Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Distribusi Spasial Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp.) di Pulau Ambon Romi Pranata; Sedek Karepesina; Samin Botanri
Jurnal Agrohut Vol 9 No 2 (2018): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v9i2.10

Abstract

Sagu merupakan tanaman penghasil pati yang tersedia banyak di bagian Timur Indonesia. Potensinya kadang melimpah di kawasan tertentu namun pada wilayah lain tersebar merata. Banyak sekali ditemukan perbedaan data yang tersaji sehingga menyulitkan untuk menentukan potensinya secara pasti. Penelitian ini dilakukan untuk melihat distribusi spasial tumbuhan sagu di Pulau Ambon. Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu (1) Interpretasi citra (analisis awal) citra satelit resolusi tinggi, (2) Pengecekan lapangan (ground check), dan (3) Re-interpretasi citra satelit resolusi tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi tumbuhan sagu yang tumbuh dan berkembang dalam wilayah Pulau Ambon sebesar 470,95 ha dengan tingkat akurasi sebesar 77,78%. Tumbuhan sagu terdistribusi secara spasial tidak merata dan sebagian besarnya (86,44%) terkonsentrasi pada 2 wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Leihitu dan Kecamatan Salahutu dengan luas masing-masing sebesar 238,81 ha (50,71%) dan 168,27 ha (35,73%). Sebanyak 95% tumbuhan sagu di wilayah Pulau Ambon terdistribusi pada 3 wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Leihitu, Kecamatan Salahutu dan Kecamatan Leitimur Selatan.
Tegakan Hutan pada Petak Ukur Permanen (PUP) di Hutan Alam Desa Batlale Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, Maluku (Kondisi Umum dan Tanaman Dominan) Daniel Jacob Tahitu; Samin Botanri; Sedek Karepesina
Jurnal Agrohut Vol 9 No 1 (2018): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v9i1.14

Abstract

Petak Ukur Permanen (PUP) adalah satuan unit evaluasi dalam melihat kondisi struktur pertumbuhan tegakan pohon, kerusakan serta pengelolaan yang tepat atas suatu kawasan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kondisi topografi, struktur tanah dan indikator tapak lainnya dengan stuktur tegakan di PUP Hutan Alam Desa Batlale Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, Maluku. Penelusuran pustaka disajikan untuk informasi yang telah tersedia, berikutnya tegakan pohon di ukur diameter dan tingginya pada plot yang telah ditetapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa topografi lokasi PUP dan sekitarnya adalah agak curam dengan kelerengan lapangan yaitu 15 % sampai 25 %, ketinggian tempat berkisar 400 – 450 m dpl. Iklim di lokasi PUP dan sekitarnya menurut Schmidt dan Fergusson termasuk tipe iklim ”C” yaitu daerah agak basah (hujan tropis). Jumlah tanaman tingkat tiang adalah 24 jenis dengan 57 individu. Jenis yang dominan adalah Bintangur (Chalophilum inophyllum, L.). Jenis dominan untuk tingkat pohon adalah Uhun (Eucalyptosis papuana C.T. White) berjumlah 30 pohon (32,97%) dengan volume 191,85 m³.
Struktur Populasi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp.) di Pulau Seram Provinsi Maluku Samin Botanri
Jurnal Agrohut Vol 1 No 1 (2010): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v1i1.25

Abstract

Sebagian besar potensi sagu yang terdapat di Papua dan Maluku yakni mencapai 96 %, memiliki multifungsi, namun pemanfaatannya masih sangat rendah bahkan cenderung terabaikan. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan struktur populasi sagu dalam komunitas sagu alami di Pulau Seram Provinsi Maluku. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survey. Penetapan wilayah sampel mengguanakan metode judgment sampling. Plot sampel ditetapkan dengan menggunakan metode non-random sampling secara beraturan (systematic sampling). Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sagu di Pulau Seram secara umum mengikuti pola pertumbuhan muda, didominasi oleh fase semai mencapai 83,04 ind/ha. Tingkat kegagalan tumbuh sampai ke fase berikutnya mencapai 76,18 %. Tingginya tingkat kematian atau gagalnya individu sagu fase semai tumbuh sampai ke fase sapihan dan seterusnya karena beberapa aspek yaitu :1) sifat pertumbuhan tunas, 2) banyaknya jumlah tunas, 3) kondisi kemasaman tanah, dan 4) intensitas sinaran surya yang terbatas. Sebagian anakan sagu tumbuh berupa anakan mengantung, sifat anakan ini rentan terhadap kematian. Dalam setiap rumpun sagu dapat mencapai 20 anakan, akibat persaingan sebagian akan kalah dan mati. Sifat kemasaman lahan habitat sagu dapat mencapai pH 4,3, kondisi seperti ini dapat meracuni sistem perakaran tanaman. Kemudian intensitas sinaran surya yang sampai di bawah tegakan sagu hanya sekitar 12,40%.
Analisis Vegetasi Pada Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Air Besar di Desa Selagur Kota Kecamatan Siritaun Wida Timur Kabupaten Seram Bagian Timur Samin Botanri; Rismawati Buaklofin; Sedek Karepesina; M Yani Kamsurya
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.35

