Claim Missing Document
Check
Articles

Uji Kualitas Beberapa Madu Lokal di Semarang Suedy, Sri Widodo Agung; Aisyah, Ajeng Aulia; Darmanti, Sri; Parman, Sarjana
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 8, Nomor 2, Tahun 2023
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.8.2.2023.161-168

Abstract

Madu berasal dari nektar bunga (floral) atau bagian lain dari tumbuhan (extra floral) yang dikumpulkan oleh lebah madu. Madu yang memiliki kualitas baik apabila memenuhi standar kualitas madu tertentu. Kualitas madu dapat diketahui diantaranya berdasarkan kadar air, gula pereduksi, dan hidroksimetilfurfural (HMF). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas madu lokal di Semarang dan sekitarnya. Saat ini permintaan madu nasional masih sangat tinggi, dan belum dapat diimbangi dengan produksi madu nasional. Kondisi ini dimanfaatkan oleh produsen madu ilegal untuk melakukan pemalsuan madu. Perlu dilakukan uji berstandar secara berkala untuk mencegah pemalsuan madu. Rancangan penelitian yang digunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan metode purposive sampling pada 5 wilayah produksi madu lokal Semarang yaitu Ngareanak, Limbangan, Mijen, Karangjati dan Klero. Variabel penelitian adalah kualitas madu yaitu kadar air, gula pereduksi, dan hidroksimetilfurfural (HMF). Data dianalisis dengan uji ANOVA pada taraf signifikansi 5%, dan dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test), dan dibandingkan dengan SNI 8664:2018. Berdasarkan hasil uji kualitas madu lokal dari 5 wilayah di Semarang, rata-rata telah memenuhi standar SNI, nilai kadar air berkisar antara 19,0-25,7%, gula gereduksi berkisar antara 77-94%, dan HMF berkisar antara 3,8-10,8 mg/kg. Honey comes from the nectar of flowers (floral) or other parts of plants (extra floral) collected by honeybees. Honey is of good quality if it meets certain honey quality standards. Honey quality can be determined based on moisture content, reducing sugar, and hydroxymethylfurfural (HMF). This study was conducted to determine the quality of local honey in Semarang and surrounding areas. Currently, the national demand for honey is still very high, and has not been matched by national honey production. This condition is utilized by illegal honey producers to counterfeit honey. Periodic standardized tests are needed to prevent honey adulteration. The research design used RAL (Completely Randomized Design) with purposive sampling method in 5 local honey production areas of Semarang, namely Ngareanak, Limbangan, Mijen, Karangjati and Klero. The research variables were honey quality, namely moisture content, reducing sugar, and hydroxymethylfurfural (HMF). Data were analyzed by ANOVA test at 5% significance level, followed by DMRT (Duncan's Multiple Range Test), and compared with SNI 8664:2018. Based on the quality test results of local honey from 5 regions in Semarang, the average has met SNI standards, the value of water content ranges from 19.0-25.7%, reducing sugar ranges from 77-94%, and HMF ranges from 3.8-10.8 mg/kg.
Kandungan Pigmen Fotosintetik dan Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Kedelai (Glycine max L. Merr.) var. Grobogan Pada Tingkat Ketersediaan Air yang Berbeda Fachrezi, Muhammad Luthfi; Darmanti, Sri; Saptiningsih, Endang; Prihastanti, Erma
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 8, Nomor 2, Tahun 2023
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.8.2.2023.154-160

