Lelyana, Shelly
Departemen Ilmu Penyakit Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

KADAR HAMBAT MINIMUM DAN KADAR BUNUH MINIMUM EKSTRAK ETANOL DAUN OREGANO TERHADAP PERTUMBUHAN CANDIDA ALBICANS Bernadete Marcelianta Cantika Br. Tarigan; Shelly Lelyana; Vinna Kurniawati Sugiaman
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v17i2.1595

Abstract

Latar belakang: Candida albicans merupakan salah satu flora normal oral yang dapat menyebabkan infeksi pada rongga mulut manusia yang disebut sebagai kandidiasis. Manajemen primer yang sering digunakan dalam mengatasi kandidiasis pada rongga mulut salah satunya adalah nystatin, namun pemberian nystatin hanya terbatas pada pengobatan topikal infeksi kandidiasis kulit dan mukosa karena memiliki spektrum yang sempit dan penyerapan yang buruk pada saluran pencernaan serta memiliki efek samping pada dosis yang tinggi seperti mual ringan, diare, dan muntah. Masyarakat sering menggunakan daun oregano (Origanum vulgare L.) sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti gangguan bronkial, gangguan pencernaan, gatal pada kulit dan flu.Sejumlah penelitian (secara in vitro dan in vivo) juga menunjukkan bahwa daun oregano (Origanum vulgare L.) mengandung beragam senyawa fitokimia seperti fenolik glikosida, flavonoid, tanin, sterol dan terpenoid dalam jumlah tinggi. Tujuan: Mengetahui kadar hambat minimum (KHM) dan kadar bunuh minimum (KBM) ekstrak etanol daun oregano (Origanum vulgare L.) terhadap pertumbuhan Candida albicans secara in vitro. Metode Penelitian: Penelitian ini bersifat eksperimental murni laboratorium secara in vitro dengan cara membandingkan kelompok sampel yang mengandung ekstrak etanol daun oregano dengan konsentrasi 50 mg/ml; 25 mg/ml; 12,5 mg/ml; 6,25 mg/ml; 3,125 mg/ml; 1,562 mg/ml; 0,781 mg/ml; serta kontrol negatif berupa DMSO (Dimethyl Sulfoxide) 10% dan kontrol positif berupa nystatin. Metode yang digunakan yaitu metode broth microdilution pada 96 well plate yang diamati dengan spektofotometri dan uji kadar bunuh minimum (KBM) dengan metode spread pada agar yang dihitung menggunakan colony counter. Hasil Penelitian: Ekstrak etanol daun oregano (Origanum vulgare L.) memiliki kadar hambat minimum (KHM) pada konsentrasi 0,781 mg/ml dan kadar bunuh minimum (KBM) pada konsentrasi 50 mg/ml. Kesimpulan: Ekstrak etanol daun oregano (Origanum vulgare L.) memiliki aktivitas antijamur terhadap pertumbuhan Candida albicans.
Terapi non-bedah pada lesi nodular akibat iritasi kronis di rongga mulut Shelly Lelyana
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 3, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.60121

Abstract

Pertumbuhan jaringan yang berlebihan dapat terjadi di rongga mulut sebagai respon terhadap iritasi kronis. Penyebab lesi ini dapat dikaitkan dengan iritasi lokal seperti plak, kalkulus, tepi tambalan yang berlebih, trauma oklusi, dan alat-alat dental. Iritasi kronis dapat menyebabkan inflamasi jaringan. Fibrous hyperplasia (traumatic fibroma atau fibroma iritasi) merupakan hasil akhir dari hiperplasia akibat inflamasi. Pengobatan konvensional kondisi fibroma iritasi adalah eksisi bedah yang seringkali membuat pasien takut. Makalah ini akan membahas dua kasus lesi nodular akibat iritasi kronis yang diberi terapi non-bedah. Diagnosa klinis dari kedua kasus ini adalah fibroma iritasi. Penggunaan anti-inflamasi topikal dan menghilangkan sumber iritasi ternyata dapat mengurangi ukuran lesi. Kesimpulan studi kasus ini adalah lesinodular akibat iritasi kronis dapat diatasi dengan terapi non-bedah.
Kadar hambat minimum dan kadar bunuh minimum ekstrak etanol lengkuas merah (Alpinia galanga L.) terhadap pertumbuhan Candida albicansThe minimum inhibitory concentration and a minimum lethal dose of red galangal (Alpinia galanga L.) ethanolic extract on the growth of Candida albicans Harunai Kamoda; Shelly Lelyana; Vinna Kurniawati Sugiaman
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 32, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v32i1.25422

