Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

HARGA DIRI DAN NOMOPHOBIA PADA REMAJA PEREMPUAN Wijaya, Imas Bringo; Purnamasari, Santi Esterlita; Rinaldi, Martaria Rizky
Dinamika Psikologis: Jurnal Ilmiah Psikologis Vol. 1 No. 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Univeresitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26486/jdp.v1i1.4202

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara harga diri dan kecenderungan nomophobia pada remaja perempuan. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, penelitian ini melibatkan 150 remaja perempuan berusia 12-21 tahun yang menggunakan ponsel cerdas. Data dikumpulkan melalui skala harga diri dan skala nomophobia, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara harga diri dan nomophobia. Remaja dengan harga diri yang lebih tinggi cenderung memiliki kecenderungan nomophobia yang lebih rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa meningkatkan harga diri dapat menjadi strategi efektif dalam mengurangi ketergantungan berlebihan pada ponsel di kalangan remaja perempuan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa harga diri berperan penting dalam memengaruhi tingkat nomophobia, sehingga intervensi yang berfokus pada peningkatan harga diri dapat membantu dalam mengurangi risiko nomophobia. Kata Kunci:  harga diri, nomophobia, remaja perempuan
HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA Apsari, Ayu Rahmaditha; Purnamasari, Santi Esterlita
Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 19 No. 1: Februari 2017
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.657 KB) | DOI: 10.26486/psikologi.v19i1.596

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konformitas dengan perilaku seksual pranikah pada remaja. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara konformitas dengan perilaku seksual pranikah pada remaja. Subjek penelitian ini adalah remaja tengah yang berada pada rentang usia 15-18 tahun sebanyak 60 subjek, 36 subjek laki-laki dan 24 subjek perempuan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala konformitas dan skala perilaku seksual pranikah. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan korelasi product moment dari Pearson. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara konformitas dengan perilaku seksual pranikah pada remaja, yaitu rxy 0,748. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya hubungan positif antara konformitas dengan perilaku seksual pranikah pada remaja. Sehingga hipotesis pada penelitian ini dapat diterima. Semakin tinggi tingkat konformitas maka perilaku seksual pranikah pada remaja semakin tinggi, sebaliknya semakin rendah tingkat konformitas maka perilaku seksual ppranikah pada remaja semakin rendah.
PERAN AYAH DALAM PENGASUHAN ANAK Parmanti, Parmanti; Purnamasari, Santi Esterlita
Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 17 No. 2: Agustus 2015
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.192 KB) | DOI: 10.26486/psikologi.v17i2.687

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran ayah dalam pengasuhan anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study). Partisipan penelitian ini adalah 2 orang ayah yang berperan langsung dalam mengasuh anaknya yaitu periode anak usia dini 4-6 tahun, pra remaja 6-12 tahun dan remaja 18-21 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam. Partisipan penelitian ini adalah KR dan HR. Penelitian ini memperoleh hasil bahwa peran KR pada anak usia dini dalam membina kedekatan dengan anak dengan cara menemani anak ketika bermain yaitu membuatkan aneka mainan dari kertas seperti pesawat terbang dan kapal laut. KR memberikan kebebasan bermain pada anak seperti bermain balok atau mobil-mobilan di dalam rumah tetapi KR selalu mengawasi anak. Pada usia 2,5 sampai 3 tahun KR telah melatih anak untuk mandiri seperti makan, mandi, berpakaian ataupun toilet training. Peran HR terhadap anak pra remaja yaitu sering menemani anak belajar misalnya mengajari anak ketika sedang mengerjakan pekerjaan rumah. HR mengijinkan anaknya untuk melihat televisi tentang tata cara mengambar untuk mengembangkan bakat anak. Sementara itu peran ayah pada anak remaja, kedua partisipan mengijinkan anak untuk bermain dengan siapa saja asalkan saat bermain anak tersebut ingat waktu shalat, istirahat serta saatnya belajar. Kedua partisipan saat mengasuh anaknya yang remaja lebih mendalami masalah pada remaja terutama masalah pergaulannya. Oleh karena itu dalam membentengi anak dari pengaruh yang nantinya akan berefek negatif pada anak dengan cara memperkuat masalah agama, bagaimana cara memilih teman yang baik karena apabila anak tersebut memiliki teman yang baik maka akan berefek baik juga pada diri anak tersebut tetapi bila anak salah memilih teman maka anak juga akan terjerumus pada masalah yang berakibat kurang baik untuk masa depan anak tersebut
PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA KELUARGA BROKEN HOME Munandar, Aris; Purnamasari, Santi Esterlita; Peristianto, Sheilla Varadhila
Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 22 No. 1: Februari 2020
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.142 KB) | DOI: 10.26486/psikologi.v22i1 Feb.959

