Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGTuntuk meningkatkan minat dan prestasi belajar kimia Wiji Wati; Samsi Haryanto; Supriyoko Supriyoko
Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1666.035 KB) | DOI: 10.30738/wd.v5i1.3221

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGTdengan tepat agar mampu meningkatkan minat dan prestasi belajar kimia siswa kelas XI IPA SMAN 1 Sanden tahun pelajaran 2016/2017, (2) kelebihan dan kekurangan penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar kimia siswa kelas XI IPA SMAN 1 Sanden tahun pelajaran 2016/2017, (3) efektifitas penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar kimia siswa kelas XI IPA SMAN 1 Sanden tahun pelajaran 2016/2017 dengan menggunakan model evaluasi Kirkpatrick. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, yang dilakukan dalam dua siklus. Siklus 1 terdapat empat kali pertemuan, siklus 2 terdapat tiga kali pertemuan. Teknik dan Instrument pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan : (1) observasi, (2) angket minat belajar, (3) wawancara, (4) tes. Dari hasil angket minat belajar kimia setelah siklus I diperoleh hasil sebanyak 22 siswa atau 78,6 % dengan kategori minat sangat tinggi, dan sebanyak 6 siswa atau 21,4% dengan kategori minat tinggi. Hasil ini meningkat pada siklus II, dimana siswa yang memiliki kategori minat belajar kimia sangat tinggi menjadi 24 siswa atau 89,3%, dan kategori minat tinggi sebanya 4 siswa atau 10,7 %.Hasil postest pada siklus I dengan nilai KKM 75 menunjukkan masih terdapat siswa yang belum tuntas hal ini terlihat dari 28 siswa yang mendapat nilai diatas 75 = 67,9 % atau sebanyak 19 siswa dan yang mendapat nilai dibawah 75 sebanyak 32,1 % atau sebanyak 9 Siswa. Hasil posttest siklus II dapat dilihat siswa telah mengalami peningkatan dalam belajar. Hal ini dibuktikan bahwa siswa yang mendapat nilai diatas KKM atau diatas nilai 75 sebanyak 26 siswa atau 92,9 % dan 2 siswa atau 6,1%. Application of cooperative learning type of tgt to improve chemical learning and achievement AbstractThis study aims to determine: (1) the implementation of cooperative learning type TGT appropriately in order to increase the interest and achievement of chemistry students learning grade XI IPA SMAN 1 Sanden academic year 2016/2017, (2) advantages and disadvantages of application of cooperative learning type TGT to improve interest and achievement of chemistry student learning grade  XI  IPA  SMAN  1  Sanden  academic  year  2016/2017, (3) effectiveness  of  application  of cooperative learning type TGT to increase interest and achievement of chemistry student learning grade XI IPA SMAN 1 Sanden academic year 2016/2017 by using evaluation model Kirkpatrick. The method used in this study is a classroom action research, conducted in two cycles. Cycle 1 there are four meetings, cycle 2 there are three meetings. Techniques and Instruments data collection is done by using: (1) observation, (2) questionnaire interest in learning, (3) interview, (4) test. From the result of questionnaire of chemistry learning interest after cycle I obtained the result of 22 students or 78,6% with very high interest category, and as many as 6 students or 21,4% with high interest category. This result increased in cycle II, where the students who have chemistry interest interest category is very high to 24 students or 89.3%, and high interest category as 4 students or 10.7%. The posttest result in cycle I with KKM value 75 indicates still there are students who have not completed this is seen from 28 students who scored above 75 = 67.9% or as many as 19 students and who scored below 75 as much as 32.1% or as many as 9 Students. Posttest results of cycle II can be seen students have experienced improvement in learning. It is proved that students who score above KKM or above the value of 75 as many as 26 students or 92.9% and 2 students or 6.1%.