Abstract

Pendahuluan: Kandidiasis rongga mulut merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur patogen Candida albicans, dengan prevalensi cukup tinggi yaitu 20% - 75%. Obat antijamur yang umum digunakan untuk pengobatan kandidiasis rongga mulut adalah nistatin, akan tetapi nistatin memiliki efek samping dan harganya relatif mahal. Sebagai alternatif lain digunakan tanaman obat seperti lengkuas merah (Alpinia galanga L) yang diduga memiliki aktivitas antijamur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar hambat minimum (KHM) dan kadar bunuh minimum (KBM) ekstrak etanol lengkuas merah terhadap pertumbuhan Candida albicans. Metode: Jenis penelitian eksperimental murni dengan membandingkan kelompok uji yang mengandung ekstrak etanol lengkuas merah (alpinia galanga L) dengan konsentrasi 200mg/ml; 100mg/ml; 50mg/ml; 25mg/ml; 12,5mg/ml; 6,25mg/ml; kontrol positif berupa nistatin, dan kontrol negatif berupa DMSO 10% terhadap pertumbuhan Candida albicans dengan mengamati kekeruhan larutan pada 96 well plate menggunakan spectrophotometer  dan KBM ditentukan menggunakan colony counter dengan pengulangan sebanyak 4 kali. Analisis data menggunakan uji parametrik ANOVA dan uji Post Hoc Tuckey. Hasil: Hasil uji ANOVA nilai p 0,00 yang artinya bahwa kedua data memiliki nilai yang signifikan antar perlakuan, dan uji Post Hoc Tuckey memperlihatkan terdapat perbedaan yang signifikan pada setiap kelompok uji terhadap jumlah Candida. Simpulan: Kadar Hambat Minimum (KHM) ekstrak etanol lengkuas merah (Alpinia galanga L) terhadap pertumbuhan Candida albicancs adalah 200mg/ml namun hanya menghambat 60%, sedangkan ekstrak etanol lengkuas merah (Alpinia galanga L) tidak dapat membunuh Candida albicans.Kata kunci: Candida albicans, lengkuas merah, Alpinia galanga L. ABSTRACTIntroduction: Candida albicans is a pathogenic fungus that can cause oral candidiasis, reaches 20% - 70% prevalence in human. Antifungal drugs often used for oral candidiasis treatment is nystatin, but nystatin has many harmful side effects, and its price is relatively high. Therefore, herbal remedies such as red galangal (Alpinia galanga L.), which presumed to have antifungal activity, can be used as an alternative treatment. The purpose of this research was to determine the minimum inhibitory concentration and a minimum lethal dose of red galangal ethanolic extract on the growth of Candida albicans. Methods: This research was an experimental laboratory, conducted by comparing the test group containing ethanolic extracts of red galangal (Alpinia galanga L.) with the concentrations of 200mg/ml; 100mg/ml; 50mg/ml; 25mg/ml; 12.5mg/ml; and 6.25mg/ml; positive control group was treated with nystatin; and negative control with 10% DMSO. The solutions on 96 well plates were observed with a spectrophotometer, and the minimum killing concentration (MKC) was determined using a colony counter, and the experiment was replicated four times. The result was then analysed with ANOVA parametric test and the Post-Hoc Tuckey test afterwards. Results: The result of the ANOVA test showed that the p-value was < 0.05, which means that all treatments have a significant value, while the Post-Hoc Tuckey test indicated that there were significant differences in each group regarding the number of Candida albicans. Conclusion: Minimum Inhibitory Level (MIC) of red galangal (Alpinia galanga L) ethanolic extract against Candida albicans growth is 200mg/ml but only inhibits 60% of the growth. In contrast, the extract is unable to mortally affects the Candida albicans.Keywords: Candida albicans, red galangal, Alpinia galanga L.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG MEROKOK SEBAGAI FAKTOR RISIKO KANKER RONGGA MULUT DI KELURAHAN BINTAUNA KECAMATAN BINTAUNA KABUPATEN BOLMONG UTARA PROVINSI SULAWESI UTARA Billy Kolintama; Shelly Lelyana; Silvi Kintawati
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v18i1.1619

