Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

ANALISIS PERILAKU TERHADAP SIKAP PENCEGAHAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL PADA REMAJA DI DESA NEGERI BARU KETAPANG Sri Rahayu; Dewi Elliana; Widia Anggreani
Midwifery Care Journal Vol 2, No 3 (2021): July 2021
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.909 KB) | DOI: 10.31983/micajo.v2i3.7493

Abstract

Adolescents are the age group with the highest number of STIs compared to other age groups. The high number of people with STIs in adolescents and the younger generation really needs our attention because of the dangers and broad impacts. The highest number of STIs cases among adolescents in June 2019 was 29 cases of HIV-AIDS. The purpose of the study was to determine the effect of behavior on attitudes regarding the prevention of sexually transmitted infections (STIs) in adolescents.This research study is descriptive with a questionnaire interview survey of 25 respondents with simple regression analysis. Results: the behavioral variable has the lowest score of 9 and the highest score of 15. With an average value of the behavioral variable of 13.08 with a standard deviation of 1.352 and the value of the STIs prevention attitude variable in adolescents is 46.16 with a standard deviation of 3.923. And STIs prevention attitude variable in adolescents has the lowest score of 37 and the highest score of 54. The average value of the STIs prevention attitude variable in adolescents is 46.16 with a standard deviation of 3.923. Based on the results of the t test, the t-count value is 2.181 with a sig value of 0.040. In this study, the results of the t test are significant. Conclusion: there is an influence of behavior on adolescent attitudes in preventing STIs. Suggestions increase knowledge about STIs in all adolescents.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU PENCEGAHAN KEPUTIHAN PADA REMAJA KARANG TARUNA DI KABUPATEN CILACAP Dewi Elliana; Sri Mularsih
Midwifery Care Journal Vol 1, No 3 (2020): April 2020
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.863 KB) | DOI: 10.31983/micajo.v1i3.5757

Abstract

One of the symptoms and signs of disease in female reproductive organs is vaginal discharge. Wrong personal hygiene behavior can cause itching in the vulva, vaginal discharge to an unpleasant odor in the female area. Teenagers are indeed a large group, vulnerable and at risk of reproductive health problems. The purpose of this study was to analyze the relationship between knowledge about personal hygiene with the behavior of preventing whiteness vaginal discharge in young women in Karang Taruna RW 2, Hamlet Village, Cipari District, Cilacap Regency. This study used a cross sectional design. The population is teenage girls aged 16-18 years as many as 30 people. The study use total sampling technique. Result of this study was most respondents were 16 years old (57.1%), Most of the personal hygiene knowledge is sufficient 11 respondents (36.7%), most of the positive behavior of young women in preventing vaginal discharge is 29 respondents (96,7%). There is a significant relationship between the knowledge of personal hygiene with the behavior of prevention of whiteness vaginal discharge (p value 0.01). It means there is a relationship between the two variables. Suggestions in this study is the female teenagers is expected to increase the provision of information on personal hygiene and vaginal discharge prevention for young women and the community
Faktor-Faktor Minat Berhubungan Seksual pada Wanita Pasangan Lansia Usia 60-70 Tahun di RW IV Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang Widyah Setiyowati; Dewi Elliana
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 2 No. 1: March 2019
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.838 KB) | DOI: 10.35473/ijm.v2i1.147