Identifikasi miskonsepsi dalam pembelajaran IPA ruang lingkup materi dan sifatnya di SMP Joannes Bosco Yogyakarta kelas VIII tahun ajaran 2014-2015 Dwi Herry Noegroho; FX Sudarsono; Samsi Haryanto
Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1718.755 KB) | DOI: 10.30738/wd.v5i1.3293

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya miskonsepsi dan faktor-faktor penyebab miskonsepsi dalam pembelajaran IPA ruang lingkup materi dan sifatnya yang terjadi pada peserta didik kelas VIII SMP Joannes Bosco Yogyakarta tahun akademik 2014/2015. Penelitian ini menyimpulkan teridentifikasikannya jenis-jenis miskonsepsi yang dialami peserta didik kelas VIII SMP Joannes Bosco Yogyakarta mata pelajaran IPA ruang lingkup materi dan sifatnya dengan materi pokok atom, ion, dan molekul adalah sebagai berikut : (1) massa, muatan listrik, dan letak netron di dalam suatu atom, (2) kaitan antara jumlah proton, netron dan electron dengan nomor atom dan nomor massa, (3) kaitan antara model dan lambang suatu atom dengan nomor atom dan nomor massa, (4) pengertian, contoh, dan proses pembentukan ion, anion, dan kation, serta kaitannya dengan jumlah proton dan electron, (5) model ion poliatomik dan pengertian ion poliatomik, (6) pengertian, contoh, rumus kimia molekul, molekul unsure, molekul senyawa, molekul unsure poliatomik. Adapun penyebab dari miskonsepsi yang dialami peserta didik kelas VIII SMP Joannes Bosco Yogyakarta adalah : (1) tidak dapat membedakan materi yang partikel-partikel penyusunnya terdiri dari satu jenis atom, yang merupakan ciri dari unsure, (2) kesulitan untuk menghapalkan massa, muatan listrik, dan letak dari partikel-partikel di dalam suatu atom seperti proton dan netron, (3) tidak dapat membedakan antara nomor atom dan nomor massa sehingga dalam menghitung jumlah proton, netron dan electron terjadi kesalahan, demikian juga dengan model dan lambang atom suatu atom, (4) tidak dapat membedakan antara ion, anion, dan kation, sehingga terjadi kesalahan dalam proses pembentukannya dan kaitannya dengan jumlah proton dan electron, (5) tidak hapal dengan rumus kimia dari atom, molekul unsur, molekul senyawa, molekul unsur poliatomik Identification of misconsepsi in learning IPA scope of material and its nature in SMP Joannes Bosco Yogyakarta class VIII teaching date 2014-2015 AbstractThis survey study are aimed to identify the misconception and the factors causing misconception in science learning for the subject of material and its propertiesfor 8thgrade students of Joannes Bosco Junior High School Yogyakarta Academic Year2014-2015. This study succeed to identify the types of misconception in science learning for the subject of material dan its properties focusing on atom, ion, and molecule; they were related to: (1) mass, electrical charge, and potition of neutron in atom, like proton and neutron, (2) the relation between proton, neutron dan electron with atomic and mass number of atom (3) the relation between model dan symbol of atom with atomic and mass number of atom, (4) the definition, example, bulding proses of ion, anion, and kation, and its relation with the number of proton dan electron, (5) poliatomic ion model and its definition, (6) the definition, example, molecule symbol of molecule, element, compound, and polyatomic molecule. There were some causes of misconception in science learning for the subject of material dan its properties for 8thgrade students of Joannes Bosco Junior High School Yogyakarta Academic Year2014-2015: (1) unable to understand the material consisted of one atom which is the characteristic of one element (2) difficult to remember mass, electrical charge and potition of neutron in the atom (3) difficult to differenciate atomic and mass number of each atom causing miscalculation related to the number of proton, neutron, and electron even the model and symbol of atom, (4) unable to differenciate ion, anion, and cation causing a problem in forming process of ion and its relation to the number of proton dan electron, (5) unable to remember the symbol of atom, molecule, compound, polyatomic molecule.
