Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pemanfaatan Kembali Limbah Roti dalam Proses Produksi Makanan Reuse Of Bread Waste In Food Production Process Nurtekto; Ni Komang Ayu Artiningsih
Jurnal Agrifoodtech Vol. 3 No. 1 (2024): Juni : Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/agrifoodtech.v3i1.1969

Abstract

The World Food and Agriculture Organization (FAO) said that one third of the food produced each year, amounting to 1.3 billion tonnes, is food waste. Food waste is food that is fit to be eaten before or after it has expired. Food waste is classified into two: food losse and food waste. food waste based on probability is probably avoidable waste, avoidable food waste, unavoidable food waste. Sampel for probably avoidable waste is breadcrump. But sampel for unavoidable food waste is solid tofu waste. The problem of food waste that has a negative impact on health and the environment can be reduced by utilizing it through the right processing process so that. Reusing food waste will also provide economic value. One of the wastes that can be consumed again but must use a different processing process is probably avoidable waste is the edge of bread that can be made into breadcrumbs, which is flour made from mashed dry bread and waste with the Unavoidable food waste category, for example, is tofu dregs that are reprocessed into tofu dregs flour.
PENGELOLAAN PERSAMPAHAN KABUPATEN KARANGANYAR SEBAGAI PEMENUHAN STRATEGI SANITASI KOTA Subekti, Sri; Apriyanti, Eny; Edy Sudrajat, Agus Sarwo; Artiningsih, Ni Komang Ayu
JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand Vol. 2 No. 1 (2025): JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/4mpcdk29

Abstract

Sampah merupakan buangan hasil proses aktivitas berbentuk padat bersumber dari rumah tangga, pasar, rumah sakit, tempat rekreasi, jalan, pertanian, industri.  Kabupaten Karanganyar luas wilayahnya 76.778,64 Ha terdiri 17 kecamatan, meliputi 177 Desa/Kelurahan (162 Desa dan 15 Kelurahan). Metode yang dilakukan  melakukan survei lapangan untuk mengetahui data persampahan, mengumpulkan referensi tentang persampahan. Kegiatan perencanaan persampahan berjalan dengan maksimal apabila perencanaan persampahan berjalan dengan baik, sehingga tidak akan ada air lindi yang merembes masuk ke dalam tanah. Kesimpulan perlunya pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sampah berkelanjutan dapat mengurangi dampak negatif pada lingkungan serta peningkatan kesehatan pada masyarakat. Hubungan kerjasama antar Organisasi Perangkat Daerah dalam pengelolaan persampahan, pelatihan meningkatkan Sumber Daya Manusia, meningkatkan pengawasan dan pengendalian kegiatan pengelolaan sampah domestik menjadi tanggung jawab OPD, meningkatkan sosialisasi pengelolaan sampah domestik kepada masyarakat, menyusun Standar Operasi Prosedur pengelolaan sampah domestik serta menyosialisasikannya.  
PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DASAR YANG BERKUALITAS UNTUK MENCAPAI SMART LIVING Subekti, Sri; Artiningsih, Ni Komang Ayu; RHJ. Wedyowibowo; Chasanah, Ummi
JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand Vol. 2 No. 2 (2025): JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/vm3f3c24

Abstract

Perpindahan penduduk dari desa ke kota yang tidak terencana dengan baik dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti kemacetan lalu lintas, polusi udara, perubahan lingkungan. Metode yang dilakukan data sekunder, primer, pemanfaatan data dari berbagai sumber untuk mengidentifikasi kebutuhan, merancang solusi. Isu stratregis Kota Tangerang pada periode pembangunan 2024-2026 adanya daya saing pada sektor infrastruktur kota. Permasalahan rendahnya kesadaran masyarakat tentang konsep smart living, ketimpangan digital antara wilayah, kelompok sosial, tingkat pendapatan; kurangnya pemahaman  manfaat teknologi, kesulitan mengadopsi teknologi baru; minat masyarakat masih rendah dalam penggunaan  transportasi angkutan umum. Kurangnya penegakan Peraturan Daerah dengan menggunakan Sistem Informasi Geospasial. Sarana kesehatan individu masih diperlukan peningkatan sarana dan prasarana. Perlunya kerjasama dengan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek dalam perencanaan, pengembangan, pengoperasian layanan transportasi umum perkotaan dalam menyediakan transportasi aman, nyaman, terintegrasi dengan moda transportasi lainnya. Kolaborasi pemerintah dengan dunia usaha dalam Forum Tanggung Jawab Sosial, Lingkungan mewujudkan kota lebih baik dan maju.
PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK KABUPATEN KARANGANYAR SEBAGAI AKSES SANITASI AMAN Subekti, Sri; Apriyanti, Eny; Edy Sudrajat, Agus Sarwo; Artiningsih, Ni Komang Ayu
JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand Vol. 2 No. 2 (2025): JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/42zfg122

