Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Intellectual mapping of the sign language role in deaf education: forecasting future reforms Almos, Rona; Lintangsari, Alies Poetri; Hidayat, Herry Nur
International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE) Vol 14, No 1: February 2025
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijere.v14i1.28265

Abstract

Over the five decades, debatable approaches on deaf education are tangled in the issues of oralism and manualism. The later has valued sign language as the significant factor in the effort of providing quality deaf education. This research aims at mapping the intellectual reports on sign language position in deaf education from 1972 until 2023 including 1,000 documents from Web of Science database. This research use VOS Viewer by implementing co-citation analysis, bibliographic coupling and co-occurrence analysis to see the development of the research, the network and the emerging topical focus. The results suggest that sign language plays the pivotal role in deaf education that predict the future reforms of education for the deaf in form of bilingual education and technology integration. Other significances related to the top discussed themes, the leading authors, the influential publishers are also discussed to seek the interweaving connection among the subemergent research foci.
MINANGKABAU DI PERSIMPANGAN: ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP FILM SURGA DI TELAPAK KAKI IBU Hidayat, Herry Nur
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.13072

Abstract

Artikel ini membahas film berjudul Surga di Telapak Kaki Ibu (2016, Sony Gaokasak). Secara umum, film ini bercerita tentang perubahan perilaku sosial di Minangkabau. Perubahan tersebut diduga terjadi oleh karena pertentangan dunia tradisi dengan modernisasi. Dalam penelitian ini, film Surga di Telapak Kaki Ibu dipandang sebagai perilaku berbahasa. Teknik analisis mendasarkan pada tangkapan layar terhadap adegan film (shot) yang dibagi dalam kategori adegan (scene) yang berurutan (sequence) yang membangun cerita (story). Di samping itu, kajian juga mempertimbangkan aspek naratif dalam kerangka mise en scene yang meliputi tokoh dan penokohan, latar dan pelataran, dan fokalisasi (point of view). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh-tokoh dalam film ini merepresentasikan perubahan perilaku sosial di Minangkabau. Terdapat perubahan persepsi atas sistem kekerabatan matrilineal yang dianggap rumit dan kompleks. Di samping itu, perubahan persepsi tersebut akhirnya membawa pada perubahan persepsi atas sistem perkawinan, sistem pewarisan harta, dan kedudukan perempuan di Minangkabau.Kata kunci: Minangkabau, sosial, wacana kritis, film
Representation of Minangkabau in the film Onde Mande! Hidayat, Herry N; Firmansyah, Okta
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 27, No 1 (2025): Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v27i1.4975

Abstract

This article describes the results of the film study on Onde Mande! (2023, Paul Fauzan Agusta). In general, this film tells the story of the conflicts and intrigues that occurred among residents on the shores of Lake Maninjau who intended to build their village. However, there is a discourse in the story's structure. This film's narrative structure does not only show Minangkabau's life and culture. In this research, the film Onde Mande! is seen as the language behavior of a social group. The analysis technique is based on the storytelling structure, which includes characterization, setting, and focalization (point of view). The characters' actions are analyzed through screenshots and divided into categories of sequential scenes. The results of both analyses are then analyzed further by viewing it as a representation of a society, in this case, the Minangkabau, through the symbols in the film. As a result, the narrative of this film builds the character of the Minangkabau people, who are proud of their Minangkabau heritage. They are willing to sacrifice for the progress and prosperity of their hometown. On the other hand, the meaning of the emerging symbols builds up a discourse on power relations. This film creates the impression of social protest against the reigns. The ruler's inability to improve the welfare of his people must be paid for by the fraudulent actions of members of his society.
SASTRA LISAN BAGURAU PADA LAMAN FACEBOOK “MALAM BAGURAU MENDUNIA”: SEBUAH DESKRIPSI SINGKAT Izati, Nurul; Meigalia, Eka; Gayatri, Satya; Hidayat, Herry Nur
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Elektronik Wacana Etnik 11 (2) 2022
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/we.v11.i2.195

