Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Menggali Minangkabau dalam film dengan mise-en-scene Herry Nur Hidayat; Bani Sudardi; Sahid Teguh Widodo; Sri Kusumo Habsari
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): March 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.29433

Abstract

Sejarah perkembangan industri perfilman Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari muatan lokalitas sebagai sumber penciptaan. Sebagai salah satu etnik di Indonesia, Minangkabau diketahui telah menjadi sumber penciptaan film, bahkan sejak awal pertumbuhan industri film di Indonesia. Oleh karena beragamnya unsur keminangkabauan, tidak mudah menampilkan unsur-unsur keminangkabauan yang telah dikenal khalayak penonton. Akan tetapi, kajian sebelumnya terhadap muatan keminangkabauan dalam film seolah mengabaikan citraan visual (visual image) ini. Melalui pendekatan mise-en-scene, artikel ini menguraikan unsur-unsur keminangkabauan yang ditampilkan dalam film, baik visual maupun unsur naratifnya. Di samping itu, artikel ini juga mencoba menjawab beragam kritik etnisitas atas film bermuatan Minangkabau. Analisis difokuskan pada citraan visual unsur keminangkabauan yang berhubungan dengan tokoh dan latar sebagai pembangun aspek naratif dalam tujuh film terpilih. Hasil analisis menunjukkan bahwa citraan visual ikon-ikon Minangkabau tampak mendominasi unsur keminangkabauan dalam film, yaitu rumah gadang, rangkiang, dan pakaian. Ikon visual tersebut muncul dalam bentuk desain pelataran dan propertinya. Beberapa adegan yang menampilkan rumah gadang menunjukkan pula peran dan kedudukan mamak rumah dalam sistem kekerabatan serta representasi demokrasi di Minangkabau. Tampaknya, aspek visual unsur keminangkabauan tersebut ditampilkan untuk memperkuat latar tempat dan sosial sebagai sarana penceritaan. Di samping itu, dapat pula disampaikan bahwa tampilnya unsur keminangkabauan tidak secara mutlak menggambarkan Minangkabau.
Sosialisasi Dan Pelatihan Alih Media Kaba Rona Almos; Herry Nur Hidayat; Wasana Wasana; Meigalia Meigalia
Warta Pengabdian Andalas Vol 23 No 1 (2016): Warta Pengabdian Andalas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jwa.23.1.10.2016

Abstract

Dalam upaya mengenalkan dan melestarikan karya seni budaya tradisi kaba, adanya sebuah transformasi tersebut. transfromasi itu adalah perubahan menjadi bentuk komik sehingga diharapkan akan lebih mudah diterima oleh khalayak penikmat terutama remaja dan anak-anak. Kegiatan ini adalah wujud kelanjutan hasil penelitian terhadap kemungkinan transformasi cerita kaba menjadi cerita anak dan komik. Pelaksanaan kegiatan berisi diskusi dan pelatihan alih media kaba menjadi carita anakdan komik. Oleh karenanya, kegiatan ini dilaksanakan dalam dua bagian, ceramah dan diskusi serta pelatihan singkat. Berdasarkan pengamatan terhadap kegiatan ini, diperoleh simpulan kurangnya materi dan bahan ajar muatan lokal yang lebih menarik dan diterima oleh siswa didik untuk peningkatan pengetahuan mereka terhadap muatan lokal keminangkabauan, terbatasnya pengembangan muatan keminangkabauan, penguasaan materi keminangkabauan yang tinggi tidak diimbangi dengan kreativitas pengolahannya menjadi bahan ajar yang lebih baik.
HARGA DIRI DAN STATUS SOSIAL: MOTIF MERANTAU ORANG MINANGKABAU DALAM FILM (Pride and Social Status: The Migrating Motive Minangkabau People in Cinema) Herry Nur Hidayat; Bani Sudardi; Sahid Teguh Widodo; Sri Kusumo Habsari
Kandai Vol 17, No 2 (2021): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v17i2.2805

Abstract

Merantau has known as the Minangkabau ethnic identity. As a social behavior, merantau shows a change in concepts and motives. Technological developments, especially in transportation, are slowly shifting the concept of merantau to broaden its reach, followed by changes in motives. Merantau is no longer seen as a learning behavior and process, but is more economical, looking for a better life. This article explores and describes the merantau in the film with merantau from the Minangkabau community through a semiotic study. As a result, the change in the concept and motive for merantau in the film represents the merantau Minangkabau society. Through the movie characters, the motive for merantau, who seems to have an educational background in the film driveby personal motivation, namely self-esteem and social status, which in directly indicates economic motives.Merantau telah dikenal sebagai identitas etnik Minangkabau. Sebagai sebuah perilaku sosial, merantau menunjukkan perubahan konsep dan motifnya. Perkembangan teknologi, terutama transportasi, secara perlahan menggeser konsep merantau menjadi meluas jangkauannya yang diiringi pula dengan perubahan motifnya. Merantau tidak lagi dipandang sebagai perilaku dan proses pembelajaran melainkan lebih bersifat ekonomis, yaitu mencari kehidupan yang lebih baik. Melalui kajian tekstual, artikel ini menggali dan menguraikan perilaku merantau yang ditampilkan dalam film dalam hubungannya dengan perilaku merantau masyarakat Minangkabau. Hasilnya, perubahan konsep dan motif merantau dalam film adalah bentuk representasi merantau masyarakat Minangkabau. Melalui tokoh-tokohnya, motif merantau yang tampaknya berlatar belakang pendidikan dalam film didorong oleh motivasi personal, yaitu harga diri dan status sosial yang secara tidak langsung menunjukkan motif ekonomis.
GENDER BIAS AS REFLECTED ON UPIN & IPIN THE SERIES Herry Nur Hidayat; Wasana Wasana
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1642

