Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Profil Kromatografi dan Penentuan Kadar Flavonoid Total Fraksi Aquadest Daun Kalangkala (Litsea angulata. Blum) Menggunakan Spektrofotometri UV-Vis Putri Rizky Amalia; Rohama; Mia Audina
Tinctura Vol 4 No 1 (2022): Jurnal Farmasi Tinctura
Publisher : Program Studi S1 Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/tinctura.v4i1.2301

Abstract

Kalangkala (Litsea angulata) merupakan tumbuhan khas Kalimantan Selatan yang secara empiris digunakan untuk mengobati bisul, diare, dyspepsia, diabetes dan secara penelitian daun kalangkala memiliki aktivitas antibakteri. Salah satu metabolit sekunder yang berperan terhadap aktivitas farmakologi tersebut adalah senyawa flavonoid. Jenis flavonoid tergantung dari kelarutannya terhadap pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kromatografi senyawa flavonoid yang terdeteksi menggunakan eluen terbaik dan kadar senyawa flavonoid total dari fraksi aquadest daun kalangkala (Litsea angulata). Penelitian ini menggunakan metode true experimental yang diperoleh dari profil Kromatografi Lapis Tipis (KLT) flavonoid dengan eluen terbaik kemudian dihitung nilai Rf dan penetapan kadar flavonoid total menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan eluen terbaik yang dapat memisahkan senyawa flavonoid pada fraksi aquadest daun kalangkala (Litsea angulata) adalah butanol : asam asetat : aquadest (4:1:5) yang menghasilkan dua noda pada sinar tampak, dua noda berwarna kuning pada sinar UV 254 nm, dan satu noda berwarna biru pada sinar UV 366 nm serta kadar flavonoid total sebesar 0,7 mg QE/g fraksi.
Pelatihan Pembuatan Salep Tanaman Kalangkala (Litsea angulata) untuk Mengatasi Penyakit Kutu Air pada Masyarakat Terdampak Banjir Rohama Rohama; Noval Noval; Faisal Rahman
Indonesia Berdaya Vol 4, No 3 (2023)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.2023501

Abstract

Indonesia in one of the tropical countries that has high temperatures and humidity, which is a good atmosphere for the growth of fungi. Banjar Regency became one of the districts affected by the worst floods in 2020 and 2021. It is known that the incidence of diseases caused by fungi in Indonesia ranged from 2,93 – 27,6% for 2009 – 2011 and the prevalence of skin diseases in flood-affected communities was 47,57%. Empirically, the people of South Kalimantan use the Kalangkala plant for treatments such as diarrhea, skin diseases, anticancer and antimicrobials. Kalangkala is also known to contain flavonoid compounds that function as antimicrobials and kalangkala leaf extract has inhibitory power against Staphylococcus aureus bacterium that causes skin diseases. From a preliminary study, 83% of respondents said they knew about kalangkala plants but as many as 79% did not know that kalangkala plants have properties. And 93% of respondents said they wanted to know how to make an ointment for water fleas. To find out the level of knowledge of the community before and after the delivery of education and training, pre-tests and post-tests were carried out, followed by the community of RT 02 Gudang Hirang Village. Based on the percentage obtained, it shows that there is an increase in public understanding regarding when to stop using ointment by 6% and signs of damaged ointment by 26%. As many as 87% of the people who took part in the ointment making training stated that they could show how to make the ointment that had been delivered. Abstrak: Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis yang memiliki suhu dan kelembaban tinggi, dimana merupakan suasana yang baik bagi pertumbuhan jamur. Kabupaten Banjar menjadi salah satu Kabupaten terdampak Banjir paling parah pada tahun 2020 dan 2021. Diketahui insidensi penyakit yang disebabkan oleh jamur di Indonesia berkisar 2,93-27,6% untuk tahun 2009-2011 dan prevalensi penyakit kulit pada masyarakat yang terdampak banjir sebesar 47,57%. Secara empiris masyarakat Kalimantan Selatan menggunakan tanaman Kalangkala untuk pengobatan seperti diare, penyakit kulit, antikanker dan antimikroba. Kalangkala juga diketahui mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antimikroba dan ekstrak daun kalangkala memiliki daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus bakteri penyebab penyakit kulit. Dari studi pendahuluan sebanyak 83% responden mengatakan mengetahui tentang tanaman kalangkala namun sebanyak 79% tidak mengetahui bahwa tanaman kalangkala memiliki khasiat. Dan 93% responden mengatakan ingin mengetahui bagaimana cara pembuatan salep untuk kutu air. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah penyampaian edukasi dan pelatihan dilakukan pre-test dan post-test yang diikuti masyarakat RT 02 Desa Gudang Hirang.Berdasarkan presentase yang didapatkan menunjukkan terjadi peningkatan pemahaman masyarakat terkait kapan menghentikan penggunaan salep sebanyak 6% dan tanda-tanda salep rusak sebanyak 26%. Sebanyak 87% masyarakat yang mengikuti pelatihan pembuatan salep menyatakan bisa menunjukkan bagaimana cara pembuatan salep yang telah disampaikan.
Penetapan Kadar Flavonoid Total Pada Ekstrak Daun Cabe Rawit (Capsicum frutescens L.) Dengan Tingkatan Fraksi Ni Gusti Ayu Putri Kencanawati; Rohama Rohama; Darini Kurniawati
Sains Medisina Vol 1 No 3 (2023): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.573 KB)

