Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

An Analysis of Translation Procedures Found in the Translation of Movie Subtitle: Zootopia Fenti Rizki Ananda; Diana Chitra Hasan; Temmy Thamrin
Journal Polingua: Scientific Journal of Linguistics, Literature and Language Education Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Politeknik Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.489 KB) | DOI: 10.30630/polingua.v8i1.75

Abstract

In this research, the writer attempts to find out the translation procedures in the translation of movie subtitle: Zootopia from English to Indonesian subtitle to determine the intended audience of the movie. The research used a descriptive qualitative method. The data of this research are the utterances or sentences in movie subtitle both English and Indonesian with the source of the data of this research is Zootopia movie. The writer used Indonesian subtitle from the site called subscene where the translators around the world could translate movies into many languages. The data collected by watching the movie with both English and Indonesian subtitles, and categorized the collected data based on each translation procedures of Newmark. The writer figured out that the intended audience is all ages group and the writer also found ten translation procedures used in the movie subtitle: Zootopia. The ten translation procedures are couplets, modulation, paraphrase, reduction, literal translation, cultural equivalent, transference, functional equivalent, naturalisation, transposition/shifts. Based on the findings, it can be concluded that the intended audience of Zootopia movie is all ages group and there are ten from nineteen procedures are found in the movie subtitle: Zootopia.  
PELATIHAN BATIK DAN MANAJEMEN KEWIRAUSAHAAN BAGI MASYARAKAT DI KABUPATEN SAWAHLUNTO SIJUNJUNG Maulid Hariri Gani; Widdiyanti; Yandri; Temmy Thamrin; Taufik Akbar
Jurnal Abdimas Ilmiah Citra Bakti Vol 3 No 2 (2022)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jailcb.v3i2.979

Abstract

Salah satu tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah melakukan pengabdian kepada masyarakat, di samping pengajaran dan penelitian tentu saja. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Sijunjung Sumatera Barat. Tema yang diangkat adalah Pelatihan Batik dan Manajemen Kewirausahaan. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan ceramah, demonstrasi, dan pelatihan. Peserta pelatihan difokuskan pada masyarakat yang sedang memulai usaha kecil dan menengah, serta warga masyarakat yang terdampak baik secara langsung dan tidak langsung wabah COVID-19. Pada akhirnya pelatihan ini memang tidak bisa hanya berhenti di sini saja karena aplikasi secara langsung bagaimana membatik sangatlah diperlukan baik itu tekhik batik tulis maupun cap.
Pelatihan batik dan ecoprint di Canting Buana Kreatif: pendidikan berbasis praktek dan budaya Temmy Thamrin; Zainal Arifin; Widiyanti Widiyanti; Kendall Malik; Ferry Fernando; Maulid Hariri Gani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.22273

