Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Program KEMAS untuk Menurunkan Kecemasan pada Dewasa Awal di Masa Pandemi Covid-19 Syifa Nabila; Maya Khairani; Kartika Sari; Syarifah Faradina
Gadjah Mada Journal of Professional Psychology (GamaJPP) Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/gamajpp.69432

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Program Kemas bagi dewasa awal di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini merupakan penelitian praeksperimen dengan desain satu kelompok prates-pascates. Penelitian dilakukan secara daring yang melibatkan 36 subjek yang diperoleh dengan teknik insidental. Data penelitian dikumpulkan melalui subskala kecemasan DASS-21 kemudian dianalisis menggunakan metode non parametrik, yaitu Wilcoxon signed-rank test dengan hasil koefisien (z) = -4,584, dan nilai signifikan (p) = 0,00 (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh Program KEMAS bagi dewasa awal di masa pandemi Covid-19. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan kategori kecemasan pada subjek saat sebelum dan sesudah perlakuan, yaitu 80,6% subjek mengalami penurunan skor kecemasan; 13,9% berada pada skor kecemasan yang sama; 5,5% subjek mengalami peningkatan skor kecemasan.
GAMBARAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA PASIEN PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIK (GGK) YANG MENJALANI TREATMEN HEMODIALISIS Zaujatul Amna; Maya Zahara; Kartika Sari; Arum Sulistyani
Jurnal Psikologi Vol 15, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2022.v15i2.6358

Abstract

Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan suatu jenis penyakit yang memiliki gangguan fungsi dalam tubuh sehingga gagal dalam mempertahankan metabolisme dan keseimbangan dirinya. Jenis penyakit dan berbagai efek yang dihadapinya tersebut secara langsung berpengaruh terhadap kondisi psikologis pasien, salah satunya berkaitan dengan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui gambaran psychological well-being pasien Gagal Ginjal Kronik di Banda Aceh, Indonesia. Sebanyak 64 pasien Gagal Ginjal Kronik (32 pasien laki-laki dan 32 pasien perempuan) telah terlibat sebagai sampel penelitian ini dan menjawab Ryff’spsychological well-being scale. Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa pasien Gagal Ginjal Kronik di Banda Aceh memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang tinggi dalam dirinya, ini ditunjukkan dari tingkat penerimaan diri pasien yang tinggi, dan autonomi yang rendah. Di sisi lain, hasil analisis data juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kesejahteraan psikologis pada pasien GGK yang ditinjau berdasarkan usia (p = 0.039), dan status pernikahannya (p = 0.021), artinya secara usia diketahui bahwa pasien yang semakin memiliki usia yang tinggi (lansia) memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang muda. Selain itu, tingkat kesejahteraan psikologis yang tinggi juga dimiliki oleh pasien-pasien yang masih memiliki pasangan, dibandingkan pasien yang sudah bercerai atau berpisah dengan pasangannya. Serta hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat kesejahteraan laki-laki maupum perempuan, artinya pasien laki-laki maupun pasien perempuan memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang sama (p = 0.240).
PENGARUH RELAKSASI OTOT TERHADAP KECEMASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM PADA MAHASISWA Dea Rizkiana Aprilia Mukhran; Syarifah Faradina; Kartika Sari; Afriani Afriani; Zaujatul Amna
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 4, No 2: Juli 2021
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v4i2.22703