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pertunjukan bagurau yang diselenggarakan oleh komunitas daring “Malam Bagurau Mendunia” di Kota Padang, Sumatera Barat. Bagurau, sebagai genre sastra lisan Minangkabau berupa dialog lelucon dalam bentuk pantun yang diiringi musik tradisional, mengalami adaptasi signifikan melalui pemanfaatan platform media sosial Facebook sebagai wadah utama pertunjukan selama pandemi Covid-19. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan anggota “Malam Bagurau Mendunia” untuk mengumpulkan data mengenai sejarah pembentukan komunitas daring, format pertunjukan, karakteristik penampil dan perlengkapan, serta interaksi dengan khalayak daring dan luring.Hasil penelitian menunjukkan bahwa “Malam Bagurau Mendunia” berhasil menciptakan ruang virtual untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi bagurau. Pertunjukan daring ini mempertahankan elemen-elemen tradisional seperti dendang dan pantun, namun mengintegrasikan fitur-fitur media sosial untuk interaksi dengan penonton, termasuk request lagu dan donasi daring. Teks pantun yang disajikan bervariasi dalam tema dan fungsi, menjadi daya tarik utama pertunjukan. Khalayak daring yang luas menunjukkan apresiasi terhadap bagurau dan mendukung keberlangsungan komunitas ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa “Malam Bagurau Mendunia” merupakan contoh sukses adaptasi seni tradisional di era digital, membuka peluang baru untuk pelestarian dan promosi warisan budaya Minangkabau.
Folktale Animations with Sign Language as Cultural Literacy Materials for Deaf People Hidayat, Herry Nur; Almos, Rona; Firmansyah, Okta
Indonesian Journal of Disability Studies Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : The Center for Disability Studies and Services Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijds.2025.12.1.9

Abstract

The absence of culturally relevant and accessible literacy materials for the deaf community is a pressing concern that has persisted due to the failure of existing materials to adequately address the unique needs of this demographic. This article expounds on the endeavors to mobilize and promote a culture-based literacy movement for people with disabilities, with a particular focus on Deaf community. In this context, cultural literacy is defined as the understanding and appreciation of a culture's values, beliefs, and practices and the ability to express and interpret these elements through various forms of communication. Visual media constitutes the predominant medium for cultural literacy promotion among Deaf community. The Minangkabau folktale is selected due to its cultural richness. Beyond the transmission of values and norms, folktales are believed to play a pivotal role in shaping and reinforcing the Minangkabau identity of Deaf community. The collection of Minangkabau folktales is curated based on its cultural values. The selected folktale is then adapted into illustrated stories and transformed into animations. These animations, when presented in sign language by JBI (Juru Bahasa Isyarat, or” Sign Language Interpreters”), who play a crucial role in translating the content into sign language, are expected to not only make the content accessible but also to inspire and empower Deaf community. The creation of these animated folktales is poised to serve as a model for enriching cultural literacy materials, particularly for Deaf people.
SASTRA LISAN BAGURAU PADA LAMAN FACEBOOK “MALAM BAGURAU MENDUNIA”: SEBUAH DESKRIPSI SINGKAT Izati, Nurul; Meigalia, Eka; Gayatri, Satya; Hidayat, Herry Nur
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK Vol. 11 No. 2 (2022): Jurnal Elektronik Wacana Etnik 11 (2) 2022
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/we.v11.i2.195

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pertunjukan bagurau yang diselenggarakan oleh komunitas daring “Malam Bagurau Mendunia” di Kota Padang, Sumatera Barat. Bagurau, sebagai genre sastra lisan Minangkabau berupa dialog lelucon dalam bentuk pantun yang diiringi musik tradisional, mengalami adaptasi signifikan melalui pemanfaatan platform media sosial Facebook sebagai wadah utama pertunjukan selama pandemi Covid-19. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan anggota “Malam Bagurau Mendunia” untuk mengumpulkan data mengenai sejarah pembentukan komunitas daring, format pertunjukan, karakteristik penampil dan perlengkapan, serta interaksi dengan khalayak daring dan luring.Hasil penelitian menunjukkan bahwa “Malam Bagurau Mendunia” berhasil menciptakan ruang virtual untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi bagurau. Pertunjukan daring ini mempertahankan elemen-elemen tradisional seperti dendang dan pantun, namun mengintegrasikan fitur-fitur media sosial untuk interaksi dengan penonton, termasuk request lagu dan donasi daring. Teks pantun yang disajikan bervariasi dalam tema dan fungsi, menjadi daya tarik utama pertunjukan. Khalayak daring yang luas menunjukkan apresiasi terhadap bagurau dan mendukung keberlangsungan komunitas ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa “Malam Bagurau Mendunia” merupakan contoh sukses adaptasi seni tradisional di era digital, membuka peluang baru untuk pelestarian dan promosi warisan budaya Minangkabau.