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk diikuti meningkatnya kebutuhan air minum, air bersih dan berdampak pada peningkatan jumlah air limbah domestik. Permasalahan masih lemahnya dasar hukum, belum efektif penerapan peraturan yang ada, belum adanya peraturan kewajiban dan sanksi bagi pemerintah kabupaten dalam penyediaan layanan pengelolaan air limbah domestik, belum adanya peraturan terkait kewajiban dan sanksi bagi pemerintah kabupaten dalam memberdayakan masyarakat, badan usaha dalam pengelolaan air limbah domestik, kewajiban penyedotan air limbah domestik untuk masyarakat, industri rumah tangga. Metode melakukan survei lapangan untuk mengetahui data air limbah, RPJMD. Kesimpulan sudah mempunyai dasar hukum pengelolaan Limbah Tinja, Kelembagaan yang menangani air limbah pada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, UPT Pengelolaan Air Limbah. Perlunya kerjasama antar OPD pengelolaan air limbah domestik, pengawasan, pengendalian kegiatan pengelolaan limbah domestik. Penambahn sumber daya manusia, pelatihan pengelolaan limbah domestik kepada masyarakat. Menyusun Standar Operasi Prosedur tentang pengoperasian, pemeliharaan IPAL domestik, sosialisasi SOP kepada operator IPAL.
KAJIAN TINJAUAN KRITIS PENGGUNAAN PEWARNA SINTETIS DALAM INDUSTRI BATIK DAN PENGARUHNYA TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN Ni Komang Ayu Artiningsih; Ery Fatarina; Sri Subekti; Nurtekto
JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand Vol. 3 No. 1 (2026): JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/7nbxjq69

Abstract

Industri batik merupakan warisan budaya yang memiliki kontribusi ekonomi signifikan, terutama di Indonesia. Namun, penggunaan pewarna sintetis dalam proses produksinya menghasilkan limbah cair yang mengandung bahan kimia berbahaya bagi lingkungan. Kajian ini didasarkan pada konsep Sustainable Consumption and Production (SCP) yang dikembangkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP, 2023), yang menekankan pentingnya efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan limbah, dan pencegahan pencemaran dalam kegiatan produksi industri. Selain itu, penelitian ini mengacu pada kajian Lin et al. (2023) yang menjelaskan bahwa limbah zat warna sintetis berpotensi menimbulkan dampak toksik terhadap ekosistem perairan, kesehatan manusia, serta kualitas lingkungan apabila tidak diolah secara memadai. Artikel ini mengkaji dampak limbah cair pewarna batik berbasis kimia terhadap lingkungan serta alternatif pengelolaannya melalui metode studi literatur terhadap berbagai penelitian yang diterbitkan dalam kurun waktu 2020–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa limbah batik mengandung logam berat, zat warna toksik, senyawa organik persisten, serta parameter pencemar seperti Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) yang dapat menurunkan kualitas perairan. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa pembuangan limbah tanpa pengolahan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem akuatik dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat.  Solusi yang ditawarkan meliputi penerapan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), pemanfaatan teknologi adsorpsi dan bioremediasi, penggunaan pewarna alami, serta peningkatan kesadaran lingkungan bagi pelaku industri batik. Kajian ini diharapkan menjadi dasar pengembangan kebijakan dan teknologi tepat guna untuk mendukung keberlanjutan industri batik yang ramah lingkungan.
PENGELOLAAN SAMPAH DOMESTIK KECAMATAN KEDUNGWUNI  PEKALONGAN SEBAGAI PEMENUHAN SANITASI LINGKUNGAN Sri Subekti; RHJ Wedyowibowo; Ni Komang Ayu Artiningsih; Rasyid Hakim Fahmilhuda; Natasya Apriliani Putri Yogie
JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand Vol. 3 No. 1 (2026): JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/z0nrkf26