Abstract

Ketidakharmonisan dalam suatu keluarga yaitu akibat kondisi broken home dapat berdampak pada tingkat kesejahteraan psikologis individu. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesejahteraan psikologis yang mengalami broken home pada usia dewasa awal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan karakteristik usia dewasa awal berjenis kelamin laki-laki dan berasal dari keluarga broken home. Partisipan berjumlah tiga orang yaitu dalam rentang usia masa dewasa awal berkisar antara 18 hingga 25 tahun. Pengumpulan data penelitian dengan cara wawancara mendalam dan observasi partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga partisipan memiliki aspek aspek kesejahteraan subyektif yang berbeda-beda. Kesejahteraan psikologis OD bersifat kurang positif sedangkan RY dan WM bersifat positif.
DIBESARKAN DALAM KEKANGAN, TUMBUH DENGAN KECEMASAN: STUDI TENTANG POLA ASUH OTORITER DAN KECEMASAN SOSIAL PADA MASA DEWASA AWAL Husnul Khatimah; Santi Esterlita Purnamasari
Dinamika Psikologis: Jurnal Ilmiah Psikologis Vol. 2 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Univeresitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26486/jdp.v2i2.4848

Abstract

Individu pada fase dewasa awal (18–25 tahun) kerap menghadapi tantangan dalam berinteraksi sosial yang dapat memicu munculnya kecemasan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh otoriter dengan kecemasan sosial pada individu dalam fase tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis korelasi spearman dari Charles Spearman. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 168 individu yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Instrumen penelitian berupa skala psikologis dengan model Likert untuk mengukur pola asuh otoriter dan kecemasan sosial. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara pola asuh otoriter dengan kecemasan sosial. Hal ini berarti semakin tinggi pola asuh otoriter yang dialami individu, semakin tinggi pula kecenderungan individu mengalami kecemasan sosial. Meskipun kekuatan hubungan yang ditemukan berada pada kategori lemah, temuan ini menegaskan bahwa pola asuh otoriter memiliki kontribusi terhadap munculnya kecemasan sosial pada dewasa awal. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan pentingnya pola asuh yang lebih mendukung, terbuka, dan responsif untuk membangun komunikasi yang sehat dan memperkuat kelekatan emosional sejak dini guna mendukung perkembangan kepercayaan diri dan keterampilan sosial anak di kemudian hari agar dapat mengurangi potensi munculnya kecemasan sosial dan membantu individu dalam fase transisi menuju dewasa untuk mengembangkan keterampilan sosial yang sehat. Kata Kunci : pola asuh otoriter, kecemasan sosial, dewasa awal  
Kesejahteraan psikologis pada remaja dengan orangtua bercerai: Dapatkah ditingkatkan dengan pelatihan memaafkan? Psychological well-being in adolescents with divorced parents: Can it be improved by forgiveness training? Widiastuti, Netty; Soeharto, Triana Noor Edwina Dewayani; Purnamasari, Santi Esterlita
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 12 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v12i2.8216

Abstract

Divorce has many negative impacts on teenagers, such as low psychological well-being caused by negative emotions that arise as a result of parents' divorce. This study aims to determine the effectiveness of forgiveness training to improve psychological well-being in adolescents with divorced parents. This study uses the quasi-experimental design Pretest-Posttest Control Group with Follow-up Design. The study subjects were 12 adolescents with divorced parents, consisting of 4 males and 8 females, with a male psychological well-being score in the medium-low category. Subjects were divided into 2 groups randomly, consisting of 6 subjects in the experimental group and 6 subjects in the control group. The experimental group was given intervention in the form of forgiveness training for 3 meetings and the control group was given a video on the power of forgiveness after the research was complete. Data collection was carried out using the Psychological Well-being Scale (α – 0,919) and the Forgiveness Scale (α = 0,886). The data analysis method used is the Independent Sample T-test and Paired Sample T-test. Based on these results, it can be interpreted that training to forgive can improve the psychological well-being of adolescents with divorced parents.
Peningkatan Kemampuan Adaptasi Pola Belajar Siswa Melalui Support Group di SMP Negeri X Kelin Karpillia Tadius; Santi Esterlita Purnamasari
HOSPITALITAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): Mei
Publisher : PT. Giat Konseling Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70420/

Abstract

The transition period from Elementary School to Junior High School is often associated with adjustment difficulties among students in academic, social, and emotional aspects. Based on the assessment conducted at SMP Negeri X, seven students of class 7X were identified as experiencing difficulties in adapting to the learning system in junior high school, such as lack of focus during lessons, failure to complete assignments, passive behavior in classroom discussions, and difficulties in building social relationships with peers. This community service program aimed to improve students’ learning adaptation skills through a support group intervention based on the Mutual Aid Support Group Model developed by Lawrence Gitterman and Lee Shulman. The intervention was conducted through five sessions, namely engagement, exploration, mutual support, skill practice, and reflection and termination. In addition, students were asked to complete daily journals for 30 days to monitor behavioral changes, self-regulation, and adjustment abilities in daily life. The evaluation was carried out using a pre-test and post-test design with the Self-Adjustment Scale. The results showed an improvement in self adjustment scores among all participants after the intervention. Furthermore, observations and interviews with the school counselor and homeroom teacher indicated positive behavioral changes, including increased participation in learning activities, better emotional regulation, improved discipline, and greater involvement in group discussions. The results of the reflective journals also demonstrated that students were able to manage their daily activities more systematically through the implementation of simple daily schedules. Therefore, the mutual aid based support group proved to be effective as a preventive intervention in helping students improve their adaptation to academic and social demands within the school environment.