Efektivitas model pembelajaran problem-learning dengan metode peer tutoring berbantuan geogebra pada dimensi tiga dalam upaya meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika siswa Maria Ernawati Milla Tana; Supriyoko Supriyoko; Samsi Haryanto
Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1708.3 KB) | DOI: 10.30738/wd.v5i1.3295

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalis efektifitas penggunaan model problem based learning dengan metode peer tutoring berbantuan geogebra pada  materi dimensi tiga untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas Kurt Lewin dengan tiga siklus dan pendekatan kualitatif.  Metode peer tutoring berhasil (1) meningkatkan motivasi belajar siswa tercermin dari naiknya presentasi siswa bemotivasi belajar tinggi dari siklus 1 ke siklus 3. (2) meningkatkan prestasi tercermin dari naiknya persentase siswa dengan nilai melampau KKM dari siklus 1 ke siklus 3. (3) memiliki efektivitas tinggi diukur dengan metode evaluasi Kirk Patick.  Dengan demikian, metode Peer tutoring  dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa pada dimensi tiga. Effectiveness of problem based learning model learning with geogebra helping peer tutoring method on three dimensions in efforts to increase motivation and student learning achievement AbstractThis study aims to analyze the effectiveness of the use of problem-based learning model with geogebra assisted peer-tutoring method on three dimensional material to improve student's learning motivation and achievement. The method used is Kurt Lewin class action research with three cycles and a qualitative approach. The method of peer tutoring succeeds (1) improves students 'learning motivation as reflected in the increase of students' high learning motivation presentation from cycle 1 to cycle 3. (2) improving achievement is reflected from the increase of percentage of students with value beyond KKM from cycle 1 to cycle 3. (3) has a high effectiveness measured by Kirk Patick's evaluation method. Thus, Peer tutoring method can improve student's motivation and achievement in dimension three.
Implementasi model pembelajaran cooperative learning type jigsaw dalam rangka peningkatan motivasi dan prestasi pelajaran matematika pada siswa kelas VII MTsN Yogyakarta tahun pelajaran 2015/2016 Sirojul Huda; Samsi Haryanto; Chaerun Chaerun
Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1689.833 KB) | DOI: 10.30738/wd.v5i1.3298

Abstract

Model Pembelajaran Cooperative learning Tipe Jigsawdi kelas VIIMTsN Yogyakarta I Mlati Sleman tahun pelajaran 2015/2016SD bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika materi bangun datar segi empat. Penelitian Tindakan Kelas dilakukan oleh peneliti sebagai guru kelas dan guru matematika kelas 9 sebagai observer. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus., subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII semester II MTsN Yogyakarta I Mlati Sleman tahun pelajaran 2015/2016 berjumlah 33 siswa. Teknik analisis data digunakan analisis perbandingan,. Dari prosentase dideskripsikan kearah kecenderungan tindakan guru dan reaksi serta hasil belajar siswa.Prestasi belajar sebelum tindakan kelas rata-rata 69,58 ketuntasan individual sebanyak 22siswa(66,7%).Setelah tindakan kelas pada siklusI nilai rata-rata 73,75 dengan ketuntasan individual28siswa (84,84%), siklus II nilai rata-rata mencapai 77,33 dengan ketuntasan individual 33siswa (100%).Pada akhir PTK motivasi belajar siswa dalam kriteria tinggi (84,48). Hasil penelitian membuktikan penggunaan Model Pembelajaran Cooperative learning Tipe Jigsawmeningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika materi bangun datar segi empatsiswa kelas VII semester II MTsN Yogyakarta I Mlati Sleman tahun pelajaran 2015/2016 dan dapat dijadikan prediktor yang baik. Oleh karena itu dalam pembelajaran matematika dapat diterapkan Model Pembelajaran Cooperative learning Tipe Jigsaw untuk meningkatkan motivasi dan prestasi materi bangun datar segi empat. Implementation of cooperative learning type jigsaw learning model in the framework of increasing motivations of achievement of math statements students of class VII MTsN Yogyakarta its lesson 2015/2016 AbstractLearning Model Cooperative Learning Type Jigsawdi class VII MTsN Yogyakarta I Mlati Sleman 2015/2016 SD lesson year aims to improve motivation and achievement of learning mathematics material wake rectangular flat. Classroom Action Research is done by the researcher as a classroom teacher and grade 9 mathematics teacher as an observer. The research was conducted in two cycles, the subjects of this study were the second grade students of second semester of MTsN Yogyakarta I Mlati Sleman 2015/2016 academic year amounted to 33 students. Data analysis techniques used comparative analysis. From the percentage is described towards the tendency of teacher action and reactions and student learning outcomes.Prestasi learning before the class action an average of 69.58 individual completeness as much as 22 students (66.7% ).After class action on the cycleI average score of 73.75 with mastery Individual students (84.84%), cycle II average score reached 77.33 with individual completeness 33 students (100%) At the end of TOD the students' learning motivation in high criterion (84,48) The research results proved the use of Learning Model Cooperative Learning Type Jigsawmend the motivation and achievement of learning mathematics of building the rectangular building of class VII second semester of MTsN Yogyakarta I Mlati Sleman of academic year 2015/2016 and can be a good predictor. Therefore, in the learning of mathematics can be applied Learning Model Cooperative learning Type Jigsaw to improve motivation and achievement of building of rectangular flat.