Abstract

Peningkatan produksi sampah terus bertambah dapat menimbulkan masalah pada lingkungan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Sementara, lahan tempat pembuangan akhir sampah juga makin terbatas.  Kecamatan Kedungwuni  Kabupaten Pekalongan, permasalahan sampah juga menjadi masalah yang sampai saat ini belum kunjung dapat diselesaikan. Kecamatan Kedungwuni merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Pekalongan yang terbagi tiga kelurahan, 16 desa, ,luas wilayah adalah 22,94 kilometer persegi. Program pengelolaan sampah berkelanjutan untuk mendukung target program berbasis komunitas dan teknologi diterapkan di lapangan dengan optimalisasi Bank Sampah, mendorong masyarakat melakukan pemilahan sampah anorganik dari sumbernya untuk ditukar dan menjadi nilai ekonomi, penerapan ekonomi sirkular mengubah paradigma "buang setelah pakai" menjadi siklus tertutup di mana limbah yang dihasilkan diproses kembali menjadi bahan baku baru, teknologi pengolahan kompos dan biogas dengan melakukan pengolahan sampah organik menjadi pupuk atau energi alternatif berskala lokal, gerakan gaya hidup zero waste membawa wadah sendiri guna menekan penggunaan plastik sekali pakai.
KAJIAN TINJAUAN KRITIS PENGGUNAAN PEWARNA SINTETIS DALAM INDUSTRI BATIK DAN PENGARUHNYA TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN Ni Komang Ayu Artiningsih; Ery Fatarina; Nurtekto; Sri Subekti
JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand Vol. 3 No. 1 (2026): JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand, Vol. 3, No. 1, Mei 2026
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/2wfx7v09

Abstract

The batik industry is a cultural heritage sector that makes a significant economic contribution, particularly in Indonesia. However, the use of synthetic dyes in the production process generates liquid waste containing chemicals that are hazardous to the environment. This study is grounded in the Sustainable Consumption and Production (SCP) concept developed by the United Nations Environment Programme (UNEP, 2023), which emphasizes the importance of resource efficiency, waste reduction, and pollution prevention in industrial production activities. Furthermore, this research draws upon the study by Lin et al. (2023), which highlights that synthetic dye waste can have toxic effects on aquatic ecosystems, human health, and environmental quality if not adequately treated. This article examines the environmental impact of chemical-based batik dye wastewater and explores management alternatives through a literature review of studies published between 2020 and 2025. The findings indicate that batik wastewater contains heavy metals, toxic dyes, persistent organic compounds, and pollutants—such as Chemical Oxygen Demand (COD) and Biological Oxygen Demand (BOD)—that degrade water quality. Research also demonstrates that untreated wastewater discharge disrupts aquatic ecosystem balance and poses risks to public health. Proposed solutions include the implementation of Wastewater Treatment Plants (WWTPs), the use of adsorption and bioremediation technologies, the adoption of natural dyes, and the promotion of environmental awareness among batik industry stakeholders. This study is intended to serve as a foundation for developing policies and appropriate technologies to support the sustainability of an environmentally friendly batik industry.
PENGELOLAAN SAMPAH DOMESTIK KECAMATAN KEDUNGWUNI  PEKALONGAN SEBAGAI PEMENUHAN SANITASI LINGKUNGAN Sri Subekti; RHJ. Wedyowibowo; Ni Komang Ayu Artiningsih; Rasyid Hakim Fahmilhuda; Natasya Apriliani Putri Yogie
JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand Vol. 3 No. 1 (2026): JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand, Vol. 3, No. 1, Mei 2026
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/vzq4dn52

Abstract

The continuous rise in waste generation, driven by population growth, poses environmental challenges, particularly as landfill space becomes increasingly limited. In the Kedungwuni District of Pekalongan Regency, waste management remains an unresolved issue. Kedungwuni District comprises three urban villages and 16 rural villages, covering an area of ​​22.94 square kilometers. A sustainable waste management program supporting community- and technology-based targets is being implemented on the ground through the optimization of "Waste Banks" (community-run collection points) and by encouraging residents to sort inorganic waste at the source for exchange and economic gain. Additionally, the adoption of a circular economy shifts the paradigm from a "throw-away" culture to a closed-loop system where waste is reprocessed into new raw materials; local-scale composting and biogas technologies convert organic waste into fertilizer or alternative energy; and a "zero-waste" lifestyle movement promotes the use of personal containers to reduce single-use plastic consumption.