Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PANDANGAN HIDUP DAN SISTEM PENGETAHUAN LOKAL MASYARAKAT JAWA DI BALIK EKSPRESI GAYA BAHASA DALAM EMPAT KARYA SASTRA KI PADMASUSASTRA Wisnu Wibowo, Prasetyo Adi
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Empat karya sastra Ki Padmasusastra mencerminkan pola pikir, pola pandang masyarakat Jawa terhadap Tuhan dan alam sekitarnya. Penelitian ini berusaha menemukan pola-pikir, pandangan dunia, pandangan hidup dan sistem pengetahuan lokal yang dimiliki Ki Padmasusastra sebagai bagian dari masyarakat Jawa di balik ekspresi bahasa Jawa yang dipergunakannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif..Ekspresi gaya bahasa yang digunakan dalam empat karya Ki Padmasusastra merupakan gambaran perilaku untuk mencapai kesejahteraan hidup yang tercermin dalam perilaku verbal, baik menyangkut pandangan hidup (way of life), pandangan dunia (world view), maupun pola-pikir yang tercermin dalam sistem pengetahuan (cognition system) masyarakatnya.ABSTRACTThe four literary works of Ki Padmasusastra reflect the mindset and Javanese societys point of view of God and the nature.This research tries to find the pattern of thought, world view, view of life and local knowledge system of Ki Padmasusastra as part of Javanese society that reflected by  Javanese expression. This research uses descriptive qualitative method. The expression of the language style used in the four literary works of Ki Padmasusastra is a description of behavior to achieve the welfare of life which is reflected in verbal behavior, whether it concerns with the way of life, the world view, and the pattern of thought that are reflected in the cognition system of the society.
PANDANGAN HIDUP DAN SISTEM PENGETAHUAN LOKAL MASYARAKAT JAWA DI BALIK EKSPRESI GAYA BAHASA DALAM EMPAT KARYA SASTRA KI PADMASUSASTRA Wisnu Wibowo, Prasetyo Adi
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i1.15968

Abstract

Empat karya sastra Ki Padmasusastra mencerminkan pola pikir, pola pandang masyarakat Jawa terhadap Tuhan dan alam sekitarnya. Penelitian ini berusaha menemukan pola-pikir, pandangan dunia, pandangan hidup dan sistem pengetahuan lokal yang dimiliki Ki Padmasusastra sebagai bagian dari masyarakat Jawa di balik ekspresi bahasa Jawa yang dipergunakannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif..Ekspresi gaya bahasa yang digunakan dalam empat karya Ki Padmasusastra merupakan gambaran perilaku untuk mencapai kesejahteraan hidup yang tercermin dalam perilaku verbal, baik menyangkut pandangan hidup (way of life), pandangan dunia (world view), maupun pola-pikir yang tercermin dalam sistem pengetahuan (cognition system) masyarakatnya.ABSTRACTThe four literary works of Ki Padmasusastra reflect the mindset and Javanese society's point of view of God and the nature.This research tries to find the pattern of thought, world view, view of life and local knowledge system of Ki Padmasusastra as part of Javanese society that reflected by  Javanese expression. This research uses descriptive qualitative method. The expression of the language style used in the four literary works of Ki Padmasusastra is a description of behavior to achieve the welfare of life which is reflected in verbal behavior, whether it concerns with the way of life, the world view, and the pattern of thought that are reflected in the cognition system of the society.
Sêrat Bayanolah: Naskah Jawa sebagai Sarana Pelurusan Penyimpangan Akidah Islam Karya Raden Panji Natarata Rahmawati, Mila Indah; Rais, Wakit Abdullah; Wisnu Wibowo, Prasetyo Adi
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 9 No 1 (2021): Sutasoma: Jurnal Sastra Jawa
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v9i1.40855

