Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

LITERASI KESEHATAN DIGITAL DAN PERILAKU KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA: ANALISIS DARI PERSPEKTIF KESEHATAN MASYARAKAT Rupa Anjeli, A. Maya; Budiono, Nugrahadi Dwi Pasca; Inayah, Zufra; Mindiharto, Sestiono
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 10, No 1 (2026): JANUARI: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMM
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v10i1.37088

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara remaja mengakses informasi kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi, namun di sisi lain meningkatkan risiko paparan misinformasi yang dapat memengaruhi perilaku kesehatan. Dalam konteks kesehatan masyarakat, literasi kesehatan digital menjadi kompetensi penting yang menentukan kemampuan remaja dalam memahami dan memanfaatkan informasi kesehatan secara tepat. Penelitian ini menghadirkan kebaruan dengan menempatkan literasi kesehatan digital sebagai determinan perilaku kesehatan reproduksi remaja dalam konteks daerah, khususnya di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, wilayah dengan penetrasi digital tinggi namun masih menghadapi permasalahan kesehatan reproduksi remaja. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara literasi kesehatan digital dan perilaku kesehatan reproduksi remaja menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang pada 420 remaja usia 15–19 tahun yang dipilih melalui multistage random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring terstruktur menggunakan adaptasi eHealth Literacy Scale (eHEALS) dan instrumen perilaku kesehatan reproduksi, serta dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki literasi kesehatan digital rendah hingga sedang dan lebih dari sepertiga menunjukkan perilaku kesehatan reproduksi kurang baik; remaja dengan literasi kesehatan digital rendah memiliki risiko perilaku berisiko yang lebih tinggi (PR = 1,840; CI 95%: 1,320–2,560; p = 0,001). Kesimpulannya, literasi kesehatan digital berperan signifikan dalam membentuk perilaku kesehatan reproduksi remaja, sehingga penguatan literasi digital melalui sekolah, keluarga, dan media kredibel perlu dikembangkan secara berkelanjutan.
HUBUNGAN USIA, MASA KEJA DAN POTENSI BAHAYA ERGONOMI TERHADAP KELUHAN GANGGUAN OTOT RANGKA AKIBAT KERJA (GOTRAK) PADA PEKERJA PT. X Aldawiyah, Kolipatul Koiriyah; Mindiharto, Sestiono
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 10 No 1 (2025): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Gangguan Otot dan Rangka Akibat Kerja (GOTRAK) sering terjadi pada pekerjaan manual yang melibatkan aktivitas fisik berat dan gerakan berulang. Hasil pengukuran ergonomi di PT. X tahun 2023 menunjukkan 7 pekerja memiliki risiko ergonomi tinggi, 8 pekerja risiko sedang, dan 3 pekerja risiko rendah. Survei keluhan menunjukkan bagian tubuh yang paling sering terasa nyeri adalah punggung bawah, leher, dan bahu akibat aktivitas manual mengangkat dan memindahkan beban 10–50 kg secara berulang selama 8 jam kerja. Kondisi ini menunjukkan adanya potensi bahaya ergonomi yang signifikan dan perlu diteliti lebih lanjut hubungannya dengan usia, masa kerja, dan keluhan GOTRAK. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia, masa kerja, dan potensi bahaya ergonomi terhadap keluhan GOTRAK pada pekerja PT. X, sebuah perusahaan manufaktur. Metode: Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional) terhadap seluruh pekerja TKBM dan outsourcing di departemen pengolahan tepung gandum, dengan total responden sebanyak 40 orang. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner menggunakan checklist SNI 9011:2021. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Korelasi Spearman. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami keluhan pada tangan (37,5%) dan punggung bawah (47,5%). Terdapat hubungan yang signifikan antara usia, masa kerja, dan potensi bahaya ergonomi terhadap keluhan GOTRAK (p<0,05). Korelasi terkuat ditemukan pada lutut, tangan, dan punggung bawah untuk variabel usia, serta leher dan kaki untuk variabel masa kerja. Simpulan: Usia, masa kerja, dan potensi bahaya ergonomi memiliki hubungan signifikan terhadap keluhan GOTRAK. Diperlukan intervensi ergonomi dan pelatihan teknik kerja untuk menurunkan risiko GOTRAK di lingkungan kerja. Saran: Perusahaan disarankan untuk melakukan evaluasi ergonomi berkala, menyediakan pelatihan pengangkatan beban, serta memperbaiki sistem kerja manual handling guna menekan keluhan GOTRAK.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KELELAHAN KERJA PADA PENGEMUDI OJEK ONLINE DI GRESIK TAHUN 2025 Agustin, Mar'atus Sholihah; Mindiharto, Sestiono
