Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pemberdayaan Remaja dalam Melakukan Deteksi Dini Gangguan Mental Emosional sebagai Pertolongan Pertama pada Remaja Korban Bencana dan Trauma Nurul Hidayah; Florensa Florensa; Dwin Seprian; Verren Kerren Turnundo
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 8 (2023): Volume 6 No 8 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i8.10472

Abstract

ABSTRAK Permasalahan: Kesehatan mental menjadi salah satu fokus permasalahan yang seakan tidak ada habisnya. Sekalipun tren pembicaraan terkait kesehatan mental semakin marak akhir-akhir ini, tidak dapat dipungkiri bahwa kasus kesehatan mental masih tinggi, khususnya pada remaja di Indonesia. Secara global, WHO menyebutkan dalam lamannya terkait “World Mental Health Day 2021” bahwa satu dari tujuh anak berusia 10-19 tahun mengalami gangguan mental. Bahkan, setengah diantaranya bermula sejak usia 14 tahun namun tidak terdeteksi dan tertangani dengan baik. Solusi: Berkaitan dengan fenomena darurat Kesehatan mental pada remaja, terdapat intervensi yang dapat dilakukan khususnya untuk meningkatkan pengetahuan remaja yaitu dengan pemberdayaan remaja dalam melakukan deteksi dini gangguan mental emosional awal yang diharapkan dapat lebih menjangkau dan meningkatkan keinginan serta pengetahuan remaja untuk mendapatkan layanan kesehatan mental yang dibutuhkan. Strategi ini dapat digunakan untuk membantu pencegahan darurat kesehatan mental pada remaja SMP di Desa Pulau Lemukutan. Sasaran dari kegiatan penyuluhan ini adalah remaja SMP 4 Sungai raya Kepulauan Desa Pulau Lemukutan terutama mereka yang berusia 14-15 tahun. Hasil dari kegiatan pengabdian pelaksanaan kegiatan penyuluhan kesehatan jiwa telah sesuai target. Peningkatan pemahaman siswa/siswi dapat dilihat dengan antusiasme dalam memperhatikan setiap materi yang disampikan serta banyaknya pertanyaan yang diajukan siswa/siswi baik mengenai hal-hal dalam proses terjadinya gangguan Kesehatan jiwa dan cara melakukan deteksi dini gangguan jiwa pada remaja dengan benar. Kata Kunci: Remaja, Mental Emoisonal Deteksi Dini, Bencana  ABSTRACT Mental health is one of the focus of problems that seems to have no end. Even though the trend of talk about mental health has been increasing lately, it cannot be denied that cases of mental health are still high, especially among adolescents in Indonesia. Globally, WHO stated on its website related to “World Mental Health Day 2021” that one in seven children aged 10-19 years experience mental disorders. In fact, half of them started at the age of 14 but were not detected and handled properly. Solution: Regarding the phenomenon of mental health emergencies in adolescents, there are interventions that can be carried out specifically to increase adolescent knowledge, namely by empowering adolescents in carrying out early detection of early emotional mental disorders which are expected to be able to reach more and increase the desire and knowledge of adolescents to obtain mental health services that are appropriate needed. This strategy can be used to help prevent mental health emergencies in junior high school youth in Pulau Lemukutan Village. The target of this counseling activity is the youth of SMP 4 Sungai Raya Kepulauan, Lemukutan Island Village, especially those aged 14-15 years. The results of the service activities for implementing mental health counseling activities have been on target. An increase in students' understanding can be seen by their enthusiasm in paying attention to each material presented as well as the many questions raised by both students regarding matters in the process of mental health disorders and how to correctly detect early mental disorders in adolescents. Keywords: Adolescents, Mental Emotional Early Detection, Disaster
EDUKASI KESEHATAN JIWA DALAM MENINGKATKAN RESILIENSI REMAJA KOTA PONTIANAK Florensa Florensa; Lintang Sari; Nurul Hidayah; Fajar Yousriatin; Wulida Litaqia
JURNAL PENGABDIAN MANDIRI Vol. 2 No. 8: Agustus 2023
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usia remaja merupakan usia transisi dan periode yang kritis karena banyak hal terjadi dalam kehidupannya. Masalah kesehatan mental rentan terjadi pada usia ini akibat perubahan-perubahan yang terjadi sehingga mengharuskan remaja memiliki ketahanan (resiliensi). Resiliensi memungkinkan remaja untuk tangguh menghadapi kesulitan dan mengatasi berbagai tekanan dalam hidup. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan edukasi tentang kesehatan jiwa dalam meningkatan kemampuan resiliensi remaja SMP Kota Pontianak. Metode pelaksanaan kegiatan ini yaitu dengan memberikan penyuluhan dalam bentuk ceramah dan diskusi kepada siswa-siswi remaja di SMP Kota Pontianak. Hasil kegiatan menunjukkan remaja mampu memilih cara yang adaptif untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
Efektivitas Model Caring Islami “Praktis” dalam meningkatkan Pengetahuan Perawat Fajar Yousriatin; Hendra Priyatnanto; Nurul Jamil; Florensa Florensa; Lintang Sari
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i10.16892

