Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

NA SAJI, NEW BALINESE KARAWITAN CREATION METHOD I Wayan Diana Putra
Acintya Vol. 16 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Balinese karawitan composing basically uses intuition and accumulated artistic experience to create new karawitan music. The way the composer works is by transferring the musical abstraction stored in the brain memory to the musicians in an imitative way. In addition to having artistic experience, Balinese composers must also have the intellect to create Balinese musical works. The composer's intellect can then give rise to a new Balinese musical creation methodology as a refinement of the previous Balinese musical creation methodology. The refinement of Balinese musical creation methodology also aims to create a direction or projection of Balinese musical creation that is more educational than a performance. Refinement by developing the methodology of previous karawitan composers such as I Wayan Beratha, I Nyoman Windha and Pande Made Sukerta as objects of study and comparison. After reviewing and comparing the three stages of composers, it was deemed necessary to refine the stages of reading, discussion and writing. This resulted in the creation of a new musical methodology called Na Saji. Na Saji is a newly initiated methodology for creating Balinese karawitan music. The methodology of creating Balinese karawitan music is called Na Saji. The name of the Na Saji method is taken from the first letter of each stage, the letter ‘N’, which in Balinese script reads ‘Na’. While saji refers to the meaning of serving or presentation. So Na Saji is a method for presenting the stages of creating Balinese gamelan works. The five stages of the Na Saji method are: nyelehin (observing), nureksin ( analyzing), nyurat (writing), ngendingin (singing) and nabuhang (playing). The abstract should be in one paragraph.The font is Cambria, 10 pt, italic, and justify. Abstract is in 200-250 words, which is followed by 3-5 keywords.The abstract should succinctly describes your entire paper. It comprises of the purposes of the research, method, and the findings of the research, Novelty.
KAJIAN ESTETIKA TARI LEGONG PELAYON BANJAR BINOH KAJA DALAM PELESTARIAN DI ERA MODERNISASI Haryati, Ni Made; Putra, I Wayan Diana; Pramanasari, Kadek Diah
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di era modernisasi ini, perkembangan teknologi sangat pesat yang digunakan untuk membantu dan mendukung kegiatan manusia. Salah satu teknologi yang marak digunakan adalah penggunan gadget sebagai alat komunikasi dan informasi di segala usia baik muda maupun usia lanjut. Beberapa orang mempercayai bahwa perkembangan teknologi ini tentunya memberikan dampak positif kepada anak-anak agar mereka tidak ketinggalan zaman. Dampak negatiF dapat dilihat dari segi kesehatan, efek media social, perkembangan mental, proses berfikir, serta keterbatasan interaksi. Salah satu upaya untuk menanggulangi ketergantungan anak-anak pada gadget adalah dengan membangkitkan kembali pelatihan-pelatihan di bidang seni. Salah satu daerah yang mampu mendukung pelestarian kesenian adalah Banjar Binoh Kaja, Desa Ubung Kaja, Denpasar merupakan salah satu banjar di Kota Denpasar yang terkenal dalam bidang seni palegongan. Tari Legong sebagai dasar tari putri tentunya memiliki tingkat kesukaran dari segi teknik gerak tari. Masyarakat banjar Binoh berharap para generasi penerus dapat melestarikan tari legong salah satunya adalah tari Legong Pelayon. Tarian ini merupakan salah satu legong yang telah jarang dipelajari dan ditarikan hingga masyarakat khawatir tarian ini akan mengalami kepunahan. Sehingga perlu adanya upaya untuk melaksanakan penelitian mengenai estetika bentuk tari Legong Pelayon gaya Banjar Binoh Kaja.
NA SAJI, NEW BALINESE KARAWITAN CREATION METHOD I Wayan Diana Putra
Acintya Vol. 16 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v16i2.6765