Abstract

Kedelai merupakan sumber protein yang murah sehingga permintaan tinggi, tetapi produksi kedelai di Indonesia rendah. Tanaman kedelai umumnya ditanam di sawah tadah hujan sehingga rawan cekaman kekeringan dan menyebabkan produksi rendah. Penelitian ini menggunakan metode ekperimental,  bertujuan mengkaji pengaruh tingkat ketersediaan air terhadap kandungan pigmen fotosintetik daun dan pertumbuhan vegetatif tanaman kedelai [Glycine max (l.) Merr.] varietas Grobogan. Penelitian dilakukan di kebun percobaan dan laboratorium Struktur dan fungsi tumbuhan  Departemen biologi FSM UNDIP, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor berupa tingkat ketersediaan air yang berbeda yaitu 100%, 75%, 50%, dan 25% kapasitas lapang.  Data dianalisis dengan analisis sidik ragam One Way ANOVA, dilanjutkan dengan Uji DMRT dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan persentase ketersediaan air tidak memengaruhi kandungan pigmen fotosintetik daun kedelai. Penurunan persentase ketersediaan air menurunkan pertumbuhan tajuk, untuk jumlah daun mulai turun pada ketersediaan air 25%, tinggi tanaman pada 75%, bobot tajuk pada 50%. Ketersediaan air paling optimal bagi panjang akar dan bobot akar adalah 75%.  Soybeans are a cheap source of protein, so demand is high, but soybean production in Indonesia is low. Soybean crops are generally planted in rainfed rice fields, so they are prone to drought stress and cause low production. This study used an experimental method, aimed to examine the effect of water availability on the photosynthetic pigment content of leaves and vegetative growth of soybean plants [Glycine max (l.) Merr.] Grobogan variety. The research was conducted in the experimental garden and laboratory Plant structure and function of the Department of Biology FSM UNDIP, using a one-factor Complete Randomized Design (RAL) in the form of different levels of water availability, namely 100%, 75%, 50%, and 25% field capacity.  The data was analyzed by One Way ANOVA fingerprint analysis, followed by DMRT Test with a confidence level of 95%. The results showed that the decrease in the percentage of water availability did not affect the photosynthetic pigment content of soybean leaves. A decrease in the percentage of water availability decreases the growth of the header, for the number of leaves begins to fall at water availability 25%, plant height at 75%, header weight at 50%. The most optimal water availability for root length and root weight is 75%. 
Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) var. Suri 4 Dengan Perlakuan Nanosilika Adhi, Jonathan Wishnu Suryo; Darmanti, Sri; Saptiningsih, Endang
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 9, Nomor 2, Tahun 2024
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.9.2.2024.186-192

Abstract

Sorgum adalah tanaman famili gramineae yang pada umumnya memerlukan unsur hara Si sebagai unsur beneficial. Kandungan Si di tanah terus berkurang akibat tidak ditambahkan Si dari luar dan tidak ada pengembalian Si dari organ tanaman pada saat panen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak nanosilika terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman sorgum dengan perlakuan nanosilika pada dosis yang berbeda. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor, yaitu konsentrasi pupuk nanosilika dengan dosis perlakuan : 0 ml/L; 2,5 ml/L; 5 ml/L; 7,5 ml/L; 10 ml/L masing-masing perlakuan dengan 5 ulangan. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk nanosilika dengan konsentrasi 2,5 ml/L dapat meningkatkan bobot segar tajuk, bobot kering tajuk, dan luas daun. Dosis 2,5 sampai 7,5 ml/L meningkatkan tinggi tanaman dan dosis 7,5 ml/L sampai 10 ml/L meningkatkan kandungan klorofil a dan klorofil  total,  namun pemberian pupuk nanosilika tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan klorofil b, jumlah daun, bobot basah dan kering akar, bobot malai, bobot segar dan kering biji, dan bobot kering 100 biji.Sorghum is a gramineae family plant which generally requires the nutrient Si as a beneficial element. The Si content in the soil continues to decrease due to no addition of Si from outside and no return of Si from plant organs at harvest. The aim of this research is to determine the impact of nanosilica on the vegetative growth of sorghum plants with nanosilica treatment at different doses. The research used a Completely Randomized Design (CRD) with one factor, namely the concentration of nanosilica fertilizer with a treatment dose of: 0 ml/L; 2.5 ml/L; 5ml/L; 7.5 ml/L; 10 ml/L for each treatment with 5 repetitions. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) and continued with Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at a confidence level of 95%. The research results showed that applying nanosilica fertilizer with a concentration of 2.5 ml/L could increase fresh shoot weight, shoot dry weight and leaf area. A dose of 2.5 to 7.5 ml/L increases plant height and a dose of 7.5 ml/L to 10 ml/L increases chlorophyll a and total chlorophyll content, but the application of nanosilica fertilizer has no significant effect on chlorophyll b content, number of leaves, wet and dry weight of roots, panicle weight, fresh and dry weight of seeds, and dry weight of 100 seeds
Respon Pertumbuhan Vegetatif dan Pembungaan Tanaman Cabai Merah Keriting (Capsicum annum L. cv. Jacko) pada Aplikasi Rasio Konsentrasi BAP dan GA3 Setelah Pemangkasan Pucuk Saptiningsih, Endang; Ardiyanti, Ardiyanti; Suedy, Sri Widodo Agung; Darmanti, Sri
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 9, Nomor 2, Tahun 2024
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.9.2.2024.164-174

