Articles
MINUM KAMEKO PADA MASYARAKAT MUNA DI PERANTAUAN
Nurmika Nurmika;
Hartini Hartini
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 7 No 2 (2018): Volume 7 Nomor 2, Juni 2018
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (90.888 KB)
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v7i2.525
This study aims to find out and describe the activities of drinking kameko among the Muna people overseas. Data collection techniques are carried out through in-depth observation and interviews. This study uses Herbert Herbert's theory, thinking about the evolution of law. The results of the study show that drinking activity in the past still upholds ethical values. It contains a symbol of social solidarity that strengthens kinship relations. So that the Muna people consider Kameko a traditional drink. Because the drinking activity of Kameko always fills every traditional activity of the local community. The same conditions are no longer found among the Muna people overseas. Kameko is more seen as a mere alcoholic drink which tends to have a negative impact that is troubling the community. Keywords: kameko drinking, societies, overseas, Munanese
DINAMIKA KEPEMILIKAN LAHAN OLEH KELOMPOK MASYARAKAT DI KAWASAN HUTAN KONTU
Muin Mustawa;
La Ode Topo Jers;
Hartini hartini
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 2 (2019): Volume 8 Nomor 2, Juni 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (174.958 KB)
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i2.591
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika kepemilikan lahan di kawasan Hutan Kontu oleh masyarakat, serta mendeskripsikan aktivitas masyarakat dalam mengelola lahan di kawasan Hutan Kontu. Data diperoleh melalui penelitian lapangan dengan menggunakan Teknik wawancara teknik pengamatan (observation) dan wawancara (interview). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) dinamika status kepemilikan lahan di kawasan hutan Kontu terjadi karena adanya perlawanan masyarakat dengan saling klaim antara masyarakat dengan Pemerintah Daerah Muna. Masyarakat Kontu mengklaim Kawasan Kontu sebagai warisan leluhur nenek moyang mereka dengan luas 401,59 Hektar, dengan bukti adanya makam tua La Kundofani. Disisi lain Pemerintah Daerah Muna mengklaim lahan itu merupakan bagian dari Kawasan hutan Jompi dan Kawasan Hutan Kontu berdasarkan SK Menhutbun Nomor 454 Tahun 1999 dengan luas 1.927 Hektar sebagai hutan lindung; (b) Masyarakat melakukan aktivitas Bertani dan berkebun di kawasan hutan Kontu. Aktivitas tersebut dilakukanuntuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta membangun sarana dan prasarana, serta untuk menunjang peningkatan taraf hidup masyarakat setempat.
MESOKO: SOLIDARITAS PADA MASYARAKAT TOLAKI DI DESA PALOWEWU KECAMATAN BENUA KABUPATEN KONAWE SELATAN
Rikarni Rikarni;
Akhmad Marhadi;
Hartini Hartini
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 1 (2019): Volume 8 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (225.273 KB)
|
DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i1.596
Mesoko merupakan tradisi etnik Tolaki yang mencerminkan bentuk solidaritas masyarakat. Tradisi ini dilakukan untuk memberikan bantuan kepada keluarga atau orang lain yang membutuhkan bantuan secara materil. Seiring perkembangan jaman, mesoko juga terus mengalami perubahan sehingga sedikit ada perbedaan dengan beberapa tempat lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan serta fungsi tradisi mesoko di Desa Palowewu. Data kualitatif dikumpulkan melalui teknik wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa pelaksanaan tradisi mesoko di masyarakat Palowewu, sering dijumpai pada tiga jenis hajatan, yakni mesoko pernikahan, mesoko orang sakit dan mesoko pendidikan. Proses pelaksanaan mesoko terbagi dalam tiga tahapan atau proses yakni (1) menyampaikan maksud atau niat; (2) menyampaikan undangan atau menyebar informasi dan (3) pelaksanaan mesoko. Tradisi ini memiliki beberapa fungsi, mulai dari fungsi kekerabatan, fungsi solidaritas, fungsi pengontrol sosial, fungsi ekonomi, hingga fungsi pemertahanan budaya.
KABOLOSI : NENEK PENJAGA MAKAM DESA BARUTA KECAMATAN SANGIA WAMBULU KABUPATEN BUTON TENGAH
Sri Wualandari Indara;
La Janu;
Hartini Hartini
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 4 No 1 (2020): Volume 4, Nomor 1, Januari - Juni 2020
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (149.39 KB)
|
DOI: 10.33772/kabanti.v4i1.924
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui syarat-syarat menjadi nenek Kabolosi di Desa Baruta Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah peran nenek kabolosi dalam menjaga makam Buton Tengah i. Teori yang digunakan adalah teori Ritus oleh Van Gennep. Metode Desa Baruta Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah dan mengetahui pandanga masyarakat tethadap peran Nenek Kabolos Desa Baruta Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten penelitian yang digunakan adalah metode etografi berupa deskripsi mendalam dengan pengumpulan data menggunakan metode pengamatan (Observation) dan wawancara mendalam (Indepth Interview). Hasil penelitian menujukan bahwa terdapat syarat-syarat untuk menjadi nenek Kabolosi yaitu berasal dari garis keturunan kabolosi sebelumnya, perempuan, telah berstatus janda, mengalami menopouse dan berahlak yang baik. Peran nenek kabolosi dalam menjaga makam adalah wajib tinggal di lambu balano ( rumah besar) dan menjadi perantara meyampaikan doa. Sedangkan pandangan masyarakat terhadap peran nenek Kabolosi yang sesuai dengan peran yang diemban adalah sebuah kewajiban dan menjadi orag yang snagat dihargai dalam masyarakat.
