Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Perjumpaan Demokrasi, Multikulturalisme dan Inklusifisme Pendidikan di PM Gontor 7 Putera, Konawe Selatan Syahrul Syahrul
Shautut Tarbiyah Vol 24, No 1 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.047 KB) | DOI: 10.31332/str.v24i1.926

Abstract

Abstrak            Pendidikan adalah invenstasi jangka panjang sebuah bangsa. Sebelum masa keterpurukan akibat perang dunia, pertama hingga kedua, pendidikan menjadi tonggak kemasyhuran bangsa-bangsa besar. Sejak kejayaan Mesir kuno, peradaban Islam di Irak dan Spanyol, hingga revolusi juli, adalah bentangan kekuatan pendidikan. Gemerlap politik global terkadang mengalihkan perhatian negara kepada persoalan politik, hingga menampilkan parade kekuatan dominatif suatu bangsa atas bangsa lain. Produk-produk dari usaha pendidikan menjadi alat penebar arogansi antar bangsa. Namun, setelah perang dunia kedua, Jepang misalnya, melakukan reposisi nasional dari kecenderungan ekspansif ke pembangunan Sumber Daya Manusia melalui pendidikan. Hasilnya, Jepang melejit sangat cepat hingga saat ini. Artikel ini berupaya menjelaskan bahwa melalui pendidikan, persoalan-persoalan sosial dapat diurai. Gagasan pendidikan pada dasarnya untuk kepentingan kemanusiaan menyeluruh, sehingga tidak hanya dapat diakses oleh kelompok tertentu. Demikian juga sekat-sekat geografis, demografis dan politis, melebur ketika berada dalam lembaga pendidikan. Bangsa Indonesia yang pernah dijajah beberapa abad, ketika menghirup udara kemerdekaan, tidak menampilkan dendam kepada negara bekas penjajah. Pendidikanlah yang mengajarkan para pendiri bangsa bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, karena bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Bahkan Indonesia harus aktif dalam pergaulan antar bangsa, memelopori perdamaian dunia. Para pendiri bangsa kebanyakan berlatar pendidikan khas Indonesia, seperti pesantren. Salah satunya adalah PM Gontor, yang dalam berbagai gerak pendidikannya, menunjukkan kemampuan mempertemukan demokrasi, multikulturalisme, inklusifisme.Kata Kunci:   Demokrasi, Multikulturalisme, Inklusifisme, PesantrenAbstract            Education is a long-term investment of a nation. Before the downturn caused by the world war, first to second, education became the cornerstone of the great nations. Since the glory of ancient Egypt, Islamic civilization in Iraq and Spain, until the July revolution, is a stretch of educational power. The glitter of global politics sometimes diverts the country's attention to political issues, to the parade of a nation's dominating power over other nations. The products of the educational endeavor become a means of spreading the arrogance between nations. However, after the second world war, Japan for example, made a national reposition of the expansionary tendency to the development of Human Resources through education. As a result, Japan skyrocketed very quickly to this day. This article seeks to explain that through education, social issues can be broken down. The idea of education is basically for the sake of humanity is comprehensive, so it is not only accessible to certain groups. Likewise geographic barriers, demographics and politics, merge when in an educational institution. The Indonesian nation that had been colonized for centuries, when it breathed freedom of air, did not show a grudge against the former colonial country. It is education that teaches the founders of the nation that freedom is the right of all nations, as opposed to the principles of humanity. Even Indonesia must be active in the inter-nation association, pioneering world peace. The founders of the nation are mostly educational backgrounds typical of Indonesia, such as boarding schools. One of them is PM Gontor, who in various educational movements, demonstrates the ability to bring together democracy, multiculturalism, inclusiveness.Keywords: Democracy, Multiculturalism, Insclusivess, Pesantren
Community Participation at the Basic Education Level in Wakatobi Regency Edy Karno; Syahrul Syahrul
Shautut Tarbiyah Vol 26, No 1 (2020): Education in Islamic Societies
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.36 KB) | DOI: 10.31332/str.v26i1.1785

