Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Membangun Perilaku Masyarakat Sekitar Tambang Emas Dalam Mencegah Penggunaan Merkuri Pada Pengglondong Emas Di Daerah Wisata Sekotong Sabariah Sabariah; Suci Nirmala; Muhammad Ashhabul Kahfi Mathar
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 6 No. 2 (2024): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v6i2.1763

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini berfokus pada "Membangun Perilaku Masyarakat Sekitar Tambang Emas Dalam Mencegah Penggunaan Merkuri Pada Pengglondong Emas di Daerah Wisata Sekotong". Tujuan utama adalah meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat di Kecamatan Sekotong, khususnya di Desa Taman Baru, untuk mencegah dan mengurangi penggunaan merkuri dalam proses penambangan emas. Kegiatan ini melibatkan sekitar 30 orang yang aktif dalam penggelondongan sebagai mitra langsung. Metode pelaksanaan program ini termasuk tahapan persiapan, pelaksanaan kegiatan pengabdian, dan monitoring serta evaluasi, dengan menggunakan logbook sebagai alat bantu. Kader dilatih untuk melaksanakan sosialisasi, edukasi, dan monitoring aktivitas penggelondongan. Focus Group Discussions (FGD) diadakan untuk mengumpulkan informasi dari pemangku kepentingan dan masyarakat tentang praktik pengelolaan merkuri dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam kesadaran dan perilaku masyarakat. Sebanyak 92,3% penggelondong secara konsisten mencuci tangan setelah aktivitas penambangan, dan 69,2% telah memasang pembatas di kolam penampungan limbah. Namun, masih diperlukan peningkatan dalam penggunaan APD dan penanganan limbah yang aman. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah bahwa intervensi edukasi dan pelatihan mampu meningkatkan praktik penambangan yang lebih aman dan berkelanjutan di kalangan masyarakat. Rekomendasi untuk masa depan meliputi penguatan kerjasama antara pemerintah, komunitas, dan institusi pendidikan untuk memperluas cakupan edukasi dan memastikan kepatuhan terhadap praktik yang lebih aman serta regulasi yang mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.  Building Community Behavior Around Gold Mines in Preventing the Use of Mercury in Gold Miners in the Sekotong Tourism Area This Community Service Activity focuses on "Building Community Behavior Around Gold Mines in Preventing the Use of Mercury in Gold Miners in the Sekotong Tourism Area." The primary goal is to enhance awareness and capabilities among the community in Sekotong Subdistrict, specifically in Taman Baru Village, to prevent and reduce the use of mercury in gold mining processes. The initiative involves approximately 30 active gold miners as direct partners. The implementation method includes preparatory stages, the execution of community service activities, and monitoring and evaluation, utilizing a logbook as a supportive tool. Community facilitators were trained to conduct socialization, education, and monitoring of mining activities. Focus Group Discussions (FGD) were held to gather information from stakeholders and the community about mercury management practices and the use of Personal Protective Equipment (PPE). Results from this activity indicate a significant improvement in community awareness and behavior. Approximately 92.3% of miners consistently washed their hands after mining activities, and 69.2% had installed barriers at waste containment ponds. However, there remains a need for improvement in PPE usage and safe waste handling. The conclusion from this activity is that educational and training interventions can enhance safer and more sustainable mining practices among the community. Future recommendations include strengthening cooperation between the government, community, and educational institutions to expand education coverage and ensure compliance with safer practices and regulations supporting sustainable environmental management.  
Prevalensi Penyakit Infeksi Menular Seksual pada Pelaku Hiburan di Wilayah Kerja Puskesmas Meninting Kabupaten Lombok Barat Tahun 2020 Moch Maswan; Sabariah Sabariah; Nyoman Cahyadi Tri Setiawan; Muhammad Ashhabul Kahfi Mathar
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 6, No 1: March 2021
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.267 KB) | DOI: 10.30604/jika.v6i1.978