Abstract

Balinese karawitan composing basically uses intuition and accumulated artistic experience to create new karawitan music. The way the composer works is by transferring the musical abstraction stored in the brain memory to the musicians in an imitative way. In addition to having artistic experience, Balinese composers must also have the intellect to create Balinese musical works. The composer's intellect can then give rise to a new Balinese musical creation methodology as a refinement of the previous Balinese musical creation methodology. The refinement of Balinese musical creation methodology also aims to create a direction or projection of Balinese musical creation that is more educational than a performance. Refinement by developing the methodology of previous karawitan composers such as I Wayan Beratha, I Nyoman Windha and Pande Made Sukerta as objects of study and comparison. After reviewing and comparing the three stages of composers, it was deemed necessary to refine the stages of reading, discussion and writing. This resulted in the creation of a new musical methodology called Na Saji. Na Saji is a newly initiated methodology for creating Balinese karawitan music. The methodology of creating Balinese karawitan music is called Na Saji. The name of the Na Saji method is taken from the first letter of each stage, the letter ‘N’, which in Balinese script reads ‘Na’. While saji refers to the meaning of serving or presentation. So Na Saji is a method for presenting the stages of creating Balinese gamelan works. The five stages of the Na Saji method are: nyelehin (observing), nureksin ( analyzing), nyurat (writing), ngendingin (singing) and nabuhang (playing). The abstract should be in one paragraph.The font is Cambria, 10 pt, italic, and justify. Abstract is in 200-250 words, which is followed by 3-5 keywords.The abstract should succinctly describes your entire paper. It comprises of the purposes of the research, method, and the findings of the research, Novelty.
PEMBELAJARAN TEKNIK DASAR KENDANG KRUMPUNGAN GAYA PELIATAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DI SANGGAR GAMELAN SULING GITA SEMARA Purwanto, Made Windu Agung; Mawan, I Gede; Putra, I Wayan Diana
PENSI : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Vol 2 No 1 (2022): Pensi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni - Juni 2022
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/pensi.v2i1.1716

Abstract

Penelitian ini membahas Pembelajaran Teknik Dasar Kendang Krumpungan Gaya Peliatan Dengan Model Pembelajaran Kooperatif di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara. Kendang krumpungan gaya Peliatan merupakan salah satu kesenian klasik yang memiliki ciri khas atau karakteristik. Rumusan masalah dalam penelitian mengenai karakteristik permainan kendang krumpungan gaya Peliatan, proses dan hasil pembelajaran teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan serta faktor-faktor pendukung dan penghambat selama proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan karakteristik kendang krumpungan gaya Peliatan, untuk mengetahui dan mendeskripsikan proses pembelajaran teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan, serta untuk mengatahui dan mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat pembelajaran teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahapan penelitian yang dilakukan yaitu menentukan rancangan penelitian, lokasi penelitian, instrumen penelitian, serta jenis dan sumber data. Selanjutnya pada teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu teknik observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi. Teknik analisis data disajikan dengan teknik analisis data kualitatif dan hasil analisis data disajikan dalam bentuk naratif berupa skripsi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kendang krumpungan gaya Peliatan memiliki karakteristik yang dapat dikaji melalui bentuk permainan, cara kerja pola permainan, dan sifat permainannya. Proses pembelajaran pada teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Adapun 4 tahapan pembelajarannya yaitu: tahap persiapan (preparation), tahap penyampaian (presentation), tahap latihan (practice), dan tahap penampilan hasil (performance). Faktor pendukung dan penghambat berasal dari dari faktor internal dan faktor eksternal peserta didik dan lingkungan.
PEMBELAJARAN GAMELAN SELONDING STYLE BEBANDEM DI SANGGAR SARATI SVARA BANJAR PANDE TUNGGAK DESA BEBANDEM Surananggana, Agus; Mawan, I Gede; Putra, I Wayan Diana
PENSI : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Vol 2 No 2 (2022): Pensi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni - September 2022
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/pensi.v2i2.1813

Abstract

Sanggar Sarati Svara merupakan salah satu sanggar seni yang aktif di bidang seni Karawitan Bali khususnya pada gamelan golongan tua seperti gamelan Selonding yang ada di desa Bebandem. Gamelan Selonding merupakan seni musik tradisional yang diperkirakan hidup sejak zaman Bali kuno dan merupakan peninggalan dari kegiatan berkesenian nenek moyang di masa silam dan merupakan salah satu contoh peninggalan dari leluhur. Sanggar Sarati Svara berupaya melestarikan seni budaya Bali dan memperkenalkan kesenian tersebut melalui pembelajaran praktek Gamelan Selonding kepada peserta didik yang dalam hal ini ditunjukkan kepada generasi muda yang masih awam dengan kesenian yang ada di Bali serta menjadikan cambuk semangat dalam mengembangkan potensi intelegensi peserta didik terhadap seni budaya Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tiga aspek, yaitu proses pembelajaran, metode pembelajaran dan faktor pendukung dan penghambat pembelajaran. Pada pengumpulan data mengunakan metode atau teknik penelitian yang meliputi observasi, wawancara, dekumentasi dan studi kepustakaan. Analisis data menggunakan analisis kualitatif dengan demikian hasil analisis data akan disajikan dengan cara naratif. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa proses pembelajaran Gamelan Selonding syle Bebandem di Sanggar Sarati Svara menggunakan empat tahapan meliputi tahap persiapan (preparatio), tahap penyampaian (presentation), tahap latihan (practice) dan tahap penampilan (performance). Dalam pendukung dan penghambat dalam pembelajaran Gamelan Selonding syle Bebandem dipengaruhi oleh dua faktor meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal: tingkat intelegensi peserta didik, emosi, bakat, motivasi. Faktor eksternal: pendidik, lingkungan.
PENGEMBANGAN VIDEO PEMBELAJARAN TEKNIK DASAR BERMAIN REYONG GONG KEBYAR DI SMP NEGERI 5 MENGWI, KABUPATEN BADUNG Dadri, Made Asta Sidhi; Budiarsa, I Wayan; Putra, I Wayan Diana
PENSI : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Vol 2 No 2 (2022): Pensi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni - September 2022
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/pensi.v2i2.1818