Abstract

This article aims to provide an overview of community participation in education in Wakatobi District. The aspects explored include: pure enrollment rates at primary education level, literacy rates of people aged 15 years and over, and average length of schooling of residents aged 15 years and over. This study uses a qualitative approach, in which document study becomes the main technique in data collection. The document examined is the archive of the Education and Culture Office, as well as the Wakatobi Regency Central Statistics Agency. Data analysis is carried out through the stages of data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that: 1) Elementary School Participation Rate (APS) was more than 95 percent and APSSMP was more than 76.15 percent. This shows that the 6-year Compulsory Education supported by school infrastructure development and continued with the 9-year Compulsory Education is an education sector program that is recognized as quite successful. In other words, compulsory learning programs are said to be successful. 2) Literacy rates are seen in the proportion of diploma ownership by sex. Where elementary school level is equal and diploma and above, the proportion of women with a diploma tends to be higher than the male population. While at the level of junior high school and senior high school, the proportion of the male population with a diploma tends to be higher than the female population. 3) during the 2010-2016 period, the average length of schooling in Wakatobi District had increased from 2010 by 6.18 years, in 2016 to 7.70 years.
Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi terhadap Motivasi Belajar Siswa Samrin Samrin; Syahrul Syahrul; St. Fatimah Kadir; Dewi Rafiul Lukluil Maknun
Shautut Tarbiyah Vol 26, No 2 (2020): Education in Islamic Societies
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/str.v26i2.2400

Abstract

Artikel ini bertujuan menguji pengaruh kondisi sosial ekonomi terhadap motivasi belajar siswa di SMAN 1 Abuki. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui teknik korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh kondisi ekonomi orang tua terhadap motivasi belajar siswa adalah positif dan signifikan. Kesimpulan ini mengandung makna bahwa kondisi ekonomi orang tua yang baik memiliki arah positif dan nyata dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Kata Kunci: Kondisi Sosial Ekonoomi, Motivasi Belajar AbstractThis article aims to examine the effect of socio-economic conditions on student motivation at SMAN 1 Abuki. The research was conducted using a quantitative approach through correlational techniques. The results showed that the effect of the economic conditions of parents on student motivation is positive and significant. This conclusion implies that the economic conditions of good parents have a positive and real direction in increasing student achievement. Keywords: Socio-Economic Conditions, Learning Motivation
DAKWAH NATIO-EDUCATION PADA MASYARAKAT EKS TAHANAN POLITIK DI KAMPUNG NANGA-NANGA KOTA KENDARI SULAWESI TENGGARA Syahrul Syahrul
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 16, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.368 KB) | DOI: 10.14421/jd.2015.16207

Abstract

Kemajemukan  bangsa  Indonesia  tidak  hanya  pada  aspek-aspek yang selama ini populer di masyarakat seperti budaya, suku, bahasa, agama ataupun ras. Lebih dari itu, kemajemuk-an nampak pula pada kondisi sosial yang mengalami pelapisan“atas-menengah-bawah”,  terdidik-kurang  terdidik,  bahkan pelabelan berdasarkan latar belakang afiliasi politik seperti “kiri-tengah-kanan”. Fakta-fakta sosial tersebut menyebabkan terjadinya  perbedaan  perlakuan  bagi  masing-masing komunitas  yang  mengalami  polarisasi  tersebut  baik  secara struktural, kultural maupun politik.Mengambil  setting pada  masyarakat eks  tahanan politik  di Kampung  Nanga-Nanga  Kota  Kendari  Propinsi  Sulawesi Tenggara,  tulisan  ini  merupakan  upaya  melukiskan  kondisi suatu komunitas yang mengalami ketidakadilan secara sosial akibat pilihan mereka di masa lalu. Fakta lain yang menjadi sorotan  adalah  rendahnya  partisipasi  mereka  terhadap pendidikan.  Sehingga  tulisan  ini  juga  merupakan  ikhtiar memberikan tawaran solutif atas permasalahan tersebut.Masyarakat eks tahanan politik Kampung Nanga-Nanga Kota Kendari Propinsi Sulawesi Tenggara adalah komunitas yang diasingkan dari hiruk-pikuk  penyelenggaraan negara akibat peristiwa 30 September 1965. Meskipun reformasi pada mei 1998 memberi harapan rehabilitasi, tetapi kondisi traumatik yang demikian kuat tidak memberi perubahan berarti dalam kehidupan sosial masyarakat kampung Nanga-Nanga. Proses isolasi masyarakat eks tahanan politik yang telah berlangsung cukup  lama  di  tempat  itu  menciptakan  stigma  bahwa kampung  Nanga-Nanga  dan  masyarakatnya  merupakan lapisan asing dalam struktur masyarakat di Kota Kendari.Akibat  dari  pengasingan  itu  masyarakat  kampung  Nanga-Nanga  menunjukkan  beberapa  perilaku  seperti:  pesimisme dalam berbangsa dan bernegara, apriori terhadap lembaga pendidikan,  sensitif  terhadap  agama,  dan  tertutup  dalam pergaulan sosial.Kondisi masyarakat eks tahanan politik di kampung Nanga-Nanga  yang  mayoritas  beragama  Islam  menghadirkan tawaran tentang perlunya pendekatan agama dalam konteks membangun  kesadaran  berbangsa  dan  menumbuhkan semangat  untuk  bersekolah.  Pendekatan  strategis  tersebut diharapkan  menjadi  gerakan  dakwah  kebangsaan  dan perbaikan layanan pendidikan. Akibatnya strategi dakwah ini menuntut  keterlibatan  seluruh  elemen  masyarakat  baik pemerintah,  tokoh  agama,  tokoh  masyarakat,  pemuda, mahasiswa dan lembaga pendidikan.
Flipped Learning in Fostering Students' Independent Learning through Self-Regulation and Parental Supervision (Flipped Learning dalam Menumbuhkan Kemandirian Belajar Siswa melalui Regulasi Diri dan Pengawasan Orang Tua) Muhajir Muhajir; Syahrul Syahrul
Shautut Tarbiyah Vol 28, No 1 (2022): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tran
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/str.v28i1.3496

