Hartini Hartini
Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

MINUM KAMEKO PADA MASYARAKAT MUNA DI PERANTAUAN Nurmika Nurmika; Hartini Hartini
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 7 No 2 (2018): Volume 7 Nomor 2, Juni 2018
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.888 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v7i2.525

Abstract

This study aims to find out and describe the activities of drinking kameko among the Muna people overseas. Data collection techniques are carried out through in-depth observation and interviews. This study uses Herbert Herbert's theory, thinking about the evolution of law. The results of the study show that drinking activity in the past still upholds ethical values. It contains a symbol of social solidarity that strengthens kinship relations. So that the Muna people consider Kameko a traditional drink. Because the drinking activity of Kameko always fills every traditional activity of the local community. The same conditions are no longer found among the Muna people overseas. Kameko is more seen as a mere alcoholic drink which tends to have a negative impact that is troubling the community. Keywords: kameko drinking, societies, overseas, Munanese
DINAMIKA KEPEMILIKAN LAHAN OLEH KELOMPOK MASYARAKAT DI KAWASAN HUTAN KONTU Muin Mustawa; La Ode Topo Jers; Hartini hartini
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 2 (2019): Volume 8 Nomor 2, Juni 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.958 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i2.591

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika kepemilikan lahan di kawasan Hutan Kontu oleh masyarakat, serta mendeskripsikan aktivitas masyarakat dalam mengelola lahan di kawasan Hutan Kontu. Data diperoleh melalui penelitian lapangan dengan menggunakan Teknik wawancara teknik pengamatan (observation) dan wawancara (interview). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) dinamika status kepemilikan lahan di kawasan hutan Kontu terjadi karena adanya perlawanan masyarakat dengan saling klaim antara masyarakat dengan Pemerintah Daerah Muna. Masyarakat Kontu mengklaim Kawasan Kontu sebagai warisan leluhur nenek moyang mereka dengan luas 401,59 Hektar, dengan bukti adanya makam tua La Kundofani. Disisi lain Pemerintah Daerah Muna mengklaim lahan itu merupakan bagian dari Kawasan hutan Jompi dan Kawasan Hutan Kontu berdasarkan SK Menhutbun Nomor 454 Tahun 1999 dengan luas 1.927 Hektar sebagai hutan lindung; (b) Masyarakat melakukan aktivitas Bertani dan berkebun di kawasan hutan Kontu. Aktivitas tersebut dilakukanuntuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta membangun sarana dan prasarana, serta untuk menunjang peningkatan taraf hidup masyarakat setempat.
MESOKO: SOLIDARITAS PADA MASYARAKAT TOLAKI DI DESA PALOWEWU KECAMATAN BENUA KABUPATEN KONAWE SELATAN Rikarni Rikarni; Akhmad Marhadi; Hartini Hartini
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 1 (2019): Volume 8 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.273 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i1.596

Abstract

Mesoko merupakan tradisi etnik Tolaki yang mencerminkan bentuk solidaritas masyarakat. Tradisi ini dilakukan untuk memberikan bantuan kepada keluarga atau orang lain yang membutuhkan bantuan secara materil. Seiring perkembangan jaman, mesoko juga terus mengalami perubahan sehingga sedikit ada perbedaan dengan beberapa tempat lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan serta fungsi tradisi mesoko di Desa Palowewu. Data kualitatif dikumpulkan melalui teknik wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa pelaksanaan tradisi mesoko di masyarakat Palowewu, sering dijumpai pada tiga jenis hajatan, yakni mesoko pernikahan, mesoko orang sakit dan mesoko pendidikan. Proses pelaksanaan mesoko terbagi dalam tiga tahapan atau proses yakni (1) menyampaikan maksud atau niat; (2) menyampaikan undangan atau menyebar informasi dan (3) pelaksanaan mesoko. Tradisi ini memiliki beberapa fungsi, mulai dari fungsi kekerabatan, fungsi solidaritas, fungsi pengontrol sosial, fungsi ekonomi, hingga fungsi pemertahanan budaya.
KABOLOSI : NENEK PENJAGA MAKAM DESA BARUTA KECAMATAN SANGIA WAMBULU KABUPATEN BUTON TENGAH Sri Wualandari Indara; La Janu; Hartini Hartini
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 4 No 1 (2020): Volume 4, Nomor 1, Januari - Juni 2020
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.39 KB) | DOI: 10.33772/kabanti.v4i1.924

