Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

EDUKASI SPIRITUAL WELL-BEING PADA PASIEN PENYAKIT KRONIK Nurul Jamil; Fajar Yousriatin
LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2026): LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Edukasi spiritual well-being merupakan salah satu upaya penting dalam mendukung pelayanan keperawatan yang holistik bagi pasien penyakit kronik. Rendahnya pengetahuan, sikap, dan praktik pasien dalam memenuhi kebutuhan spiritual dapat memengaruhi kemampuan beradaptasi, kualitas hidup, serta kepatuhan terhadap pengobatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik spiritual well-being pada pasien penyakit kronik melalui program edukasi kesehatan. Kegiatan diikuti oleh 32 pasien dengan penyakit kronik yang terdiri atas pasien gagal ginjal kronik, stroke, dan penyakit infeksi. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu pre-test, penyampaian materi edukasi yang disertai diskusi dan tanya jawab, serta post-test sebagai evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, sikap, dan praktik peserta setelah mengikuti edukasi. Kategori pengetahuan dan sikap yang baik mengalami peningkatan, sedangkan kategori tidak baik mengalami penurunan pada seluruh aspek yang dievaluasi. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi spiritual well-being efektif sebagai upaya promotif dalam meningkatkan pemahaman dan kesiapan pasien untuk memenuhi kebutuhan spiritual selama menjalani penyakit kronik. Oleh karena itu, kegiatan edukasi spiritual well-being perlu dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari pelayanan keperawatan yang holistik.
Peningkatan Literasi Kesehatan Jiwa Remaja melalui Program Edukasi di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Florensa Florensa; Nurul Hidayah; Wahyu Kirana; Lintang Sari; Fajar Yousriatin; Nurul Huda; Dwi Puji Astuti
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 2 (2026): Volume 9 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i2.24386

Abstract

ABSTRAK Remaja merupakan kelompok usia yang rentan mengalami permasalahan kesehatan jiwa, terutama remaja yang berada dalam lingkungan pembinaan seperti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Kondisi keterbatasan sosial, tekanan psikologis, serta stigma dapat berdampak pada kesejahteraan mental remaja binaan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan jiwa remaja melalui program edukasi kesehatan jiwa di LPKA Sungai Raya / Lapas Anak Pontianak. Kegiatan dilaksanakan dengan melibatkan 70 remaja binaan sebagai peserta. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, dan pemberian materi edukatif mengenai kesehatan jiwa remaja, pengenalan emosi, strategi koping adaptif, serta pentingnya mencari bantuan. Evaluasi kegiatan dilakukan secara kualitatif melalui observasi partisipasi, keaktifan diskusi, dan umpan balik peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mengikuti kegiatan dengan antusias, mampu mengungkapkan pemahaman dasar tentang kesehatan jiwa, serta menunjukkan sikap yang lebih terbuka dalam membicarakan perasaan dan masalah psikologis. Program edukasi ini diharapkan menjadi upaya promotif dan preventif dalam mendukung kesehatan jiwa remaja binaan di LPKA. Kata Kunci: Literasi Kesehatan Jiwa, Remaja, Edukasi, LPKA, Pengabdian Masyarakat.  ABSTRACT Adolescents are a particularly vulnerable age group when it comes to mental health issues, especially those in institutional care settings such as Juvenile Correctional Facilities (LPKA). Social limitations, psychological pressures, and stigma can significantly impact the mental well-being of these young individuals. This Community Service Program (PKM) aims to enhance adolescent mental health literacy through an educational initiative at the Sungai Raya LPKA / Pontianak Juvenile Detention Center. The program engaged 70 incarcerated youth as participants. Implementation methods included interactive counseling, group discussions, and educational materials covering adolescent mental health, emotional awareness, adaptive coping strategies, and the importance of seeking professional support. The activity was evaluated qualitatively through observation of participation, engagement in discussions, and participant feedback. Results indicate that participants enthusiastically took part in the program, demonstrated a foundational understanding of mental health, and showed greater openness in discussing feelings and psychological issues. This educational initiative is expected to serve as a promotive and preventive effort in supporting the mental health of juvenile inmates at LPKA. Keywords: Mental Health Literacy, Adolescents, Education, LPKA, Community Service.
Hubungan Tingkat Kecemasan dan Kebutuhan Informasi Preoperatif dengan Derajat Nyeri pada Pasien Sectio Caesarea dengan Anastesi Spinal Yusmadiah Yusmadiah; Diena Juliana; Fajar Yousriatin
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 6 No. 2 (2024): July 2024
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v6i2.261