Abstract

This article aims to provide an analysis of flipped learning in fostering student learning independence through self-regulation and parental supervision. The aspects studied are: flipped learning in fostering student learning independence through self-regulation and flipped learning in fostering student learning independence through parental supervision. The method used in this article is a literature review, where readings are carried out on various scientific journals that discuss flipped learning. The results of the study show that the application of flipped learning can lead students to achieve independent learning, but must be supported by high self-regulation and optimization of parental supervision. Independent learning of students is not only influenced by the involvement of parents and students' personal factors, but also includes environmental factors. This study suggests the need for collaboration between teachers and parents in formulating a supervisory model for students and training students' self-regulation.Keywords:     Flipped Learning, Learning Independence, Self Regulation, Parental Supervision, Digital Age Artikel ini bertujuan memberikan analisis tentang flipped learning dalam menumbuhkan kemandirian belajar siswa melalui regulasi diri dan pengawasan orang tua. Aspek yang didalami adalah: flliped learning dalam menumbuhkan kemandirian belajar siswa melalui regulasi diri dan flliped learning dalam menumbuhkan kemandirian belajar siswa melalui pengawasan orang tua. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah reviu literature, dimana pembacaan dilakukan terhadap berbagai jurnal ilmiah yang membahasa tentang flipped learning. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan flipped learning dapat mengantar siswa mencapai kemandirian belajar, tetapi harus ditunjang dengan regulasi diri yang tinggi dan optimalisasi pengawasan orang tua. Kemandirian belajar siswa tidak hanya dipengaruhi oleh keterlibatan orang tua dan faktor pribadi siswa, tetapi juga mencakup faktor lingkungan. Kajian ini menyarankan perlunya kolaborasi guru dan orang tua dalam merumuskan model pengawasan bagi siswa dan melatih regulasi diri siswa.Kata Kunci:   Flliped Learning, Kemandirian Belajar, Regulasi Diri, Pengawasan Orang Tua, Era Digital
Marketing Strategy Through Curriculum Innovation at SD Syahid Al-Khalifah Kendari (Strategi Marketing Melalui Inovasi Kurikulum di SD Syahid Al-Khalifah Kendari) Nining Nining; Syahrul Syahrul; Erdiyanti Erdiyanti
Shautut Tarbiyah Vol 28, No 1 (2022): Transdisciplinary Approach in Islamic Education in the 4.0 era (Pendekatan Tran
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/str.v28i1.3478