Abstract

Abstract Javanese literary works are considered as high-quality literary works. This is closely related to the noble values ​​contained in Javanese literary works. The teachings or noble values ​​in this Javanese literary work are usually referred to as piwulang literary works, namely works that originate from religious values ​​or teachings that come from God. One of the Javanese literary works with piwulang nuances is Sêrat Bayanolah. This work tells about the journey of a panatagama at the Yogyakarta Palace in discovering the true essence of life. To understand this concept is not easy because in reality there are many deviant schools of thought and religion which can derail people from the right path. This research was conducted in a descriptive qualitative manner. The data source used was Sêrat Bayanolah by Raden Panji Natarata, which was collected by the Museum of Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran, Surakarta. Based on the research results, it was found that the essence of man as a creature is not the same as the essence of God (God) as the Creator. Besides, interpreting the concept of life and death must be adjusted to Islamic teachings because in reality there are still scholars and knowledgeable people who still misunderstand the concept of life and death. Keywords: Sêrat Bayanolah, Javanese script, deviations, faith
Sêrat Bayanolah: Naskah Jawa sebagai Sarana Pelurusan Penyimpangan Akidah Islam Karya Raden Panji Natarata Rahmawati, Mila Indah; Rais, Wakit Abdullah; Wisnu Wibowo, Prasetyo Adi
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 9 No 1 (2021): Sutasoma: Jurnal Sastra Jawa
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v9i1.40855

Abstract

Abstract Javanese literary works are considered as high-quality literary works. This is closely related to the noble values ​​contained in Javanese literary works. The teachings or noble values ​​in this Javanese literary work are usually referred to as piwulang literary works, namely works that originate from religious values ​​or teachings that come from God. One of the Javanese literary works with piwulang nuances is Sêrat Bayanolah. This work tells about the journey of a panatagama at the Yogyakarta Palace in discovering the true essence of life. To understand this concept is not easy because in reality there are many deviant schools of thought and religion which can derail people from the right path. This research was conducted in a descriptive qualitative manner. The data source used was Sêrat Bayanolah by Raden Panji Natarata, which was collected by the Museum of Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran, Surakarta. Based on the research results, it was found that the essence of man as a creature is not the same as the essence of God (God) as the Creator. Besides, interpreting the concept of life and death must be adjusted to Islamic teachings because in reality there are still scholars and knowledgeable people who still misunderstand the concept of life and death. Keywords: Sêrat Bayanolah, Javanese script, deviations, faith
Kearifan Lokal Jawa Dalam Tradisi Mitoni Di Kota Surakarta (Sebuah Tinjauan Etnolinguistik) Wakit Abdullah; Prasetyo Adi Wisnu Wibowo; Inke Wahyu Hidayati; Siti Nurkayatun
Kawruh : Journal of Language Education, Literature and Local Culture Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/kawruh.v2i2.907

Abstract

Mitoni masih eksis di masyarakat Jawa dan mengandung pesan luhur bagi pendukungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kearifan lokal dalam budaya Jawa mitoni ‘selamatan tujuh bulan wanita hamil’ di Kota Surakarta secara etnolinguistik. Data penelitian meliputi data verbal (istilah, ungkapan, unit lingual yang lain) dan nonverbal (simbol, lambang, sesaji). Sumber data meliputi primer dan skunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam dan observasi berpartisipasi menurut ketentuan metode etnografi. Validitas data dijaga dengan teknik triangulasi (metode, teori, peneliti, data). Teknik analisis data dimulai dengan langkah-langkah yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk teks naratif, meliputi kearifan lokal wanita Jawa di Kota Surakarta, meliputi (1) kearifan religius (religious wisdom), (2) kearifan kultural (cultural wisdom), (3) kearifan ekspresif (expresive wisdom).
TRADISI TURUN-TEMURUN PEMBUATAN BATIK MASYARAKAT KAMPOENG BATIK LAWEYAN SURAKARTA (SEBUAH TINJAUAN BUDAYA) Prasetyo Adi Wisnu Wibowo
Kawruh : Journal of Language Education, Literature and Local Culture Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/kawruh.v1i1.238

