Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Kualitas Briket Arang dari Limbah Ela Sagu Sudiono Wali; Sedek Karepesina; Samin Botanri; Tekat Dwi Cahyono
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.122

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat dan kualitas limbah ela sagu dan menguji panas atau kalor briket arang limbah ela sagu yang telah diproses melalui pencetakan dengan menggunakan pipa dan dongkrak. Ela sagu dikeringkan dibawah sinar matahari dan berikutnya dibakar di dalam drum selama 30 menit hingga menjadi arang. Serbuk arang di saring hingga lolos 80 mesh.. Berikutnya disiapkan perekat yang dibuat dari tepung sagu dan air. Keduanya dicampur dan dipanaskan hingga mendidik. Sambil diaduk, campuran di dinginkan hingga berbentuk seperti perekat. Briket dibuat dengan mencampur perekat dengan arang. Perbandingan perekat dengan arang adalah 1:1. Perekat dan arang ela sagu dimasukkan dalam pipa ukuran 4 cm dan diberi tekanan 1, 2, dan 3 ton selama 15 menit. Berikutnya dilanjutkan dengan pemanasan pada suhu 100 °C selama 30 menit. Identifikasi kualitas briket arang adalah kadar air, kadar abu, kadar zat mudah menguap dan fixed karbon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tekanan 3 ton memberikan kualitas briket arang yang terbaik.
Dampak Pemeliharaan terhadap Struktur dan Komposisi Tegakan Hutan Alam pada Areal Petak Ukur Permanen: Studi Kasus pada HPH PT. Mangtip III Pulau Taliabu, Maluku Utara Kasman Drakel; Samin Botanri; Sedek Karepesina; Fitriyanti Kaliky; Baltazar Erbabley
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.125

Abstract

Pemeliharaan atau perawatan berkala jarang ditemukan pada kegiatan pemanenan di hutan produksi. Padahal telah umum diketahui, bahwa kegiatan ini bermanfaat untuk peremajaan tanaman. Sebuah penelitian dilakukan untuk menganalisis struktur dan komposisi tegakan hutan alam pada hutan produksi di Maluku Utara. Pengamatan dilakukan pada Petak Ukur Permanen HPH PT. Mangtip III Pulau Taliabu, Maluku Utara. Metode yang digunakan adalah mengamati struktur pohon, tiang, sapihan dan semai pada petak ukur yang telah ditetapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 61 jenis tingkat semai dan 45 jenis tingkat sapihan. Tingkat tiang dan pohon masing masing 36 dan 38 jenis. Riap diameter pada kawasan yang di rawat lebih baik dibandingkan dengan yang tidak dirawat. Penelitian ini merekomendasikan bahwa perawatan penting untuk menjaga pertumbuhan dan kualitas tegakan
Interaksi Faktor Tanah dalam Habitat Sagu (Metroxylon spp) dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Rumpun dan Produksi Pati Sagu Samin Botanri; M Riadh Uluputty; M Yani Kamsurya
Jurnal Agrohut Vol 12 No 2 (2021): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v12i2.139

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengungkapkan interaksi antara sifat-sifat tanah dalam habitat tanaman sagu dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan rumpun dan produksi pati sagu. Penelitian berlangsung pada bulan Maret-November 2009, merupakan penelitian survey yang dilakukan pada 3 wilayah sampel, yaitu Luhu, Sawai, dan Werinama. Petak sampel ditetapkan dengan menggunakan metode non-random sampling secara beraturan (systematic sampling). Data dianalisis menggunakan regresi komponen utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sifat-sifat tanah yang berinterkasi atau berkorelasi secara positif dan negatif. C-organik berkorelasi positif dengan pH (KCl), Kalsium, KTK, Magnesium, dan Kalium. Korelasi positif terjadi pula antara partikel liat dengan bulk density. Sedangkan variabel pH dan Fe korelasinya bersifat negative. Sifat tanah dalam habitat sagu sangat ditentukan oleh variabel kapasitas tukar kation (KTK). Kontribusi pengaruh faktor tanah terhadap jumlah populasi rumpun sagu sebesar 4,3 %. Persamaan regresi komponen utamanya sebagai berikut : Y1 = 9,363 - 0,016 X1 - 0,0389 X2 + 0,0526 X3 - 0,128 X4 + 2,284 X5. Sementara pengaruh faktor tanah terhadap produksi pati sagu, kontribusinya sebesar 60,9 %. Persamaan regresi komponen utamanya sebagai berikut : Y2 = 745,19 + 63,731 X1 + 21,909 X2 + 2,087 X3 + 1,935 X4 + 31,129 X5 + 48,988 X6 - 32,131 X7 - 0,030 X8 + 1,647 X9. Terdapat variabel tanah yang memberikan pengaruh yang bersifat positif atau menguntungkan, baik terhadap jumlah populasi rumpun maupun produksi. Demikian pula sebaliknya terdapat variabel yang berpengaruh negatif atau bersifat tidak menunjang terhadap populasi rumpun dan juga produksi pati sagu. Pengaruh yang bersifat menguntungkan bagi pertumbuhan tidak selalu diikuti dengan pengaruh yang serupa terhadap produksi pati sagu.
Penyebaran Spasial dan Potensi Tanaman Sagu (Metroxylon spp.) di Pulau Seram, Maluku Samin Botanri; Lilik B Prasetyo; Agus P Kartono; Haris Syahbuddin
JUSTE (Journal of Science and Technology) Vol. 3 No. 1 (2022): JUSTE
Publisher : LLDIKTI WIlayah XII Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1414.374 KB) | DOI: 10.51135/justevol3issue1page55-67