Abstract

This article aims to analyze the practice of marketing strategies through curriculum innovation at SD Syahid Al-Khalifah Kendari. The aspects studied are: 1) the form of curriculum innovation offered by SD Syahid Al-Khalifah; 2) curriculum innovation as a marketing strategy at Syahid Al-Khalifah Elementary School. The research was conducted qualitatively with a narrative approach, so that field data were obtained from purposively selected informants, and the researcher acted as the main instrument, assisted by interview guides, camera-photos, and stationery. Data were collected using observation, interview, and document studies. To ensure the validity of this research data, the researchers carried out an extension of observations, increased persistence and triangulation. The results of this study indicate that curriculum innovation at SD Syahid Al-Khalifah Kendari is manifested in the integration of the 2013 curriculum, the Islamic curriculum, and the leadership curriculum. The node of the innovation is the formation of identity as a school of Islamic leadership. The curriculum innovation is a product that is sold to the public by using promotional media, both conventionally and using social media platforms.Keywords:     Marketing Strategy, Curriculum Innovation, Islamic School, LeadershipArtikel ini bertujuan menganalisis praktik strategi marketing melalui inovasi kurikulum di SD Syahid Al-Khalifah Kendari. Aspek yang didalami adalah: 1) bentuk inovasi kurikulum yang ditawarkan SD Syahid Al-Khalifah; 2) inovasi kurikulum sebagai strategi marketing di SD Syahid Al-Khalifah. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan naratif, sehingga data lapangan diperoleh dari informan yang dipilih secara purposive, dan peneliti bertindak sebagai instrumen utama, dibantu pedoman wawancara, kamera-foto, dan alat tulis. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Untuk menjamin keabsahan data penelitian ini maka peneliti melakukan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa inovasi kurikulum di SD Syahid Al-Khalifah Kendari mewujud dalam integrasi kurikulum 2013, kurikulum keislam, dan kurikulum kepemimpinan. Simpul dari inovasi tersebut adalah pembentukan identitas sebagai sekolah kepemimpinan Islam. Inovasi kurikulum tersebut menjadi produk yang dijual ke masyarakat dengan menggunak media promosi, baik secara konvensional maupun menggunakan platform media sosial.Kata Kunci:   Strategi Marketing, Inovasi Kurikulum, Sekolah Islam, Kepemimpinan
READINES FRAME: ANALISIS KERANGKA KESIAPAN DALAM TRANSFORMASI PENDIDIKAN TINGGI (PENGALAMAN IAIN KENDARI) Syahrul Syahrul
Al-TA'DIB: Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan Vol 9, No 1 (2016): VOL 9. NO. 1 JANUARI-JUNI 2016
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/atdb.v9i1.507

Abstract

Eksistensi sebuah perguruan tinggi sebagai pelopor pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mensyaratkan respon yang tinggi terhadap perubahan zaman. Salah satu bentuknya adalah transformasi kelembagaan disebabkan model kelembagaan yang lama tidak mampu lagi mengakomodasi tuntutan perkembangan. Hal ini menjadi tantangan semua perguruan tinggi termasuk IAIN Kendari. Riset ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendalami kesiapan IAIN Kendari dalam proses transfomasi kelembagaan. Walaupun saat ini STAIN Kendari telah bertransformasi menjadi IAIN Kendari, tetapi riset ini tetap bermanfaat -salah satunya- sebagai bahan perbandingan dalam rangka tranformasi kelembagaan IAIN Kendari pada tingkat yang lebih tinggi. Hasil kajian riset ini menemukan bahwa rumusan-rumusan dalam Rencana Strategis IAIN Kendari 2014-2018 belum menunjukkan kondisi empirik yang sesungguhnya. Data dan informasi yang valid sejatinya diungkapkan sehingga dapat menjadi cermin yang berguna dalam perumusan langkah-langkah strategik. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa secara ideal kesiapan menghadapi transformasi kelembagaan sangat rendah.Bahwa alih status yang diperoleh cenderung sebagai "berkah tak terduga" atau blessing in disguise. Dalam rangka menuju perguruan tinggi yang lebih kompetitif di masa depan kesiapan kelembagaan secara menyeluruh harus menjadi perhatian utama. Kata Kunci:   Kerangka kesiapan, transformasi, pendidikan tinggi.
KEPEMIMPINAN DAN INOVASI LEMBAGA PENDIDIKAN (Pengalaman Pondok Gontor VII Putra Sulawesi Tenggara) Syahrul Syahrul
Al-TA'DIB: Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan Vol 8, No 1 (2015): Vol. 8 No. 1, Januari-Juni 2015
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/atdb.v8i1.394