Abstract

Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun, Pada masa lansia akan mengalami kemunduran fisik dan mental yang dapat menyebabkan penurunan gairah seksual. Dalam  melakukan hubungan seksual tersebut ada yang memiliki dorongan seksual tinggi, ada yang memiliki dorongan seksual rendah, semuanya tergantung dari minat untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Berdasarkan studi awal tehadap 10 pasangan lansia yang bertempat tinggal di RW IV Kelurahan Sekaran, 2 pasangan lansia menyatakan sudah tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangannya, 8 pasangan masih melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Pada 8 pasangan lansia yang masih melakukan hubungan seksual cenderung mengalami masalah saat melakukan hubungan seksual.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja faktor-faktor minat berhubungan seksual pada wanita pasangan lansia usia 60-70 tahun di RW IV kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang. Lanjut usia adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai umur panjang. Pada usia lanjut telah terjadi berbagai kemunduran pada organ tubuh tertentu. Namun, mereka tidak perlu berkecil hati harus selalu optimist, ceria dan berusaha agar selalu tetap sehat di usia lanjut, sedangkan Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan–lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat  bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Jenis penelitian ini adalah deskriftif dengan pendekatan survei. Adapun variabel yang di nilai yaitu umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan dan sikap wanita lansia terhadap berhubungan seksual di  masa lansia.populasi dalam penelitian ini adalah wanita lansia yang berusia 60-70 tahun sebanyak 237 orang, sedangkan sampel dalam penelitian ini sebanyak 33 wanita lansia yang masih mempunyai pasangan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 66 tahun sebanyak 6 (18,2 %) responden, tingkat pendidikan dasar (SD/SMP) sebanyak 26(78,8 %), dan masuk ke dalam kategori pengetahuan cukup yaitu sebanyak 15 (45,5 %) responden, sebagian besar responden tidak mendukung adanya hubungan seksual di masa lansia sebanyak 21 (63, 6%) responden. Saran diberikan kepada tenaga kesehatan agar dapat memberikan informasi yang benar melalui pemyuluhan, institusi pendidikan lebih memperbanyak referensi di perpustakaan kampus Abdi Husada Semarang, masyarakat diharapkan dapat aktif menambah pengetahuan dan wawasan mengenai seks di masa lansia serta peneliti diharapkan termotivasi untuk melakukan penelitian yang lebih lanjut mengenai faktor-faktor minat berhubungan seksual pada wanita pasangan lansia usia 60-70 tahun di RW IV kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang.
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG KARTU KEMBANG ANAK (KKA) DENGAN PRAKTEK STIMULASI PERKEMBANGAN PADA BALITA 1-3 TAHUN DI KELOMPOK BINA KELUARGA BALITA (BKB) PUJI LESTARI RW I KELURAHAN NGIJO KECAMATAN GUNUNGPATI SEMARANG Rustantina Rustantina; Dewi Elliana
Jurnal Kebidanan Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.174 KB) | DOI: 10.26714/jk.3.2.2014.48-54

Abstract

Latar Belakang :Untuk mencapai tumbuh kembang optimal pada balita, harus dicukupi kebutuhan dasarnya yang meliputi kebutuhan biofisik dan psikososial. Pengetahuan ibu mengenai stimulasi perkembangan anak sangat diperlukan, sehingga ibu dapat melakukan praktik pemberian stimulasi perkembangan secara dini dengan menggunakan Kartu Kembang Anak (KKA) pada anak – anaknya. Tujuan :untuk mengetahui Hubungan pengetahuan ibu tentang Kartu Kembang Anak (KKA) dengan praktek sitmulasi perkembangan pada balita 1-3 tahun. Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian korelasi dengan menggunakan metode penelitian crosectional Tehnik sampling yang digunakan adalah Random sampling yaitu berjumlah 44 responden, ibu yang mempunyai anak umur 1-3 tahun yang berada di wilayah kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) Puji Lestari RW I Kelurahan Ngijo Kecamatan Gunungpati Semarang. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder, dengan menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan analisa univariat dan bivariat dengan uji chi square. Hasil : penelitian dari 44 responden kelompok Bina Keluarga dan Balita (BKB) Puji Lestari RW I Kelurahan Ngijo Kecamatan Gunungpati Semarang. Distribusi frekuensi responden berdasarkan umurantara 25 – 30 tahun sebanyak 15 (48,4%); responden tamatSLTP sebanyak 15 (48,4%); responden dengan pengetahuan yang baik tentang Kartu Kembang Anak (KKA) sebanyak 28 (90,3%) dan respondendengan praktek simulasi perkembangan yang termasuk kategori melakukan sebanyak27 (87,1%). Dari uji alternatif untuk uji chi square yaitu uji fisher exact table diperoleh nilai p value sebesar0,01. Nilai p value lebih kecil dari 0,05 (0,002 < 0,05). Simpulan : ada Hubungan pengetahuan ibu tentang Kartu Kembang Anak (KKA) dengan praktek Simulasi Perkembangan pada balita 1 – 3 tahun di kelompok Bina Keluarga dan Balita (BKB) Puji Lestari RW I Kelurahan Ngijo Kecamatan Gunungpati Semarang.Kata Kunci: Tingkat Pengetahuan, Praktik Stimulasi Perkembangan
HUBUNGAN TINGKAT STATUS GIZI WANITA MENOPAUSE DENGAN PERUBAHAN FISIK PADA MASA MENOPAUSE KOTA SEMARANG Dewi Elliana; Anita Murniwati
Jurnal Kebidanan Vol 6, No 2 (2017): August 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.787 KB) | DOI: 10.26714/jk.6.2.2017.96-102

