Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

KONSEPSI SENI BORIS PASTERNAK DALAM “DEFINISI PUISI” Tisna Gumilar; Tisna Prabasmoro; Rasus Budhyono
Metahumaniora Vol 9, No 3 (2019): METAHUMANIORA, DESEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i3.26856

Abstract

Tulisan ini mencoba mencari sebuah konsep estetik Boris Pasternak melalui penelusuran puisi ars poetica-nya berjudul Определение поэзии [Opredjelenje Poezzia] ‘Definisi Puisi’.  “definisi puisi” diasumsikan sebagai representasi imaji personalitas pengarangnya baik melalui pernyataan langsung yang berhubungan dengan personalitas pengarang (pengetahuan atau pandangan-pandangan yang diekspresikan) juga melalui seluruh struktur karya tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam analisis karya digunakan pendekatan hermeneutic Ricoeur(1976)  terutama mengenai teori metafora. Hermeneutika digunakan sebagai teori untuk mengungkap konsep filosofi yang terkandung dalam puisi  tersebut. Definisi puisi adalah konsepsi seni Boris Pasternak yang di tuangkan dalam metafora-metafora. 
MEMBACA SASTRA, MENYOAL REALITAS POLITIK PADA TAHUN 2005 MELALUI CERPEN ROKOK MBAH GIMUN KARYA F RAHARDI Trisna Gumilar; Baban Banita; Mega Subekti; Rasus Budhyono
Metahumaniora Vol 11, No 3 (2021): METAHUMANIORA, DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i3.36953

Abstract

Cerpen Rokok Mbah Gimun karya F. Rahardi yang dimuat di harian Kompas pada tanggal 10 Juli 2005 merupakan sebuah karya sastra yang kontekstual dengan realitas politik yang terjadi pada tahun itu, yaitu pilkada (pemilihan kepala daerah). Tulisan ini mencoba mengungkapkan sisi lain dari masyarakat yang terlibat secara langsung dalam peristiwa politik yang baru pertama dilangsungkan dalam sejarah Indonesia merdeka. Utamanya, masyarakat yang direpresentasikan melalui sosok bernama Mbah Gimun dalam merespon praktik-praktik kotor terkait dengan pemilihan bupati di sebuah daerah di pulau Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika dan argumentasi Lotman (1990) yang menganggap cerpen tidak saja sebagai sebuah karya sastra tetapi juga dokumen budaya yang memotret realitas sosial masyarakat. Cerpen ini terlihat mencoba menawarkan sebuah gagasan cerdas  melalui suara Mbah Gimun sebagai representasi masyarakat kelas bawah dalam menghadapi suatu situasi politik yang carut-marut dalam pilkada, yaitu menghadapinya dengan keluguan sekaligus di saat yang sama menunjukkan resistensi dan kemandiriannya.