Abstract

AbstrakPondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islamkhas Indonesia, bahkan lembaga pendidikan tertua di Nusantara.Kehadirannya populer disebut sebagai fenomena desa karenaumumnya berada di luar perkotaan. Kondisi zaman yang berubahcepat telah menciptakan polarisasi model pesantren, salaf dan khalaf.Secara substantif dua model tersebut merupakan respon atasperubahan-perubahan eksternal yang dalam luas disebut inovasi.Walaupun demikian, perbedaan antara kedua model pesantren tersebutsudah makin menipis saat ini. Pondok Gontor VII Putra SulawesiTenggara yang merupakan jenis pesantren khalaf, menunjukkanbahwa inovasi-inovasi dapat dilakukan melalui kepemimpinan Kiay.Keberhasilan kepemimpinan itu berlandaskan pada nilai-nilai luhuryang dianut, yaitu 14 point kepemimpinan Gontor yakni kualifikasiyang harus dimiliki oleh para pemimpin Gontor. Kualifikasikepemimpinan tersebut didukung oleh prinsip atau filosofi panca jiwadan panca jangka. Keberhasilan tersebut juga menunjukkan integrasikuat antara kualifikasi kepemimpinan, prinsip/filosofi yang dianutdengan praktek-praktek kelembagaan yang Nampak. Secara umum halini menunjukkan pula bahwa figur pemimpin merupakan kekuatantransformatif yang menentukan kemajuan suatu lembaga.Kata Kunci: Pesantren, Kiay, Kepemimpinan
Strategi Membangun Keunggulan di Era Disrupsi: Kajian di Pondok Pesantren Annur Azzubaidi, Konawe, Sulawesi Tenggara Nur Alim; Syahrul Syahrul
Al-Izzah: Jurnal Hasil-Hasil Penelitian Vol 16, No. 2, November 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/ai.v0i0.3175

Abstract

This article describes the struggle of the Pesantren Annur Azzubaidi in building excellence in the era of disruption. The aspects studied are: developing the vision of the Pesantren, large-scale planning, strengthening the skills of students, and strengthening community relations. The deepening process is carried out through qualitative research with the narrative method, where the data is obtained through observation, interviews and document studies. Meanwhile, data analysis goes through the stages: data collection, data reduction, data display, and data verification. The results showed that: 1) the development of the vision of the Pesantren Annur Azzubaidi leads to the development of quality human resources in science; 2) large-scale planning embodied in short-term plans, medium-term plans, and long-term plans; 3) train students' skills in various fields such as agriculture, animal husbandry, arts, and entrepreneurship; 4) build partnerships and strengthen relationships with the community. This study recommends the need for further research on the resilience of the cottage tradition in the industrial era 4.0.
Organizational Culture Dimensions in the Management of PM Gontor 7 Putera, Southeast Sulawesi Syahrul Syahrul; Suryadi Suryadi
Al-Izzah: Jurnal Hasil-Hasil Penelitian Vol 16, No. 1, Mei 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/ai.v0i0.2492

Abstract

This article aims to investigate: (1) ideas and ideals of the establishment of PM Gontor; (2) Phases of the grounding of Gontor's PM ideas; 3) Proliferation of PM Gontor as the largest pesantren corporation in Indonesia; 4) Elements of Gontor's organizational culture. Data was collected through interviews, observations, and documentation studies. Data analysis was carried out through four stages, namely: domain analysis, taxonomic analysis, compound analysis, and analysis of cultural themes. The results showed: (1) The existence of PM Gontor started with Pesantren Tegalsari ideas about the responsibility of advancing the Islamic Ummah and seeking the pleasure of Allah SWT; (2) The earthing phases of PM Gontor's ideas stretched during the founding of Old Gontor, the planting of shared values in the New Gontor era, instilling shared values through tiered education (3) The Gontor PM Proliferation is an effort to spread Gontor energy throughout Indonesia; (4) The elements of organizational culture in PM Gontor include the ideas/ideals of Tegalsari, educational strategies, shared values in the five souls, and the application of the five-term as a producer of the PM Gontor artifacts. The implication of this research is to continuously improve educational institutions by revitalizing the main dimensions of organizational culture.