Abstract

Kecemasan berbicara di depan umum dapat menjadi salah satu hambatan bagi individu dalam menjalankan aktivitas akademis terutama berkaitan dengan pengembangan diri mahasiswa dalam proses pembelajaran. Relaksasi otot merupakan salah satu upaya untuk mengurangi kecemasan berbicara di depan umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh relaksasi otot terhadap kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Unsyiah. Sebanyak 27 mahasiswa dipilih sebagai sampel penelitian dengan menggunakan teknik systematic random sampling yang dibagi menjadi 2 kelompok, terdiri dari 12 subjek untuk kelompok eksperimen dan 15 subjek untuk kelompok kontrol. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi Experiment dengan bentuk Non-Equivalent Control Group Design. Alat ukur yang digunakan pada penelitian adalah Personal Report of Public Speaking Anxiety (PRPSA). Hasil analisis Mann-Whitney menunjukan bahwa tidak terdapat pengaruh pemberian perlakuan relaksasi otot untuk menurunkan kecemasan berbicaran di depan umum. Hal ini dikarenakan relaksasi otot yang dilakukan secara paralel dapat memunculkan distraksi dan juga ketidakfamiliaran teknik relaksasi otot pada subjek penelitian.
Menyoal Kaitan Impostor Phenomenon dan Resiliensi Pada Mahasiswa Zakiratul Ula; Marty Mawarpury; Kartika Sari; Maya Khairani
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 6, No 2: Juli 2023
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v6i2.33526

Abstract

Pencapaian prestasi dalam bidang akademik tidak hanya memberikan kepuasan dan meningkatnya rasa percaya diri bagi mahasiswa, namun pencapaian tersebut juga dapat memunculkan perasaan tidak layak akan keberhasilan, kondisi ini disebut dengan impostor phenomenon. Fenomena impostor dapat menimbulkan kecemasan, stress dan bahkan depresi jika terus menerus terjadi. Oleh karena itu, mahasiswa membutuhkan resiliensi agar mampu menyelesaikan masalah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dengan impostor phenomenon pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 297 mahasiswa. Teknik pengumpulan data menggunakan convenience sampling, data penelitian dikumpulkan menggunakan Clance Impostor Phenomenon Scale dan Brief Resilience Scale. Analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson menunjukkan nilai koefisien korelasi r=-0.249 dengan nilai signifikansi p=0.000 (p0.05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara resiliensi dengan impostor phenomenon pada mahasiswa, artinya semakin tinggi kemampuan resiliensi maka semakin rendah impostor phenomenon dan sebaliknya.
PERBEDAAN PROKRASTINASI AKADEMIK DITINJAU DARI JENIS KELAMIN PADA MAHASISWA Yuli Astuti; Haiyun Nisa; Kartika Sari; Intan Dewi Kumala
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 4, No 2: Juli 2021
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v4i2.22108

Abstract

Prokrastinasi akademik merupakan permasalahan yang umumnya dialami oleh para pelajar, tidak terkecuali mahasiswa. Prokrastinasi Akademik adalah kecenderungan untuk menunda atau penghindaran penuh terhadap suatu tugas akademik oleh individu secara sadar. Perilaku ini tidak hanya memengaruhi nilai, tetapi juga kinerja akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan prokrastinasi akademik ditinjau dari jenis kelamin pada mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan jenis komparatif. Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas S berjumlah 336 mahasiswa (168 laki-laki dan 168 perempuan). Pengumpulan data menggunakan skala Tuckman Procrastination Scale (TPS). Hasil analisis data menggunakan Mann Whitney U test dengan nilai signifikansi (p)=0,110 (p0,05) yang berarti tidak terdapat perbedaan prokrastinasi akademik ditinjau dari jenis kelamin pada mahasiswa. Tidak adanya perbedaan prokrastinasi akademik pada mahasiswa dipengaruhi oleh adanya tuntutan untuk belajar secara mandiri pada laki-laki dan perempuan. Faktor lain tidak adanya perbedaan prokrastinasi akademik pada mahasiswa karena dipengaruhi oleh dinamika perkembangan individu yang meliputi perkembangan fisik, psikologis dan peran sosial.
Konsep Diri dan Online Disinhibition Effect Pada Dewasa Awal di Banda Aceh Suri Akyun; Kartika Sari; Afriani Afriani; Arum Sulistyani
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i1.32505