Abstract

Sagu (Metroxylon spp.) merupakan komoditas dengan multifungsi. Potensi paling besar di dunia terdapat di Indonesia mencapai 50-60 %, namun pemanfaatannya masih kurang, baru sekitar 15-20 %. Penelitian bertujuan mengungkapkan penyebaran spasial, potensi luasan, jumlah tegakan, dan potensi produksi pati berbagai varietas/subvarietas tanaman sagu di Pulau Seram Provinsi Maluku. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-Nopember 2009. Distribusi spasial ditetapkan melalui analisis klasifikasi terbimbing data citra Landsat-5TM, kemudian dilakukan verifikasi lapang menggunakan GPS. Potensi sagu ditetapkan melalui survey ke tiga wilayah sampel yaitu Luhu, Sawai, dan Werinama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Pulau Seram Provinsi Maluku terdapat luas areal tanaman sagu sebesar 18.239,8 ha. Penyebarannya membentuk klaster (pach) secara tidak merata, di dataran rendah, ketinggian ≤ 250 m dpl, pada lahan datar sampai curam dengan slope 0-40 %, pada tanah-tanah aluvium (Entisols dan Inceptisols), di pesisir pantai, dan dekat kiri-kanan sungai. Potensi sagu di pulau ini mencapai 3,22 juta rumpun, pohon 1,47 juta individu, dan pohon panen ± 350 ribu individu. Sagu Tuni Becc. dan Sylvestre Becc. merupakan subvarietas dan varietas sagu dengan kapasitas produksi tinggi, mencapai 566,04 dan 560,68 kg/batang. Sedangkan kapasistas produksi sagu subvarietas Makanaro Becc. dan varietas Molat Becc. masing-masing hanya sekitar 245,21 dan 237,22 kg/batang.
Masa Panen dan Produksi Tanaman Cengkeh Hutan (Syzygium obtusifolium L.) pada Elevasi Berbeda di Pulau Ambon, Maluku, Indonesia Marwan Y Kamsurya; Samin Botanri
JUSTE (Journal of Science and Technology) Vol. 3 No. 1 (2022): JUSTE
Publisher : LLDIKTI WIlayah XII Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1367.148 KB) | DOI: 10.51135/justevol3issue1page46-54

Abstract

Cengkeh hutan (Syzygium obtusifolium L.) merupakan jenis tanaman cengkeh liar dimana populasinya dalam habitat alam sudah sangat minim, karena cara panen yang menyimpang. Seperti halnya cengkeh aromatik, misalnya varietas Sanzibar, Sikotok, Siputih, dan Ambon, dimasa kini jenis tanaman ini mulai dibudidayakan. Penelitian bertujuan untuk mengungkapkan dan menjelaskan hubungan antara elevasi dengan waktu panen dan produksi bunga segar dan kering. Penelitian dilakukan di pulau Ambon selama lima bulan sejak bulan Januari-Mei 2021. Peralatan yang dipakai antara lain altimeter dan data sheet. Titik pengamatan ditetapkan dengan metode purposive sampling, meliputi : Halasi (6 m dpl), Tibang (11 m dpl), Oli (125 m dpl), Wanat (175 m dpl), dan Telaga Kodok (214 m dpl). Pada masing-masing lokasi dipilih 10 pohon sampel berumur 10-15 tahun. Variabel pengamatan, yaitu : 1). Elevasi (m dpl), 2). Masa panen, dan 3). Berat bunga panen segar dan kering (kg/pohon). Analisis data menggunakan software Minitab versi 14. Hasil penelitian menujukkan bahwa pemanenan pada elevasi 6 dan 11 m dpl berlangsung pada bulan Januari-Februari. Dengan makin bertambah elevasi sampai dengan 125 m dpl, pemanenan bergeser sampai pertengahan bulan Maret-April. Pada elevasi 175-214 m dpl masa panennya berlangsung pada bulan April-Mei. Dengan bertambahnya elevasi, hasil panen bunga segar meningkat, sementara berat bunga kering cenderung berkurang. Bunga panen segar tertinggi dicapai pada elevasi 246,13 m dpl sebesar 54.86 kg/tan. Sementara hasil panen bunga kering maksimum diproyeksi dicapai pada elevasi 240.0 m dpl sebesar 20.55 kg/tanaman.
Respon Masyarakat terhadap Pelestarian Hutan Mangrove di Desa Amarwawatu, Seram Bagian Timur Sikiani Lulang; Samin Botanri; Kamarudin Kamarudin
Jurnal Masohi Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Masohi
Publisher : DPD FDI Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36339/jmas.v3i2.286