Abstract

ABSTRACT Caring is an attitude that a nurse must have. In Islam, caring is carried out based on Alquran and Sunnah is Islamic Caring as a form of intellectually competent professional behavior from a nurse in providing nursing care to patients, families, and the community with full attention, care, friendliness, empathy, politeness, using communication. therapeutic, and always responsive and alert to provide the best service. This research aims to determine the effectiveness of the "PRACTIS" Islamic caring model in increasing nurses' knowledge about Islamic caring. The design of this research is pre-experiment research with one group pretest and posttest without a control group. The study results showed that knowledge, before the intervention was given, was mostly in the poor category (52.9%), then after being given the intervention it increased to the good category (79.41%). The PRACTIS Islamic caring model is one of the models developed to improve nurses' knowledge about Islamic caring. With good caring behavior, it is hoped that it will be one of the components of increasing patient recovery rates. Key words: Islamic Caring, Nurse, PRAKTIS   ABSTRAK Kepedulian (caring) merupakan sikap yang harus dimiliki oleh seorang perawat. Dalam islam, kepedulian yang dilakukan dengan landasan alquran dan sunnah merupakan Caring Islami sebagai bentuk perilaku profesional yang kompeten secara intelektual dari seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien, keluarga, dan masyarakat dengan penuh perhatian, peduli, ramah, empati, sopan, menggunakan komunikasi terapeutik, serta selalu tanggap dan sigap dalam rangka memberikan pelayanan yang terbaik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai efektivitas model caring islami “PRAKTIS” dalam meningkatkan pengetahuan perawat tentang caring islami. Desain penelitian ini merupakan penelitian pre-eksperiment dengan one grup pretest posttest without control group. Hasil penelitian dimana pengetahuan sebelum diberikan intervensi sebagian besar pada kategori kurang (52,9%), kemudian setelah diberikan intervensi meningkat menjadi kategori baik (79.41%). Model caring islami PRAKTIS salah satu model yang dikembangkan untuk meningkatkan pengetahuan perawat tentang caring islami. Dengan perilaku caring yang baik, diharapkan menjadi salah satu komponen meningkatnya angka kesembuhan pasien. Kata kunci: Caring Islami, Perawat, PRAKTIS
EDUKASI DAN IMPLEMENTASI SELF-HEALING DIGITAL UNTUK MENGURANGI KECEMASAN REMAJA TERDAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN Nurul Hidayah; Florensa Florensa; Nisma Nisma; Popy Popy; Vina Ayu Suryani; Muhammad Luthfi
LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2025): LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecemasan dan rendahnya resiliensi merupakan masalah psikologis yang umum dialami remaja, terutama di wilayah rawan bencana. Intervensi berbasis psikospiritual melalui aplikasi digital menjadi salah satu alternatif yang efektif dan mudah diakses. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan resiliensi sekaligus menurunkan kecemasan siswa SMAN 1 Teluk Pakedai melalui implementasi aplikasi Qolbu Care. Metode yang digunakan meliputi edukasi kesehatan jiwa, praktik relaksasi pernapasan, doa, dan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) yang terintegrasi dalam aplikasi. Evaluasi dilakukan melalui observasi partisipatif dan refleksi pengalaman siswa setelah intervensi. Hasil kegiatan menunjukkan perubahan positif, berupa penurunan gejala kecemasan ringan hingga sedang serta peningkatan kemampuan adaptasi siswa dalam menghadapi tekanan akademik maupun lingkungan. Dari perspektif neurosains, perubahan ini berkaitan dengan berkurangnya hiperaktivitas amigdala, meningkatnya regulasi pada prefrontal cortex (PFC), serta neuroplastisitas pada jaringan PFC-amigdala-hipokampus yang mendukung peningkatan resiliensi. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan efektivitas intervensi digital berbasis mindfulness dan resiliensi dalam meningkatkan kesehatan mental remaja. Dengan demikian, implementasi aplikasi Qolbu Care terbukti menjadi intervensi non-farmakologis yang efektif, fleksibel, dan terjangkau untuk menurunkan kecemasan serta meningkatkan resiliensi pada remaja, khususnya di daerah dengan keterbatasan akses layanan psikologis formal.
PERAN SERTA ORANG TUA DALAM PEMANTAUAN PERKEMBANGAN MENTAL EMOSIONAL ANAK USIA DINI Lintang Sari; Dewin Safitri; Wahyu Kirana; Florensa Florensa; Fajar Yousriatin; Yunita Anggreini
LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2025): LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan mental emosional sangat penting bagi perkembangan anak baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang, sehingga diperlukan perhatian khusus dalam mendeteksi kondisi mental emosional serta faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan masalah perkembangan yang terjadi. Peran orangtua merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan mental emosional anak usia dini. Peran serta atau keterlibatan orangtua merupakan faktor yang paling krusial karena orangtua adalah sosok yang menciptakan lingkungan aman dan nyaman serta menumbuhkan rasa sayang dan empati pada anak. Selain itu, orangtua juga mempunyai kewajiban untuk membimbing anak dalam mengenali, memahami dan mengungkapkan emosi yang dirasakan secara benar.Perkembangan mental emosional anak merupakan faktor yang memengaruhi kualitas hidup anak baik di masa kini maupun masa akan datang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan orangtua terkait pentingnya peran serta orangtua dalam pemantauan perkembangan mental emosional anak usia dini. Pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode partisipatif yang terdiri dari sosialisasi, penyuluhan dan edukasi, pendampingan, evaluasi dan umpan balik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan tanggal 08 Juli 2025 di Posyandu RW 5 wilayah kerja Puskesmas Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur, Kalimantan Barat. Setelah diberikan edukasi mengenai pentingnya peran serta orangtua dalam pemantauan perkembangan mental emosional anak usia dini, 80% peserta menyampaikan sudah memahami terkait perkembangan mental emosional anak usia dini. Perkembangan mental emosional setiap anak bervariasi. Masa usia dini merupakan golden age atau masa keemasan dalam hidup seseorang, yang mencakup seluruh aspek perkembangan, diantaranya perkembangan fisik, kognitif, mental, sosial dan emosi. Pada tahap ini, otak anak berada dalam kondisi optimal untuk menyerap dan memproses informasi, sehingga setiap rangsangan atau stimulasi yang diberikan kepada anak akan mempengaruhi hidup mereka di masa akan datang.
Peningkatan Literasi Kesehatan Jiwa Remaja melalui Program Edukasi di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Florensa Florensa; Nurul Hidayah; Wahyu Kirana; Lintang Sari; Fajar Yousriatin; Nurul Huda; Dwi Puji Astuti
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 2 (2026): Volume 9 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i2.24386

