Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PELATIHAN HYGIENE DAN SANITASI BAGI PELAKU USAHA KULINER DI DESA WISATA HUTA SIALLAGAN SAMOSIR Rosianna Sianipar; Juliana Juliana; Sandra Maleachi; Nova Bernedeta Sitorus
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i2.16081

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang diselenggarakan dibagi menjadi dua sesi yaitu bagaimana menjaga kebersihan/hygiene bagi pelaku usaha makanan dan minuman serta bagaimana menjaga sanitasi bagi pelaku usaha makanan dan minuman di Desa Wisata Huta Siallagan. Sebagai mitra dalam pelaksanaan kegiata pengabdian masyarakat, saat ini yang diperlukan adalah sosialisasi dan pelatihan tentang hygiene dan sanitasi bagi pelaku usaha makanan dan minuman di Desa Wisata Huta Siallagan. Hal ini diperlukan sebagai peningkatan mutu pelayanan terhadap pengunjung dalam hal kebersihan makanan dan minuman. Berdasarkan analisis situasi dapat teridentifikasi bahwa hal-hal yang dihadapi terkait dengan kebersihan dan sanitasi adalah sebagai berikut: Belum ada standar operasional yang tetap dalam hal kebersihan bagi pelaku usaha makanan dan minuman di Desa Wisata Huta Siallagan. Belum ada standar operasional yang tetap dalam hal sanitasi bagi pelaku usaha makanan dan minuman di Desa Wisata Huta Siallagan. Perlu adanya peningkatan pengetahuan dan kesadaran mengenai hygiene dan sanitasi bagi pelaku usaha makanan dan minuman di Desa Wisata Huta Siallagan. Agar dapat mengukur keberhasilan kegiatan PKM ini,tim PKM  menerapkan metode pre tes dan pos tes yang akan memberikan gambaran yang komprehensif mengenai peningkatan pengetahuan dan pemahaman para peserta terkait hygiene dan sanitasi. Rata-rata persentase peningkatan pemahaman peserta pada pos tes berkisar antara 70% hingga 97%, menunjukkan efektivitas pelatihan dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang kebersihan, sanitasi, dan praktik yang aman dalam lingkungan kerja. Namun, perlu diperhatikan bahwa pada beberapa pertanyaan terdapat penurunan pemahaman peserta setelah pelatihan, seperti pada penggunaan pestisida yang aman. Hal ini menunjukkan pentingnya evaluasi dan pengembangan strategi yang lebih efektif dalam menyampaikan materi tersebut.
IDENTIFIKASI FAKTOR MINAT KUNJUNGAN WISATAWAN DI DESA BUDAYA BAWOMATALUO Nova Bernedeta Sitorus; Muhammad Khadry; Aisyah Syakirah; Bryant Ekklesia Sembiring; Ikma Laras Wati; M Adlin Nasution; Nabila Balqis; Novayanti Siregar
Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah Vol 20, No 2 (2026): Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47256/kji.v20i2.1165