Abstract

Latar belakang: kanker rongga mulut merupakan keganasan pada rongga mulut dan penyebab kematian paling umum pada laki-laki maupun perempuan dewasa. Merokok merupakan salah satu faktor risiko kanker rongga mulut terbesar. Risiko terkena kanker rongga mulut tiga kali lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan yang bukan perokok. Pengetahuan berpengaruh terhadap sikap seseorang tentang merokok. Pengetahuan yang kurang akan bahaya rokok cenderung menyebabkan seseorang merokok dan memberikan dampak untuk tetap merokok, karena merokok dianggap tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan. Tujuan: untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat tentang merokok sebagai faktor risiko kanker rongga mulut. Metode : cross sectional deskriptif observasional dan pengumpulan data melalui cara survey dengan memberikan kuesioner kepada subjek. Penelitian dilakukan pada penduduk Kelurahan Bintauna Kecamatan Bintauna Kabupaten Bolmong Utara Provinsi Sulawesi Utara. Total responden adalah 187 orang yang terdiri dari 101 responden laki-laki dan 86 responden perempuan dengan rentang usia 20-60 tahun. Perolehan data menggunakan kuesioner yang dilakukan dengan wawancara. Hasil : 62% responden memiliki pengetahuan yang baik mengenai merokok sebagai faktor risiko kanker rongga mulut. Kesimpulan: tingkat pengetahuan masyarakat tentang merokok sebagai faktor risiko kanker rongga mulut di Kelurahan Bintauna, secara keseluruhan sudah baik, sedangkan jika dilihat dari perokok dan bukan perokoknya terlihat bahwa responden yang bukan perokok cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan responden perokok.
Efek Ekstrak Daun Oregano (Origanum vulgare) terhadap Plat Resin Akrilik Heat-Cured yang Dikontaminasi Candida albicans dan Streptococcus mutans Silvia Naliani; Shelly Lelyana; Henry Y. Mandalas; Jason F. Laurence; Vinna K. Sugiaman; Jane A. V. Wibisono; Dian Lesmana
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44461

Abstract

Abstract: Long-term use of dentures with poor cleaning can cause denture stomatitis mainly due to Candida albicans and Streptococcus mutans. Oregano leaf (Origanum vulgare) which contains a variety of active components is believed to be an alternative of denture cleansers. This study aimed to determine the effect of oregano leaf extract on heat-cured acrylic resin plates contaminated with C. albicans and S. mutans. There were 27 heat-cured acrylic plates contaminated and soaked for 10 minutes in nine treatment groups, as follows: oregano leaf extract of 50 mg/ml, 25 mg/ml, 12.5 mg/ml, 6.25 mg/ml, 3,125 mg /ml, 1,562 mg/ml, and 0,781 mg/ml, distilled water as the negative control, Polident denture cleanser fresh (positive control for C. albicans) and chlorhexidine gluconate 0,2% (positive control for S. mutans). The colony number of C. albicans and the inhibition zones of S. mutans were counted. The results showed that the lowest number of C. albicans colony and the largest inhibition zone for S. mutans were at the concentration of 50 mg/ml oregano leaf extract. In conclusion, there was an effect of oregano leaf extract on acrylic resin plates contaminated with Candida albicans and Streptococcus mutans. Keywords: acrylic resin; denture stomatitis; Origanum vulgare; Candida albicans; Streptococcus mutans   Abstrak: Penggunaan gigi tiruan secara terus menerus dalam jangka panjang dengan pembersihan yang buruk dapat menyebabkan denture stomatitis terutama oleh Candida albicans dan Strepto-coccus mutans. Daun oregano (Origanum vulgare) yang mengandung beragam komponen aktif diyakini dapat menjadi alternatif pembersih gigi tiruan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun oregano terhadap plat resin akrilik heat-cured yang dikontaminasi jamur C. albicans dan S. mutans. Terdapat 27 plat akrilik heat-cured yang dikontaminasi dan dilakukan perendaman selama 10 menit dalam sembilan kelompok perlakuan yaitu, konsentrasi ekstrak daun oregano 50 mg/ml, 25 mg/ml, 12,5 mg/ml, 6,25 mg/ml, 3,125 mg/ml, 1,562 mg/ml, 0,781 mg/ml, akuades (kontrol negatif), Polident Denture Cleanser Fresh (kontrol positif C. albicans), dan chlorhexidine gluconate 0,2% (kon-trol positif S. mutans). Jumlah koloni C. albicans dan zona hambat S. mutans dihitung. Hasil penelitian menunjukkan jumlah koloni C. albicans terkecil dan zona hambat S. mutans terbesar pada konsentrasi ekstrak daun oregano 50 mg/ml. Simpulan penelitian ini ialah terdapat pengaruh ekstrak daun oregano terhadap plat resin akrilik yang dikontaminasi Candida albicans dan Streptococcus mutans. Kata kunci: resin akrilik; denture stomatitis; Origanum vulgare; Candida albicans; Streptococcus mutans
Polypharmacy and oral health-related quality of life in older adults: a systematic review Lelyana, Shelly; Agustina, Dewi; Hendrartini, Julita; Pramono, Dibyo
Padjadjaran Journal of Dentistry Vol 37, No 1 (2025): March 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjd.vol37no1.58618