Abstract

Kejadian infeksi menular seksual setiap tahunnya meningkat khusunya pada Provinsi Nusa Tenggara Barat di kabupaten Lombok Barat yang merupakan daerah destinasi wisata dengan kunjungan yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi menular seksual pada pelaku hiburan di wilayah kerja Puskesmas Meninting. Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian cross sectional dan dilakukan selama bulan November-Desember 2020 di tempat hiburan wilayah kerja Puskesmas Meninting. Sampel yang digunakan sejumlah 101 sampel dengan menggunakan sampel darah dan duh tubuh. Analisis data diolah menggunakan software IBM SPSS Statistics 25.0. Didapatkan 56 orang menderita IMS yang tersebar di 6 lokasi pengambilan sampel. Distribusi usia pada penelitian ini didapatkan yakni usia 19 – 35 tahun sedangkan distribusi agen penyebab IMS pada penelitian ini didapatkan penderita Sifilis merupakan kasus terbanyak. Pada penelititan ini didapatkan agen penyebab infeksi menular seksual yang merupakan kasus terbanyak yaitu Sifilis dan sebaliknya didapatkan infeksi HIV merupakan kasus yang terkecil. Distribusi usia pada kejadian infeksi menular seksual dalam penelitian ini didapatkan pada usia 19-35 tahun.
Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Personal Hygiene terhadap Kualitas Hidup Pasien Dermatitis Kontak di Poli Kulit RSUD Kota Mataram Asmara Tantya Fitria Manggali Purwanta; Lysa Mariam; Sabariah Sabariah; Hilda Santosa; Wiwin Mulianingsih
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i4.24821

Abstract

ABSTRACT Contact dermatitis is a common skin disease that can significantly affect patients’ quality of life, including physical, psychological, and social aspects. Behavioral factors such as knowledge, attitude, and personal hygiene are assumed to play an important role in influencing the quality of life of patients with contact dermatitis; however, previous studies have reported inconsistent findings. This study aimed to determine the relationship between knowledge, attitude, and personal hygiene and the quality of life of patients with contact dermatitis at the Dermatology Outpatient Clinic of RSUD Kota Mataram. This study was an analytical observational quantitative study using a cross-sectional design. The sample consisted of 115 patients diagnosed with contact dermatitis, selected using a total sampling technique. Data were collected using questionnaires assessing knowledge, attitude, and personal hygiene, as well as the Dermatology Life Quality Index (DLQI) to measure quality of life. Data analysis was performed using univariate and bivariate analyses with the Spearman Rank correlation test at a significance level of 0.05. The results showed that most respondents had poor knowledge (55.7%), positive attitudes (63.5%), and good personal hygiene (57.4%). Most patients (62,6%) reported minimal impact on their quality of life, while others (37,4%) experienced mild to severe impairment. Bivariate analysis demonstrated a significant relationship between knowledge and quality of life (r = 0.411; p = 0.000) and between personal hygiene and quality of life (r = 0.599; p = 0.000). Attitude also showed a statistically significant but weak correlation with quality of life (r = 0.292; p = 0.002). In conclusion, knowledge and personal hygiene play important roles in improving the quality of life of patients with contact dermatitis.  Keywords: Contact Dermatitis, Knowledge, Attitude, Personal Hygiene, Quality of Life, DLQI.  ABSTRAK Dermatitis kontak merupakan penyakit kulit yang sering dijumpai dan menimbulkan dampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Faktor perilaku seperti pengetahuan, sikap, dan personal hygiene diduga berperan dalam memengaruhi kualitas hidup pasien dermatitis kontak, namun hasil penelitian sebelumnya menunjukkan temuan yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan personal hygiene terhadap kualitas hidup pasien dermatitis kontak di Poli Kulit RSUD Kota Mataram. Penelitian ini kuantitatif analitik observasional dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 115 pasien dermatitis kontak yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner pengetahuan, sikap, personal hygiene, serta instrumen Dermatology Life Quality Index (DLQI) untuk menilai kualitas hidup. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang baik (55,7%), sikap positif (63,5%), dan personal hygiene baik (57,4%). Mayoritas pasien (62,6%) melaporkan memiliki kualitas hidup yang tidak terlalu terganggu, namun sebagian lainnya (37,4%) mengalami gangguan kualitas hidup dari ringan hingga berat. Analisis bivariat menunjukkan hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kualitas hidup (r = 0,411; p = 0,000) dan antara personal hygiene dengan kualitas hidup (r = 0,599; p = 0,000). Sementara itu, sikap memiliki hubungan yang lemah namun signifikan secara statistik terhadap kualitas hidup (r = 0,292; p = 0,002). Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan dan personal hygiene berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien dermatitis kontak.  Kata Kunci: Dermatitis Kontak, Pengetahuan, Sikap, Personal Hygiene, Kualitas Hidup, DLQI.
Hubungan Sanitasi Lingkungan dan Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian DBD di Puskesmas Cakranegara Kota Mataram Haris Raynor; Mamang Bagiansah; Sabariah Sabariah; Fahriana Azmi
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i4.24850