Abstract

Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang kompleks dan khas, serta memiliki daya dukung yang cukup besar terhadap lingkungan disekitarnya. Hutan mangrove itu terdapat disalah satu Desa yang ada di Kecamatan Gorom timur Kabupten Seram Bagian Timur (SBT) yaitu Desa Amarwawatu, yang ada dua jenis mangrove yaitu (Mangrove Rhizopora Apikulata dan Sonneratia Alba) yang namun kenyataannya menunjukan bahkan kurang adanya kesadaran masyarakat untuk memperhatikan dan menjaga keutuhan hutan tersebut, agar dapat bermanfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat setempat. Bertolak dari latar belakang diatas maka penulis tertarik mengadakan penelitian dengan judul.“Persepsi Masyarakat Terhadap Kelestarian Hutan Mangrove di Desa Amarwawatu”. Untuk Mengetahui Persepsi Masyarakat Terhadap Kelestarian Hutan Mangrove di Desa Amarwawatu olehnya itu, Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif pada masyarakat Desa Amarwawatu untuk dapat memperoleh informasi secara detail tentang persepsi masyarakat terhadap kelestarian hutan mangrove. Dengan prensentase jumlah responden 70 Kepala Keluarga (KK) dan populsi diambil sampelnya 32 responden. Dari hasil penilitian masa lampau maka hutan mangrove pada masa lampau terdapat < 3 hektar. Data menunjukan bahwa A. luas sekali 5 orang (15,6%) dan B. Cukup luas 17 orang atau (53,1%) sedangkan menyatakan C. Tidak begitu luas 10 orang atau (31,2%) kondisi luas hutan mangrove yang dimaksud. Hasil dari responden yang menjawab Desa Amarwawatu disepanjang pesisir pantai menganggap keberadaan hutan mangrove. Pada masakini masyarakat Desa Amarwawatu berpresepsi bahwa keberadaan hutan mangrove sangat penting dari 32 Responden yang menjawab A. Ada 29 orang (90,6%) sedangkan B. Tidak ada 1 orang atau (3,25%) yang menjawab C. Tidak Tau 2 orang atau (6.25). Dalam hal ini masyarakat Desa Amarawawtu yang berada di pesisir pantai manganggap keberadaan hutan mangrove di wilayah mereka sangat penting, masyarakat sangat menyadari pentingnya hutan mangrove di tempat mereka, namum disamping itu ada sebagian orang juga belum paham dan menyadari pentingnya keberadaan hutan hutan mangrove
Mekanisme Pembentukan Rumpun Sagu (Metroxylon spp) Samin Botanri
Jurnal Agrohut Vol 5 No 2 (2014): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v5i2.208

Abstract

Sagu (Metroxylon spp) merupakan jenis tumbuhan palem wilayah tropika basah memiliki pola pertumbuhan yang relatif berbeda dengan tanaman palem yang lain seperti halnya kelapa, sagu sifatnya berumpun. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan mengenai mekansime pembentukan rumpun sagu yang tumbuh dan berkembang di pulau Ambon, Maluku. Lokasi sampel ditetapkan secara purposive dan penetapan tumbuhan sampel menggunakan metode garis berpetak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya tumbuhan sagu berkembang biak dengan menggunakan system perakaran basal berupa rhizome yang tumbuh di bawah permukaan tanah menyebar ke samping sekitar 2-3 meter kemudian muncul ke permukaan tanah membentuk individu baru yang terus berkembang menjadi pohon induk baru yang dikelilingi oleh anakan membentuk rumpun rumpun baru.
Pemanfaatan Bahan Organik Limbah Penyulingan Minyak Kayu Putih untuk Perkecambahan Benih dan Pertumbuhan Bibit Cengkeh Hutan (Syzygium obtusifolium L.) Botanri, Samin
Jurnal Agrohut Vol. 15 No. 2 (2024): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v15i2.342