Abstract

Latar belakang : Menopause terjadi akibat dari penurunan produksi hormon estrogen yang dihasilkan oleh kelenjar endokirin dimana pada usia sekitar 45-55 tahun ditandai dengan keluhan haid yang mulai tidak teratur. Berdasarkan studi pendahuluan terhadap 10 wanita yang berumur 45-55 tahun di Kelurahan Bendanduwur Kecamatan Gajahmungkur kota Semarang, didapatkan bahwa 7 dari 10 wanita menopause (70%) berstatus gizi baik dan 2 orang wanita menopause (20%) telah mengalami perubahan fisik menopause, 5 dari 10 orang wanita menopause (50%) berstatus gizi kurang dan 2 orang wanita menopause(20%) telah mengalami perubahan fisik menopause.5 dari 10 orang wanita menopause (50%) berstatus gizi rendah dan 6 orang wanita menopause mengalami perubahan fisik menopause Kejadian perubahan fisik yang terjadi dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah status gizi yang kurang. Tujuan Penelitian : Penelitian ini secara umum mengetahui hubungan tingkat status gizi dengan perubahan-perubahan fisik pada masa menopause di Kelurahan Bendan Duwur Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang. Jenis Penelitian : Penelitian ini termasuk penelitian kebidanan komunitas dengan menggunakan rancangan cross sectional dan termasuk jenis penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua wanita di kelurahan Bendanduwur Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang sejumlah 55 wanita menopause dengan karakter yaitu memiliki tingkat umur 45-55 Tahun. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode non probability sampling dengan Tehnik purposive sampling. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden di Kelurahan bendan duwur Kecamatan Gajahmungkur kota Semarang memiliki status gizi kurang dengan menggunakan uji chi squre didapatkan hasil 11,062 dengan p value sebesar 0,001,Nilai p value lebih kecil dari 0,005.Hal ini berarti Ha diterima dan Ho ditolak< Responden yang memiliki status gizi kurang cenderung proporsi mengalami perubahan fisik masa menopause lebih besar dibandingkan responden yang memiliki status gizi baik hubungan antara status gizi dengan perubahan fisik pada masa menopause secara statistik bermakna Simpulan : Ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan perubahan fisik pada masa menopause. Oleh karena itu sebaiknya tenaga kesehatan khususnya bidan diharapkan untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya gizi berkaitan dengan perubahan fisik pada masa menopause. Kata kunci :status gizi,perubahan fisik pada masa menopause.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN DUKUNGAN KELUARGA TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEKARAN KOTA SEMARANG Dewi Elliana
Jurnal Kebidanan Vol 7, No 2 (2018): August 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.132 KB) | DOI: 10.26714/jk.7.2.2018.135-143

Abstract

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukan pemberian ASI di Indonesia saat ini masih memprihatinkan. Prosentase bayi yang menyusu eksklusif sampai dengan 6 bulan hanya 30,2%. Di Jawa Tengah cakupan pemberian ASI eksklusif tahun 2012 hanya 25,6%, menurun dibandingkan tahun 2011 yaitu 45,18%. Tujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Penelitian ini termasuk penelitian bidang kebidanan dalam melaksanakan pelayanan kebidanan pada komunitas dengan pendekatan retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai bayi usia 7-11 bulan yang berjumlah 47 responden dan sampel yang diambil berjumalah 47 responden dengan teknik sampling jenuh. Tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif termasuk kategori cukup (51.1%). Dukungan keluarga dalam pemberian ASI eksklusif yang mendukung (29.8%). Pemberian ASI eksklusif sebanyak (8.5%). Hasil analisis bivariat pengetahuan tentang ASI eksklusif sebesar 6,221 sehingga p value sebesar 0.016 (p = 0.016< 0.05) maka ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif diwilayah kerja Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Sedangkan dukungan keluarga dengan p value sebesar 0.073 (p = 0.073> 0.05) maka tidak ada hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif diwilayah kerja Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Ada hubungan antara pengetahuan tentang ASI eksklusif dengan Pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, Tidak Ada hubungan antara dukungan keluarga ibu tentang ASI eksklusif dengan Pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN ULANG PADA IBU DENGAN INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT (IVA) POSITIF DI WILAYAH PUSKESMAS SEKARAN KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG Elliana, Dewi; Mularsih, Sri
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v13i5.11594

