Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

APLIKASI ENDOMIKORIZA, PUPUK KOMPOS, DAN ASAM HUMAT DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN Khaya anthoteca Dx. PADA LAIIAN PASCA PENAMBANGAN BATU GAMPING DI CILEUNGSI-BOGOR Darwo Darwo; Yadi Setiadi; Erdy Santoso
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.2.195-207

Abstract

Aktivitas  reklarnasi  pada lahan  pasca penambangan batu garnpmg seperti  di  PT. Semen  Cibinong, Cileungsi. Kabupaten  Bogor sebagai bahan baku semen  menunjukkan  hasil yang tidak baik, hal ini, dikarenakan kurang rnemperhatikan karakteristik bekas  penambangan,  teknik  revegetasi, dan penggunaan mikroorganisme tanah Penelitian  ini bertujuan  untuk  mendapatkan  informasi  tentang  respon pertumbuhan  Khaya  anthotcca Dx. yang diinokulasi  cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith terhadap pemberian pupuk kompos dan asam humat pada lahan bekas penambangan batu gamping serta tingkat infeksi cendawan endomikoriza pada tanaman tersebut, Rancangan penelitian menggunakan faktorial  dalam Rancangan Acak Lengkap. Hasilnya menunjukkan bahwa kandungan unsur hara (P, K, dan Mg), kapasitas tukar kation, dan kejenuhan basa ada dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman, tetapi yang menjadi  faktor pembatas adalah reaksi tanah agak alkalis dengan nilai tukar kation Ca sangat tinggi dan kadar salinitas tinggi serta kandungan C-organik dan nitrogen sangat rendah. Dengan pernberian pupuk  kompos  2 kg dan atau 500 ml asam humat 1.500  ppm  belum cukup memenuhi kebutuhan hara tanaman  (kadar C-organik dan nitrogen masih termasuk rendah) dan ditunjukkan  tanaman  kekurangan nitrogen. Pertumbuhan tanaman  yang  terbaik, jika bibit  telah diinokulasi cendawan Glomus  aggregatum  Schenk & Smith yang ditanam pada lahan yang diberi 500  ml asam humat 1.500 ppm.  Asam humat mampu  meningkatkan pertumbuhan.  daya  hidup, dan persen infeksi akar bermikonza yang lebih baik,  lntroduks, cendawan Glomus aggregatum  Schenk &  Smith berkorelasi positif  dengan asam humat dan keberadaan cendawan endomikonza  dan asam humat bersifat smergis terhadap pertumbuhan Khaya anthoteca  Dx.
RIAP DAN DUGAAN VOLUME TEGAKAN AMPUPU (Eucalyptus urophylla S.T. Blake) DI KAWASAN HUTAN WOLOLOBO, BAJAWA FLORES I Wayan Widhana Susila; Darwo Darwo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.455 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2015.12.2.105-113

Abstract

Ampupu ( S.T. Blake) merupakan salah satu produk kayu unggulan di Kabupaten Ngada, yang Eucalyptus urophylla dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Akan tetapi, Informasi kuantitatif tegakan ampupu di Ngada masih relatif kurang. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi riap tegakan dan model penduga volume pohon ampupu. Data riap dikumpulkan melalui pengamatan petak ukur permanen 50 x 50 m selama dua tahun dan pemilihan 52 pohon contoh untuk pengamatan volume pohon di kawasan Hutan Wolobo, Bajawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riap tegakan ampupu pada umur 21 tahun adalah riap diameter 1,2 cm/tahun, riap tinggi 0,8 m/tahun, dan riap volume tegakan 3,51 m /ha/tahun; angka bentuk batang rata-rata (f) adalah adalah 0,40; dan model penduga volume  3 pohon sampai tinggi pangkal tajuk adalah V = 0,00004 D , dengan kesalahan baku 6,33%, R square 96,1%, 2,661 pt dimana D (cm) adalah diameter pohon setinggi dada.
RESPON PERKECAMBAHAN DAN PERTUMBUHAN BIBIT WERU (Albizia procera Benth ) BERDASARKAN HASIL SELEKSI BENIH Eliya Suita; Nurhasybi Nurhasybi; Darwo Darwo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2013.10.4.213-227