Abstract

ABSTRACT Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a major health issue in Mataram City, particularly in Mandalika Village, which experienced a surge of 66 cases in August 2025. Poor environmental sanitation and low community knowledge are strongly suspected to be the primary driving factors for this transmission. This study aims to analyze the relationship between environmental sanitation and the level of knowledge with the incidence of DHF in the working area of the Cakranegara Public Health Center, Mataram City. This study used an observational study design with a quantitative approach. The sample consisted of 110 household heads in Mandalika Village selected using the simple random sampling method. Data were collected through questionnaires and analyzed using the Chi-square test with a 95% confidence level. Univariate analysis showed that 52.7% of respondents had experienced DHF. The majority of respondents had poor environmental sanitation (52.3%) and a poor level of knowledge (49.1%). Bivariate analysis results showed a significant relationship between environmental sanitation and the incidence of DHF (p = 0.038). Respondents with poor sanitation had a higher risk of contracting DHF compared to those with good sanitation. There is a significant relationship between environmental sanitation and the incidence of DHF at the Cakranegara Public Health Center. This emphasizes the importance of increasing environmental improvement efforts and consistent community education to reduce the incidence of DHF. Keywords: DHF, Environmental Sanitation, Knowledge, Cakranegara Public Health Center.  ABSTRAK Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan utama di Kota Mataram, khususnya di Kelurahan Mandalika yang mengalami lonjakan kasus hingga 66 kasus pada Agustus 2025. Kondisi sanitasi lingkungan yang buruk dan rendahnya pengetahuan masyarakat diduga kuat menjadi faktor pendorong utama penularan ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara sanitasi lingkungan dan tingkat pengetahuan dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Cakranegara, Kota Mataram. Penelitian ini menggunakan desain studi observasional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel berjumlah 110 Kepala Keluarga (KK) di Kelurahan Mandalika yang dipilih menggunakan metode simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-square dan Spearman’s Rank Correlation Coefficient dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil analisis univariat menunjukkan 52,7% responden mengalami DBD. Sebagian besar responden memiliki sanitasi lingkungan yang buruk (52,3%) dan tingkat pengetahuan yang buruk (49,1%). Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian DBD (p = 0,038). Responden dengan sanitasi buruk memiliki risiko lebih tinggi terkena DBD dibandingkan dengan yang bersanitasi baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian DBD di Puskesmas Cakranegara. Hal ini menekankan pentingnya peningkatan upaya perbaikan lingkungan dan edukasi masyarakat secara konsisten untuk menekan angka kejadian DBD. Kata Kunci: Kejadian DBD, Sanitasi Lingkungan, Tingkat Pengetahuan.
Uji Efektivitas Antibakteri Ekstrak Daun Pisang Mas (Musa Acuminata Colla) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus Aureus dan Escherichia Coli Eka Anjelita Leony; I Gede Angga Adnyana; Sabariah Sabariah; Resna Hermawati
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i2.24250

Abstract

ABSTRACT Staphylococcus aureus and Escherichia coli are pathogenic bacteria that cause common infectious diseases in humans. Recently, there has been an increase in antibacterial resistance due to inappropriate use. One way to overcome this problem is to look for alternative medicines derived from natural materials, such as the leaves of Musa acuminata colla, which are thought to have antibacterial compounds. This study is a true experimental study with a fully randomized design. The number of experimental units was 24 for one bacteria divided into 6 groups, namely 25%, 50%, 75%, 100% concentration, positive control ciprofloxacin, and negative control distilled water. The results concentrations of 25%, 50%, 75% Musa acuminata colla leaf extract could not inhibit the growth of Staphylococcus aureus. However, at 100% concentration, there is an inhibition zone with an average diameter of 10.62 mm. The results of data analysis using the unpaired T test showed a statistically significant difference between the 100% concentration and the positive control (mean: 33 mm) with a p-value 0.001. Meanwhile, in Escherichia coli there was no zone of inhibition at all test concentrations. The conclusions is Musa acuminata colla leaf extract caused an inhibition zone at 100% concentration, but the antibacterial efficacy needs to be optimized, while for Escherichia coli it had no effect on bacterial growth.  Keywords: Musa Acuminata Colla, Staphylococcus Aureus, Escherichia Coli.  ABSTRAK Staphylococcus aureus dan Escherichia coli merupakan bakteri patogen penyebab penyakit infeksi yang umum pada manusia. Belakangan ini terjadi peningkatan resistensi antibakteri akibat penggunaan yang tidak tepat. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut dengan mencari obat alternatif yang bersumber dari bahan alam contohnya adalah daun Musa acuminata colla yang diduga memiliki senyawa antibakteri. Penelitian ini merupakan true experimental dengan rancangan acak lengkap. Jumlah unit percobaan sebanyak 24 untuk satu bakteri yang dibagi menjadi 6 kelompok yaitu konsentrasi 25%, 50%, 75%, 100%, kontrol positif ciprofloxacin, dan kontrol negatif aquades. Ekstrak daun Musa acuminata colla pada konsentrasi 25%, 50%, 75% tidak menimbulkan zona hambat terhadap Staphylococcus aureus. Namun pada konsentrasi 100%, terdapat zona hambat dengan diameter rerata 10,62 mm. Sedangkan, pada Escherichia coli tidak terdapat zona hambat pada semua konsentrasi uji. Kesimpulannya Ekstrak daun Musa acuminata colla menimbulkan zona hambat pada konsentasi 100%, namun efektivitas antibakteri perlu dioptimasi, sedangkan untuk Escherichia coli tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri. Kata Kunci: Musa Acuminata Colla, Staphylococcus Aureus, Escherichia Coli.
Efektivitas Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Kirinyuh (Chromolaena Odorata) dan Daun Talas (Colocasia Esculenta) terhadap Daya Hambat Pertumbuhan Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) Dienda Rara Nursoleha; I Putu Dedy Arjita; Sabariah Sabariah; Ety Retno Setyowati
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i4.24121