Abstract

Internet has changed the way individuals communicate with others, so that individuals tend to have the freedom to express everything in cyberspace including expressing bad comments or hate speech on social media. The online disinhibition effect was found to be associated with aggressive and deviant behavior carried out online. One of the factors that influences the online disinhibition effect in early adulthood is self-concept. This research aims to determine the relationship between self-concept and the online disinhibition effect in early adulthood in Banda Aceh. A total of 303 early adults in Banda Aceh were selected based on the criteria of being 20-40 years old, using a smartphone or computer, accessing the internet and using social media and domiciled in Banda Aceh. This research uses a convenience sampling sample selection technique. Data collection using the Online Disinhibition Scale (ODS) and Personal Self-Concept Questionnaire (PSQ). The results of the hypothesis test show a correlation coefficient value of (r)=-0.145 and a significance value of (p)=0.016 (p0.05) meaning that there is a negative relationship between self-concept and the online disinhibition effect in early adulthood in Banda Aceh, which means that the higher the self-concept in early adulthood in Banda Aceh, the lower the online disinhibition effect, and vice versa.Internet telah mengubah cara individu berkomunikasi dengan orang lain, sehingga individu cenderung leluasa untuk mengekspresikan segala hal di dunia maya termasuk mengungkapkan komentar buruk atau ujaran kebencian di media sosial. Online disinhibition effect ditemukan berhubungan dengan perilaku agresif dan menyimpang yang dilakukan secara daring. Salah satu faktor yang memengaruhi online disinhibition effect pada dewasa awal adalah konsep diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsep diri dengan online disinhibition effect pada dewasa awal di Banda Aceh. Sebanyak 303 dewasa awal di Banda Aceh dipilih dengan kriteria berusia 20-40 tahun, menggunakan ponsel pintar atau komputer, mengakses internet dan menggunakan sosial media serta berdomisili di Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan teknik pemilihan sampel convenience sampling. Pengumpulan data menggunakan Online Disinhibition Scale (ODS) dan Personal Self-Concept Questionnaire (PSQ). Hasil analisis menunjukkan nilai korelasi (r)=-0.145 dan nilai signifikansi (p)=0.016 (p0,05) artinya terdapat hubungan yang negatif antara konsep diri dengan online disinhibition effect pada dewasa awal di Banda Aceh, yang artinya bahwa semakin tinggi konsep diri pada dewasa awal di Banda Aceh maka semakin rendah online disinhibition effect, begitu pula sebaliknya.
Makna Kebahagiaan Pada Remaja Yatim Piatu di Banda Aceh Muhammad Aulia; Win Junaidi; Fauzia Aulia Adha; Nasywa Alifah Suyida; Tara Nurjihan; Kartika Sari
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i1.30772

Abstract

Happiness is an important aspect of life that is closely related to mental and emotional well-being. Orphaned adolescents can face more difficulties in achieving happiness. This study aims to explore the meaning of happiness in orphaned adolescents. This research uses a qualitative method with a phenomenological approach. The sampling technique used was purposive sampling with the number of respondents five orphaned teenagers with age criteria between 12-20 years who lost both parents due to death. Data collection was carried out through interviews and observations and then the results obtained were analyzed using Braun and Clarkes thematic analysis. The findings of this study reveal that happiness in orphaned adolescents is closely related to social support and spiritual meaning. This study emphasizes the importance of programs that enhance social support and spiritual development, as well as greater psychological support and understanding of happiness from the perspective of the orphans themselves.Kebahagiaan merupakan aspek penting dalam hidup yang terkait erat dengan kesejahteraan mental dan emosional. Remaja yatim piatu dapat menghadapi lebih banyak kesulitan dalam mencapai kebahagiaan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna kebahagiaan pada remaja yatim piatu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah responden lima orang remaja yatim piatu dengan kriteria usia antara 12-20 tahun yang kehilangan kedua orang tua karena meninggal dunia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi lalu hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa kebahagiaan pada remaja yatim piatu sangat berkaitan erat dengan dukungan sosial dan makna spiritual. Penelitian ini menekankan pentingnya program yang meningkatkan dukungan sosial dan pengembangan spiritual, serta dukungan psikologis yang lebih besar dan pemahaman kebahagiaan dari perspektif anak yatim piatu itu sendiri.
Penyesuaian Diri Wanita Yang Menikah Beda Budaya Zahrina Arifah; Fadhila Nurul Aulia; Raisyah Aliyah Nadhifah; Ariqa Khairunnisa; Junicha Khairunnisa.MR; Agustian Hasnan Hakim; Kartika Sari
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30834

