Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

MINANGKABAU DI PERSIMPANGAN: ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP FILM SURGA DI TELAPAK KAKI IBU Hidayat, Herry Nur
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.13072

Abstract

Artikel ini membahas film berjudul Surga di Telapak Kaki Ibu (2016, Sony Gaokasak). Secara umum, film ini bercerita tentang perubahan perilaku sosial di Minangkabau. Perubahan tersebut diduga terjadi oleh karena pertentangan dunia tradisi dengan modernisasi. Dalam penelitian ini, film Surga di Telapak Kaki Ibu dipandang sebagai perilaku berbahasa. Teknik analisis mendasarkan pada tangkapan layar terhadap adegan film (shot) yang dibagi dalam kategori adegan (scene) yang berurutan (sequence) yang membangun cerita (story). Di samping itu, kajian juga mempertimbangkan aspek naratif dalam kerangka mise en scene yang meliputi tokoh dan penokohan, latar dan pelataran, dan fokalisasi (point of view). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh-tokoh dalam film ini merepresentasikan perubahan perilaku sosial di Minangkabau. Terdapat perubahan persepsi atas sistem kekerabatan matrilineal yang dianggap rumit dan kompleks. Di samping itu, perubahan persepsi tersebut akhirnya membawa pada perubahan persepsi atas sistem perkawinan, sistem pewarisan harta, dan kedudukan perempuan di Minangkabau.Kata kunci: Minangkabau, sosial, wacana kritis, film
SASTRA LISAN BAGURAU PADA LAMAN FACEBOOK “MALAM BAGURAU MENDUNIA”: SEBUAH DESKRIPSI SINGKAT Izati, Nurul; Meigalia, Eka; Gayatri, Satya; Hidayat, Herry Nur
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Elektronik Wacana Etnik 11 (2) 2022
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/we.v11.i2.195

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pertunjukan bagurau yang diselenggarakan oleh komunitas daring “Malam Bagurau Mendunia” di Kota Padang, Sumatera Barat. Bagurau, sebagai genre sastra lisan Minangkabau berupa dialog lelucon dalam bentuk pantun yang diiringi musik tradisional, mengalami adaptasi signifikan melalui pemanfaatan platform media sosial Facebook sebagai wadah utama pertunjukan selama pandemi Covid-19. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan anggota “Malam Bagurau Mendunia” untuk mengumpulkan data mengenai sejarah pembentukan komunitas daring, format pertunjukan, karakteristik penampil dan perlengkapan, serta interaksi dengan khalayak daring dan luring.Hasil penelitian menunjukkan bahwa “Malam Bagurau Mendunia” berhasil menciptakan ruang virtual untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi bagurau. Pertunjukan daring ini mempertahankan elemen-elemen tradisional seperti dendang dan pantun, namun mengintegrasikan fitur-fitur media sosial untuk interaksi dengan penonton, termasuk request lagu dan donasi daring. Teks pantun yang disajikan bervariasi dalam tema dan fungsi, menjadi daya tarik utama pertunjukan. Khalayak daring yang luas menunjukkan apresiasi terhadap bagurau dan mendukung keberlangsungan komunitas ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa “Malam Bagurau Mendunia” merupakan contoh sukses adaptasi seni tradisional di era digital, membuka peluang baru untuk pelestarian dan promosi warisan budaya Minangkabau.
Folktale Animations with Sign Language as Cultural Literacy Materials for Deaf People Hidayat, Herry Nur; Almos, Rona; Firmansyah, Okta
Indonesian Journal of Disability Studies Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : The Center for Disability Studies and Services Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijds.2025.12.1.9

Abstract

The absence of culturally relevant and accessible literacy materials for the deaf community is a pressing concern that has persisted due to the failure of existing materials to adequately address the unique needs of this demographic. This article expounds on the endeavors to mobilize and promote a culture-based literacy movement for people with disabilities, with a particular focus on Deaf community. In this context, cultural literacy is defined as the understanding and appreciation of a culture's values, beliefs, and practices and the ability to express and interpret these elements through various forms of communication. Visual media constitutes the predominant medium for cultural literacy promotion among Deaf community. The Minangkabau folktale is selected due to its cultural richness. Beyond the transmission of values and norms, folktales are believed to play a pivotal role in shaping and reinforcing the Minangkabau identity of Deaf community. The collection of Minangkabau folktales is curated based on its cultural values. The selected folktale is then adapted into illustrated stories and transformed into animations. These animations, when presented in sign language by JBI (Juru Bahasa Isyarat, or” Sign Language Interpreters”), who play a crucial role in translating the content into sign language, are expected to not only make the content accessible but also to inspire and empower Deaf community. The creation of these animated folktales is poised to serve as a model for enriching cultural literacy materials, particularly for Deaf people.
SASTRA LISAN BAGURAU PADA LAMAN FACEBOOK “MALAM BAGURAU MENDUNIA”: SEBUAH DESKRIPSI SINGKAT Izati, Nurul; Meigalia, Eka; Gayatri, Satya; Hidayat, Herry Nur
Jurnal Elektronik WACANA ETNIK Vol. 11 No. 2 (2022): Jurnal Elektronik Wacana Etnik 11 (2) 2022
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/we.v11.i2.195