Abstract

Pertumbuhan dan produksi cabai dapat ditingkatkan melalui metode pemangkasan pucuk. Aplikasi BAP dan GA3 setelah pemangkasan pucuk dapat mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman yang selanjutnya berdampak terhadap pembungaan dan produksi cabai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh aplikasi hormon BAP dan GA3 dengan berbagai rasio konsentrasi setelah pemangkasan pucuk terhadap pertumbuhan vegetatif dan pembungaan tanaman cabai merah keriting (Capsicum annuum L.). Pemangkasan pucuk dilakukan pada fase vegetatif akhir, diikuti dengan aplikasi BAP dan GA3. Parameter yang diamati meliputi durasi muncul tunas cabang lateral, jumlah dan panjang cabang lateral, luas daun, kandungan klorofil total, alokasi biomassa, dan periode muncul bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi rasio konsentrasi BAP dan GA3 secara signifikan meningkatkan jumlah dan panjang cabang lateral, luas daun, dan mempercepat waktu muncul bunga dibandingkan kontrol. Perlakuan dengan rasio konsentrasi BAP 0 ppm : GA3 100 ppm dan BAP 200 ppm : GA3 100 ppm memberikan hasil terbaik dalam pertumbuhan vegetatif dan mempercepat pembungaan. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengelolaan hormon tanaman pasca pemangkasan untuk meningkatkan produktivitas cabai. The growth and yield of chili peppers can be enhanced through the method of shoot pruning. The application of BAP and GA3 after shoot pruning can affect the vegetative growth of plants, which subsequently impacts the flowering and production of chili peppers. This study aims to examine the effects of applying BAP and GA3 hormones at various concentration ratios after shoot pruning on the vegetative growth and flowering of curly red chili peppers (Capsicum annuum L.). Shoot pruning was carried out at the late vegetative phase, followed by the application of BAP and GA3. The observed parameters included the duration of lateral bud emergence, the number and length of lateral branches, leaf area, total chlorophyll content, biomass allocation, and the flowering period. The results showed that the application of BAP and GA3 concentration ratios significantly increased the number and length of lateral branches, leaf area, and accelerated the flowering time compared to the control. Treatments with the ratios of BAP 0 ppm : GA3 100 ppm and BAP 200 ppm : GA3 100 ppm yielded the best results in vegetative growth and accelerated flowering. This study contributes to the management of plant hormones post-pruning to enhance chili productivity.
Respons Fisiologi Tanaman Cabai Terhadap Infeksi Fusarium oxysporum pada Umur Tanaman Yang Berbeda Ulya, Himmatul; Darmanti, Sri; Ferniah, Rejeki Siti
Berkala Bioteknologi Vol. 3, No. 1, April 2020
Publisher : Berkala Bioteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cabai merah merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura yang dibudidayakan di Indonesia, salah satunya kultivar Lembang 1. Salah satu kendala dalam budidaya tanaman cabai merah adalah penyakit layu fusarium. Layu fusarium diakibatkan oleh infeksi fungi Fusarium oxysporum yang menyebabkan kerusakan struktur pembuluh xylem, sehingga mengganggu penyerapan air dan unsur hara. Tanaman akan mengalami defisiensi air dan unsur hara dan dapat menurunkan pertumbuhan tanaman cabai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji respons fisiologi tanaman cabai kultivar Lembang-1 yang diinfeksi F.oxysporum pada umur tanaman yang berbeda. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktorial 2x2. Faktor pertama adalah infeksi F.oxysporum. Faktor kedua adalah umur tanaman cabai saat infeksi, yaitu 35 dan 75 hari setelah tanam. Masing- masing perlakuan dengan 3 ulangan. Parameter yang diamati adalah panjang dan lebar porus stomata, kadar air relatif daun, kadar pigmen fotosintesis yang meliputi klorofil a, klorofil b, klorofil total, karotenoid, dan pertumbuhan relatif yang meliputi tinggi batang, panjang akar, dan bobot segar yang dianalisis dengan Analysis of Variance (Anova) dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf uji 5%, serta penghitungan jumlah daun setiap lima hari, luas daun setiap dua puluh hari, dan jumlah daun gugur setiap lima hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman cabai yang diuji dengan F.oxysporum pada umur 35 hari setelah tanam lebih responsif untuk beradaptasi terhadap infeksi fungi F.oxysporum. Respon fisiologinya berupa penyempitan lebar porus stomata sebesar 31,2%, penurunan kadar pigmen klorofil dan karotenoid sebesar 18%, penurunan tinggi batang 10,4% dan penurunan panjang akar 15,9%.
Pertumbuhan Daun Tanaman Cabai yang Diinfeksi Fusarium oxysporum pada Umur Tanaman Yang Berbeda Ulya, Himmatul; Darmanti, Sri; Ferniah, Rejeki Siti
Berkala Bioteknologi Vol. 4, No. 1, April 2021
Publisher : Berkala Bioteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cabai merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang ditanam di Indonesia. Salah satu penyakit yang menyerang tanaman cabai adalah layu fusarium. Layu fusarium diakibatkan oleh infeksi fungi Fusarium oxysporum. Infeksi F.oxysporum menyebabkan pengguguran daun lebih cepat sehingga menyebabkan penurunan daerah fotosintesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan pengguguran daun tanaman cabai yang diinfeksi fungi F.oxysporum pada fase vegetatif dan generatif. Parameter yang diamati adalah jumlah daun yang dihitung setiap 5 hari, luas daun dihitung setiap 20 hari, dan jumlah daun gugur yang dihitung setiap 5 hari. Setiap perlakuan dilakukan 5 ulangan. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah tanaman cabai yang diinfeksi fungi F.oxysporum pada fase generatif mengalami pengguguran daun lebih banyak dan penurunan pertumbuhan daun lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanaman cabai yang diinfeksi F.oxysporum pada fase vegetatif.
Respon Fisiologis Kedelai [Glycine max (L.) Merr.]Varietas Grobogan terhadap Tingkat Naungan yang Berbeda Bestari, Andini Vermita; Darmanti, Sri; Parman, Sarjana
Biospecies Vol. 11 No. 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.641 KB) | DOI: 10.22437/biospecies.v11i2.5715