Abstract

AbstrakSalah satu tugas yang diamanatkan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah melakukan pengabdian kepada masyarakat, dan ini merupakan salah satu tugas pokok dan fungsi sebagai dosen di Perguruan Tinggi, disamping tugas pokok dan fungsi lainnya, yakni pengajaran dan penelitian. Kegiatan pengabdian ini dilakukan di Canting Buana Kreatif yang ada di Nagari Bukik Surungan, Kotamadya Padangpanjang Sumatera Barat. Pelatihan ini mengangkat tema Pendidikan Berbasis Praktek dan Budaya. Tema ini sengaja diambil karena para peserta pelatihan merupakan mahasiswa-mahasiswa yang tidak pernah bersentuhan secara langsung dengan hal-hal yang berbau seni dan praktek kriya, sehingga penting untuk memperkenalkan secara langsung apa dan bagaimana batik dan ecoprint itu sendiri, dengan demikian mahasiswa yang selama ini hanya mengenal teori saja, ketika mereka berinteraksi secara langsung dan mempraktekan kegitan itu sendiri, maka diharapkan pada akhirnya mereka juga dapat memberikan pelatihan dimaksud kepada siswa-siswa asing yang mereka ajar kelak kemudian hari. Metode pelatihan dengan cara demonstrasi secara langsung bagaimana membatik, yang tentu saja diperkenalkan terlebih dahulu teori-teorinya. Setelah memahami teorinya, para peserta langsung mempraktekannya pada selembar kain, baik itu membuat pola sampai menghasilkan kain batik maupun ecoprint itu sendiri. Pada akhirnya, diharapkan para peserta pelatihan ini nantinya dapat menularkan ilmu yang mereka dapatkan kepada siswa-siswa asing yang nantinya akan belajar lebih lanjut kepada mereka, apa dan bagaimana batik dan ecoprint itu sendiri. Kata kunci: batik; ecoprint; pelatihan. AbstractOne of the tasks assigned to Tri Dharma Perguruan Tinggi is community service. This is one of the main tasks and functions of a lecturer in Higher Education, besides other main tasks such as teaching and research. The activity of community service was carried out at Canting Buana Kreatif located in Nagari Bukik Surungan, Padangpanjang, West Sumatra. The theme of the training is Practice and Culture- Based Education. This theme was deliberately chosen because the training participants are students who have never had direct contact with matters related to art and craft practice, so it is important to introduce directly what and how Batik and Ecoprint are, the students who have learned only theory, when they interact in person and practice the excitement themselves, then hopefully in the end they will also be able to provide the training intended for foreign students that they will be taught later on. The training method involves a direct demonstration of how to make Batik, which of course introduces the theories first. After understanding the theory, the participants immediately put it into practice on a piece of cloth, either making patterns to produce Batik cloth or the ecoprint itself. In the end, it is hoped that the training participants will be able to pass on the knowledge they have gained to foreign students who will later learn more from them about what and how batik and ecoprint itself are. Keywords: batik; ecoprint; training.
MEMPERKUAT HUBUNGAN INDONESIA-MALAYSIA MELALUI PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA Diana Chitra Hasan; Temmy Thamrin; Yusrita Yanti; Nova Rina; Fadlul Rahman
Batoboh Vol 11, No 1 (2026): BATOBOH: JURNAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v11i1.6078

Abstract

Kegiatan PKMini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman lintas budaya mahasiswa Malaysia yang akan mengikuti berbagai kegiatan seperti student exchange, academic exchange dan cultural exchange ke Indonesia. Dalam setiap kegiatan internasional yang melibatkan mahasiswa lebih dari satu negara selalu terdapat potensi kesalahpahaman karena perbedaan budaya. Rendahnya pemahaman lintas budaya ini bukan masalah kecil karena jika ini terjadi, tujuan global dari kegiatan antarbangsa yaitu memperluas jejaring yang dapat dipertahankan untuk jangka panjang, tidak akan dapat terwujud. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa Universitas Selangor. Meskipun berasal dari bangsa serumpun, bukan berarti tidak terdapat perbedaan yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman lintas budaya. Dari sisi semantis, misalnya banyak kata yang sama tetapi memiliki makna yang jauh berbeda di kedua negara. Agar kegiatan yang melibatkan budaya yang berbeda dapat mencapai tujuannya, maka pemahaman lintas budaya perlu ditingkatkan. Solusi dari masalah tersebut adalah dengan meningkatkan kompetensi interkultural mahasiswa Universitas Selangor. Kompetensi interkultural adalah kompetensi pemahaman lintas budaya yang mencakup tiga dimensi yaitu dimensi sensitivitas, kesadaran (awaraness) dan keahlian (skill). Peningkatan kompetensi ini dapat dicapai dengan memberikan workshop dan seminar peningkatan pemahaman lintas budaya oleh pelaku PKM kepada mahasiswa-mahasiswa Universitas Selangor. Kompetensi interkultural peserta dapat diukur menggunakan skala yang sudah teruji validitas dan reliabilitasnya yaitu Intercultural Sensitivity Scale (ISS) dan Developmental Model of Intercultural Sensitivity. Dari kedua pengukuran ini diperoleh data kuantitatif tentang tingkat pemahaman lintas budaya peserta workshop yang dapat memberikan gambaran mengenai hal-hal yang diperlukan untuk kesiapan mahasiswa menjadi peserta kegiatan internasional.