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pertunjukan bagurau yang diselenggarakan oleh komunitas daring “Malam Bagurau Mendunia” di Kota Padang, Sumatera Barat. Bagurau, sebagai genre sastra lisan Minangkabau berupa dialog lelucon dalam bentuk pantun yang diiringi musik tradisional, mengalami adaptasi signifikan melalui pemanfaatan platform media sosial Facebook sebagai wadah utama pertunjukan selama pandemi Covid-19. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan anggota “Malam Bagurau Mendunia” untuk mengumpulkan data mengenai sejarah pembentukan komunitas daring, format pertunjukan, karakteristik penampil dan perlengkapan, serta interaksi dengan khalayak daring dan luring.Hasil penelitian menunjukkan bahwa “Malam Bagurau Mendunia” berhasil menciptakan ruang virtual untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi bagurau. Pertunjukan daring ini mempertahankan elemen-elemen tradisional seperti dendang dan pantun, namun mengintegrasikan fitur-fitur media sosial untuk interaksi dengan penonton, termasuk request lagu dan donasi daring. Teks pantun yang disajikan bervariasi dalam tema dan fungsi, menjadi daya tarik utama pertunjukan. Khalayak daring yang luas menunjukkan apresiasi terhadap bagurau dan mendukung keberlangsungan komunitas ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa “Malam Bagurau Mendunia” merupakan contoh sukses adaptasi seni tradisional di era digital, membuka peluang baru untuk pelestarian dan promosi warisan budaya Minangkabau.
GENDER BIAS AS REFLECTED ON UPIN & IPIN THE SERIES Herry Nur Hidayat; Wasana Wasana
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1642

Abstract

This paper describes gender bias as reflected in Upin & Ipin the series. This study employed qualitative research methods in which the objects were observed repeatedly to construct indicators that reflected gender bias. Then it was followed by analyzing them within sociological and feminist perspectives. It showed that there was an imbalance in gender position within several episodes of Upin & Ipin. As one of the media forms that later on becoming an instructional media, it should posit its position neutrally in the term of gender issues. The content of the gender bias in Upin & Ipin reflected within characters and settings. It reflected as the characters articulate their dialogues and behave in their daily life. There was a tendency to determine the ownership of boys and girls based on colors and things. In this case, pink regarded as to belong to girls. Also, there was a tendency to describe that girls and boys behave differently. For example, girls should be gentle and neat, and boys should be strong and brave. In the term of setting, gender bias reflected in the domination of areas that boys dominate outdoor public space while girls are in the domestic sector (households). Abstrak: Artikel ini memaparkan hasil penelitian terhadap serial animasi Upin & Ipin yang memperlihatkan bias gender dalam beberapa episodenya. Sebagai salah satu bentuk media yang kemudian menjadi media pembelajaran seharusnya bisa berposisi netral dalam hal gender. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Objek material diamati secara berulang untuk memperoleh indikator yang menunjukkan bias gender yang kemudian dianalisis dalam kerangka sosiologi dan perspektif feminisme. Hasil penelitian menunjukkan muatan bias gender dalam Upin & Ipin terdapat dalam tokoh dan penokohan serta pembentukan latar. Dalam tokoh dan penokohan serial animasi ini, melalui dialog dan lakuannya, terdapat kecenderungan “kepemilikkan” warna dan benda tertentu. Dalam hal ini, warna merah muda dianggap sebagai warna “milik” perempuan. Di samping itu, terdapat pula kecenderungan sifat dan perilaku perempuan dan laki-laki. Perempuan harus memiliki sifat lembut dan rapi sementara laki-laki harus keras dan berani. Dalam latar cerita, muatan bias gender muncul sebagai bentuk wilayah dominasi perempuan dan laki-laki. Perempuan dibatasi dalam wilayah domestik rumah tangga sementara laki-laki berada di wilayah luar (publik)..