Abstract

Keberhasilan pembangunan hutan tanaman berkaitan erat dengan pengadaan benih bermutu. Salah satu parameter yang memiliki korelasi terhadap mutu benih adalah ukuran benih. Ukuran benih jenis-jenis pohon tertentu berkorelasi dengan viabilitas dan vigor benih, dimana benih yang berat cenderung mempunyai vigor yang lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh seleksi benih terhadap perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit weru. Benih diseleksi dengan alat seed gravity table dan saringan berukuran mesh. Benih dilakukakan seleksi, kemudian di uji kadar air, berat 1.000 butir, perkecambahan dan pertumbuhan bibitnya. Data dianalisis dengan menggunakan Rancangan Faktorial yaitu faktor pertama asal benih dan faktor kedua ukuran benih. Hasil penelitian menunjukkan seleksi benih weru dapat menggunakan alat seed gravity table dengan memilih ukuran benih K2 (kelompok benih 2) dan alat saring berukuran mesh dengan ukuran diameter lebih dari 4,7 mm. Benih weru asal Sumedang menunjukkan mutu benih dan tingkat pertumbuhan bibit yang lebih baik dibandingkan dengan benih weru asal Carita dan Majalengka.
PENGGUNAAN MEDIA, BAHAN STEK, DAN ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP KEBERHASILAN STEK MASOYI (Cryptocarya massoy (Oken) Kosterm) Darwo Darwo; Irma Yeny
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 15, No 1 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.088 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2018.15.1.43-55

Abstract

ABSTRACTMasoyi (Cryptocarya massoy) is one of the high economic value, non wood forest products endemic to Papua. Development of masoyi plants currently are constrained by meeting the needs for quality seeds in a large quantity on time. Therefore, vegetative propagation become one of the solutions for this problem. The aim of this study was to get the best media, cutting materials, and doses of growth regulators for vegetative propagation of masoyi. Completely randomized factorial design was used. The first factor was the media of cuttings (soil+sand (2:1, v/v), coconut fiber+husk (2:1, v/v), and sand media). The second factor was cutting materials derived from 1 year old seedlings (the upper shoots and the down shoots). The third factor was the concentration of growth regulators (0; 500; and 1,000 ppm of NAA). The root percentage was influenced by media, the shoots, and growth regulator NAA. Root length was influenced by media as a single factor and the interaction between media and the shoots. The number of leaves was influenced by the media, while the number of roots was not influenced by each single factor and their interactions. Media was a critical factor for the success of masoyi cuttings. Thus, the combination of soil+sand (2:1, v/v) media with the upper shoots is a recommended treatment for masoyi shoot cuttings, where the combination is not influenced by the growth regulator NAA.Keywords: Cryptocarya massoy, growth regulator, media, shoot cuttingABSTRAKMasoyi (Cryptocarya massoy) merupakan salah satu jenis tanaman penghasil hasil hutan bukan kayu (HHBK) endemik Papua bernilai ekonomi tinggi. Upaya pengembangan tanaman masoyi saat ini terkendala oleh sulitnya memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah banyak dan berkualitas. Untuk itu, perbanyakan secara vegetatif menjadi salah satu solusi permasalahan pemenuhan bibit. Penelitian bertujuan mendapatkan media tanam, bahan stek, dan dosis zat pengatur tumbuh NAA yang tepat untuk perbanyakan masoyi dengan cara stek. Penelitian menggunakan bibit berumur 1 tahun dengan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Faktor pertama adalah media tanam stek (tanah+pasir (2:1, v/v), serbuk sabut kelapa+ sekam (2:1, v/v), dan media pasir). Faktor kedua adalah bahan stek (bagian pucuk atas dan bagian pucuk bawah). Faktor ketiga adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh (0 ppm, NAA 500 ppm, dan NAA 1.000 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persen berakar dipengaruhi oleh faktor tunggal media tanam, bagian stek dan zat pengatur tumbuh NAA. Panjang akar dipengaruhi oleh faktor tunggal media tanam dan interaksi antara media dengan bagian stek. Jumlah daun dipengaruhi faktor media tanam, sedangkan jumlah akar tidak dipengaruhi masing-masing faktor tunggal dan interaksinya. Faktor media merupakan faktor penentu keberhasilan stek masoyi. Dengan demikian, kombinasi media tanah+pasir (2:1, v/v) dengan bagian pucuk atas merupakan perlakuan yang direkomendasikan untuk stek masoyi, dan kombinasi perlakuan tersebut tidak dipengaruhi oleh zat pengatur tumbuh NAA.Kata Kunci : Cryptocarya massoy, media, stek pucuk, zat pengatur tumbuh
EVALUASI PERTUMBUHAN AWAL JABON (Neolamarckia cadamba Roxb) DI HUTAN RAKYAT Lutfy Abdulah; Nina Mindawati, A; A. Syaffari Kosasih; Darwo Darwo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 10, No 3 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2013.10.3.119-127