Abstract

Introduction:: Patient-centered care requires medical personnel to address not only physical illnesses but also the psychosocial well-being of patients. older adultsOlder adults often have medically complex conditions, including one or more chronic diseases, requiring the use of multiple medications (polypharmacy). Polypharmacy is a common problem among older adults, with a reported prevalence of 30% to 80%. Many prescribed medications can lead to xerostomia and hyposalivation, which negatively impact the quality of life , including Oral Health-Related Quality of Life (OHRQoL). This systematic review aims to determine the impact of polypharmacy on OHRQoL in older adults and explore strategies to optimize OHRQoL in this population. Method: The dataset of articles concerning polypharmacy and OHRQoL in older adults was compiled from Google Scholar, PubMed, Semantic, and OpenAlex. The search encompassed publication from 2019 to 2024. Five articles were selected for in-depth analyses, and variations in methodologies used by the researchers in these selected studies were identified and considered. Results: Patients with polypharmacy hyposalivation exhibited significantly higher scores of the Summated Xerostomia Inventory questionnaire (SXI-PL) (8.60 ± 2.56) and the Oral Health Impact Profile-14 (OHIP-14sp) (16.0 ± 15.8). A statistically significant association was found between hyposalivation and both SXI-PL and OHIP-14sp scores (p < 0.05). Elderly individuals on continuous medication demonstrated increased odds of self-reported xerostomia (OR: 2.3; 95% CI: 1.19-4.67; P = 0.009). Conclusion: This study demonstrates an association between polypharmacy and decreased oral health-related quality of life (OHRQoL) in older adults.
Oral health management in hypertensive patients addressing coated tongue caused by antihypertensive medication use: a case report Tanumiharja, Marvin Jaya Setiadi; Tanumiharja, Leonardo Jaya Setiadi; Lelyana, Shelly; Kamil, Seno Muhammad
Padjadjaran Journal of Dentistry Vol 37, No 1 (2025): April 2025 (Supplements 1)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjd.vol37no1.59318

Abstract

Introduction: Hypertension is a chronic condition characterized by elevated blood pressure, often accompanied by symptoms such as headaches, epistaxis, and palpitations. Coated tongue is a clinical condition in which the tongue's surface develops a pseudomembrane due to accumulated debris, non-desquamated keratin cells, and microorganisms, such as bacteria and fungi.  This study aims to explore the potential relationship between hypertension and coated tongue, emphasizing the importance of oral hygiene in hypertensive patients. By examining a clinical case, the research highlights the role of tongue cleaning in managing coated tongue and improving oral health. Additionally, it underscores the need for patient education and adherence to proper oral hygiene practices to achieve better treatment outcomes.Case Report: A 49-year-old female patient presented to Sartika Asih Bhayangkara Hospital with complaints of persistent bad breath for one month. She reported white spots on her tongue causing discomfort but no pain. The patient reported brushing her teeth one to two times daily but had never cleaned her tongue. She had a history of hypertension and was one amlodipine therapy.Conclusion: Coated tongue in hypertensive patients can be managed through regular tongue cleaning after brushing. Effective communication, education, and patient cooperation are crucial for optimal treatment outcomes.
Public knowledge about smoking as a triggering factor for oral cavity cancer Taufan, Arief Siddik; Lelyana, Shelly; Yuliadewi, Dicha; Tanumiharja, Leonardo Jaya Setiadi
Science Midwifery Vol 13 No 6 (2026): February: Health Sciences and related fields
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/midwifery.v13i6.2221