Abstract

This paper describes gender bias as reflected in Upin & Ipin the series. This study employed qualitative research methods in which the objects were observed repeatedly to construct indicators that reflected gender bias. Then it was followed by analyzing them within sociological and feminist perspectives. It showed that there was an imbalance in gender position within several episodes of Upin & Ipin. As one of the media forms that later on becoming an instructional media, it should posit its position neutrally in the term of gender issues. The content of the gender bias in Upin & Ipin reflected within characters and settings. It reflected as the characters articulate their dialogues and behave in their daily life. There was a tendency to determine the ownership of boys and girls based on colors and things. In this case, pink regarded as to belong to girls. Also, there was a tendency to describe that girls and boys behave differently. For example, girls should be gentle and neat, and boys should be strong and brave. In the term of setting, gender bias reflected in the domination of areas that boys dominate outdoor public space while girls are in the domestic sector (households). Abstrak: Artikel ini memaparkan hasil penelitian terhadap serial animasi Upin & Ipin yang memperlihatkan bias gender dalam beberapa episodenya. Sebagai salah satu bentuk media yang kemudian menjadi media pembelajaran seharusnya bisa berposisi netral dalam hal gender. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Objek material diamati secara berulang untuk memperoleh indikator yang menunjukkan bias gender yang kemudian dianalisis dalam kerangka sosiologi dan perspektif feminisme. Hasil penelitian menunjukkan muatan bias gender dalam Upin & Ipin terdapat dalam tokoh dan penokohan serta pembentukan latar. Dalam tokoh dan penokohan serial animasi ini, melalui dialog dan lakuannya, terdapat kecenderungan “kepemilikkan” warna dan benda tertentu. Dalam hal ini, warna merah muda dianggap sebagai warna “milik” perempuan. Di samping itu, terdapat pula kecenderungan sifat dan perilaku perempuan dan laki-laki. Perempuan harus memiliki sifat lembut dan rapi sementara laki-laki harus keras dan berani. Dalam latar cerita, muatan bias gender muncul sebagai bentuk wilayah dominasi perempuan dan laki-laki. Perempuan dibatasi dalam wilayah domestik rumah tangga sementara laki-laki berada di wilayah luar (publik)..
United Nations of Rendang: Meme dalam Perspektif Strukturalisme Lévi-Strauss Herry Nur Hidayat
Jurnal Lingua Idea Vol 10 No 2 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.81 KB) | DOI: 10.20884/1.jli.2019.10.2.2054

Abstract

This article analized meme United Nations of Rendang through Levi-Struss structuralism perspective. In this case, social an culture seen as a structure which shows human unconsiuous to structuring a phenomenon. Sign interrelation in United Nations of Rendang as a structure automatically relate to the other meme which is another structure. Those sign convey to the surface structure and reveal the deep structure of this phenomenon. As a result, meme United Nations of Rendang shows rejection on Masterchef jury for the criticism on rendang as surface structure. This surface structure lead to awareness of same region country, awareness of western culinary domination, and a rejection for western culinary domination as deep structure.
PENGEMBANGAN MOTIF UKIRAN RUMAH GADANG UNTUK MOTIF KAIN Herry Nur Hidayat
Jurnal Lingua Idea Vol 9 No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1031.517 KB)

Abstract

This article describes the effort to develop ornamental motifs that are found in rumah gadang, Minangkabau traditional house, become decorative motif for cloth. Decorative motifs of cloth is not only in the form of batik motifs, but also the possibility for motif embroidered, songket, and fashion design. There are 76 motives found which are grouped based on motives meaning. meanwhile, these motives were selected based on the design possibility for batik, songket, and fashion motif. This work is one of revitalization effort of traditional works.. In addition, this effort is expected to become one of the alternative of entrepreneurship development within the framework of local content-based creative industries.
PELECEHAN TERHADAP PEREMPUAN DALAM MEME Herry Nur Hidayat; Tienn Immerry
Kafa`ah: Journal of Gender Studies Vol 10, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/jk.v10i2.330