Abstract

Individual adjustment in marriage is essential to achieving a successful and happy marriage. Marriages of different cultures can lead to challenges in marriage life, such as differences in values and customs. This study aims to find out the individual's adaptation to living in a different-cultural marriage. This research uses a qualitative approach to this type of case study. The subjekt selection procedure uses purposive sampling techniques with a total of six individuals who are married to couples of different cultures. Techniques of data collection through observations and interviews. The collected data is analyzed with thematic analysis techniques, using the theory as a reference to coding. The results of the study found that six subjekts were able to adapt well to different cultural marriages. The adaptations carried out included experiences of adaptation and ways of adapting in marriages of different cultures. Adaptation experiences include relationships with spouses, relations with families, and marriage challenges. Therefore, adaptation can be done through communication, agreement, acceptance of differences, understanding, financial management, appetite alignment, and language alignment. The implications of this research are that it can raise public awareness of cultural diversity and the challenges faced by couples of different cultures, reduce prejudice and discrimination, and help couples from various cultures adapt more easily to the new environment.Penyesuaian individu dalam pernikahan merupakan hal penting untuk mencapai pernikahan yang sukses dan bahagia. Pernikahan beda budaya dapat menyebabkan tantangan dalam kehidupan pernikahan berupa adanya perbedaan nilai maupun adat istiadat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyesuaian diri individu dalam menjalani pernikahan beda budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Prosedur pengambilan subjek menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah subjek enam orang individu yang menikah dengan pasangan yang berbeda budaya. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis tematik menggunakan teori sebagai acuan untuk melakukan coding. Hasil penelitian menemukan bahwa enam subjek mampu menyesuaikan diri dalam pernikahan beda budaya dengan baik. penyesuaian diri yang dilakukan meliputi pengalaman penyesuaian diri dan cara menyesuaikan diri dalam pernikahan beda budaya. Pengalaman penyesuaian diri mencakup hubungan dengan pasangan, hubungan dengan keluarga dan tantangan pernikahan. Oleh karena itu, cara untuk penyesuaian diri dapat dilakukan dengan komunikasi, kesepakatan, menerima perbedaan, memahami, pengelolaan keuangan, penyelarasan selera makanan, dan penyelarasan bahasa. Implikasi penelitian ini yaitu dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keberagaman budaya dan tantangan yang dihadapi pasangan beda budaya, mengurangi prasangka dan diskriminasi, serta dapat membantu pasangan beda budaya untuk lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Kontrol Diri dan Kepatuhan Menggunakan Alat Pelindung Diri Petugas Pengangkut Sampah di Banda Aceh Sri Wardani; Kartika Sari
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.9832