Abstract

Jabon merupakan salah satu jenis pohon cepat tumbuh, sehingga jabon sangat diminati untuk dikembangkan di hutan rakyat dan hutan tanaman industri. Namun, pertumbuhan yang optimal akan tercapai jika pemahaman tentang teknik silvikultur seperti manajemen hara di tapak sangat dibutuhkan. Selain itu, luas lahan milik yang diperuntukkan untuk membangun hutan rakyat tidak terlalu luas, sementara kebutuhan untuk budidaya tanaman hortikultura juga penting. Untuk itu penelitian ini dirancang untuk mempelajari laju pertumbuhan jabon pada scenario pengelolaan antara manajemen hara dan pemanfaatan lahan antara untuk meningkatkan nilai ekonomi lahan.Penelitian ini bertujuan untuk melihat beda pertumbuhan awal jabon pada variasi manajemen lahan dan manajemen hara yang berbeda terutama pemupukan dan pola agroforestry yang dikembangkan. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap, dimana perlakuan yang dilakukan adalah penanaman jabon dengan diberi pupuk kompos, jabon ditanam dengan pola agroforestry dan tidak diberi pupuk kompos serta jabon ditanam dengan pola agroforestry dan diberi pupuk kompos.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan diameter jabon terbaik bila jabon ditanam dengan pola agroforestry dan tidak diberi pupuk kompos maupun jabon ditanam dengan pola agroforestry dan diberi pupuk kompos. Sementara perlakuan terbaik untuk pertumbuhan tinggi jabon adalah jabon ditanam dengan pola agroforestry dan diberi pupuk kompos.
TEKNIK PENYIMPANAN BENIH MANGLID (Manglietiaglauca Bl.) Eliya Suita; Darwo Darwo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4462.34 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2015.12.2.154-162

Abstract

Benih manglid (Manglietia glauca Bl.) memiliki kadar air tinggi, sehingga diperlukan cara penyimpanan yang tepat agar viabilitas  benih tetap terjaga. Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui  teknik penyimpanan benih manglid yang tepat tanpa menggunakan media  Jembab. Penelitian menggunakan Rancangan Faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap dengan tiga faktor utama yaitu suhu ruang simpan, wadah sirnpan, dan periode simpan. Rasil penelitian menunjukkan bahwa benih manglid  bisa  disimpan selama 3  rninggu. Penyimpanan selama 3 minggu hanya bisa dilakukan di ruang AC dengan wadah simpan dari plastik; atau ruang DCS menggunakan wadah simpan dari plastik, kaleng atau kain blacu; atau ruang kamar menggunakan wadah sirnpan dari plastik.
PEMILIHAN JENIS HIBRID MURBEI UNTUK DIKEMBANGKAN DI DATARAN TINGGI Sugeng Pudjiono; Lincah Andadari; Darwo Darwo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 13, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1765.806 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2016.13.2.133-138

Abstract

ABSTRACTThe quality and quantity of feed silkworm affect the yield and quality of cocoon. Crossing among mulberry species was conducted in order to obtain new hybrids with higher productivity. This study aimed to select mulberry hybrid for highland cultivation purpose. Survival rate, length of branches, number of branches, and weight of wet leaves were measured to determine the productivity of five mulberry hybrids. Mulberry hybrids Morus cathayana x M. amakusaguwa IV.10 and M. cathayana x M. amakusaguwa IV.12 are selected hybrids for highland cultivation.Both hybrids produced leaves production increment by 158% and 145% compared to M. cathayana as control.Keywords: Highland, hybrid, mulberry and productivity.,ABSTRAKKualitas dan kuantitas pakan ulat sutera mempengaruhi produksi dan kualitas kokon. Persilangan antar spesies murbei telah menghasilkan hibrid baru dengan harapan mempunyai produktivitas yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hibrid murbei yang optimal untuk dikembangkan di dataran tinggi. Lima hibrid baru diuji produktivitasnya berdasarkan nilai persentase tumbuh, panjang cabang, jumlah cabang serta bobot daun basah per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan murbei hibrid Morus cathayana x M. amakusaguwa IV.10 dan M. cathayana x M. amakusaguwa IV.12 paling optimal untuk dikembangkan di daerah tinggi. Kedua hibrid tersebut menghasilkan peningkatan produksi daun sebesar 158% dan 145% dibandingkan M. cathayana sebagai kontrol.Kata kunci: Dataran tinggi, hybrid, murbei dan produtivitas
KERAGAMAN DAN ESTIMASI PARAMETER GENETIK BIBIT MAHONI DAUN LEBAR (Swietenia macropylla King.) DI INDONESIA Mashudi Mashudi; Mudji Susanto; Darwo Darwo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 14, No 2 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.829 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2017.14.2.115-125