Abstract

Smoking habits in Indonesia are still very high. Approximately 80-90% of oral cancers are caused by smoking, cigars, pipes, and chewing gum. Ignorance of the negative impacts of smoking is considered to be the root of this contradictory situation. The purpose of this study was to determine how the knowledge of rural communities about smoking as a cause of oral cancer has changed. This study aimed to determine how the knowledge of rural communities about smoking as a triggering factor for oral cancer. This study was descriptive and observational with a cross-sectional design. Respondents totaling 171 residents of Margaluyu Village, Pangalengan District, Bandung Regency were selected based on inclusion and exclusion criteria. Data were collected using questionnaires completed during the study and processed using SPSS. The study showed that the majority of residents had low knowledge about smoking as a triggering factor for oral cancer. This can be seen from 92.4% of respondents having a score below 55%, 6.4% of respondents having a sufficient score of 56% - 74%, and 1.2% of respondents having a score above 75%. This study concludes that in Margaluyu Village, Pangalengan District, Bandung Regency, public knowledge about cigarettes as a cause of oral cancer is generally still low.
Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) Ekstrak Etanol Daun Ketepeng Cina (Cassia alata L.) Terhadap Pertumbuhan Candida albicans Yassie Shailla Gharnita; Shelly Lelyana; Vinna Kurniawati Sugiaman
SONDE (Sound of Dentistry) Vol. 4 No. 1 (2019): SONDE (Sound of Dentistry)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/sod.v4i1.1766

Abstract

Candida albicans merupakan jamur dimorfik oportunistik penyebab utama oral candidiasis. Salah satu obat oral candidiasis yang suing digunakan adalah nistatin namun memiliki banyak efek samping maka dibutuhkan pengobatan alternatif dengan memanfaatkan tanaman herbal seperti daun ketepeng cina (Cassia alata L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar hambat minimum (KHM) dan kadar bunuh minimum (KBM) ekstrak etanol daun ketepeng cina (Cassia alata L.) terhadap pertumbuhan Candida albicans dengan menghitung jumlah yeast. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium dengan membandingkankelompok uji yang mengandung ekstrak daun ketepeng cina (Cassia alata L.) dengan konsentrasi 200 mg/mL; 100 mg/mL; 50 mg/mL; 25 mg/mL; 12,5 mg/mL; 6,25 mg/mL dan 3,125 mg/mL yang ditanam dalam media PDA. Kontrol positif berupa nistanin, dan media PDB sedangkan kontrol negatif berupa media PDB, dan DMSO 10% terhadap Candida albicans yang sebelumnya telah diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam dan dilakukan pengulangan sebanyak empat kali. Berdasarkan basil penelitian diketahui bahwa ekstrak etanol daun ketepeng cina (Cassia alata L.) mampu menghambat pertumbuhan Candida albicans pada konsentrasi 200 mg/mL secara sig (p<0,05) namun tidak dapat membunuh Candida albicans. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun ketepeng cina (Cassia alata L.) dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Dampak Rokok Terhadap Kesehatan Rongga Mulut dengan Tingkat Motivasi Berhenti Merokok pada Mahasiswa Universitas Kristen Maranatha Karina Nuur Aziizah; Ignatius Setiawan; Shelly Lelyana
SONDE (Sound of Dentistry) Vol. 3 No. 1 (2018): SONDE (Sound of Dentistry)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/sod.v3i1.1774

Abstract

Merokok merupakan perilaku yang berdampak buruk baik terhadap kesehatan maupun lingkungan. Perilaku merokok terjadi pada berbagai kalangan sekalipun mahasiswa yang merupakan individu dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Upaya untuk berhenti dari perilaku merokok, seorang perokok harus memiliki motivasi yang kuat, salah satu faktor yang dapat mempengaruhi motivasi seseorang adalah pengetahuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang dampak rokok terhadap kesehatan rongga mulut dengan tingkat motivasi berhenti merokok. Metode penelitian ini dilakukan secara analitik korelasi dengan menggunakan desain cross sectional. Semua data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji statistik chi-square. Hasil uji statistik pada penelitian ini menunjukkan bahwa p-value (0,000) < 0,05, artinya terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan motivasi berhenti merokok. Hal tersebut mengindikasikan semakin tinggi tingkat pengetahuan, maka akan semakin tinggi pula motivasi berhenti merokok. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dampak rokok terhadap rongga mulut dengan tingkat motivasi berhenti merokok pada mahasiswa universitas kristen maranatha.