PENGELOLAAN OBJEK WISATA SUNGAI BORO-BORO BERBASIS KEKERABATAN
Natalia Gongsi;
Akhmad Marhadi;
Hartini Hartini
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 4 No 2 (2020): Volume 4, Nomor 2, Juli - Desember 2020
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (203.863 KB)
|
DOI: 10.33772/kabanti.v4i2.956
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengelolaan objek wisata sungai Boro-Boro dan pengembangan objek wisata sungai Boro-Boro di Desa Boro-Boro Kecamatan RanomeetoKabupaten Konawe Selatan. Teknik penelitian menggunakan metode etnografi. Penelitian ini juga menggunakan teori pengembangan oleh Twelvetrees. Penelitian ini telah mendapatkan data-data sesuai dengan judul, peneliti melakukan peneliti lapangan yang lebih konkrit dengan melakukan wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terkait serta data sekunder berupa data profil desa. Hasil penelitian membuktikan bahwa dalam pengelolaan objek wisata sungai Boro-Boro yang berada di Desa Boro-Boro Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan dikelolah oleh enam bersaudara yang tidak lain adalah anak dari pemilik lahan yaitu Bapak Lauto dan mereka juga merupakan ahli waris tanah yang saat dijadikan sebagai tempat objek wisata. Pengelolaannya dari tahun 2018 sampai saat ini masih terbilang sangat minim jika dibandingkan dengan objek wisata yang lain, terlebih lagi dana untuk pembangunan fasilitas hanya berasal dari retribusi para pengunjung. Namun pengembangan objek wisata sungai boro-boro sudah bisa memenuhi kebutuhan para wisatawan hal ini di tandai dengan adanya beberapa gazebo yang berdiri tepat dipinggir sungai, rumah makan, WC, tambak ikan, dan juga terdapat beberapa villa yang tersedia jika para wisatawan yang hendak ingin bermalam atau melakukan kegiatan di objek wisata sungai boro-boro tersebut. Objek wisata ini juga diharapkan mampu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Desa khususnya Desa Boro-boro Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan.
STUDI DI SEKOLAH DANCER YUDHA MANAGEMENT DI KOTA KENDARI
Elma Belina Sari;
Hartini Hartini
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 3 No 1 (2019): Volume 3 Nomor 1, Juni 2019
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (146.624 KB)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis Bagaimanan proses Tari Modern (Modern Dancer) di Yudha Management Kendari serta Apa fungsi tari modern di Sekolah Yudha Management Kendari. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September hingga November 2018. Penelitian ini menggunkan teori fungsionalisme Bronislaw Malinowski Tentang interaksi yang konstan antara organisme dan lingkungan pergaulan sekunder yang ada. Metode yang yang digunakan dalam penelitian ini yaitu meode etnografi dengan pengumpulan data yang dilakukan menggunkan teknik pengamatan (Obsevation) dan wawancara mendalam (Indepth interview). Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif, analisis data dimaksudkan untuk menyederhanakan data yang diperoleh ke dalam bentuk yang lebih muda di baca dan diinterpretasikan. Hasil penelitian ini menujukan bahwa tarian modern memiliki tahap-tahap persiapan dan tahap-tahap pelaksanaannya serta memiliki fungsi estetika, fungsi kelenturan melatih daya ingat, memberikan rasa percaya diri, koordinasi sesama anggota, sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa tarian modern di Yudha Mangement bukan hanya berfungsi sebagai penghasil ekonomi namun juga dapat melatih kekaraban sesama anggota sehingga dengan adanya tarian modern ini mampu menambah wawasan khususnya dibidang ilmu teknologi.