Abstract

ABSTRACTSwietenia macrophylla King. is an exotic species from Latin America. It had been planted in Indonesia since 1870 by the Dutch. This species is important construction timber in Indonesia. This study aimed to measure variation and genetic parameter estimation of S. macrophylla seedling as material of progeny trial development. The experimental design used Randomized Complete Block Design (RCBD) consisting of two factors, namely the land race (A) (Banjar-West Java, Samigaluh-Kulonprogro, Bondowoso-East Java and Lombok– West Nusa Tenggara) and mother trees (B) (35 mother trees). Five seedlings were recorded and repeated 5 times for each mother tree. In this study factor B nested in factor A. The result showed that land race significantly affected to height, stem diameter, and index of robustness; while the mother trees significantly affected to height, stem diameter, number of leaf, and index of robustness. Individual heritability of height, stem diameter, number of leaf, and index of robustness character were 0.35, 0.40, 0.17, and 0.48 respectively, while family heritability of height, stem diameter, number of leaf, and index of robustness character were 0.74, 0.75, 0.54, and 0.77 respectively. Genetic correlation between height and stem diameter (0.70), height and index of robustness (0.40), number of leaf and index of robustness (0.52) were positive value. While genetic correlation between height and number of leaf (-0.03), stem diameter and number of leaf (-0.46) and stem diameter and index of robustness (-0.67) were negative value.Keywords : Genetic correlation, heritability, land race, Swietenia macrophylla, variation genetic  ABSTRAKMahoni daun lebar (Swietenia macrophylla King.) merupakan jenis eksotik dari Amerika Latin yang telah ditanam di Indonesia sejak tahun 1870 oleh Belanda. Jenis ini merupakan kayu pertukangan yang penting di Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengetahui keragaman dan nilai parameter genetik bibit S. macrophylla sebagai materi untuk membangun uji keturunan. Rancangan percobaan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok Pola Tersarang yang terdiri dari dua faktor, yaitu ras lahan (Banjar-Jabar, Samigaluh– Kulonprogo, Bondowoso-Jatim, dan Lombok-NTB); dan pohon induk (35 pohon induk). Masing-masing pohon induk diamati 5 bibit dan diulang sebanyak 5 kali. Pada penelitian ini faktor pohon induk bersarang dalam faktor ras lahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa ras lahan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi, diameter batang, dan indeks kekokohan, sedang pohon induk berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi, diameter batang, jumlah daun, dan indeks kekokohan. Nilai heritabilitas individu sifat tinggi, diameter batang, jumlah daun, dan indeks kekokohan berturut-turut sebesar 0,35, 0,40, 0,17, dan 0,48, serta nilai heritabilitas famili untuk sifat tinggi, diameter batang, jumlah daun dan indeks kekokohan berturut-turut sebesar 0,74, 0,75, 0,54, dan 0,77. Korelasi genetik antara tinggi dengan diameter batang (0,70), tinggi dengan indeks kekokohan (0,40), dan jumlah daun dengan indeks kekokohan (0,52) bernilai positif. Sementara itu korelasi genetik antara tinggi dengan jumlah daun (-0,03), diameter batang dengan jumlah daun (-0,46), dan diameter batang dengan indeks kekokohan (-0,67) bernilai negatif.Kata kunci : Heritabilitas, keragaman genetik, korelasi genetik, ras lahan, Swietenia macrophylla   
KUANTIFIKASI KUALITAS TEMPAT TUMBUH DAN PRODUKTIVITAS TEGAKAN UNTUK HUTAN TANAMAN EUKALIPTUS DI KABUPATEN SIMALUNGUN, SUMATERA UTARA Darwo Darwo; Endang Suhendang Suhendang; I Nengah Surati Jaya; herry purnomo; Pratiwi Pratiwi
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.524 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2012.9.2.83-93

