Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pengelolaan Gerak dan Pemanfaatan Digital Audio dalam Proses Kreatif Mencipta Tari di Lembaga Buana, Banda Aceh Prasika Dewi Nugra; Sabri Gusmail; Benni Andiko
PANGGUNG Vol 32, No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1190.481 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v32i3.1750

Abstract

Proses mencipta tari tidak dapat mengenyampingkan gerak sebagai media utama ungkap tari. Sehingga diperlukan pengalaman empiris dalam proses kreatif mencipta diantaranya pengetahuan mendasar teoritik dan kemampuan praktik dalam pengelolaan gerak serta unsur pendukungnya. Pengetahuan dan wawasan ilmu koreografi dirasa perlu diberikan kepada Lembaga non formal seperti komunitas/sanggar seni sebagai bentuk sinergi antar instansi dalam upaya pemajuan kebudayaan yang tercantum pada UU No.5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Penelitian dilakukan di Banda Aceh yang bermitra dengan Lembaga Budaya Aceh Nusantara (Buana). Jenis penelitian adalah penelitian kualititif dengan menggunakan metode penelitian tindakan (action research). Mengidentifkasi prioritas masalah yang dialami mitra dan menentukan tindakan sebagai solusi masalah tersebut. Tahapan penelitian antara lain : perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pemantauan (monitoring atau observing), penilaian (reflecting atau evaluating). Tindakan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan pengelolaan gerak tari dan proses mencipta musik iringan tari dalam bentuk transfer keterampilan atau pemberian pengalaman mencipta bersama. Menggunakan pendekatan koreografi Jacqueline Smith dan proses mencipta musik iringan melalui teknik pengolahan digital audio software. Menggabungkan 2 (dua) teknik dalam pelaksanaan pelatihan, yaitu : penyampaian materi secara teori dan mendemonstrasikan secara praktik. Pelaksanaan pelatihan diharapkan berdampak signifikan dalam meningkatkan produktifitas mencipta tari di Lembaga Buana.Kata kunci: pelatihan, koreografi, inovatif, pengolahan gerak, musik tari
The impact of diaphragmatic breathing on the endurance of contemporary dancers at the Institut Seni Budaya Indonesia Aceh: model-based experimental design Sabri Gusmail; Prasika Dewi Nugra; Syahrizal Syahrizal
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol. 21 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/glr.v21i2.4530

Abstract

Managing dance movement elements is crucial for maintaining endurance and movement quality. The purpose of this study was to investigate the effects of applying diaphragmatic breathing on dancer endurance. The study employed a mixed-methods approach with an exploratory sequential design. The first phase, qualitative in nature, aimed to formulate hypotheses concerning the endurance issues faced by dancers in choreography courses. The second phase tested these hypotheses through experiments, incorporating control variables between two groups: Group 1, trained in dance movements using diaphragmatic breathing, and Group 2, solely trained in movements. The experiment took place at the Indonesian Institute of Cultural Arts in Aceh, with six female dancers enrolled in choreography classes randomly divided into two groups. None of the participants had prior experience with diaphragmatic breathing techniques while dancing. The study utilized a sphygmomanometer and oximetry for measurement. The endurance test involved dancing to a metronome for 5 minutes at tempos of 100, 110, and 120 without interruption. The results indicated that the respiratory frequency of dancers using diaphragmatic breathing was more stable compared to the group that did not employ this technique. These findings suggest that incorporating diaphragmatic breathing alternately while dancing can serve as a recommendation for maintaining dancers' endurance, particularly for students at the Indonesian Institute of Cultural Arts in Aceh.
High Heel Shoes Commodity Fethisis of Drag Queen Raminten Cabaret Artists Show Mirota Yogyakarta Putri Prabu Utami; Bayu Aji Suseno; Djuniwarti Djuniwarti; Sabri Gusmail
Journal of Feminism and Gender Studies Vol 4 No 1 (2024): Journal of Feminism and Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jfgs.v4i1.45548

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui muatan nilai fetisisme komoditas pada sepatu hak tinggi seniman drag queen dalam pertunjukkan cabaret show di Raminten 3 Mirota Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, serta melakukan analisis data berdasarkan teori Marx tentang fetisisme komoditas. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa sepatu hak tinggi pemain drag queen memiliki use value untuk melindungi kaki dari resiko terjadinya cedera dan lecet (tergores) yang diakibatkan gesekan antara kulit dengan permukaan lantai pada panggung arena tertutup (indoor). High heels menjadi media konstruksi citra feminisme terhadap tubuh maskulin laki-laki pemain drag queen yang mengalami pergeseran (exchange value) dari fungsi status sosial menuju fungsi estetika yang bernilai ekonomi untuk membentuk identitas seksual menjadi seniman atau aktor profesional yang berpakaian seperti wanita untuk alasan hiburan (female impersonators). Sepatu hak tinggi menjadi penanda seksualitas dalam memanipulasi kesadaran pengguna (seniman drag queen) terhadap pemujaan suatu benda secara berlebihan (fetisisme) dengan mengerotisasi obyek benda mati untuk membentuk dorongan (gairah) atau kepuasan seksual.
HOAKS SEBAGAI KONSEP PENCIPTAAN TARI “FILTER” NUGRA, PRASIKA DEWI; GUSMAIL, SABRI
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 23, No 1 (2021): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.576 KB) | DOI: 10.26887/ekspresi.v23i1.1361