Evaluasi implementasi kurikulum 2013 Dwi Ariani Astuti; Samsi Haryanto; Yuli Prihatni
Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.127 KB) | DOI: 10.30738/wd.v6i1.3353

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi: (a) perencanaan pembelajaran, (b) pelaksanaan pembelajaran, (c) penilaian dan (d) faktor pendukung dan penghambat implementasi Kurikulum 2013 di SMA N 9 Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan evaluasi CIPP dari Stufflebeam difokuskan evaluasi proses. Subyek penelitian adalah warga SMA N 9 Yogyakarta, obyek penelitian aktivitas pembelajaran Kurikulum 2013. Teknik pengumpulan data: dokumentasi, observasi, dan wawancara. Teknik analisis data adalah kualitatif komparasi. Kesimpulan: (a) Perencanaan pembelajaran sudah sesuai dengan pedoman, pencapaian penyusunan silabus tertinggi 100%, pencapaian penyusunan RPP tertinggi 96.62, (b) Pelaksanaan pembelajaran sudah sesuai dengan pedoman, ketercapaian tertinggi 91.29%, (c) Pelaksanaan penilaian sudah sesuai dengan pedoman, namun terkendala pada penilaian sikap, (d) Faktor pendukung adalah semua guru sudah mendapat pelatihan, dukungan sarana dan prasarana, input siswa tinggi, keaktifan guru dalam MGMP, dan peran orangtua. Faktor penghambat: belum adanya pemahaman tentang implementasi Kurikulum 2013 secara menyeluruh, perlunya pemahaman model pembelajaran, penilaian, soal HOTS, dan penggunaan IT.The evaluation curriculum 2013 implementation This study aims to evaluate the: (a) planning, (b) action, (c) assessment and (d) supporting and inhibiting of the implementation of Curriculum 2013 in SMA N 9 Yogyakarta. This study was an evaluation study of CIPP evaluation model from Stufflebeam that was focused on process evaluation. The research subject was the learning activity by using Curriculum 2013 with research object was the students of SMA N 9 Yogyakarta. Data collection techniques used documentation, observation, and interview. Data analysis technique used qualitative with a comparative method. Conclution: (a) the learning planning had been accordance with the guidance with the highest achievement 100%, the achievement of composition with the highest lesson plan component 96.62%, (b) Implementation of learning had been accordance with the guidelines, the highest achievement 91.29%, (c) Implementation of the assessment had been accordance with the guidance, but there were still obstacles of attitude assessment, (d) The supporting factors were all teachers had gotten the practices, facilities and infrastructure support, high student input, activeness in the MGMP, and the role of parents. The inhibiting factors are the comprehension of the comprehensive implementation of Curriculum 2013, the understanding of learning models, assessment, HOTS questions, and the ability to use IT
Penerapan pendekatan saintifik dengan model pembelajaran kooperatif tipe talking stik motivasi dan prestasi belajar Rimawati Rimawati; Samsi Haryanto
Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2029.731 KB) | DOI: 10.30738/wd.v5i2.3367

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan 1) proses pembelajaran dan pengajaran dalam pelajaran ilmu sosial dengan menggunakan pendekatan ilmiah dan model kooperatif tipe stick stick untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan prestasi belajar dari pelajaran sains sosial kelas VIII di SMP Negeri 15 Yogyakarta, 2) kekuatan dan kelemahan pendekatan ilmiah dan model koperasi tipe stick stick untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan prestasi belajar pelajaran ilmu sosial, dan 3) efektivitas penerapan pendekatan ilmiah dan model koperasi tipe stick berbicara untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa dalam pelajaran ilmu sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan ilmiah dan model kooperatif tipe stick dan masing - masing fase memiliki empat komponen berulang, yaitu perencanaan, implementasi, observasi, dan refleksi. Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan beberapa teknik seperti observasi, tes tertulis, wawancara, kuesioner dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan ilmiah dan model koperasi tipe stick untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan prestasi belajar mata pelajaran ilmu sosial. Skor motivasi belajar siswa dan prestasi belajar sains meningkat dari 89,65% pada siklus 1 sampai 100% pada siklus 2, sehingga kenaikan 75% terpenuhi. Prestasi belajar meningkat dari 60,9% pada hasil pre-cycle menjadi 79,31% pada posttest siklus 1 dan 86,21% pada siklus posttest 2. Peningkatan prestasi belajar dapat dilihat melalui skor pada siklus 1, dan 23 siswa. memenuhi kriteria nilai kelulusan minimum (79,31%) dan 25 siswa berprestasi dengan nilai kelulusan minimum (86,21%).AbstractThe objectives of this research are to describe 1) learning and teaching processes in the social sciences lesson using a scientific approach and a cooperative model of talking stick type to increase students’ motivation and learning achievement of the social sciences lesson in class VIII at SMP Negeri 15 Yogyakarta, 2) strengths and weaknesses of a scientific approach and cooperative model of talking stick type to increase students’ motivation and learning achievement the social sciences lesson, and 3) the effectiveness of applying a scientific approach and a cooperative model of talking stick type to increase students’ motivation and learning achievement in the social sciences lesson. This research uses a scientific approach, and a cooperative model of talking stick type and each of its phases has four repetitive components, namely planning, implementation, observation, and reflection. To collect data, the researcher used several techniques such as observation, written test, interview, questionnaire and documentation. The research results show that the implementation of a scientific approach and cooperative model of talking stick type to increase students’ motivation and learning achievement of the social sciences lesson. The scores of students’ motivation and learning achievement of the social sciences increased from 89.65% in cycle 1 to 100% in cycles 2, so the increase of 75% was fulfilled. The learning achievement increased from 60.9% in the pre-cycle result to 79.31% in the post test of cycle 1 and 86.21% in the post test of cycle 2. The increase of learning achievement can be seen through scores in the cycle 1, and 23 students accomplished a criterion of minimum passing grade (79.31%) and 25 students accomplished a criterion of minimum passing grade (86.21%).
Implementasi model pendekatan tutor sebaya sebagai upaya meningkatkan motivasi dan prestasi belajar teknologi informasi dan komunikasi (tik) pada siswa kelas VIII Ari Wardhani; Samsi Haryanto
Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2049.018 KB) | DOI: 10.30738/wd.v5i2.3370

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) Implementasi model peer tutor untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar pada pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), (2) Kelebihan dan kekurangan Model Peer Tutor untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar pelajaran TIK, (3) Efektivitas Model Peer Tutor untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar pelajaran TIK pada semester kedua tahun 2016/2017. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan model Peer Tutor, yang ada tahapan dalam setiap langkahnya. Keempat tahap tersebut adalah perencanaan, implementasi, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi, tes writting, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi siswa telah mencapai kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti. Berdasarkan kuesioner yang diharapkan motivasi siswa pada akhir siklus ke 2, meningkat dibandingkan dengan siklus I. Ada 70,6% siswa mendapat kriteria “Very High”. Sementara untuk aspek pencapaian siswa rata-rata skor rata-rata 86 pada akhir siklus ke 2 dan ada 94,1% siswa mencapai Kriteria Kelengkapan Minimum. Kesimpulan dari penelitian ini adalah proses pembelajaran TIK dengan menerapkan Model Peer Tutor telah terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar, dan prestasi belajar di kelas VIII E SMP Negeri 9 Yogyakarta. Implementation of Peer Tutor Model as Efforts to Improve Motivation and Learning Achievement of Information and Communication Technology (ICT) in Class VIII of Yunior Hight School 9 YogyakartaAbstractThe purpose of this research is to describe (1) The implementation of peer tutor model to improv motivation and learning achievement at Information and Communication Technology (ICT) lesson, (2) The advantages and disadvantages Of Peer Tutor Model to improv motivation and learning achievement of ICT lesson, (3) The effectiveness of Peer Tutor Model to improv motivation and learning achievement of ICT lesson at the second semester of 2016/2017. This study is a Classroom Action Research which the aim was to improve the learning process quality. This study used Peer Tutor model, that there were for stages in every step. The four