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 10 No 1 (2025): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kelelahan kerja ialah isu kesehatan yang umum dialami pengemudi ojek online dan dapat menurunkan keselamatan serta produktivitas. Faktor seperti usia, durasi tidur, jam kerja, serta masa kerja diduga berperan dalam hal ini. Tujuan: Studi ini bertujuan guna mengidentifikasi faktor-faktor yang memiliki keterkaitan dengan tingkat kelelahan kerja pada pengemudi ojek online di Kabupaten Gresik tahun 2025. Metode: Studi ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, di mana data dikumpulkan pada satu waktu tertentu. Sebanyak 100 responden dilibatkan dalam penelitian ini, yang pemilihannya dilakukan secara sengaja melalui pendekatan purposive sampling, yakni metode pemilihan sampel secara sengaja berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan sebelumnya. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner, dan analisis hubungan antar variabel dijalankan menerapkan uji statistik Spearman Rank. Hasil: Mayoritas responden tercatat mengalami kelelahan kerja pada tingkat sedang, ialah sebesar 71%. Berdasarkan hasil analisis statistik, ditemukan adanya hubungan yang bermakna secara signifikan antara variabel durasi tidur (p = 0,046) serta jam kerja (p = 0,041) dengan tingkat kelelahan kerja. Sementara itu, variabel usia (p = 0,186) serta masa kerja (p = 0,591) tidak menunjukkan korelasi yang signifikan terhadap tingkat kelelahan yang dialami oleh responden. Simpulan: Durasi tidur serta jam kerja ialah faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja. Perlu upaya edukasi manajemen waktu dan intervensi kebijakan dari aplikator untuk mengurangi risiko kelelahan pada pengemudi ojek online.
HUBUNGAN SHIFT KERJA DENGAN TINGKAT STRES KERJA PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TIPE B KABUPATEN GRESIK Maraqonitatillah, Nurma; Mindiharto, Sestiono
Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup Vol 10 No 1 (2025): Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Shift kerja berpotensi menjadi faktor risiko stres kerja pada perawat. Data PPNI tahun 2018 menunjukkan bahwa 50,9% perawat di Indonesia mengalami stres kerja. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa 48,3%–82% perawat shift mengalami stres. Di RSUD Tipe B Kabupaten Gresik, seluruh perawat shift malam mengalami stres berat (100%), sementara perawat shift pagi seluruhnya mengalami stres ringan (100%), dan shift siang terbagi antara stres ringan (56,5%) dan berat (43,5%). Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara shift kerja dan tingkat stres kerja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan shift kerja dengan tingkat stres kerja pada perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Tipe B Kabupaten Gresik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 65 perawat ruang rawat inap, diambil dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis skala Likert dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara shift kerja dengan tingkat stres kerja (p-value = 0,000). Seluruh perawat pada shift pagi mengalami stres kerja ringan (100%), sedangkan seluruh perawat pada shift malam mengalami stres kerja berat (100%). Pada shift siang, 56,5% perawat mengalami stres ringan dan 43,5% mengalami stres berat. Simpulan: Shift kerja berhubungan secara signifikan dengan tingkat stres kerja perawat, dengan shift malam menjadi faktor risiko utama terhadap stres kerja berat. Upaya manajemen shift dan program dukungan psikososial disarankan untuk mengurangi dampak stres kerja di rumah sakit.
Hubungan Posisi Duduk Dengan Keluhan Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain) Pada Pekerja SPPG (Studi Kasus Di Desa X) Khoirotul Wahdaniah; Sestiono Mindiharto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58803

Abstract

Salah satu gangguan muskuloskeletal yang paling sering dialami pekerja adalah nyeri punggung bawah (low back pain), yang disebabkan oleh postur kerja yang tidak ergonomis, termasuk posisi duduk yang tidak tepat. Posisi duduk yang terlalu lama dengan postur yang tidak sesuai dapat meningkatkan tekanan pada tulang belakang bagian lumbal, yang menyebabkan nyeri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi posisi duduk, keluhan nyeri punggung bawah, dan hubungan antara posisi duduk dan keluhan nyeri punggung bawah pada pekerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Subyek penelitian adalah pekerja SPPG di desa X yang memenuhi kriteria. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 53 responden dengan Teknik pengambilan sampel menggunakan rumus slovin. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner posisi duduk dan kuesioner keluhan nyeri punggung bawah, kemudia dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank (Rho). Hasil uji statistic menunjukkan nilai r = -0,305 dengan p value = 0,026 (p = < 0,05), yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara hubungan posisi duduk dengan keluhan nyeri punggung bawah (low back pain) pada pekerja SPPG di Desa X. Diperlukan penerapan prinsip ergonomic dalam aktivitas kerja untuk mengurangi risiko terjadinya nyeri punggung bawah