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui indeks nilai penting vegetasi di Daerah Aliran Sungai (DAS), khususnya tingkat Pohon dan Tiang. Pengamatan di lakukan di DAS Air Besar di Desa Selagur Kota Kecamatan Siritaun wida Timur Kabupaten Seram Bagian Timur. Metode yang digunakan dalam pengukuran dan pengamatan vegetasi adalah menggunakan metode transek/jalur garis berpetak tunggal. Pengambilan sampel diambil pada masing–masing jenis vegetasi yang ditemukan dalam petak/areal dengan ukuran 20 x 20 m dan 10 x 10 m, masing-masing untuk kelas Pohon dan Tiang. Indeks nilai penting (INP) tanaman tingkat Pohon tertinggi adalah Sengon (Paraserianthes falcataria) (57,62) diikuti dengan Samama (Anthocephallus macrophyllus) (53,55). Sementara itu untuk tingkat tiang, INP tertinggi adalah Ebony (Dyospiros celebia) dan diikuti oleh Gofasa (Vitex sp.).
Peran Bahan Organik dalam Mempertahankan dan Perbaikan Kesuburan Tanah Pertanian; Review Marwan Yani Kamsurya; Samin Botanri
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.121

Abstract

Tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi dapat menjamin tingkat produktifitas pertanian. Keberadaan kandungan bahan organik tanah yang memadai merupakan salah satu kunci keberlanjutan pertanian. Praktek pertanian yang mengabaikan penambahan kandungan bahan organik tanah atau kegiatan pertanian yang tidak mampu mempertahankan kandungan bahan organik tanah maka praktek pertanian tersebut akan mengarah pada kemunduran produktifitas dan menjadi pertanian yang rapuh untuk jangka panjang. Tanah pertanian dengan kandungan bahan organik tinggi patut dipertahankan dan tanah dengan kandungan bahan organik yang rendah harus ditingkatkan. Praktek pertanian seperti inilah yang dapat menjamin keberlanjutan produktifitas pertanian untuk kepentingan masa depan masyarakat lokal, nasional, maupun global. Mempertahankan kandungan bahan organik tanah ataupun meningkatkan kandungan bahan organik dalam praktek pertanian tidak banyak ditemukan, namun dalam jangka panjang diperlukan pemahaman dan kesadaran para pihak, terutama petani, ilmuwan di bidang pertanian, dan pemerhati pertanian dan lingkungannya untuk melakukan suatu upaya menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran para pihak yang peduli dengan kelangsungan pertanian kita dimasa dating, bahwa peran bahan organik merupakan salah satu kunci keberlanjutan pertanian ramah lingkungan di masa depan.
Kualitas Briket Arang dari Limbah Ela Sagu Sudiono Wali; Sedek Karepesina; Samin Botanri; Tekat Dwi Cahyono
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.122

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat dan kualitas limbah ela sagu dan menguji panas atau kalor briket arang limbah ela sagu yang telah diproses melalui pencetakan dengan menggunakan pipa dan dongkrak. Ela sagu dikeringkan dibawah sinar matahari dan berikutnya dibakar di dalam drum selama 30 menit hingga menjadi arang. Serbuk arang di saring hingga lolos 80 mesh.. Berikutnya disiapkan perekat yang dibuat dari tepung sagu dan air. Keduanya dicampur dan dipanaskan hingga mendidik. Sambil diaduk, campuran di dinginkan hingga berbentuk seperti perekat. Briket dibuat dengan mencampur perekat dengan arang. Perbandingan perekat dengan arang adalah 1:1. Perekat dan arang ela sagu dimasukkan dalam pipa ukuran 4 cm dan diberi tekanan 1, 2, dan 3 ton selama 15 menit. Berikutnya dilanjutkan dengan pemanasan pada suhu 100 °C selama 30 menit. Identifikasi kualitas briket arang adalah kadar air, kadar abu, kadar zat mudah menguap dan fixed karbon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tekanan 3 ton memberikan kualitas briket arang yang terbaik.
Dampak Pemeliharaan terhadap Struktur dan Komposisi Tegakan Hutan Alam pada Areal Petak Ukur Permanen: Studi Kasus pada HPH PT. Mangtip III Pulau Taliabu, Maluku Utara Kasman Drakel; Samin Botanri; Sedek Karepesina; Fitriyanti Kaliky; Baltazar Erbabley
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.125

