif bangunan yaitu revetment blok beton 3B sebesar Rp. 59,699,911,000.00 dan seawall sebesar Rp. 59,350,778,000.00 dan dipilih seawall sebagai alternatif solusi bangunan pelindung pantai di Desa Pesisir Besuki Kabupaten Situbondo. Kata kunci: abrasi, revetment, seawall, pantai.   Abstract Pesisir village is located east of Besuki Harbor, Situbondo Regency, experienced a 450-meter being hit by sea waves. Strong winds and big waves that hit the seawall on January 28, 2021 caused the seawall to be destroyed at several points along the coastline. This study plans 2 alternative coastal protection, namely revetment and seawall as a comparison of suitable coastal protection buildings in Village Pesisir Besuki to overcome the problems that occur. The results of the calculation of dimensions for the revetment building are the peak elevation 5.90 m and the width 2.13 m and the dimensions of the seawall obtained are the peak height of the building which is 6.10 m and width is 2.55 m. The Total Budget Plan (RAB) for the planning of the two alternative buildings, namely the 3B concrete block revetment, is Rp. 59,699,911,000.00 and a seawall of Rp. 59,350,778,000.00 and selected seawall as an alternative solution for coastal protection buildings in Village Pesisir Besuki, Situbondo Regency. Keywords: abrasion, revetment, seawall, beach.
ANALISIS KOMPARATIF PEMODELAN INUNDASI TSUNAMI MENGGUNAKAN DELFT3D DAN ARCGIS Sofiana, Risqi; Wiyono, Retno Utami Agung
Jurnal Riset Teknik Sipil dan Sains Vol. 4 No. 1 (2025): Agustus 2025 - Jurnal Riset Teknik Sipil dan Sains
Publisher : Politeknik Negeri Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57203/jriteks.v4i1.2025.56-61

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pemodelan genangan tsunami menggunakan dua pendekatan berbeda, yaitu numerik berbasis Delft3D dan spasial berbasis ArcGIS, di kawasan pesisir Pantai Watu Ulo, Kabupaten Jember. Delft3D mensimulasikan propagasi dan genangan gelombang tsunami berdasarkan pemecahan numerik persamaan hidrodinamika, sementara ArcGIS membangun pemodelan genangan berdasarkan parameter spasial seperti kemiringan lereng, kekasaran permukaan, dan tinggi gelombang menggunakan pendekatan kehilangan energi (Hloss). Data ketinggian gelombang di garis pantai yang diperoleh dari simulasi Delft3D digunakan sebagai input dalam pemodelan ArcGIS. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa luas genangan yang diproyeksikan oleh Delft3D mencapai 884,71 hektar, sedangkan hasil dari ArcGIS menunjukkan luasan 611,53 hektar. Perbedaan ini menunjukkan bahwa Delft3D memberikan estimasi genangan yang lebih luas, sementara ArcGIS menghasilkan sebaran genangan yang lebih terkonsentrasi berdasarkan variasi topografi dan karakteristik permukaan. Dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing pendekatan, penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan terpadu keduanya dapat meningkatkan akurasi dan relevansi dalam pemetaan zona rawan serta perencanaan mitigasi bencana tsunami.
Tsunami Simulation in Paseban Beach Using Nesting Method on Delft3D Modeling Faradella, Maulida; Wiyono, Retno Utami Agung; Halik, Gusfan
Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 1 (2024): Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 1
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2024.018.01.8

Abstract

Paseban Beach is an area that has the potential for a tsunami hazard. In analyzing the tsunami hazard, accurate data and methods are essential. Therefore, this study aims to conduct a tsunami hazard analysis using the nesting method to obtain precise modeling results. This study utilizes the Delftdashboard and Delft3D-Flow programs. The modeling of the 1994 Banyuwangi tsunami results show that the validation stage has an accuracy of 7.94%, which means it is very accurate. The tsunami modeling using the 8.7 Mw megathrust earthquake showed the tsunami wave height in Paseban Beach reached 10,25 meters with 46 minutes arrival time. The length of the tsunami inundation was measured to be 2.96 km, with a run-up height of 2.98 meters.
Prediksi Laju Sedimentasi Pada Sungai Jatiroto Cahyani, Hajar Crisia; Hidayah, Entin; Wiyono, Retno Utami Agung; Halik, Gusfan; Widiarti, Wiwik Yunarni
Jurnal Rekayasa Sipil (JRS-Unand) Vol. 17 No. 1 (2021)
Publisher : Civil Engineering Departement, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jrs.17.1.64-71.2021