Abstract

Latar Belakang: Proses persalinan dengan Sectio Caesarea, fenomena yang dijumpai adalah masih ditemukan pasien yang merasa kurang informasi tentang pembedahan dan proses pembiusan serta merasakan kecemasan sebelum tindakan operasi, serta pasien juga masih merasakan nyeri pada saat intra operatif, walaupun sudah dilakukan pembiusan dengan Anastesi Spinal. Tujuan: penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dan kebutuhan informasi preoperatif dengan derajat nyeri pada pasien Sectio Caesarea dengan anastesi Spinal. Metode: Jenis penelitian adalah kuantitatif dan desain penelitian dengan menggunakan cross sectional study dengan sampel sebanyak 30 di Instalasi Bedah Sentral RSUD Sambas, teknik pengambilan sampel yang digunakan berupa purposif sampling. Pengukuran tingkat kecemasan dan kebutuhan informasi menggunakan kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) dan derajat nyeri menggunakan skala Numeric Rating Scale (NRS). Hasil: Hasil uji statistik dengan Rank Spearman untuk tingkat informasi dengan derajat nyeri diperoleh nilai α= 0,047 dan untuk tingkat kecemasan dengan derajat nyeri diperoleh nilai α= 0,021, yang artinya ada hubungan antara tingkat kecemasan dan kebutuhan informasi dengan derajat nyeri. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan ada hubungan signifikan antara tingkat kecemasan dan kebutuhan informasi preoperatif dengan derajat nyeri pada pasien Sectio Caesarea dengan Anastesi Spinal di Rumah Sakit Umum Daerah Sambas.
Intervensi Storytelling untuk Mengatasi Dampak Hospitalisasi Pada Anak Usia Prasekolah Lintang Sari; Dewin Safitri; Florensa; Wahyu Kirana; Fajar Yousriatin; Yunita Dwi Anggreini
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 8 No. 2 (2026): July 2026
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v8i2.440

Abstract

Latar Belakang:Rawat inap atau hospitalisasi seringkali menimbulkan pengalaman yang kurang menyenangkan terutama pada anak usia prasekolah. Hospitalisasi dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikologis yang berpotensi menghambat proses pengobatan anak di rumah sakit. Reaksi yang paling umum ditunjukkan oleh anak yang menjalani pengobatan adalah menangis, berteriak dan tidak kooperatif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi storytelling terhadap stres sebagai dampak hospitalisasi yang dialami oleh anak usia prasekolah. Metode:Desain pre-experiment one group pre-test post-test digunakan dalam penelitian ini. Sebanyak 30 anak yang dirawat di ruang anak RSU Yarsi Pontianak terlibat sebagai responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Kriteria inklusi yang ditetapkan antara lain: anak yang dirawat pertama kali di rumah sakit, rentang usia tiga sampai enam tahun, didampingi oleh orangtua, mendapat persetujuan dari orangtua. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah kuesioner stres hospitalisasi. Uji Wilcoxon signed-rank digunakan untuk analisis bivariat karena data tidak berdistribusi normal. Hasil: Hasil analisis menunjukkan nilai median sebelum diberikan intervensi sebesar 43,50 dan setelah intervensi sebesar 32,00 dengan nilai signifikansi p<0,001.Kesimpulan: Intervensi storytelling efektif mengurangi dampak hospitalisasi anak usia prasekolah.
MANAJEMEN DUKUNGAN KELUARGA PADA PASIEN PENYAKIT KRONIK UNTUK MENDUKUNG SPIRITUAL WELL-BEING: STUDI DESKRIPTIF Nurul Jamil; Fajar Yousriatin
SANTINA: Jurnal Manajemen dan Administrasi Publik Vol. 2 No. 1 (2026): SANTINA: Jurnal Manajemen dan Administrasi Publik
Publisher : SANTINA: Jurnal Manajemen dan Administrasi Publik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit kronik memerlukan perawatan jangka panjang yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual pasien. Keluarga memiliki peran penting sebagai sistem pendukung utama dalam proses perawatan. Namun, efektivitas dukungan keluarga dipengaruhi oleh kemampuan keluarga dalam mengelola dukungan secara terencana, terorganisasi, dan berkelanjutan. Informasi mengenai manajemen dukungan keluarga pada pasien penyakit kronik masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan manajemen dukungan keluarga pada pasien penyakit kronik berdasarkan aspek perencanaan, pengorganisasian, pembagian tenaga pendamping, dan evaluasi dukungan. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 30 anggota keluarga yang mendampingi pasien penyakit kronik dan dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner manajemen dukungan keluarga, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen dukungan keluarga pada seluruh aspek masih didominasi kategori cukup. Pada aspek perencanaan terdapat 21 responden (70,0%) berkategori cukup, aspek pengorganisasian 17 responden (56,7%), aspek pembagian tenaga pendamping 18 responden (60,0%), dan aspek evaluasi 16 responden (53,3%). Aspek pembagian tenaga pendamping memiliki proporsi kategori baik tertinggi (33,3%), sedangkan aspek pengorganisasian dan evaluasi masih menunjukkan proporsi kategori kurang yang relatif lebih tinggi dibandingkan aspek lainnya. Manajemen dukungan keluarga pada pasien penyakit kronik telah berjalan, namun belum optimal. Penguatan pada aspek pengorganisasian dan evaluasi diperlukan agar keluarga mampu memberikan dukungan yang lebih efektif dan berkelanjutan. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan intervensi family-centered care untuk mendukung pelayanan keperawatan yang holistik, termasuk upaya pencapaian spiritual well-being pasien.