Abstract

ABSTRACT Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) infection has resulted in an increase of the death rate due to Antimicrobial Resistance around the world, one of it is Indonesia. The treatment of MRSA infections mostly uses synthetic antibacterial drugs. However, currently many synthetic drugs are getting resistance, that allowing MRSA infections out of control. One of the attempts to solve this problem is to use natural ingredients such as Chromolaena odorata and Colocasia esculenta plants which have been proven to have antimicrobial effects against some bacteria. This research aims to test the effectiveness of the combination of Chromolaena odorata and Colocasia esculenta extract with ethanol in inhibiting the growth of MRSA. This research method uses true experimental using the Cup-plate technique/well diffusion method. The number of experimental units was 28 that divided into 7 groups with a ratio of 1:0, 1:1, 1:2, 2:1, 0:1, positive control of Vancomycin 30ug/disk, negative control of ethanol 95%. From the antibacterial test, there were results a very strong categories in combination of 1:0, 1:1, 1:2, and 2:1 ethanol extract of Chromolaena odorata and Colocasia esculenta with inhibitory zone diameters of 20 mm, 20.875 mm, 21.25 mm, and 22.125 mm. Meanwhile, the ratio of 0:1 is unable to inhibit MRSA. The results of the Mann-Whitney test showed that there was no significant difference between the ratio of 1:0, 1:1, 1:2, and 2:1 with the positive control, meanwhile the ratio of 0:1 has a significant difference. In this study, there was an effectiveness on the combination of Chromolaena odorata and Colocasia esculenta extract with ethanol in the ratio of 1:0, 1:1, 1:2, and 2:1 that inhibited the growth of MRSA.  Keywords: Antibacteria, Combination, MRSA.  ABSTRAK Infeksi Methicillin-Resistent Staphylococcus aureus (MRSA) mengakibatkan terjadinya peningkatan angka kematian akibat Antimicrobial Resistance diseluruh dunia, salah satunya di Indonesia. Pengobatan infeksi MRSA sebagian besar menggunakan obat-obatan antibakteri sintetik. Namun, saat ini obat-obatan sintetik banyak mengalami resistensi sehingga memungkinkan infeksi MRSA semakin tidak terkendali. Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menggunakan bahan alami seperti tanaman Chromolaena odorata dan Colocasia esculenta yang tebukti memiliki efek antimikroba terhadap beberapa bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas kombinasi ekstrak etanol Chromolaena odorata dan Colocasia esculenta dalam menghambat pertumbuhan MRSA. Metode penelitian ini menggunakan true experimental menggunakan metode difusi Cup-plate technique/sumuran. Jumlah unit percobaan sebanyak 28 pada 7 kelompok dengan perbandingan 1:0, 1:1, 1:2, 2:1, 0:1, kontrol positif Vankomisin 30ug/disk, kontrol negatif etanol 95%. Dari uji antibakteri tersebut terdapat hasil pada kombinasi 1:0, 1:1, 1:2, dan 2:1 ekstrak etanol Chromolaena odorata dan Colocasia esculenta memiliki diameter zona hambat 20 mm, 20,875 mm, 21,25 mm, dan 22,125 mm termasuk kategori sangat kuat. Sedangkan pada perbandingan 0:1 tidak mampu menghambat MRSA. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan secara signifikan pada perbandingan 1:0, 1:1, 1:2, dan 2:1 terhadap kontrol positif. Sedangkan perbandingan 0:1 memiliki perbedaan secara signifikan. Pada penelitian ini terdapat efektivitas kombinasi ekstrak etanol Chromolaena odorata dan Colocasia esculenta pada perbandingan 1:0, 1:1, 1:2, dan 2:1 dalam menghambat pertumbuhan MRSA Kata Kunci: Antibakteri, Kombinasi, MRSA.