Abstract

Batik, yang sejak ratusan tahun silam dikenal sebagai jarit 'kain panjang' untuk kaum bangsawan Indonesia (Jawa), kini telah meluas dalam produksi maupun arti fungsi pemakaiannya. Dalam tulisan ini akan dipaparkan bagaimana proses pembuatan batik di kampung Laweyan. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah prosesi membatik di kampung batik Laweyan, informan perajin batik di kampung batik Laweyan, serta naskah lama. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik catat, rekam, dan wawancara mendalam. Teknik analisis data menggunakan langkah-langkah reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Proses pembatikan suatu kain memerlukan tahapan-tahapan khusus yang dimulai dari pemilihan kain mori yang baik, membuat pola dengan ceceg, nembok sampai proses terakhir yaitu mababar. Untuk membuat satu lembar kain dengan motif batik memerlukan alat-alat khusus, antara lain wajan, gawangan, canthing, bandhul, dan lilin atau malam. Banyak sekali jenis-jenis motif kain batik antara lain sidamukti, sidaraja, parangrusak dan sebagainya. Pada jaman dahulu seorang wanita Jawa diharuskan untuk mampu membatik. Adapun kampung yang terkenal sebagai sentra industri kerajinan batik adalah kampung Laweyan di Surakarta dan telah ada sejak zaman kerajaan Pajang. Kata-kata Kunci: Laweyan, batik, tradisi turun-temurun.
ANALISIS PERBANDINGAN KEKUATAN TARIK ORIENTASI UNIDIRECTIONAL 0 DAN 90 PADA STRUKTUR KOMPOSIT SERAT MENDONG DENGAN MENGGUNAKAN EPOKSI BAKELITE EPR 174 Lies Banowati; Wisnu Adi Prasetyo; Devi M Gunara
INFOMATEK Vol 19 No 2 (2017): Volume 19 No. 2 Desember 2017
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.925 KB) | DOI: 10.23969/infomatek.v19i2.627

Abstract

Mendong merupakan tanaman budidaya yang memiliki potensi ekonomis yang cukup baik tidak hanya sebagai produk tradisional dalam bentuk kerajinan, namun dapat dijadikan bahan baku komposit serat alam. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik mekanik komposit Mendong/Epoksi BAKELITE EPR 174, yaitu komposit dengan penguat serat mendong yang sudah dilakukan treatment alkali dan matriks Epoksi BAKELITE EPR 174. Metode manufaktur komposit menggunakan hand lay up. Pengujian kekuatan tarik spesimen komposit menggunakan ASTM D 3039/D 3039M dengan arah orientasi serat Unidirectional 0° dan 90°. Selanjutnya data hasil uji dianalisis menggunakan Distribusi Weibull untuk mengetahui keandalan komposit. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa nilai keandalan komposit Mendong/ Epoksi BAKELITE EPR 174 Unidirectional 00 pada 90% dan 50% masing-masing sebesar 20,7 MPa dan 26,8 MPa , sedangkan pada Unidirectional 900 sebesar 0,11 MPa dan 0,36 MPa.
Pandangan Multikultural Ki Padmasusastra Melalui Empat Karya Sastranya Prasetyo Adi Wisnu Wibowo
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.12312