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui syarat-syarat menjadi nenek Kabolosi di Desa Baruta Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah peran nenek kabolosi dalam menjaga makam Buton Tengah i. Teori yang digunakan adalah teori Ritus oleh Van Gennep. Metode Desa Baruta Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah dan mengetahui pandanga masyarakat tethadap peran Nenek Kabolos Desa Baruta Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten penelitian yang digunakan adalah metode etografi berupa deskripsi mendalam dengan pengumpulan data menggunakan metode pengamatan (Observation) dan wawancara mendalam (Indepth Interview). Hasil penelitian menujukan bahwa terdapat syarat-syarat untuk menjadi nenek Kabolosi yaitu berasal dari garis keturunan kabolosi sebelumnya, perempuan, telah berstatus janda, mengalami menopouse dan berahlak yang baik. Peran nenek kabolosi dalam menjaga makam adalah wajib tinggal di lambu balano ( rumah besar) dan menjadi perantara meyampaikan doa. Sedangkan pandangan masyarakat terhadap peran nenek Kabolosi yang sesuai dengan peran yang diemban adalah sebuah kewajiban dan menjadi orag yang snagat dihargai dalam masyarakat.
PENGELOLAAN OBJEK WISATA SUNGAI BORO-BORO BERBASIS KEKERABATAN Natalia Gongsi; Akhmad Marhadi; Hartini Hartini
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 4 No 2 (2020): Volume 4, Nomor 2, Juli - Desember 2020
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.863 KB) | DOI: 10.33772/kabanti.v4i2.956

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengelolaan objek wisata sungai Boro-Boro dan pengembangan objek wisata sungai Boro-Boro di Desa Boro-Boro Kecamatan RanomeetoKabupaten Konawe Selatan. Teknik penelitian menggunakan metode etnografi. Penelitian ini juga menggunakan teori pengembangan oleh Twelvetrees. Penelitian ini telah mendapatkan data-data sesuai dengan judul, peneliti melakukan peneliti lapangan yang lebih konkrit dengan melakukan wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terkait serta data sekunder berupa data profil desa. Hasil penelitian membuktikan bahwa dalam pengelolaan objek wisata sungai Boro-Boro yang berada di Desa Boro-Boro Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan dikelolah oleh enam bersaudara yang tidak lain adalah anak dari pemilik lahan yaitu Bapak Lauto dan mereka juga merupakan ahli waris tanah yang saat dijadikan sebagai tempat objek wisata. Pengelolaannya dari tahun 2018 sampai saat ini masih terbilang sangat minim jika dibandingkan dengan objek wisata yang lain, terlebih lagi dana untuk pembangunan fasilitas hanya berasal dari retribusi para pengunjung. Namun pengembangan objek wisata sungai boro-boro sudah bisa memenuhi kebutuhan para wisatawan hal ini di tandai dengan adanya beberapa gazebo yang berdiri tepat dipinggir sungai, rumah makan, WC, tambak ikan, dan juga terdapat beberapa villa yang tersedia jika para wisatawan yang hendak ingin bermalam atau melakukan kegiatan di objek wisata sungai boro-boro tersebut. Objek wisata ini juga diharapkan mampu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Desa khususnya Desa Boro-boro Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan.
STUDI DI SEKOLAH DANCER YUDHA MANAGEMENT DI KOTA KENDARI Elma Belina Sari; Hartini Hartini
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 3 No 1 (2019): Volume 3 Nomor 1, Juni 2019
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.624 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis Bagaimanan proses Tari Modern (Modern Dancer) di Yudha Management Kendari serta Apa fungsi tari modern di Sekolah Yudha Management Kendari. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September hingga November 2018. Penelitian ini menggunkan teori fungsionalisme Bronislaw Malinowski Tentang interaksi yang konstan antara organisme dan lingkungan pergaulan sekunder yang ada. Metode yang yang digunakan dalam penelitian ini yaitu meode etnografi dengan pengumpulan data yang dilakukan menggunkan teknik pengamatan (Obsevation) dan wawancara mendalam (Indepth interview). Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif, analisis data dimaksudkan untuk menyederhanakan data yang diperoleh ke dalam bentuk yang lebih muda di baca dan diinterpretasikan. Hasil penelitian ini menujukan bahwa tarian modern memiliki tahap-tahap persiapan dan tahap-tahap pelaksanaannya serta memiliki fungsi estetika, fungsi kelenturan melatih daya ingat, memberikan rasa percaya diri, koordinasi sesama anggota, sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa tarian modern di Yudha Mangement bukan hanya berfungsi sebagai penghasil ekonomi namun juga dapat melatih kekaraban sesama anggota sehingga dengan adanya tarian modern ini mampu menambah wawasan khususnya dibidang ilmu teknologi.
MAHASISWA DRIVER OJEK ONLINE (GRAB) UNIVERSITAS HALU OLEO Ersa Trialmawati; Hartini Hartini
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 5 No 2 (2021): Volume 5 Nomor 2, Juli - Desember 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.717 KB) | DOI: 10.33772/kabanti.v5i2.1274