Abstract

Pemeliharaan atau perawatan berkala jarang ditemukan pada kegiatan pemanenan di hutan produksi. Padahal telah umum diketahui, bahwa kegiatan ini bermanfaat untuk peremajaan tanaman. Sebuah penelitian dilakukan untuk menganalisis struktur dan komposisi tegakan hutan alam pada hutan produksi di Maluku Utara. Pengamatan dilakukan pada Petak Ukur Permanen HPH PT. Mangtip III Pulau Taliabu, Maluku Utara. Metode yang digunakan adalah mengamati struktur pohon, tiang, sapihan dan semai pada petak ukur yang telah ditetapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 61 jenis tingkat semai dan 45 jenis tingkat sapihan. Tingkat tiang dan pohon masing masing 36 dan 38 jenis. Riap diameter pada kawasan yang di rawat lebih baik dibandingkan dengan yang tidak dirawat. Penelitian ini merekomendasikan bahwa perawatan penting untuk menjaga pertumbuhan dan kualitas tegakan
Interaksi Faktor Tanah dalam Habitat Sagu (Metroxylon spp) dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Rumpun dan Produksi Pati Sagu Samin Botanri; M Riadh Uluputty; M Yani Kamsurya
Jurnal Agrohut Vol 12 No 2 (2021): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v12i2.139

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengungkapkan interaksi antara sifat-sifat tanah dalam habitat tanaman sagu dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan rumpun dan produksi pati sagu. Penelitian berlangsung pada bulan Maret-November 2009, merupakan penelitian survey yang dilakukan pada 3 wilayah sampel, yaitu Luhu, Sawai, dan Werinama. Petak sampel ditetapkan dengan menggunakan metode non-random sampling secara beraturan (systematic sampling). Data dianalisis menggunakan regresi komponen utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sifat-sifat tanah yang berinterkasi atau berkorelasi secara positif dan negatif. C-organik berkorelasi positif dengan pH (KCl), Kalsium, KTK, Magnesium, dan Kalium. Korelasi positif terjadi pula antara partikel liat dengan bulk density. Sedangkan variabel pH dan Fe korelasinya bersifat negative. Sifat tanah dalam habitat sagu sangat ditentukan oleh variabel kapasitas tukar kation (KTK). Kontribusi pengaruh faktor tanah terhadap jumlah populasi rumpun sagu sebesar 4,3 %. Persamaan regresi komponen utamanya sebagai berikut : Y1 = 9,363 - 0,016 X1 - 0,0389 X2 + 0,0526 X3 - 0,128 X4 + 2,284 X5. Sementara pengaruh faktor tanah terhadap produksi pati sagu, kontribusinya sebesar 60,9 %. Persamaan regresi komponen utamanya sebagai berikut : Y2 = 745,19 + 63,731 X1 + 21,909 X2 + 2,087 X3 + 1,935 X4 + 31,129 X5 + 48,988 X6 - 32,131 X7 - 0,030 X8 + 1,647 X9. Terdapat variabel tanah yang memberikan pengaruh yang bersifat positif atau menguntungkan, baik terhadap jumlah populasi rumpun maupun produksi. Demikian pula sebaliknya terdapat variabel yang berpengaruh negatif atau bersifat tidak menunjang terhadap populasi rumpun dan juga produksi pati sagu. Pengaruh yang bersifat menguntungkan bagi pertumbuhan tidak selalu diikuti dengan pengaruh yang serupa terhadap produksi pati sagu.
Penyebaran Spasial dan Potensi Tanaman Sagu (Metroxylon spp.) di Pulau Seram, Maluku Samin Botanri; Lilik B Prasetyo; Agus P Kartono; Haris Syahbuddin
JUSTE (Journal of Science and Technology) Vol. 3 No. 1 (2022): JUSTE
Publisher : LLDIKTI WIlayah XII Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1414.374 KB) | DOI: 10.51135/justevol3issue1page55-67