Abstract

Daun cabe rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia. Secara empiris daun cabe rawit digunakan sebagai antiinflamasi oleh masyarakat Kabupaten Tanah Bumbu terkhusus di Kecamatan Sungai Loban. Daun cabe rawit (Capsicum frutescens L.) diketahui mengandung flavonoid yang memiliki berbagai aktivitas farmakologis, salah satunya sebagai antiinflamasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar flavonoid total pada tingkatan fraksi ekstrak daun cabe rawit dengan metode deskriptif yaitu mendeskripsikan hasil fraksinasi dengan pelarut berbeda. Uji senyawa flavonoid dengan metode uji warna dan uji kadar flavonoid dengan metode spektrofotometri uv-vis. Hasil uji identifikasi senyawa flavonoid pada fraksi n-heksan, etil asetat dan air positif flavonoid dengan pereaksi H2SO4 P, hasil dari uji kadar flavonoid total ekstrak daun cabe rawit pada tingkatan fraksi yaitu fraksi n-heksan 4,87 mgQE/g, fraksi etil asetat 8,50 mgQE/g dan air 4,16 mgQE/g. Kesimpulannya pada masing-masing fraksi mengandung senyawa flavonoid dan memiliki kadar flavonoid total tertinggi pada fraksi etil asetat.
Pengelolaan Pemanfaatan Tumbuhan Obat Pada Suku Dayak Kelurahan Sei Pasah Kecamatan Kapuas Hilir Yunitha Elzha Adelina; Melviani; Rohama
Health Research Journal of Indonesia Vol 1 No 2 (2022): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.621 KB)