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengapa mahasiswa memilih bekerja sebagai driver grabbike dan mengetahui hambatan yang dihadapi mahasiswa selama menjadi driver grabbike. Penelitian ini menggunakan teori Fenomenologis oleh Berger dan Luckmann, dengan metode snowball sampling dan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah teknik lapangan (field research) wawancara mendalam (indepth interview), dan Pengamatan biasa. Hasil penelitian menunjukan bahwa, mahasiswa memilih menjadi driver grabbike karena melihat adanya peluang penghasilan yang cukup bagus dan dapat memenuhi kebutuhan pribadi mereka sehingga tidak memberatkan orang tua. Tidak memiliki persyaratan yang rumit dan juga sistem kerja yang fleksibel sehingga pekerjaan tersebut bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun, kemudian hambatan yang dihadapi mahasiswa selama menjadi driver grabbike adalah susah membagi waktu antara belajar dan bekerja, adanya kecemburuan sosial terhadap sesama tukang ojek, mendapatkan orderan yang fiktif, pelanggan yang memasang titik penjemputan tidak sesuai lokasi, dan sepeda motor yang digunakan untuk bekerja terkadang mengalami masalah ataupun kerusakan.
PERILAKU MASYARAKAT PESISIR PANTAI DALAM MENGELOLA SAMPAH Ilyas Ilyas; Hartini Hartini
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol 6 No 1 (2022): Volume 6 Nomor 1, Juni 2022
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/kabanti.v6i1.1445

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku masyarakat pesisir pantai dalam mengelola sampah. Penelitian ini menggunakan teori model of dan model for oleh Clifford Geertz, dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif berbasis etnografi. Penelitian ini menujukkan bahwa Perilaku masyarakat pesisir pantai di Kelurahan Petoaha dalam mengelola sampah masih tergolong kurang baik. Karena, sampah yang dihasilkan sehari-hari semuanya berakhir di tempat pembuangan sampah dan laut. Pelakunya pun beragam mulai anak-anak, remaja, ibu rumah tangga, hingga kepala rumah tangga. Namun, untuk sampah ibu rumah tangga yang dibuang ke tempat pembuangan sampah sebelumnya ditampung terlebih dahulu di dalam rumah lalu, dibuang ke tempat sampah depan rumah atau biasa juga langsung ke laut. Hal ini karena masyarakat pesisir pantai jarang mengikuti edukasi dan berpartisipasi dalam kegiatan yang dilakukan pemerintah terkait sampah. Pemerintah Kelurahan Petoaha telah membuat program dan eduksi terkait sampah, membangun sarana dan prasarana yang dapat menunjang masyarakat pesisir pantai agar dapat hidup bersih dan sehat. Namun, kembali lagi dari kesadaran masyarakat yang masih kurang baik membuat keberadaan sampah ada di mana-mana.
SOMPA DALAM PERKAWINAN ORANG BUGIS BONE DI DESA MARGA JAYA KECAMATAN RAROWATU UTARA KABUPATEN BOMBANA Wahyu Indah Permatasari; Hasniah Hasniah; Hartini Hartini
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol. 6 No. 2 (2022): Volume 6 Nomor 2, Desember 2022
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan penetapan sompa dan makna sompai dalam perkawinan orang Bugis Bone. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori simbol Victor Turner menggunakan metode etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi penetapan sompa dalam perkawinan orang Bugis Bone yang ada di Desa Marga Jaya masih melihat kesetaraan status sosial kepada calon pengantin perempuan. Selain itu, tradisi ini harus dilakukan oleh orang Bugis Bone sebagai tanda bahwa ada syarat-syarat yang dilakukan sebelum menikah. Dengan demikian, permintaan sompa dan uang panai yang tinggi sesuai dengan permintaan dari keluarga perempuan melalui juru bicara yang diutus untuk ikut dalam acara pelamaran atau penjajakan. Simbol-simbol dalam sompa tersebut dimaknai bahwa kelak kehidupan rumah tangga mereka tetap aman, harmonis dan penuh kasih sayang.
PERUBAHAN POLA TANAM DARI BERTANI JAGUNG KE SAWAH ( PETANI MASYARAKAT WAKUMORO KECAMATAN PARIGI KABUPATEN MUNA) Lufty Alfirah; Hartini Hartini
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol. 7 No. 1 (2023): Volume 7, Nomor 1, Juni 2023
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine changes in cropping patterns and factors that influence changes in cropping patterns carried out by farmers in Wakumoro Village, Parigi District. The method used is ethnography. Data collection was carried out using observation techniques and in-depth interviews as well as purposive sampling informant selection techniques. The data obtained were analyzed descriptively. That the change in cropping patterns from corn to rice carried out by the farmers in Wakumoro Village is an option for improving their economy as traditional farmers, where the income from rice yields is quite promising, when compared to corn, the superiority of rice is very clear compared to corn, even though corn has abundant yields for farmers in Wakumoro Village but the selling price is not comparable and not what farmers expect, where corn has prices that tend to be cheaper than rice, besides that abundant corn yields are one of the obstacles for farmers This is due to the large corn yields which reach tons in one harvest, there is no reservoir and all will not be sold.