Abstract

Dalam upaya mempersiapkan bibit yang baik, diperlukan media tumbuh yang sesuai, untuk mendapatkan media tumbuh seperti yang diharapkan dapat dilakukan dengan mencampur tanah dengan bahan organik. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan peran pemanfaatan bahan organik dari limbah penyulingan minyak kayu putih sebagai media tumbuh untuk mendorong perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit tanaman cengkeh hutan. Penelitian dilakukan di Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon, Maluku berlangsung selama tujuh bulan sejak bulan Agustus 2022 sampai Maret 2023. Sumber benih diambil dari tanaman cengkeh hutan milik petani di kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Perlakuan bahan organik terdiri dari 5 taraf, yaitu : P0 = tanpa bahan organik; P1= bahan organik 20 %; P2 = bahan oganik 40 %; P3 = bahan oganik 60 %; P4 = bahan oganik 80 %. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Berblok dengan 3 ulangan. Setiap satuan percobaan dipilih 3 bibit tanaman sampel. Variabel yang diamati meliputi persen daya kecambah, vigor benih, tinggi bibit, jumlah daun, dan luas daun, faktor koreksi (fc) 0.65. Data dianalisis secara statistik meliputi Analisis Sidik Ragam (Anova) dan uji beda Fisher’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakukan bahan organik memberikan pengaruh signifikan terhadap perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit tanaman cengkeh hutan dengan nilai R2 untuk perkecambahan benih sebesar 76.5 %, korelasinya sangat kuat (r = 0.87). Sementara nilai R2 untuk pertumbuhan bibit sebesar 73.83 % dengan nilai korelasi (r = 0.85). Perkecambahan benih dengan daya kecambah 93.33 % dicapai pada taraf perlakuan 40 % bahan organik dan perlakuan 20 % bahan organik mampu menghasilkan pertumbuhan bibit cengkeh hutan yang baik dengan tinggi bibit mencapai 24.9 cm, jumlah daun 5.4 helai dan luas daun sebesar 26.68 cm2.
Study of Clove Plant (Syzigium sp) Productivity in the Siritaun Wida Timur District of East Seram Timur Regency Rumalean, Hasan; Kamsurya, Marwan Yani; Botanri, Samin; Pattilow, Ibnu Rusmin; Banjar, Nawawi; Hadijah, Miranda H
Jurnal Agrohut Vol. 15 No. 1 (2024): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v15i1.157

Abstract

This research aims to determine the productivity of clove plants (Zyzigium Sp.) in the Siritaun Wida Timur District of East Seram Timur Regency. Three selected villages chosen as research samples are ADM Keta Kwaos Village, ADM Keta Rumadhan Village, and ADM Liantasik Village. The type of research is quantitative descriptive, and the method used in this research is a survey. The respondents from each village constitute 30% of the total clove farmers. The research results show that clove plant production from 2017-2019 is relatively stable, but in 2018 the production drastically decreased. This is due to cultivation factors and climate change factors that occurred in the three villages.
Inventarisasi Ekonomi dan Sosial Budaya pada Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Model Bacan (Studi Kasus Desa Nang Kecamatan Bacan Barat Utara Kabupaten Halmahera Selatan) Solisa, Darwis; Botanri, Samin; Kamaruddin, Kamaruddin; Umar, Dewi Bin
Jurnal Agrohut Vol. 14 No. 2 (2023): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v14i2.184

Abstract

Hutan sebagai unsur penting dalam kehidupan manusia, dan memiliki arti dan peranan yang sangat besar pada aspek sosial dan lingkungan hidup. Disamping itu juga, pengelolaan hutan sangat membantu pendapatan dan devisa bagi Negara dalam rangka mencapai kemakmuran rakyat. Pengelolaan hutan tidak bisa dipisahkan dari permasalahan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Pemanfaatan hasil hutan dapat dikembangkan sehingga mampu memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekonomi dan sosial budaya masyarakat dalam/sekitar kawasan hutan produksi KPHP Model Bacan. Metode yang digunakan: yaitu metode deskript kualitatif (penarikan sampel secara acak). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa masyarakat Desa nang masih tetap memanfaatkan tanaman umur panjang dan pendek serta hasil hutan kayu dan non kayu yang terdapat dalam hutan guna memiliki kebutuhan hidup sehari-hari.