Abstract

Kanker serviks merupakan salah satu masalah kesehatan perempuan, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Data patologi dan data rumah sakit di beberapa senter di Indonesia menunjukkan bahwa kejadian kanker serviks berada di peringkat pertama. Selain kejadiannya tinggi masalah lain bahwa hampir 70% kasus datang ke rumah sakit sudah dalam keadaan stadium lanjut. Salah satu metode alternative skrining kanker serviks adalah Inspeksi Visual dengan Asam asetat (IVA). IVA adalah tes visual menggunakan larutan asam cuka (asam asetat 3-5%) pada serviks dan melihat perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan olesan.Penelitian ini termasuk kompetensi bidan dalam melaksanakan pelayanan kebidanan pada wanita dengan gangguan reproduksi. populasi dalam penelitian ini sebanyak 84 orang. Sampel diambil dari keseluruhan obyek penelitian dan dianggap mewakili populasi yaitu sebanyak 44 orang. Analisa data yang digunakan univariat karena data yang didapatkan dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif yaitu mendeskripsikan distribusi frekuensi yang disajikan dalam bentuk prosentase. Data diolah dengan langkah editing, skoring, koding, recode, data entry dan analisa data. Hasil penelitian ini mendeskripsikan faktor - faktor yang mempengaruhi kunjungan ulang pada ibu dengan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) positif di wilayah Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang tahun 2012. Berdasarkan data penelitian menunjukkan bahwa dari tingkat pendidikan terdapat 19 (43,2%) ibu dengan IVA positif yang berpendidikan dasar (SD, SLTP), tingkat pengetahuan ibu pada ibu dengan IVA positif yaitu terdapat 24 (54,5%) memiliki pengetahuan cukup, dari sikap ibu sebanyak 23 (52,3%) mendukung untuk kunjungan ulang, dari faktor pendapatan keluarga sebanyak 25 responden (56,8%) memiliki tingkat pendapatan kurang dari Rp. 962.000,-, dari faktor keterjangkauan lokasi sebanyak 31 responden (70,5%) memiliki lokasi rumah yang tidak terjangkau dengan puskesmas, dari faktor kepuasan pelanggan sebanyak 26 responden (59,1%) merasa puas dengan fasilitas yang tersedia di puskesmas.Saran yang dapat diberikan dalam hasil penelitian ini. Diharapkan tenaga kesehatan mengetahui faktor – faktor yang bisa mempengaruhi kunjungan ulang pada ibu IVA positif, dan bagi instansi pendidikan diharapkan hasil penelitian dapat digunakan sebagai informasi menambah wawasan mahasiswa untuk lebih mengembangkan pengetahuan mengenai faktor – faktor apa saja yang berkaitan dengan kunjungan ulang pada ibu dengan IVA positif.
FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU VULVA HYGIENE SAAT MENSTRUASI PADA SISWI SMPN 02 KECAMATAN TEGOWANU KABUPATEN GROBOGAN Sri Mularsih; Dewi Elliana
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 11 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/jik.v11i2.2232

Abstract

Tujuan : Mengetahui faktor – factor yang berhubungan dengan perilaku vulva hygiene saat menstruasi . Metodologi: Desain Penelitian ini menggunakan cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika hubungan antara faktor-faktor resiko dengan efek , dengan cara pendekatan observasional atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif analitik, yaitu mendeskriptifkan tiap variable, kemudian menganalisa hubungan antar variable. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah sampling jenuh yaitu cara pengambilan sample dengan mengambil semua anggota populasi menjadi sample atau yang kita sebut sebagai Total Sampling, di dapatkan sample sebanyak 30 sample.Alat pengumpulan data menggunakan Kuesioner. Analisa data menggunakan Uji Univariat, Bivariat Hasil : Responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik dan kurang tentang vulva hygiene saat menstruasi masing-masing sebanyak 15 siswi (50,0%), sikap siswi tentang vulva hygiene saat menstruasi adalah positif yaitu sebanyak 19 siswi (63,3%), tingkat dukungan keluarga baik dan kurang tentang vulva hygiene saat menstruasi masing-masing sebanyak 15 siswi (50,0%), perilaku vulva hygiene saat menstruasi sebagian besar adalah positif yaitu 17 responden (56,7%). Kesimpulan : Tidak ada hubungan pengetahuan, sikap, dukungan keluarga dengan perilaku vulva hygiene saat menghadapi menstruasi pada siswi SMPN 02 Tegowanu Kabupaten Grobogan.
Korelasi Antara Pengetahuan dan Tindakan Pencarian Perawatan Gangguan Menstruasi pada Remaja Putri di Kabupaten Semarang: Correlation between Knowledge and Actions to Seek Treatment for Menstrual Disorders among Adolescent Girls in Semarang Regency Dewi Elliana; Dewi Puspitaningrum
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 8 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v8i1.3846