Abstract

The study aimed to analyze physiological responses of soybean varieties Grobogan to different shade levels, including changes in amount of leaf total protein content, photosynthetic pigments content, index stomata and stomata gap width and vegetative growth. The research was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) one factor, that is shading level with three treatments: no shading, 50% shade and 70% shade. Data were analyzed by ANOVA and continued by DMRT at 95% confidence level. The results showed that Soybean varieties Grobogan is able to adapt and survive under 50% and 70% shade. Varieties Grobogan responded to increased shade by increasing leaf total protein content and photosynthetic pigments content and decreasing index stomata and stomatal gap width. Shaded plants showing stunted vegetative growth, seen by decreased of leaf number, leaf area, leaf thickness, stem height, stem diameter, root length and plant weight.
Glutamic Acid Application for Enhancement of Growth and Productivity of Okra Plant (Abelmoschus esculentus L. Moench) Septiyana, Eva; Setiari, Nintya; Darmanti, Sri
Biogenesis: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Sci and Tech, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/bio.v7i2.10146

Abstract

Red okra fruit has high nutritional value and fiber but still has low production. Monosodium glutamate (MSG) consists of sodium and glutamic acid. In plants, sodium can role of replacing potassium, stomata physiology, and chlorophyll biosynthesis. Glutamate as the nitrogen donor in primer metabolism and gibberellic acid precursor. The assumption that MSG in plants has a positive impact. This research aimed to examine the effect of MSG and the optimum dosage for enhances of growth and production. This research was conducted with Completely Randomized Designs (CRD) with one factor, is the MSG dosage (0, 3, 6, and 9 g). Quantitative data were analyzed using analysis of variant (ANOVA) dan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at a 95% confidence level. The result shows that the MSG treatment enhances the growth of the okra based on parameters of plant’s height, fresh weight of plant, dry weight of plant and the width of the leaf and enhances the production of the okra based on the flowering time, the number of the flower, the number of the fruit, the percentage of flower becoming fruit, the weight of fruit, width of fruit, and the diameter of the fruit. The optimal dosage of MSG for okra production and growth is 3 g/plant.