stage were planning, implementation, observation, and reflection. The data were collected throught observation, writting tests, interviews, questionnaires, and documentation. The results of the study showed the student motivation had achieved the criteria that had been determined by the researcher. Based on the questionnaires that student motivation acpect at the end of 2nd cycle, increased comparing to 1st cycle. There were 70,6% students got “Very High” criterion. Meanwhile, for the student achievement aspect the scorem average was 86 at the end of 2ndCycle and there were 94,1% students reached the Minimum Completeness Criteria. Conclusion of this research was the ICT learning process by implementing Peer Tutor Model had been proved be able to improve learning motivation, learning achievement in class VIII E SMP Negeri 9 Yogyakarta.
Pengembangan instrumen pengukuran nilai kedisiplinan siswa Amurwani Rahayu; Samsi Haryanto
Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1985.444 KB) | DOI: 10.30738/wd.v5i2.3373

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui bagaimana guru mengevaluasi dan mengukur disiplin siswa di SMA Negeri 2 Bantul, 2) untuk mengembangkan pengukuran disipliner siswa, beserta (a) indikator yang tepat digunakan untuk mengukur disiplin siswa. , (b) item kuesioner yang valid dan dapat dipercaya, dan (c) instrumen standar untuk mengukur disiplin siswa di SMA Negeri 2 Bantul, dan (3) mendeskripsikan nilai disiplin siswa dengan menerapkan instrumen standar untuk pengukuran nilai disiplin. Rancangan penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan. Instrumen penelitian terdiri dari 6 indikator berupa cetak biru kuesioner. Tahap kedua adalah mengukur validitas dan reliabilitas item yang melibatkan 175 siswa. Tahap ketiga adalah mengukur validitas konstruk dan analisis faktor, bersama dengan nilai KMO 0,659> 0,5, sig 0,000 <0,5, dan 2 faktor esensial terbentuk. Kemudian instrumen akhir standar dibentuk untuk mengukur nilai disiplin siswa. Hasilnya: 1) guru tidak menggunakan instrumen untuk menilai disiplin siswa, dan instrumen penelitian ini digunakan oleh guru untuk mengukur nilai disiplin siswa, 2) instrumen untuk mengukur nilai disipliner siswa telah dikembangkan, bersama dengan (a) 6 indikator tingkat disiplin ilmu yang sesuai, yaitu kepatuhan, ketaatan, loyalitas, keteraturan, keteraturan dan ketepatan, (b) di antara 60 item kuesioner, 29 di antaranya valid dan dapat diandalkan, (c) setelah menerapkan uji validitas konstruk Dengan menggunakan analisis faktor, 27 dari 29 item instrumen untuk mengukur nilai disiplin siswa berlaku, dan 3) setelah menerapkan pengukuran nilai disipliner, nilai disipliner siswa di SMA Negeri 2 Bantul sangat tinggi. AbstractThe objectives of this research are 1) to find out how teachers evaluate and measure the students’ discipline at SMA Negeri 2 Bantul, 2) to develop the students’ disciplinary measurement, along with (a) its appropriate indicators used to measure students’ discipline, (b) valid and reliable questionnaire items, and (c) standardized instruments to measure the students’ discipline at SMA Negeri 2 Bantul, and (3) to describe students’ disciplinary grades by implementing a standardized instrument for disciplinary grades measurement. The design of this research is a research and development. The research instruments consist of 6 indicators in the form of a questionnaire blueprint. The second phase is measures validity and reliability items involving 175 students. The third phase is measures the construct validity and the factor analysis, along with KMO value of 0.659> 0.5, sig 0.000 < 0.5, and 2 essential factors are formed. Then a standardized final instrument is formed to measure students’ disciplinary grades. The results: 1) teachers have not use the instrument to grading students’ discipline, and this research instrument is used by the teachers to measure students’ disciplinary grades, 2) the instrument for measuring the students’ disciplinary grades has been developed, along with (a) 6 indicators of an appropriate disciplinary grade, namely compliance, obedience, loyalty, regularity, order and precision, (b) among the 60 questionnaire items, 29 of them were valid and reliable, (c) after implementing a construct validity test using a factor analysis, 27 of 29 instrument items to measure students’ disciplinary grades were valid, and 3) after implementing a disciplinary grades measurement, the students’ disciplinary grades at SMA Negeri 2 Bantul were extremely high.