Abstract

AbstrakKarya tari “Filter” merupakan karya peraih Hibah Seni Kelola 2019, kategori karya kolaborasi inovatif. Terinspirasi dari kondisi merebaknya hoaks (berita bohong) di jejaring sosial, khususnya pada layanan sosial media. Mengusung tema kehidupan sosial masyarakat di Indonesia, guna merefleksikan kondisi yang terjadi di Indonesia akibat hoaks yang berserakan di media digital. Memilih tipe abstrak dengan metode penciptaan berupa observasi (penjelajahan data, wawancara dan dokumentasi), analisa data, proses penciptaan (eksplorasi, improvisasi dan komposisi/pembentukan), persiapan, pertunjukan dan evaluasi. Karya ini terdiri dari 3 (tiga) bagian, antara lain ; 1) Menggambarkan bebasnya informasi yang beredar di sosial media, 2) Berita bohong (hoaks) yang tidak terbendung membanjiri sosial media, 3) Upaya individu dalam menyaring informasi hoaks yang berserakan, memilih dan berbagi informasi sesuai kebutuhan. Pelahiran karya ini memberikan tawaran esensi ideal akan pemanfaatan teknologi dalam berkomunikasi, meminimalisir dampak hoaks dari elemen terkecil, yaitu individu itu sendiri.AbstractThe dance work "Filter" is the work of the 2019 Governance Art Grant winner in innovative collaboration works. It is inspired by the widespread condition of hoaxes (fake news) on social networks, especially on social media services. Carrying the theme of social life in Indonesia, to reflect the situations that occur in Indonesia due to hoaxes scattered in digital media—selecting the abstract type with the creation method in the form of observation (data exploration, interviews, and documentation), data analysis, creation process (exploration, improvisation, and composition/formation), preparation, performance, and evaluation. This work consists of 3 (three) parts, among others; 1) Describing the freedom of information circulating on social media, 2) Unstoppable hoaxes flooding social media, 3) Individual efforts in filtering scattered hoax information, selecting and sharing information as needed. The birth of this work offers an ideal essence of the use of technology in communication, minimizing the impact of hoaxes from the smallest element, namely the individual himself.
Pengelolaan Gerak dan Pemanfaatan Digital Audio dalam Proses Kreatif Mencipta Tari di Lembaga Buana, Banda Aceh Prasika Dewi Nugra; Sabri Gusmail; Benni Andiko
PANGGUNG Vol 32 No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i3.1750

Abstract

Proses mencipta tari tidak dapat mengenyampingkan gerak sebagai media utama ungkap tari. Sehingga diperlukan pengalaman empiris dalam proses kreatif mencipta diantaranya pengetahuan mendasar teoritik dan kemampuan praktik dalam pengelolaan gerak serta unsur pendukungnya. Pengetahuan dan wawasan ilmu koreografi dirasa perlu diberikan kepada Lembaga non formal seperti komunitas/sanggar seni sebagai bentuk sinergi antar instansi dalam upaya pemajuan kebudayaan yang tercantum pada UU No.5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Penelitian dilakukan di Banda Aceh yang bermitra dengan Lembaga Budaya Aceh Nusantara (Buana). Jenis penelitian adalah penelitian kualititif dengan menggunakan metode penelitian tindakan (action research). Mengidentifkasi prioritas masalah yang dialami mitra dan menentukan tindakan sebagai solusi masalah tersebut. Tahapan penelitian antara lain : perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pemantauan (monitoring atau observing), penilaian (reflecting atau evaluating). Tindakan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan pengelolaan gerak tari dan proses mencipta musik iringan tari dalam bentuk transfer keterampilan atau pemberian pengalaman mencipta bersama. Menggunakan pendekatan koreografi Jacqueline Smith dan proses mencipta musik iringan melalui teknik pengolahan digital audio software. Menggabungkan 2 (dua) teknik dalam pelaksanaan pelatihan, yaitu : penyampaian materi secara teori dan mendemonstrasikan secara praktik. Pelaksanaan pelatihan diharapkan berdampak signifikan dalam meningkatkan produktifitas mencipta tari di Lembaga Buana.Kata kunci: pelatihan, koreografi, inovatif, pengolahan gerak, musik tari