Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS PEMAHAMAN MAHASISWA PPS UNM BERPANDU TEORI PIRIE-KIEREN DALAM MENYELESAIKAN MASALAH PEMBUKTIAN PADA TEORI GRUP DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF DAN ADVERSITY QUOTIENT Fauziah Hakim
PEDAMATH: Journal on Pedagogical Mathematics Vol 1 No 2 (2019): Journal on Pedagogical Mathematics
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489 KB) | DOI: 10.31605/pedamath.v1i2.357

Abstract

The research aims to describe PPs UNM (Postgraduate Program of State University of Makassar) students’ understanding guided by Pirie-Kieren theory in solving proving problem in group theory based on cognitive style (field independent and field dependent) and adversity quotient (climber, camper, and quitter). The conclusion based on the test and interview results are: (1) the levels of understanding achieved by FI-Climber subject are the primitive knowing, image having, property noticing, formalising, and organising; (2) the levels of understanding achieved by FI-Camper subject are the primitive knowing, image having, property noticing, formalising, and organising; (3) it is not discovered the subjects who have field independent cognitive style and low AQ (quitter); (4) the levels of understanding achieved by FD-Climber subject are primitive knowing, image having, formalising, and organising; (5) the levels of understanding achieved by FD-Camper are primitive knowing, image having, and formalising; (6) it is not discovered the subjects who have field dependent cognitive style and low AQ (quitter).
AKTIVITAS METAKOGNITIF MAHASISWA CALON GURU DALAM PEMECAHAN MASALAH Murtafiah Murtafiah; Fauziah Hakim; Ana Muliana
PEDAMATH: Journal on Pedagogical Mathematics Vol 2 No 1 (2019): Journal on Pedagogical Mathematics.
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.49 KB) | DOI: 10.31605/pedamath.v2i1.530

Abstract

Metacognition is an important role in supporting students' success in mathematical problems solving. This study aims to describe the metacognitive activities of prospective teacher students in mathematical problems solving. The subjects of this study were as many as two people drawn from highly capable students with the consideration that the subjects were able to communicate / express their thoughts well. Data were collected using mathematical problem solving tests and interviews. Based on the results of data analysis, it was concluded that in each stage of solving mathematical problems consisting of 4 stages namely understanding the problem, planning the solution, carrying out the plan of completion, and checking again, the subject performs metacognitive activities namely planning activities (planning) thinking processes, monitoring thinking process, and evaluating the process and results of thinking.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI, NUMERASI, DAN ADAPTASI TEKNOLOGI DI SMPN 8 SATAP MAJENE MELALUI PROGRAM KAMPUS MENGAJAR Fauziah Hakim; Fitriani; Elisabeth Intan Lumme; Rasnida; Nur Aisyah S; Pipin Lestari
Jurnal Interaktif: Warta Pengabdian Pendidikan Vol 3 No 1 (2023): Edisi Juni 2023
Publisher : Jurusan Ilmu Pendidikan, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/interaktif.v3i1.85

Abstract

Literasi dan numerasi yang saat ini menjadi hal yang krusial dan menjadi bahan penilaian dalam AKM senantiasa berusaha ditingkatkan oleh pemerintah. Salah satu program yang merupakan bagian dari program Kampus Merdeka yakni Kampus Mengajar hadir untuk mengambil peran dalam peningkatan literasi dan numerasi. Selain literasi dan numerasi, program ini juga berfokus untuk peningkatan adaptasi teknologi dan membantu administrasi di sekolah sasaran. SMPN 8 Satap Majene menjadi salah satu sekolah sasaran pada program Kampus Mengajar Angkatan 4 tahun 2022. Guna meningkatkan literasi dan numerasi di sekolah tersebut, diadakan pendampingan khusus kepada siswa yang masih sangat kurang dalam hal membaca dan perhitungan dasar, membentuk kebiasaan membaca, serta bermain games numerasi melalui alat peraga dan gadget. Untuk meningkatkan adaptasi teknologi, siswa diperkenalkan dengan dasar-dasar pengoperasian komputer dan diajarkan mengerjakan soal-soal AKM. Adapun kegiatan membantu administrasi sekolah dilakukan dengan membantu guru menyusun perangkat pembelajaran, menata kembali perpustakaan, dan membantu pelaksanaan ujian.
Analisis Kemampuan Pembuktian Matematika Siswa SMA Negeri 1 Alu Ditinjau dari Gaya Kognitif St. Muthmainnah; Fauziah Hakim; Nurhidayah Nurhidayah
SAINTIFIK Vol 9 No 2 (2023): Saintifik: Jurnal Matematika, Sains, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/saintifik.v9i2.430

Abstract

Rendahnya kemampuan peserta didik dalam melakukan pembuktian matematika pada materi induksi matematika. Perbedaan gaya kognitif dapat memberikan gambaran kepada kita bagaimana struktur argumentasi siswa dalam melakukan pembuktian karena gaya kognitif mempunyai korelasi terhadap kemampuan intelektual dan perseptual siswa. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk memperoleh deskripsi bagaimana kemampuan pembuktian matematika siswa yang ditinjau dari gaya kognitif. Gaya kognitif yang dimaksud adalah gaya kognitif field independent dan gaya kognitif field dependent. Teknik pengambilan subjek pada penelitian ini adalah purposive sampling sehingga diperoleh masing-masing 3 subjek yang mewakili kedua gaya kognitif tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes GEFT, tes kemampuan pembuktian matematika, dan wawancara. Tes GEFT digunakan untuk menggolongkan siswa ke dalam masing-masing gaya kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pembuktian matematika dengan gaya kognitif field independent cenderung memiliki kemampuan analisis yang baik, sedangkan dengan gaya kognitif field dependent memiliki kemampuan memahami soal namun cenderung kurang teliti dan tidak sesuai prosedur yang tepat. Dari 5 indikator kemampuan mengonstruksi bukti, subjek dengan gaya kognitif field dependent kurang cakap dalam aturan-aturan penarikan kesimpulan. Sementara subjek field independent sudah cakap dalam penarikan kesimpulan. Dengan mempertimbangkan perbedaan gaya kognitif siswa, kegiatan pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa untuk meningkatkan kualitas belajar siswa secara menyeluruh.
INCREASING STUDENTS’ MATHEMATICAL PROOF ABILITY THROUGH COMMOGNITIVE FRAMEWORK BASED ASSESSMENT INSTRUMENT Hakim, Fauziah; Tadjuddin, Nur Fahri
MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN Vol. 12 No. 1 (2024): MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/mp.v12i1.5446

Abstract

Mathematical proof is one of the most important things for students to master in the Mathematics Education Study Program. Mathematics cannot be learned without learning evidence and how to reconstruct that evidence. Even so, students still experience difficulties when they find problems proving mathematics in a number of courses they are programmed for, one of which is in the Complex Analysis course. Researchers pay special attention to this and develop assessment instruments based on a commognitive framework to improve students' mathematical proving abilities. The cognitive framework consists of 4 indicators: word use, visual mediators, narrative, and routine. The instruments prepared were used in classroom action research which was carried out in 2 cycles. The action research model used is the DDAER model (diagnosis, design, action and observation, evaluation, reflection). The class that was the subject of the research was class 2021 B of the Mathematics Education Study Program at the Universitas Sulawesi Barat which programmed the Complex Analysis course as many as 26 students. The results showed that there was an increase in students' mathematical proving abilities by using a commognitive framework-based assessment instrument. In cycle I, 39% of students got a minimum score of 70, while in cycle II, 73% of students got a minimum score of 70. Keywords: Assessment Instrument; Commognitive Framework; Mathematical Proof