Evaluasi keberhasilan pelaksanaan program kelas inklusi bakat istimewa (BI) seni tari Hastari Murti; Samsi Haryanto
Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2157.005 KB) | DOI: 10.30738/wd.v5i2.3375

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keberhasilan pelaksanaan program inklusi. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi dengan menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product) dari Stufflebeam dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif dengan beberapa tahapan meliputi pengumpulan data, reduksi data, tampilan data, dan gambar kesimpulan. Validasi data dilakukan dengan triangulasi sumber. Kesimpulan masing-masing dimensi dapat dinyatakan sebagai berikut: (1) Evaluasi konteks menunjukkan bahwa program didasarkan pada kebijakan yang kuat dengan formulasi tujuan yang jelas yang sesuai dengan kebutuhan siswa. (2) Evaluasi masukan menunjukkan bahwa perekrutan peserta dilakukan oleh instruktur tari, yang memiliki kualifikasi gelar dalam bidang seni atau pendidikan seni, dengan kompetensi pedagogis, profesional, sosial, dan pribadi. Namun, program tersebut masih kekurangan infrastruktur infrastruktur dan tidak ada kebutuhan keuangan rutin yang dianggarkan dari pemerintah, sehingga program ini tidak maksimal dilaksanakan. (3) Evaluasi terhadap proses menunjukkan bahwa program ini telah digunakan sebagai kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa, dengan koordinator sebagai manajer dan pelaksana juga. Staf sekolah tentang kurikulum juga membantu dalam pelaksanaan program. Proses pembelajaran dilakukan mengikuti rancangan yang direncanakan pada materi, metode dan media pembelajaran. (4) Evaluasi produk menunjukkan prestasi akademik peserta yang baik, yang semuanya kelas IX, lulus ujian nasional dan melanjutkan studi ke sekolah umum atau sekolah menengah kejuruan. Prestasi di bidang non akademik sangat baik dari prestasi seni tari di tingkat kabupaten, provinsi dan nasional.AbstractThis study aimed at evaluating the success of the implementation of the program of inclusion. This study was an evaluation research using the CIPP (Context, Input, Process, Product) model from Stufflebeam with qualitative approach. Data were collected by means of in-depth interview, observation, and documentation. The data were analyzed using qualitative descriptive technique with some stages including data collection, data reduction, display data, and conclusion drawing. Data validation was carried out by triangulation of the sources. The conclusion on each dimension can be stated as follows: (1)  Evaluation on context shows the program is based on a strong policy with a clear goal formulation that is relevant to students’ needs. (2) Evaluation on input shows that recruitment for participants was carried out by the dance instructors, who have the qualification of the degree in arts or art education, with pedagogical, professional, social, and personal competencies. However, the program still lacks infrastructure infrastructure and no routine financial need budgeted from the government, causing this program not maximally implemented. (3) Evaluation on process shows that this program has been used as a curriculum suitable to the students’ needs, with a coordinator as manager and executor as well. The school staff on curriculum also helped in the implementation program. The learning process was performed following the planned design on the materials, methods and learning media. (4) Evaluation on product shows a good academic achievement of the participants, all of whom were in grade IX, passed the national exam and continued their study to general or vocational high schools. The achievement in the non-academic field is very good from their achievements in dance art in district, provincial and national levels.