Abstract

AbstractThis study aims to identify the factors that form tourist’s interest in visiting cultural tourism in Bawomataluo Village, South Nias Regency. The factors analyzed include tourist attractions, accessibility, tourism facilities, tourism information and tourism costs. This study employed a quantitative approach with data collected through questionnaires distributed to 83 tourists who had visited or were visiting Bawomataluo Village, selected using simple random sampling. The data were analyzed using factor analysis to identify the dominant factors that constitute tourist’s visiting interest. The results indicated that all five variables, tourist attractions, accessibility, tourism facilities, tourism information and tourism costs, were identified as factors that form tourist’s interest in visiting cultural tourism in Bawomataluo Village. Based on factor loadings in the component matrix, tourism facilities and accessibility emerged as the most dominant factors, followed by tourism costs, tourism information and tourist attractions. This study is expected to provide input for destination managers and stakeholders in formulating more effective cultural tourism development strategies.Keywords: Cultural Tourism; Tourist Interest; Accessibility; Tourism Facilities; Factor AnalysisAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membentuk minat wisatawan dalam mengunjungi wisata budaya di Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan. Faktor-faktor yang dianalisis meliputi daya tarik wisata, aksesibilitas, fasilitas pariwisata, informasi wisata, serta tarif atau biaya wisata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner kepada 83 responden yang merupakan wisatawan yang sedang atau pernah berkunjung ke Desa Bawomataluo, dan dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dianalisis menggunakan analisis faktor untuk mengidentifikasi faktor dominan yang membentuk minat wisatawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima variabel yang diteliti, daya tarik wisata, aksesibilitas, fasilitas pariwisata, informasi wisata, dan tarif atau biaya wisata, teridentifikasi sebagai faktor yang membentuk minat wisatawan dalam mengunjungi wisata budaya di Desa Bawomataluo. Berdasarkan nilai loading faktor pada component matrix, fasilitas pariwisata dan aksesibilitas merupakan faktor yang paling dominan, diikuti tarif atau biaya wisata, informasi wisata, dan daya tarik wisata. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengelola destinasi dan pemangku kepentingan dalam merumuskan strategi pengembangan wisata budaya yang lebih efektif.Kata kunci: Wisata Budaya; Minat Wisatawan; Aksesibilitas; Fasilitas Pariwisata; Analisis Faktor
Analisis Value Chain dalam Mengakomodasi Preferensi Wisatawan Gen-Z di Desa Wisata Budaya Dokan Nova Bernedeta Sitorus; Shofia Hamida Hasibuan; Miladdia Putri; Nurhafizhah Khairi; Febryola Indra
TOBA: Journal of Tourism, Hospitality, and Destination Vol. 5 No. 2 (2026): May 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/toba.v5i2.8160

Abstract

This study aims to analyze the tourism value chain in accommodating Generation Z tourist preferences in Desa Wisata Budaya Dokan. The research employed a mixed-method approach combining qualitative and quantitative methods through Conjoint Analysis. Data were collected using questionnaires, in-depth interviews, observation, and documentation involving 100 Gen-Z tourists selected through purposive sampling. The findings reveal that cultural aspects are the primary motivation for tourists, reflected by the highest utility value, while public facilities received negative utility scores, indicating weaknesses in basic tourism services. Facilities emerged as the most important attribute influencing travel decisions among Gen-Z tourists. Furthermore, the value chain analysis indicates that tourism management in Dokan Village remains fragmented and insufficiently integrated, particularly in terms of facilities, digital marketing, institutional support, and local economic value creation. Therefore, strengthening the tourism value chain through authentic cultural experiences, improved facilities, and digital promotion strategies aligned with Gen-Z characteristics is essential to enhance destination competitiveness and sustainability.
Membangun Desa Wisata Berbasis Kapasitas SDM: Studi Pengaruh Kualitas Manusia dalam Pengembangan Desa Tipang, Humbang Hasundutan Nova Bernedeta Sitorus; Cindy Kahirunisa Marpaung; Jul Indah Sulistriani Laia; Loly Surya Sirait; Putriani Br Sinamo
TOBA: Journal of Tourism, Hospitality, and Destination Vol. 4 No. 3 (2025): Agustus 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/toba.v4i3.6078