Abstract

The rapid spread of a meme thought to influence both individual and social behavior. The meme uses symbols to convey ideas and ideas. In practice, memes are also used as a means of patriarchal power legitimation through symbolic violence. Through the processing of language and images into symbols, memes are thought to be a tool of men's legitimacy. This article discusses several forms of content of harassment against women in the form of internet memes. First, the memes are analyzed by grasping the meaning of the symbols in them using semiotics' theory. Then, using Pierre Bourdieu's symbolic violence theory: habitus, capital, arenas, and symbolic violence, memes are analyzed to find the factors that cause the appearance of memes with the content of harassment against women. The results indicate that stereotype, gender bias, and mental structure are habitus structure which plays an essential role so that symbolic violence becomes natural for its victims. The internet, as an arena, has become the initial capital for men to dominate. Also, naming and mentioning are forms of symbolic violence against women by forming certain boundaries and categories.
Industri Kreatif Berbasis Potensi Seni Dan Sosial Budaya Di Sumatera Barat Bahren Bahren; Herry Nur Nur Hidayat; Sudarmoko Sudarmoko; Virtuous Setyaka
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 16, No 1 (2014): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.947 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v16i1.24

Abstract

Tulisan   ini  ditujukan   untuk  menganalisis   perkembangan   dan  konsep  dasar industri  kreatif  berbasis  potensi  sosial  budaya  di  Sumatera  Barat,  khususnya dalam bidang  seni dan budaya.  Secara umum, seni tidak memiliki  posisi yang ideal dalam pengembangan industri kreatif. Akan tetapi, berdasarkan pada pengamatan  dan wawancara yang telah dilakukan dalam penelitian ini, terdapat beberapa   komunitas   dan   seniman   yang   menyiapkan   diri   dan   menerapkan manajemen  modern  dalam  produksi  seninya.  Seni  memiliki  hubungan  yang dilematis  dengan  industri,  antara  nilai  estetika  dan  nilai  pasar.  Dalam  situasi seperti  ini,  manajemen  memiliki  posisi  yang  penting  dalam  upaya menghubungkan  dan menjembatani  antara seniman,  pasar, pemerintah,  kritikus dan para ahli. Dengan menggunakan metode triple helix, diketahui bahwa daerah terpilih dalam penelitian ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan industri kreatifnya,   baik   itu   karena   potensi   artistik,   lokasi,   seniman,   pemerintah, masyarakat dan pihak terkait lainnya.
United Nations of Rendang: Meme dalam Perspektif Strukturalisme Lévi-Strauss Herry Nur Hidayat
Jurnal Lingua Idea Vol 10 No 2 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jli.2019.10.2.2054

Abstract

This article analized meme United Nations of Rendang through Levi-Struss structuralism perspective. In this case, social an culture seen as a structure which shows human unconsiuous to structuring a phenomenon. Sign interrelation in United Nations of Rendang as a structure automatically relate to the other meme which is another structure. Those sign convey to the surface structure and reveal the deep structure of this phenomenon. As a result, meme United Nations of Rendang shows rejection on Masterchef jury for the criticism on rendang as surface structure. This surface structure lead to awareness of same region country, awareness of western culinary domination, and a rejection for western culinary domination as deep structure.
AKSESIBILITAS DAN INKLUSIVITAS ORANG TULI DI RUANG PUBLIK Herry Nur Hidayat; Rona Almos; Alies Poetri Lintangsari
Jurnal Kebijakan Publik Vol 14, No 4 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkp.v14i4.8346

Abstract

Ruang publik harus memberikan kenyamanan bagi seluruh warga negara. Namun dalam praktiknya, hak-hak penyandang disabilitas masih terbatas. Pemahaman tentang penyandang disabilitas di Indonesia tampaknya masih cenderung pada orientasi fisik, yaitu disabilitas netra dan pengguna kursi roda. Penyandang Tuli, pada beberapa fasilitas transportasi publik tampak terabaikan haknya. Artikel ini memaparkan hasil observasi terhadap aksesibilitas disabilitas di ruang transportasi publik yang belum mengakomodasi kebutuhan dan hak penyandang Tuli. Keterbatasan Tuli dalam berkomunikasi belum terakomodasi secara optimal oleh layanan transportasi publik. Hasil pengamatan menunjukkan kurang maksimalnya penyediaan fasilitas bagi penyandang Tuli di terminal bus, stasiun, dan bandar udara. Regulasi peraturan perundangan yang telah ada tidak secara maksimal dilaksanakan oleh penyelenggara layanan transportasi publik. Hasil analisis menunjukkan tidak tersedianya fasilitas bagi penyandang Tuli santara lain tidak adanya koordinasi antarinstansi pemangku kebijakan. Di samping itu, aspek pengawasan juga terabaikan. Rekomendasi yang diberikan melalui artikel ini adalah pembuatan tanda visual real time bagi penyandang Tuli, baik berupa gambar, teks berjalan, maupun lampu. Di samping itu, kinerja Komisi Nasional Disabilitas harus dimaksimalkan untuk memantau dan mengawai penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak disabilitas termasuk penyandang Tuli.