Abstract

Erosi dapat menyebabkan terjadinya sedimentasi di sungai. Sedimentasi yang terjadi secara terus-menerus dapat mengakibatkan sungai menjadi dangkal dan mengurangi kapasitas sungai. Sedimen akan mengendap pada bagian tertentu di sepanjang aliran sungai yang tidak mampu terangkut bersama dengan aliran sungai. Sungai Jatiroto merupakan sungai yang membatasi Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember. Sungai Jatiroto dimanfaatkan untuk keperluan irigasi pada kecamatan Jatiroto dan Kecamatan Rowokangkung. Penyebab dari sedimentasi adalah perubahan tata guna lahan ataupun erosi yang dilakukan oleh sungai itu sendiri. Pemodelan transpor sedimen oleh HEC-RAS bertujuan untuk mengetahui laju sedimen yang terbawa oleh sungai. Pada pemodelan ini dilakukan dua analisis, yaitu analisis hidrolika dan analisis transpor sedimen. Tahap pertama, analisis hidrolika menggunakan debit unsteady, parameter Manning (n) dan koefisien ekspansi dan kontraksi. Kalibrasi model dilakukan dengan cara perbandingan tinggi muka air yang menghasilkan nilai determinasi R2 sebesar 0,9586, nilai RMSE sebesar 0,39 dan masuk dalam kategori baik. Tahap kedua, analisis sedimentasi menggunakan debit quasi-unsteady dan diameter butiran. Fungsi pengangukatan sedimen yang cocok pada pemodelan ini adalah Laursen (Field) dengan laju sedimen sebesar 256,341 m³/tahun. Adapun laju sedimentasi di lapangan dilakukan dengan membandingkan cross section lama dengan yang baru yaitu 289,24  m³/tahun. Uji keandalan (validasi) model dilakukan dengan membandingkan hasil pemodelan dengan data observasi yang didapatkan dari hasil perhitungan volume pengendapan pada cross section. Didapatkan hasil uji keandalan sebesar 88%.
Forest and Land Fire Disaster Risk Assessment Using Geographic Information Systems in Arut Selatan District, West Kotawaringin Regency, Central Kalimantan Province Prakoso, Tara Adi; Wiyono, Retno Utami Agung; Halik, Gusfan
Journal of Applied Geospatial Information Vol. 9 No. 1 (2025): Journal of Applied Geospatial Information (JAGI)
Publisher : Politeknik Negeri Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30871/jagi.v9i1.9489

Abstract

Kotawaringin Barat Regency, Central Kalimantan Province, has six sub-districts, namely Kumai District, Arut Selatan District, Arut Utara District, Pangkalan Lada District, Pangkalan Banteng District, and Kotawaringin Lama District, all of which are areas prone to natural disasters. One of them is forest and land fires. In recent years, there have been many forest and land fires in the Kotawaringin Barat Regency area. Starting in 2022, there were around 75 forest and land fires; in 2023, there were around 201 incidents; and in 2024, there were around 36 incidents, all of which were in the Arut Selatan District and Kumai District. With the occurrence of forest and land fires, most of them in the two sub-districts, namely Kumai and Arut Selatan Districts, this study took the location of Arut Selatan District. The assessment of forest and land fire disaster risks uses spatial analysis methods. To find the weight of hazard, vulnerability, and capacity using secondary data processed with the formula according to the Regulation of the Head of BNPB Number 2 of 2012 concerning disaster risk assessment using the Excel application. The results of the assessment of the risk of forest and land fires in the South are dominated by high classifications of 9 villages/sub-districts with a percentage of 83.8% of the total area. While for the moderate classification of 5 villages/sub-districts with a percentage of 2.7% of the total area and moderate classification of 6 villages/sub-districts with a percentage of 13.5% of the total area. With the high risk of forest and land fires because the percentage of hazards and vulnerabilities is still high and the percentage of capacity is still classified as moderate. For this reason, it is necessary to increase capacity in dealing with forest and land fires to reduce the risk of forest and land fires that occur.
Assessment of Climate Change Impact for Water Scarcity in Semajid Watershed, Pamekasan, East Java Halik, Gusfan; Priyanto, Agil; Wiyono, Retno Utami Agung
Journal of the Civil Engineering Forum Vol. 12 No. 2 (May 2026)
Publisher : Department of Civil and Environmental Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jcef.18841