MAHASISWA DRIVER OJEK ONLINE (GRAB) UNIVERSITAS HALU OLEO
Ersa Trialmawati;
Hartini Hartini
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 5 No 2 (2021): Volume 5 Nomor 2, Juli - Desember 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (567.717 KB)
|
DOI: 10.33772/kabanti.v5i2.1274
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengapa mahasiswa memilih bekerja sebagai driver grabbike dan mengetahui hambatan yang dihadapi mahasiswa selama menjadi driver grabbike. Penelitian ini menggunakan teori Fenomenologis oleh Berger dan Luckmann, dengan metode snowball sampling dan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah teknik lapangan (field research) wawancara mendalam (indepth interview), dan Pengamatan biasa. Hasil penelitian menunjukan bahwa, mahasiswa memilih menjadi driver grabbike karena melihat adanya peluang penghasilan yang cukup bagus dan dapat memenuhi kebutuhan pribadi mereka sehingga tidak memberatkan orang tua. Tidak memiliki persyaratan yang rumit dan juga sistem kerja yang fleksibel sehingga pekerjaan tersebut bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun, kemudian hambatan yang dihadapi mahasiswa selama menjadi driver grabbike adalah susah membagi waktu antara belajar dan bekerja, adanya kecemburuan sosial terhadap sesama tukang ojek, mendapatkan orderan yang fiktif, pelanggan yang memasang titik penjemputan tidak sesuai lokasi, dan sepeda motor yang digunakan untuk bekerja terkadang mengalami masalah ataupun kerusakan.
Orang Muna di Jazirah Tenggara Pulau Sulaweso dan Pohon Kelor
Wa Ode Sifatu;
Hasniah Hasniah;
Hartini Hartini;
Ruwiyah Ruwiyah;
Wa Ode Winesty Sofyani
Jurnal Agrimanex: Agribusiness, Rural Management, and Development Extension Vol. 2 No. 2 (2022): Maret
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Singaperbangsa Karawang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35706/agrimanex.v2i2.6616
Moringa plant (Moringa Oleifera Lam.) has long been cultivated by the Muna people on Muna Island and used as a portion of vegetable food. The purpose of this article is to reveal the existence of Moringa against Muna people who migrate to the southeast peninsula of Sulawesi Island. The theory for reading data is Foucault's thinking about discourse. The results of the study, Muna people who migrated to mount Jati Kendari City are still cultivating moringa. While the Muna people who migrate to Ulunese Village, East Kolono District no longer cultivate Moringa because nature is less supportive. As a result, traditional knowledge and skills of cultivating and utilizing Moringa disappeared. Moringa plants have been scientifically proven to contain highly nutritious nutrients. One of them is to overcome malnutrition in toddlers, which can increase hemoglobin (Hb) levels in adolescent girls. Currently, Moringa has been consumed by other tribes such as the Tolaki, Bugis, Bajo, Moronene, and Javanese. Ideally, these conditions are an economic opportunity for the people of Muna. But in reality in Gunung Jati Village, Kendari City, Moringa is only for family consumption and does not make them cultivate moringa more widely. Similarly, the Muna people in Ulunese Village do not try to cultivate Moringa to meet the needs of consumers. The government should be able to provide counseling on moringa economic opportunities.
Budidaya Tanaman Kelor (Moringa Oleifera L) di Masyarakat Wolio
Wa Ode Winesty Sofyani;
Wa Ode Sifatu;
Hasniah Hasniah;
Hartini Hartini;
Israwati Israwati
Jurnal Agrimanex: Agribusiness, Rural Management, and Development Extension Vol. 2 No. 2 (2022): Maret
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Singaperbangsa Karawang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35706/agrimanex.v2i2.6617
The purpose of this study is to find out the cultivation of moringa plants (Moringa oleifera Lam.) according to the views of the Wolio society. This research was conducted in Baubau, Southeast Sulawesi Province because Wolio society are culturally and hereditary supporters of moringa plants. To collect data used ethnographic methods, by combining techniques: observation participation (observation participation), and in-depth interviews (in-depth interview). The results showed that the cultivation of Moringa plants in the Wolio society is still carried out traditionally based on local knowledge of the society. Moringa cultivation in this area is an effort to align nature with plants that can be productive and adaptive in various places throughout the season. Cultivating moringa plants is a wise decision that benefits the society of Wolio since then and now, also shows the existence of local wisdom, among others, in terms of: land selection, seed selection, harvest techniques, post-harvest, and others.
PENGARUH IKATAN SOSIAL TERHADAP LOYALITAS NASABAH DENGAN KEPERCAYAAN NASABAH SEBAGAI VARIABEL MODERASI
Juharsah Juharsah;
Yusuf Yusuf;
Hartini Hartini
Creative Research Management Journal Vol 1 No 2 (2018): December
Publisher : Universitas Prof. Dr. Hazairin SH
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (424.59 KB)
|
DOI: 10.32663/crmj.v1i2.628
The present research intends to identify and analyze the effects of social bonding on customers loyalty, and analyze the effects of social bonding on customers loyalty with customer trust as a moderating variable. Population is the all customer product deposit of the Bank Sultra Branch Konawe, with a total sample of 100 respondents. Respondents were taken by convenience sampling method. Data is obtained by the questionnaire method. The data is then analyzed by structural equation modeling method using AMOS software version 24.0. Results reveal that; Social bonding has a significant effect on customer loyalty; and customer trust moderates the effect of social bonding on customer loyalty, with a position as a quasi moderator.