Pengembangan instrumen pengukuran kreativitas menulis cerita fantasi siswa kelas 7 SMP Negeri 2 Kalasan Yuliana Dwi Astuti; Samsi Haryanto
Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2043.146 KB) | DOI: 10.30738/wd.v5i2.3385

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengevaluasi kreativitas menulis cerita fantasi siswa SMP Negeri 2 Kalasan, (2) mengembangkan instrumen pengukuran kreativitas menulis cerita fantasi siswa SMP Negeri 2 Kalasan, dan (3) mengetahui hasil pengukuran tingkat kreativitas menulis cerita fantasi siswa SMP Negeri 2 Kalasan. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 2 Kalasan, Sleman, Yogyakarta, tahun pelajaran 2016/2017. Jenis penelitian ini adalah Research and Development (R&D). Sebagai langkah awal, draft model instrumen disusun berdasarkan teori dan data empirik lapangan dengan 6 indikator yang divalidasi oleh expert judment. Uji coba terbatas dilakukan pada 16 siswa kelas 7A menggunakan angket dengan jumlah 48 butir pernyataan. Setelah direvisi kemudian diujicoba agak luas kepada 32 siswa kelas 7B. Analisis validitas butir menggunakan rumus product moment diperoleh sebanyak 40 butir valid. Koefisien reliabilitas instrumen valensi sebesar 0,848, koefisien reliabilitas instrumen faktual sebesar 0,887 sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua instrumen dinyatakan reliabel. Selanjutnya dilakukan uji coba empirik lebih luas kepada 158 siswa. Hasil uji coba empirik ini berupa validitas konstruk. Validitas konstruk dilakukan dengan analisis faktor. Uji validitas konstruk menghasilkan instrumen valensi yang valid 17 butir dengan nilai KMO 0,759, dan nilai reliabilitas 0,795, butir instrumen faktual yang valid 19 butir, dengan nilai KMO 0,785, dan nilai reliabilitas 0,813, nilai reliabilitas total 0,874.dan membentuk 6 faktor dan diberi nama baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas menulis cerita fantasi siswa kelas 7 SMP Negeri 2 Kalasan, diperoleh skor rerata sebesar 112,28. Nilai rata-rata kreativitas menulis cerita fantasi siswa putri lebih tinggi yaitu mencapai 115,46, dibandingkan siswa laki-laki yang mencapai nilai 112,88.This study aims to: (1) evaluate the creativity of writing fantasy story of SMP Negeri 2 Kalasan, (2) develop the measurement instrument of creativity to write fantasy story of SMP Negeri 2 Kalasan students, and (3) to know the result of the level of creativity to write fantasy story of SMP Negeri 2 Kalasan. The research was conducted at SMP Negeri 2 Kalasan, Sleman, Yogyakarta, academic year 2016/2017. This type of research is Research and Development (R & D). As a first step, the draft instrument model is based on theory and empirical field data with 6 indicators validated by expert judment. A limited trial was conducted on 16 students of grade 7A using a questionnaire with a total of 48 items of statement. After being revised and then tested rather broadly to 32 students of grade 7B. Analysis of the validity of the grains using product moment formula obtained as many as 40 items valid. Valent instrument reliability coefficient of 0.848, the reliability coefficient of factual instrument of 0.887 so it can be concluded that both instruments are declared reliable. Furthermore, empirical test more widely to 158 students. The results of this empirical test in the form of construct validity. The validity of the constructs is done by factor analysis. The validity test of the construct produces a valid valence instrument of 17 items with a KMO value of 0.759, and a reliability value of 0.795, valid factual item 19 grains, with a KMO value of 0.785, and a reliability value of 0.813, a total reliability value of 0.874.dan forming 6 factors and is named new. The results showed that the creativity of writing the fantasy story of seventh grade students of SMP Negeri 2 Kalasan, obtained an average score of 112.28. The average value of creativity writing fantasy story of female students is higher that reach 115,46, compared to male student which reach value 112,88.