Abstract

The increase in global temperature has caused climate change, resulting in changes in the distribution of rainfall patterns, seasonal shifts, changes in water availability, and water scarcity. At present, water scarcity in Semajid watershed in Pamekasan Regency is increasing with climate change. Water scarcity will be increasingly difficult to predict due to highly complex dynamics of atmospheric circulation and local climate phenomena such as El Niño-Southern Oscillation (ENSO). This research aims to develop an assessment model to evaluate the impact of climate change on water scarcity using the Semajid watershed of Pamekasan Regency as a case study. The prediction of water scarcity is based on atmospheric circulation dynamics data from the General Circulation Model (GCM-MIROC5) under different climate change scenarios namely Representative Concentration Pathways (RCP). A statistical downscaling model was developed to overcome the limited resolution of the GCM output. The rainfall prediction model was developed using a deep learning-based downscaling model i.e. Long-Short Term Memory (LSTM), while streamflow or water availability prediction was conducted using the Soil Water Assessment Tools (SWAT) model. The Standardized Precipitation Index (SPI) and the Water Scarcity Index (WSI) were used to assess water scarcity. The results showed that the LSTM-based downscaling model provided satisfactory rainfall predictions under different climate change scenarios (RCP) with a reliability average of R2 = 0.741. The SWAT model results also provided satisfactory predictions of water availability with an average reliability of R2 = 0.668. The assessment of water scarcity using SPI and WSI indices showed that water scarcity ranged from moderate to high levels and coincided with the occurrence of El Niño events. Overall, this study demonstrates that the integration an LSTM-based rainfall downscaling model and the SWAT hydrological model can be used as an effective tool to predict water scarcity in the Semajid watershed.
EVALUASI KINERJA SUB DAS ASEM KABUPATEN LUMAJANG Perkasa, Windy Bana Alam; Halik, Gusfan; Wiyono, Retno Utami Agung
Jurnal Riset Rekayasa Sipil Vol 5, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.114 KB) | DOI: 10.20961/jrrs.v5i2.58139

Abstract

Sub daerah aliran sungai (Sub DAS) adalah satu kesatuan ekosistem yang terdiri dari sumber daya alam dan manusia yang kompleks. Sub DAS berperan sebagai daerah tangkapan hujan yang dalam perkembangan tidak bisa lepas dari segala bentuk tindakan yang dilakukan manusia. Pada Sub DAS Asem, seringkali terjadi masalah akibat tingkat perubahan cuaca yang tidak menentu, serta perubahan tata guna lahan yang ada, mengakibatkan meningkatnya debit air sungai hingga merusak infrastruktur yang ada, oleh karena itu diperlukan evaluasi penilaian dari semua kriteria secara lengkap merujuk pada Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia tentang Monitoring dan Evaluasi Daerah Aliran Sungai tahun 2014 mencakup evaluasi kondisi lahan, tata air, sosial ekonomi, investasi bangunan air dan pemanfaatan ruangan wilayah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kinerja Sub DAS Asem pada tahun 2009 sebesar 86,50 termasuk dalam kondisi baik. Kemudian nilai kinerja Sub DAS Asem pada tahun 2019 meningkat sedikit sebesar 88,75 namun masih termasuk dalam kondisi baik. Sehingga secara keseluruhan daya dukung Sub DAS Asem dalam kondisi baik.