Abstract

Sagu (Metroxylon spp.) merupakan komoditas dengan multifungsi. Potensi paling besar di dunia terdapat di Indonesia mencapai 50-60 %, namun pemanfaatannya masih kurang, baru sekitar 15-20 %. Penelitian bertujuan mengungkapkan penyebaran spasial, potensi luasan, jumlah tegakan, dan potensi produksi pati berbagai varietas/subvarietas tanaman sagu di Pulau Seram Provinsi Maluku. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-Nopember 2009. Distribusi spasial ditetapkan melalui analisis klasifikasi terbimbing data citra Landsat-5TM, kemudian dilakukan verifikasi lapang menggunakan GPS. Potensi sagu ditetapkan melalui survey ke tiga wilayah sampel yaitu Luhu, Sawai, dan Werinama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Pulau Seram Provinsi Maluku terdapat luas areal tanaman sagu sebesar 18.239,8 ha. Penyebarannya membentuk klaster (pach) secara tidak merata, di dataran rendah, ketinggian ≤ 250 m dpl, pada lahan datar sampai curam dengan slope 0-40 %, pada tanah-tanah aluvium (Entisols dan Inceptisols), di pesisir pantai, dan dekat kiri-kanan sungai. Potensi sagu di pulau ini mencapai 3,22 juta rumpun, pohon 1,47 juta individu, dan pohon panen ± 350 ribu individu. Sagu Tuni Becc. dan Sylvestre Becc. merupakan subvarietas dan varietas sagu dengan kapasitas produksi tinggi, mencapai 566,04 dan 560,68 kg/batang. Sedangkan kapasistas produksi sagu subvarietas Makanaro Becc. dan varietas Molat Becc. masing-masing hanya sekitar 245,21 dan 237,22 kg/batang.
Masa Panen dan Produksi Tanaman Cengkeh Hutan (Syzygium obtusifolium L.) pada Elevasi Berbeda di Pulau Ambon, Maluku, Indonesia Marwan Y Kamsurya; Samin Botanri
JUSTE (Journal of Science and Technology) Vol. 3 No. 1 (2022): JUSTE
Publisher : LLDIKTI WIlayah XII Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1367.148 KB) | DOI: 10.51135/justevol3issue1page46-54

Abstract

Cengkeh hutan (Syzygium obtusifolium L.) merupakan jenis tanaman cengkeh liar dimana populasinya dalam habitat alam sudah sangat minim, karena cara panen yang menyimpang. Seperti halnya cengkeh aromatik, misalnya varietas Sanzibar, Sikotok, Siputih, dan Ambon, dimasa kini jenis tanaman ini mulai dibudidayakan. Penelitian bertujuan untuk mengungkapkan dan menjelaskan hubungan antara elevasi dengan waktu panen dan produksi bunga segar dan kering. Penelitian dilakukan di pulau Ambon selama lima bulan sejak bulan Januari-Mei 2021. Peralatan yang dipakai antara lain altimeter dan data sheet. Titik pengamatan ditetapkan dengan metode purposive sampling, meliputi : Halasi (6 m dpl), Tibang (11 m dpl), Oli (125 m dpl), Wanat (175 m dpl), dan Telaga Kodok (214 m dpl). Pada masing-masing lokasi dipilih 10 pohon sampel berumur 10-15 tahun. Variabel pengamatan, yaitu : 1). Elevasi (m dpl), 2). Masa panen, dan 3). Berat bunga panen segar dan kering (kg/pohon). Analisis data menggunakan software Minitab versi 14. Hasil penelitian menujukkan bahwa pemanenan pada elevasi 6 dan 11 m dpl berlangsung pada bulan Januari-Februari. Dengan makin bertambah elevasi sampai dengan 125 m dpl, pemanenan bergeser sampai pertengahan bulan Maret-April. Pada elevasi 175-214 m dpl masa panennya berlangsung pada bulan April-Mei. Dengan bertambahnya elevasi, hasil panen bunga segar meningkat, sementara berat bunga kering cenderung berkurang. Bunga panen segar tertinggi dicapai pada elevasi 246,13 m dpl sebesar 54.86 kg/tan. Sementara hasil panen bunga kering maksimum diproyeksi dicapai pada elevasi 240.0 m dpl sebesar 20.55 kg/tanaman.