Abstract

Menstruation is a physiological process experienced by adolescent girls, but common menstrual disorders often occur in adolescence, menstrual disorders such as dysmenorrhea and irregular cycles are common. These disorders can interfere with daily activities and quality of life. In Semarang Regency, the average age of menarche was reported to be 11.4 years. These menstrual disorders are often ignored, resulting in negative impacts on health. This study aimed to analyze the relationship between knowledge level and treatment-seeking actions for menstrual disorders among adolescent girls in Semarang Regency. This study used a cross-sectional design with an analytic observational approach. This study used a cross-sectional design with an analytic observational approach. A sample of 30 adolescent girls in Semarang Regency was selected using a total sampling technique, which met the criteria of already having menstruation and experiencing menstrual disorders. Data collection used a closed questionnaire that measured the level of knowledge (good/lack) and the type of care-seeking action (independent non-medical/medical self). Data were analyzed univariately for frequency distribution and bivariately using the Chi-Square test with a significance level of α=0.05. The results showed 77% of respondents had good knowledge and 67% performed non-medical self-care. There was a significant relationship between knowledge level and care-seeking behavior (p=0.011). Conclusion: Adolescents with good knowledge tend to choose more appropriate treatment actions.Reproductive health education, especially in better care-seeking behavior among adolescent girls, needs to be improved through school and family approaches.     Abstrak Menstruasi merupakan proses fisiologis yang dialami remaja putri, namun gangguan menstruasi yang umum terjadi seringkali pada usia remaja, gangguan menstruasi seperti dismenore dan siklus tidak teratur banyak terjadi. Gangguan ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup. Di Kabupaten Semarang, usia rata-rata menarche dilaporkan 11,4 tahun. Gangguan menstruasi ini seringkali diabaikan sehingga berdampak negatif pada kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan tindakan pencarian perawatan gangguan menstruasi pada remaja putri di Kabupaten Semarang. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan observasional analitik. Sampel sebanyak 30 remaja putri di Kabupaten Semarang dipilih dengan teknik total sampling, yang memenuhi kriteria sudah mengalami menstruasi dan mengalami gangguan menstruasi.Pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup yang mengukur tingkat pengetahuan (baik/kurang) dan jenis tindakan pencarian perawatan (mandiri nonmedis/mandiri medis). Data dianalisis secara univariat untuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan 77% responden memiliki pengetahuan baik dan 67% melakukan perawatan mandiri nonmedis. Terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dan tindakan pencarian perawatan (p=0,011). Kesimpulan: Remaja dengan pengetahuan baik cenderung memilih tindakan perawatan yang lebih tepat. Edukasi kesehatan reproduksi khususnya dalam perilaku pencarian perawatan yang lebih baik di kalangan remaja putri perlu terus ditingkatkan melalui pendekatan sekolah maupun keluarga.
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG ANEMI DAN PEMANFAATAN DAUN KELOR UNTUK PENINGKATAN HEMOGLOBIN PADA REMAJA DI SMK KABUPATEN DEMAK Elliana, Dewi; Handayani, Retno Sri
JABI: Jurnal Abdimas Bhakti Indonesia Vol 5 No 2 (2024): Desember
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/jabi.v5i2.745

Abstract

Anemia merupakan kondisi di mana kadar hemoglobin dalam darah berada pada level yang rendah (WHO, 2015). Hemoglobin adalah protein yang berfungsi untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Ketika seseorang kekurangan sel darah merah atau memiliki kadar hemoglobin yang rendah, tubuh tidak akan mendapatkan cukup oksigen sesuai kebutuhan, yang mengakibatkan rasa lelah atau gejala-gejala lain yang terkait (Fikawati dkk, 2017). Menurut teori EN Fauziandari (2019), daun kelor adalah sumber yang kaya akan berbagai zat gizi penting. Setiap komponen yang terkandung dalam daun kelor memiliki manfaat yang baik untuk tubuh. Daun kelor, sebagai bahan makanan yang mengandung nutrisi lengkap, memiliki kandungan protein, zat besi, vitamin A, vitamin B2, dan vitamin C yang berperan penting dalam proses metabolisme tubuh, yang dapat membantu meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah. Pengabdian ini dilaksanakan pada bulan mei 2024, pada 20 siswa SMK di Kabupaten Demak. Hasil yang didapatkan adanya peningkatan pengetahuan pada siswa SMK Kabupaten Demak. Saran untuk lebih memberikan pendidikan kesehatan melalui media informasi/ media sosial dalam pencegahan anemi terutama dengan menggunakan bahan tradisional daun kelor.