Abstract

Kontrol diri merupakan kemampuan individu untuk menentukan perilakunya berdasarkan standar tertentu seperti moral, nilai, dan aturan di masyarakat agar mengarah pada perilaku positif. Sedangkan kepatuhan adalah menerima perintah-perintah dari orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan kepatuhan menggunakan alat pelindung diri pada petugas pengangkut sampah di kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk memilih 174 partisipan. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Kontrol Diri yang disusun oleh peneliti berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Tangney dkk. dan Skala Kepatuhan berdasarkan pada teori Blass. Hasil analisis dengan teknik korelasi Spearmans Rho diperoleh nilai (r)=0,621 dengan nilai p=0,000 (p 0.05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tedapat hubungan antara kontrol diri dengan kepatuhan menggunakan alat pelindung diri pada petugas pengangkut sampah di kota Banda Aceh. Hal ini dapat diartikan bahwa kontrol diri berkaitan dengan kemampuan petugas pengangkut sampah mengembangkan kebiasaan hidup sehat untuk melindungi diri dari perilaku berisiko.Self-control is the ability of individuals to determine their behavior based on certain standards such as morals, values, and rules in society to lead to positive behavior. While obedience is taking orders from others. This study aims to determine correlation between self-control and obedience using personal protective equipment on garbage collectors in Banda Aceh. This research used a purposive sampling technique to select 174 participants. The instruments used are the Self Control Scale compiled by researchers based on the theory developed by Tangney et al and the Compliance Scale based on Blass theory. The results of analysis using the Spearman's Rho correlation technique obtained a value of (r) = 0.621 with a p value = 0.000 (p 0.05). The results of this study indicate that there is a correlation between self-control and obedience using personal protective equipment (PPE) on garbage collectors in Banda Aceh. This can be interpreted that self-control is related to the ability of garbage collectors to develop healthy living habits to protect themselves from risky behavior.
Dinamika Pengambilan Keputusan Etis pada Oditur di Pengadilan Militer Banda Aceh Zakiatul Hasanah Tanjung; Kartika Sari
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i2.28433

Abstract

Konflik antara hukum dan nilai-nilai etika yang terjadi terkadang dianggap hanyalah masalah pribadi individu, terutama jika konflik tersebut bersinggungan dengan nilai-nilai etika yang dianut individu tersebut dan standar kode etik tidak menjelaskan dengan baik keadaan tersebut. Pada saat konflik tersebut muncul, individu harus terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang etis (ethical decision making) untuk mengevaluasi alternatif dari pemecahan masalah yang mungkin dipilih dan menentukan pilihan yang terbaik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dinamika pengambilan keputusan etis pada Oditur di Pengadilan Militer Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Prosedur pengambilan responden menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden dua orang. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambilan keputusan yang dilakukan oleh kedua responden dalam mengambil keputusan untuk menuntut lamanya hukuman yang akan diberikan kepada terdakwa telah melalui enam langkah-langkah yang sama yaitu mengidentifikasi masalah, mempertimbangkan makna dari keadaan dan peraturan, mengindentifikasi dan menggunakan sumber-sumber etika dan hukum, mempertimbangkan keyakinan dan nilai-nilai pribadi, mengembangkan solusi yang dapat menyelesaikan masalah dan menetapkan serta memilih waktu bertindak. Penelitian ini juga menemukan adanya dilema dan konflik batin didalam pengambilan keputusan serta faktor emosi dan asal suku yang sama memengaruhi pengambilan dalam menuntut.Conflict between the law and ethical values that occur is sometimes considered just a personal problem of individuals, especially if the conflict intersects with the ethical values embraced by the individual and ethical standards did not explain well the situation. When conflict arises, the individual must engage in an ethical decision making process to evaluate alternatives of solving problems that may have and determine the best option. This study aims to determine the dynamics of decision-making at the Military Court Prosecutor in Banda Aceh. This study used a qualitative method with case study approach. Making procedures of respondents using purposive sampling with the number of two respondents. Data were collected through interviews and observations. The results showed that the decision made by the two respondents in the decision to prosecute the length of the punishment that will be given to the accused have been through the same six steps that identify the problem, consider the significance of the context and setting, identify and use ethical and legal resources, consider personal beliefs and values, develop possible solutions to the problem, choose and implement a course of action and assess the outcome. The study also found their dilemmas and inner conflicts in decision-making as well as emotional factors and the same ethnic origin in a decision affecting prosecution