Abstract

Ki Padmasusastra (1843-1926) yang sering menyebut dirinya dengan nama tiyang mardika ingkang marsudi kasusastran Jawi ing Surakarta adalah penulis dan pemerhati bahasa, sastra, dan budaya Jawa setelah era para pujangga Jawa. Ki Padmasusastra walaupun tertarik dan menerima norma-norma sastra dan budaya Eropa, akan tetapi ia tetap mengabdikan diri pada sastra dan budaya Jawa tradisional. Kehadiran empat karya sastranya memiliki warna dan keunikan tersendiri yang menempatkan Ki Padmasusastra sebagai salah satu pengarang Jawa yang terkenal. Pandangan-pandangan multikultural, pemikiran, kreativitas, maupun keteladanan semangat Ki Padmasusastra sebagai seorang pengarang telah berhasil membangun karakter bangsa melalui karya sastra.Kata kunci: Ki Padmasusastra, karya sastra, pandangan multikultural. AbstractKi Padmasusastra (1843-1926) is often called himself by the name tiyang mardika ingkang Marsudi kasusastran Jawi ing Surakarta is a writer and observer of language, literature, and culture of Java after the era of the poets of Java. Ki Padmasusastra although interested and accepted norms of European literature and culture, but he remains devoted to literature and traditional Javanese culture. The presence of four literary works have colors and unique that puts Ki Padmasusastra as one of the authors of the famous Java. The views multicultural, thinking, creativity, and the exemplary spirit of Ki Padmasusastra as an author has succeeded in building the character of the nation through literary works.Keywords: Ki Padmasusastra, literature, multicultural outlook.
TRADISI TURUN-TEMURUN PEMBUATAN BATIK MASYARAKAT KAMPOENG BATIK LAWEYAN SURAKARTA (SEBUAH TINJAUAN BUDAYA) Wibowo, Prasetyo Adi Wisnu
Kawruh: Journal of Language Education, Literature and Local Culture Vol. 1 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/kawruh.v1i1.238

Abstract

Batik, yang sejak ratusan tahun silam dikenal sebagai jarit 'kain panjang' untuk kaum bangsawan Indonesia (Jawa), kini telah meluas dalam produksi maupun arti fungsi pemakaiannya. Dalam tulisan ini akan dipaparkan bagaimana proses pembuatan batik di kampung Laweyan. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah prosesi membatik di kampung batik Laweyan, informan perajin batik di kampung batik Laweyan, serta naskah lama. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik catat, rekam, dan wawancara mendalam. Teknik analisis data menggunakan langkah-langkah reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Proses pembatikan suatu kain memerlukan tahapan-tahapan khusus yang dimulai dari pemilihan kain mori yang baik, membuat pola dengan ceceg, nembok sampai proses terakhir yaitu mababar. Untuk membuat satu lembar kain dengan motif batik memerlukan alat-alat khusus, antara lain wajan, gawangan, canthing, bandhul, dan lilin atau malam. Banyak sekali jenis-jenis motif kain batik antara lain sidamukti, sidaraja, parangrusak dan sebagainya. Pada jaman dahulu seorang wanita Jawa diharuskan untuk mampu membatik. Adapun kampung yang terkenal sebagai sentra industri kerajinan batik adalah kampung Laweyan di Surakarta dan telah ada sejak zaman kerajaan Pajang. Kata-kata Kunci: Laweyan, batik, tradisi turun-temurun.
Kearifan Lokal Jawa Dalam Tradisi Mitoni Di Kota Surakarta (Sebuah Tinjauan Etnolinguistik) Abdullah, Wakit; Wibowo, Prasetyo Adi Wisnu; Hidayati, Inke Wahyu; Nurkayatun, Siti
Kawruh: Journal of Language Education, Literature and Local Culture Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/kawruh.v2i2.907

Abstract

Mitoni masih eksis di masyarakat Jawa dan mengandung pesan luhur bagi pendukungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kearifan lokal dalam budaya Jawa mitoni ‘selamatan tujuh bulan wanita hamil’ di Kota Surakarta secara etnolinguistik. Data penelitian meliputi data verbal (istilah, ungkapan, unit lingual yang lain) dan nonverbal (simbol, lambang, sesaji). Sumber data meliputi primer dan skunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam dan observasi berpartisipasi menurut ketentuan metode etnografi. Validitas data dijaga dengan teknik triangulasi (metode, teori, peneliti, data). Teknik analisis data dimulai dengan langkah-langkah yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk teks naratif, meliputi kearifan lokal wanita Jawa di Kota Surakarta, meliputi (1) kearifan religius (religious wisdom), (2) kearifan kultural (cultural wisdom), (3) kearifan ekspresif (expresive wisdom).