Abstract

Keragaman kualitas tempat tumbuh di hutan tanaman eukaliptus telah menimbulkan produksi kayu yang berfluktuasi. Untuk itu, perlu dilakukan pengelompokan kualitas tempat tumbuh. Tujuan penelitian adalah menentukan daur volume maksimum, model indeks tempat tumbuh, kelas kualitas tempat tumbuh, dan tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan untuk masing-masing kelas kualitas tempat tumbuh hutan tanaman eukaliptus. Data dihimpun dari 343 petak contoh permanen. Bentuk plot lingkaran dengan berjari-jari 11,28 m (luas 0,02 ha). Karakteristik tegakan dianalisis menggunakan regresi yang ditransformsikan ke logaritmik dan dilakukan pengelompokan kualitas tempat tumbuh.  Hasil analisis diperoleh daur volume maksimum adalah 8 (delapan) tahun, sehingga umur indeks tempat tumbuh 8 (delapan) tahun dengan rata-rata volume tegakan 249,34 m3/ha dan riap tahunan rata-rata 31,17 m3/ha/tahun. Model indeks tempat tumbuh (S) adalah log S = log Oh + 0,69441(A-1– 8-1), dimana; Oh = peninggi (m), A = umur tegakan (tahun), dan 8 = umur indeks tempat tumbuh 8 (delapan) tahun. Indeks tempat tumbuh tersebut dikelompokan menjadi 4 (empat) kelas kualitas tempat tumbuh (bonita).  Riap tahunan rata-rata di bonita I, II, III, dan IV berturut-turut adalah 20,95 m3/ha/tahun, 32,40 m3/ha/tahun, 37,15 m3/ha/tahun, dan 40,25 m3/ha/tahun. Rata-rata volume tegakan di bonita I, II, III, IV berturut-turut adalah 167,58 m3/ha, 259,17 m3/ha. 297,17 m3/ha, dan 321,98 m3/ha.
KARAKTERISTIK BENIH KAYU BAWANG (Azadirachta excelsa (Jack) Jacobs) BERDASARKAN TINGKAT PENGERINGAN DAN RUANG PENYIMPANAN Naning Yuniarti; Nurhasybi Nurhasybi; Darwo Darwo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 13, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.866 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2016.13.2.105-112

Abstract

ABSTRACTSeed characteristics are important to be known for determining the proper seed handling techniques. The aim of this research is to reveal the characteristics of kayu bawang seed. The tests were conducted based on drying times (0, 24, 48, 72, 96, 120 hours) and seed room storage (ambient room, air conditioned room, refrigerator). The results showed that kayu bawang seeds are belong to the recalcitrant seeds with initial moisture content of 57.21%, germination percentage of 83%, fat content of 17.04%, carbohydrate content of 9.07% and protein content of 12.69%. Drying rate and the room storage factors affected significanlyt on germination, moisture content, carbohydrate and fat content of kayu bawang seed, while the protein content was the only factor that had significant effect to period time of storage. Longer drying times decreased water content, germinationrate and carbohydrates content. In contrary, longer drying times increased fat and protein contents. Kayu bawang seeds can be stored at ambient room or air conditioned room and should be germinated shortly and it has to be planted.Keywords: Azadirachta excelsa, characteristics, drying, seed, storageABSTRAKKarakteristik benih penting diketahui karena untuk menentukan teknik penanganan benih secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeetahui karakteristik benih kayu bawang. Pengujian dilakukan berdasarkan tingkat pengeringan (0, 24, 48, 72, 96, 120 jam) dan ruang penyimpanan benih (ruang suhu kamar, AC, kulkas). Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih kayu bawang termasuk benih reklasitran dengan kadar air awal 57,21%, daya berkecambah 83%, kadar lemak 17,04%, kadar karbohidrat 9,07% dan kadar protein 12,69%. Faktor tingkat pengeringan dan tempat penyimpanan benih berpengaruh signifikan terhadap daya berkecambah, kadar air, kadar karbohidrat dan kadar lemak benih kayu bawang sedangkan terhadap kadar protein hanya faktor waktu simpan yang berpengaruh nyata. Semakin lama benih dikeringkan mengakibatkan terjadinya penurunan kadar air, daya berkecambah dan kadar karbohidrat, namun meningkatkan kadar lemak dan protein. Benih kayu bawang bisa disimpan di ruang kamar atau di ruang AC dalam waktu singkat dan harus segera disemaikan.Kata kunci : Azadirachta excelsa, karakteristik benih, pengeringan, penyimpanan