Abstract

ABSTRAK Remaja merupakan kelompok usia yang rentan mengalami permasalahan kesehatan jiwa, terutama remaja yang berada dalam lingkungan pembinaan seperti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Kondisi keterbatasan sosial, tekanan psikologis, serta stigma dapat berdampak pada kesejahteraan mental remaja binaan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan jiwa remaja melalui program edukasi kesehatan jiwa di LPKA Sungai Raya / Lapas Anak Pontianak. Kegiatan dilaksanakan dengan melibatkan 70 remaja binaan sebagai peserta. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, dan pemberian materi edukatif mengenai kesehatan jiwa remaja, pengenalan emosi, strategi koping adaptif, serta pentingnya mencari bantuan. Evaluasi kegiatan dilakukan secara kualitatif melalui observasi partisipasi, keaktifan diskusi, dan umpan balik peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mengikuti kegiatan dengan antusias, mampu mengungkapkan pemahaman dasar tentang kesehatan jiwa, serta menunjukkan sikap yang lebih terbuka dalam membicarakan perasaan dan masalah psikologis. Program edukasi ini diharapkan menjadi upaya promotif dan preventif dalam mendukung kesehatan jiwa remaja binaan di LPKA. Kata Kunci: Literasi Kesehatan Jiwa, Remaja, Edukasi, LPKA, Pengabdian Masyarakat.  ABSTRACT Adolescents are a particularly vulnerable age group when it comes to mental health issues, especially those in institutional care settings such as Juvenile Correctional Facilities (LPKA). Social limitations, psychological pressures, and stigma can significantly impact the mental well-being of these young individuals. This Community Service Program (PKM) aims to enhance adolescent mental health literacy through an educational initiative at the Sungai Raya LPKA / Pontianak Juvenile Detention Center. The program engaged 70 incarcerated youth as participants. Implementation methods included interactive counseling, group discussions, and educational materials covering adolescent mental health, emotional awareness, adaptive coping strategies, and the importance of seeking professional support. The activity was evaluated qualitatively through observation of participation, engagement in discussions, and participant feedback. Results indicate that participants enthusiastically took part in the program, demonstrated a foundational understanding of mental health, and showed greater openness in discussing feelings and psychological issues. This educational initiative is expected to serve as a promotive and preventive effort in supporting the mental health of juvenile inmates at LPKA. Keywords: Mental Health Literacy, Adolescents, Education, LPKA, Community Service.
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Early Psychosis Pada Remaja Awal di SMPN X Kota Pontianak Dessy Andriani; Florensa Florensa; Mimi Amaludin
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 6 No. 2 (2024): July 2024
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v6i2.253

Abstract

Latar Belakang: Remaja akan dihadapkan dengan berbagai macam perubahan, meliputi perubahan biologis, fisik, kognitif, sosial serta emosional, juga berbagai tugas perkembangan. Perubahan ini mengakibatkan remaja rentan terhadap masalah kesehatan mental. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian early psychosis pada remaja awal di SMP Negeri Kota Pontianak. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh siswa di 6 SMP Negeri yang ada di Kota Pontianak, yaitu 1.138 orang siswa dan sampel sebanyak 140 orang dengan teknik probability sampling. Pengambilan data menggunakan lembar kuesioner. Analisis data menggunakan uji korelasi statistik non parametrik Spearman Rank. Hasil: Responden yang mengalami prodromal early psychosis dalam kategori tidak prodromal 20 orang (14,3%), prodromal ringan 49 orang (35%), prodromal sedang 51 orang (36,4%) dan prodromal berat 20 orang (14,3%). Responden yang mengalami resiliensi pada kategori tinggi sebanyak 131 orang (93,6%) dan rendah sebanyak 9 orang (6,4%). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara mekanisme koping dengan prodromal early psychosis.
Hubungan Antara Resiliensi Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien Lansia Penderita Diabetes Melitus Di RSUD Sambas Dian Hana Lestari; Florensa Florensa; Yunita Dwi Anggreini
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 1 (2025): January 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i1.320

Abstract

Pendahuluan: Peningkatan signifikan kasus diabetes melitus pada lansia di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat dengan angka 9.564 kasus diabetes melitus pada tahun 2022, angka ini terus naik dari tahun 2019. Seiring dengan pertumbuhan populasi lansia secara global dan nasional. Seiring bertambahnya usia, lansia semakin rentan terhadap penyakit degeneratif seperti diabetes melitus. Diabetes melitus memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup lansia, baik fisik maupun mental karena pengobatan dan perawatan jangka panjang. Hasil awal menunjukkan bahwa banyak lansia dengan diabetes merasa menjadi beban bagi keluarga dan mengalami kesulitan finansial akibat penyakit ini. Maka dari itu, peneliti ingin mengetahui apakah resiliensi keluarga berhubungan dengan kualitas hidup lansia penderita diabetes melitus. Tujuan: Mengetahui apakah ada hubungan antara resiliensi keluarga dengan kualitas hidup pasien lansia yang menderita diabetes melitus. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif menggunakan cross-sectional study. Sampel berjumlah 82 dengan teknik time limited sampling & accidental sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner FRAS dan DQOL yang sudah di uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat, analisis data bivariat menggunakan uji Gamma Hasil: P Value resiliensi keluarga dan kualitas hidup sebesar 0.001 yang artinya nilai p < 0,005 dengan korelasi koefisien sebesar 1,000. Kesimpulan: Ada hubungan antara resiliensi keluarga dengan kualitas hidup pasien lansia penderita diabetes melitus dengan tingkat hubungan rendah.