Abstract

Penelitian ini membahas topik tentang video pembelajaran teknik dasar bermain reyong Gong Kebyar. Materi teknik dasar bermain reyong Gong Kebyar dikemas dalam bentuk DVD yang terdiri dari (1) sejarah Gamelan Gong Kebyar; deskripsi reyong Gong Kebyar; (3) bentuk fisik reyong Gong Kebyar; (4) fungsi reyong Gong Kebyar; (5) teknik dasar bermain reyong Gong Kebyar yang mencakup sikap duduk, cara memegang panggul, teknik nekep, serta teknik dasar pukulan kabelet dan norot. Tujuan penelitian ini yaitu (1) mendeskripsikan proses pembuatan video pembelajaran teknik dasar bermain reyong Gong Kebyar; (2) mendeskripsikan hasil validasi ahli materi (seni karawitan), ahli media, dan guru seni karawitan terhadap video pembelajaran teknik dasar bermain reyong Gong Kebyar; (3) mendeskripsikan hasil uji coba perorangan terhadap video pembelajaran teknik dasar bermain reyong Gong Kebyar; (4) mendeskripsikan hasil uji coba kelompok kecil terhadap video pembelajaran teknik dasar bermain reyong Gong Kebyar. Penelitian ini berpendekatan penelitian pengembangan (research and development). Metode pengumpulan data yang digunakan berupa angket dan wawancara. Data kuantitatif dianalisis dengan penskoran, sedangkan data kualitatif dianalisis dengan komentar dan saran. Penelitian ini menghasilkan (1) video pembelajaran teknik dasar bermain reyong Gong Kebyar; (2) hasil validasi dari uji ahli terhadap video pembelajaran teknik dasar bermain reyong Gong Kebyar masuk dalam kategori sangat layak; (3) hasil tanggapan peserta didik melalui uji coba perorangan terhadap video pembelajaran teknik dasar bermain reyong Gong Kebyar masuk kategori sangat layak; (4) hasil uji coba kelompok kecil terhadap video pembelajaran teknik dasar bermain reyong Gong Kebyar masuk dalam kategori sangat layak.
LITERASI PROGRAM TALKSHOW MECANDETAN DAN SARASASTRA DI YAYASAN JANAHITA MANDALA UBUD Gita, Ida Ayu Kiran Sandra; Putra, I Wayan Diana; Haryati, Ni Made
PENSI : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/pensi.v4i1.3144

Abstract

Yayasan Janahita Mandala Ubud sebagai sebuah “Yayasan” didirikan oleh Bapak Drs. Tjokorda Gde Putra Sukawati dan Bapak Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si pada penghujung Tahun 2020. Dalam usaha melestarikan, memajukan serta menguatkan  dan mengaktualisasi nilai-nilai kearifan lokal yang bernafaskan Kebudayaan Bali. Yayasan Janahita Mandala Ubud memiliki enam program acara  yaitu Mecandetan (acara talkshow bertema gamelan/karawitan Bali),Wadhu Wakya (acara talkshow bertema perempuan), Reka Jana (acara mesatua anak-anak), Masolah (acara talkshow tentang tarian Bali), Sarasastra (diskusi kesusastraan Bali) dan Bincang Santai. Acara Mecandetan dan Sarasastra rutin dilakukan setiap bulannya. Output dari program ini berupa buku hasil dari pemikiran para seniman dan budayawan. Rumusan masalah yang terdapat dalam magang/praktik kerja ini adalah mengenai Bagaimana penerapan Literasi Program Talkshow Mecandetan dan Sarasastra di Yayasan Janahita Mandala Ubud, Tahapan apa saja yang dilakukan dalam proses pelaksanaan Literasi Program Talkshow Mecandetan dan Sarasastra, Apa tujuan pelaksanaan Aktivitas Literasi Literasi Program Talkshow Mecandetan dan Sarasastra. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan program magang/prakrik kerja di Yayasan Janahita Mandala ubud yaitu metode observasi, dokumentasi dan kepustakaan. Hasil dari program magang/praktik kerja di Yayasan Janahita Mandala Ubud memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa prodi pendidikan seni pertunjukan, selain menjadi tenaga pendidik yang profesional juga mampu membuat modul sumber literasi bahan ajar disekolah.