Abstract

This study investigates the impact of human resource capacity on the development of Tipang Tourism Village in Humbang Hasundutan Regency, Indonesia. Despite its outstanding natural and cultural potential—recognized nationally as a leading tourism village—Tipang still faces challenges in achieving sustainable development, particularly due to limited skills, knowledge, and community awareness. Strengthening human resource capacity is therefore essential to fostering professional, creative, and sustainable tourism management. Adopting a quantitative approach, the study gathered data through questionnaires, interviews, direct observations, and literature review. The sample comprised local residents and tourists selected representatively. Data analysis used descriptive statistics and simple regression via SPSS. Results show a significant influence of human resource capacity on tourism development, supported by an F-value of 11.636 (greater than the F-table value of 3.18) and a t-value of 3.411 (greater than the t-table value of 1.677). The R² value of 19.5% suggests a moderate contribution, highlighting the importance of community competence in advancing sustainable tourism. The study recommends enhanced tourism-related training and education for local communities and encourages further research incorporating additional variables for broader insights.
PENGUATAN KOMPETENSI MASYARAKAT DESA WISATA BAWOMATALUO DALAM PENGELOLAAN PELAYANAN WISATA BERBASIS HOSPITALITY DAN SAPTA PESONA Nova Bernedeta Sitorus; Muhammad Khadry; Nabila Balqis; Ikma Laras Wati; Aisyah Syakirah
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2026): Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i3.59893

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi masyarakat dalam pengelolaan pelayanan wisata berbasis hospitality dan Sapta Pesona di Desa Wisata Bawomataluo. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 22 April 2026 di Balai Desa Bawomataluo dengan melibatkan 30 peserta yang terdiri atas pelaku UMKM lokal, pengrajin, pemandu wisata, serta masyarakat sekitar kawasan wisata lompat batu. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui sosialisasi materi hospitality dan Sapta Pesona, diskusi, tanya jawab, praktik langsung, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Materi hospitality difokuskan pada peningkatan sikap ramah, sopan, dan pelayanan wisata yang profesional, sedangkan materi Sapta Pesona menekankan penerapan unsur aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan dalam pengelolaan desa wisata. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta yang signifikan. Rata-rata pemahaman peserta meningkat dari 37,6% pada saat pre-test menjadi 90,5% pada saat post-test dengan peningkatan sebesar 52,9%. Selain itu, peserta menunjukkan respon positif melalui keterlibatan aktif dalam diskusi dan praktik pelayanan wisata. Kegiatan ini diharapkan mampu mendukung pengembangan pelayanan wisata yang berkualitas dan berkelanjutan di Desa Wisata Bawomataluo.
Beyond Translation Designing Culturally Grounded English Interpretation for Sustainable Tourism Entrepreneurship in Lake Toba Sandra Maleachi; Nova Bernedeta Sitorus; Juliana Juliana
ARRUS Journal of Social Sciences and Humanities Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : PT ARRUS Intelektual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35877/soshum5300

Abstract

This study examines culturally grounded English interpretation as a strategic capability for sustainable tourism entrepreneurship in Lake Toba, Indonesia. Rather than viewing English merely as a translation or service-communication tool, the study conceptualises interpretation as a place-based entrepreneurial capability through which Batak cultural knowledge can be communicated to international tourists, transformed into innovative tourism experiences, and connected to locally retained value. An interpretive qualitative case-study design was employed. Participants were purposively selected from cultural custodians, traditional leaders, tourism entrepreneurs, tour guides, destination managers, community representatives, and tourists with direct experience of cultural tourism in the Lake Toba region. Data were collected through semi-structured interviews, focus group discussions, non-participant observation, and analysis of English-language tourism materials and digital content. Reflexive thematic analysis combined inductive and deductive coding. The findings show that literal translation may communicate visible elements of Batak heritage while failing to convey their historical, social, symbolic, spiritual, and relational meanings. Effective interpretation therefore requires community-based cultural co-creation to ensure authenticity, protect culturally sensitive knowledge, maintain local differentiation, and preserve community control over representation. The study identifies culturally grounded English capability as integrating cultural knowledge, communicative English, storytelling, intercultural sensitivity, digital competence, ethical judgement, and product-development awareness. These capabilities support opportunity recognition and innovation in guided experiences, workshops, homestays, geo-cultural trails, audio guides, and digital heritage content. The study proposes a process-oriented model linking community co-creation, interpretation, opportunity recognition, product innovation, local value creation, and sustainable tourism entrepreneurship.