Abstract

Pendahuluan: Suku dayak di Kelurahan Sei Pasah masyarakat lebih suka menggunakan tanaman obat dibandingkan obat kimia karena masih banyak hutan dan tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisonal. Pada masing- masing etnis memiliki budaya yang berbeda dan terdapat beraneka ragam kearifan lokal termasuk pemanfaatan tumbuhan untuk pengobatan tradisional tiap daerah. Tujuan: Mengetahui bagaimana cara pengelolaan pemanfaatan tumbuhan obat pada suku Dayak Kelurahan Sei Pasah Kecamatan Kapuas Hilir. Metode: Metode rancangan menggunakan deskriptif kualitatif dengan sampel merupakan masyarakat Suku Dayak Kelurahan Sei Pasah Kecamatan Kapuas Hilir berjumlah 50 orang. Teknik pengambilan data menggunakan Purposive Sampling dengan alat ukur kuesioner berupa analisis univariat. Hasil: Pengelolaan pemanfaatan tumbuhan mendapatkan informasi dari orang terdekat 100% menggunakan tanaman jahe 20%, pengelolaan tanaman ditumbuk sebanyak 50,5%, cara penggunaan diminum 86% , frekuensi perhari 100%, bagian dan interspesifik tanaman rimpang sebanyak 54,7%. Tanaman lebih banyak diambil di pekarangan rumah 95,7% dan tanaman tidak disimpan 100%. Simpulan: . Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa pengelolaan tanaman dimasyarakat Dayak berbeda-beda, walaupun lokasi berbeda begitu juga dengan informasi yang diolah juga berbeda pada masyarakat Dayak.
Formulasi Balm Stick Minyak Atsiri Cengkeh (Syzygium aromaticum) dan Uji Aktivitas Anti Radang dengan Metode Granuloma Pouch Method Nella Wiyana; Setia Budi; Rohama Rohama
Sains Medisina Vol 1 No 5 (2023): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak atsiri cengkeh (Syzygium aromaticum) memiliki banyak kegunaan, salah satunya sebagai anti peradangan. Eugenol pada minyak atsiri cengkeh merupakan kandungan yang  bekerja sebagai anti peradangan. Balm stick dibuat karena dapat memudahkan penggunaannya dan tidak mengotori tangan, sehingga sediaan  langsung bersentuhan pada daerah yang akan diobati. Tujuan pada penelitian ini mengetahui sifat fisik dan aktivitas anti peradangan dari sediaan balm stick minyak atsiri cengkeh, yang kemudian didapatkan sediaan balm stick minyak atsiri cengkeh yang baik secara fisik dan memiliki aktivitas anti peradangan. Metode yang digunakan merupakan penelitian eksperimental. Sediaan balm stick dibuat menjadi 3 formulasi dengan variasi konsentrasi minyak atsiri cengkeh, yaitu 2,5%, 5%, dan 10%. Sediaan balm stick dievaluasi fisik dan diuji aktivitas anti radang dengan metode granuloma pouch. Hasil pengamatan uji organoleptis didapatkan hasil yang tidak jauh berbeda dari setiap formulasi, hasil uji homogenitas didapatkan sediaan homogen. Hasil uji pH didapatkan pH yang sesuai dengan pH normal kulit manusia, uji daya oles sediaan dapat dioleskan dan menempel baik pada kulit. Uji aktivitas anti radang didapatkan memiliki aktivitas sebagai anti radang. Dapat disimpulkan setiap formulasi sudah memenuhi persyaratan dari evaluasi fisik sediaan. Formulasi yang optimal berdasarkan uji aktivitas anti radang adalah formulasi 3 dengan konsentrasi minyak atsiri cengkeh sebesar 10%.
Skrining Fitokimia Dan Uji Toksisitas Ekstrak Akar Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) Arum Dwi Okvianingsih; Rohama Rohama; Fakhruddin Razy
Sains Medisina Vol 1 No 5 (2023): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) adalah salah satu sumber senyawa bioaktif yang berasal dari Wilayah Tumbang Kunyi provinsi Kalimantan Tengah yang berpotensi sebagai antikanker. Mengetahui aktivitas toksisitas dan mengetahui senyawa apa saja yang terkandung dalam ekstrak akar jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Simplisia akar jeruk nipis (Citrus aurantifolia) diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% selama 3x24 jam menggunakan metode maserasi, kemudian filtrat disaring dan dikentalkan menggunakan mesin Rotary Evaporator. Ekstrak yang didapat diidentifikasi senyawa metabolit sekunder dengan metode pereaksi warna dan dilakukan uji toksisitas terhadap larva Artemia Salina Leach menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dan analisis data menggunakan Analisis Probit. Hasil penelitian ini menunjukkan ekstrak akar jeruk nipis (Citrus aurantifolia) mengandung senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, alkaloid dan tanin serta memiliki efek toksik terhadap larva Artemia salina L yang ditandai dengan LC50 <1000 μg/mL yaitu sebesar 194,45 μg/mL. Ekstrak etanol akar jeruk nipis (Citrus aurantifolia) memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, alkaloid dan tanin serta memiliki efek toksik terhadap larva Artemia Salina L.
Profil Kromatografi Dan Penentuan Kadar Flavonoid Total Fraksi N-Heksan Daun Kalangkala (Litsea angulata Bl) Menggunakan Spektrofotometri UV-Vis: Profil Kromatografi Dan Penentuan Kadar Flavonoid Total Fraksi N-Heksan Daun Kalangkala (Litsea angulata Bl) Menggunakan Spektrofotometri UV-Vis Puspita Astuti; Rohama Rohama; Setia Budi
Jurnal Pelayanan Kefarmasian dan Sains Vol 3 No 2 (2023): Journal of Pharmaceutical Care and Sciences (JPCS)
Publisher : LPPM Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/jpcs.v3i2.237

Abstract

ABSTRACTBackground: Kalangkala (Litsea angulata Bl) is a typical plant of South Kalimantan which is empirically used by the community in the treatment of boils. One of the compounds contained is flavonoids, flavonoids have many pharmacological activities, one of which is as an antibacterial. Flavonoids can be extracted with several solvents based on the level of polarity, one of which is n-hexane which has non-polar properties.Objective: To determine the chromatographic profile and total flavonoid content of the n-hexane fraction of Kalangkala (Litsea angulata Bl) leaves by using the UV-Vis Spectrophotometry method.Methods: This study used an analytical observational method to determine the chromatographic profile of flavonoids and descriptive observation in determining the total flavonoid content of the n-hexane fraction of Kalangkala (Litsea angulata Bl) leaf using UV-Vis Spectrophotometry.Results: The results of the identification of the compound showed that the leaves of Kalangkala (Litsea angulata Bl) were positive for flavonoids. Meanwhile, in the chromatographic profile, the eluent capable of detecting flavonoid compounds was n-Hexane: Ethyl acetate (8:12) with seven stains. The results of the determination of the total flavonoid content of the n-hexane fraction of Kalangkala leaves (Litsea angulata Bl) was 8,367 mg QE (Quersetin Equivalent)/g.Conclusion: Thin Layer Chromatography (TLC) of the n-Hexane fraction of Kalangkala leaves (Litsea angulata Bl) showed flavonoid compounds with the best eluent n-Hexane: Ethyl acetate (8:12) and the total flavonoid content of the n-Hexane fraction of Kalangkala (Litsea angulata Bl) was 8,367 mg QE(Quercetin Equivalent)/g.Keywords: Litsea angulata Bl, Total Flavonoid, n-Hexane
Aktivitas Antibakteri dan Penetapan Kadar Flavonoid Fraksi Daun Kalangkala (Litsea angulata) Serta Profil Kromatografi Lapis Tipis: Antibacterial Activity and Determination of Flavonoid Levels of Kalangkala Leaf Fraction (Litsea angulata) and Thin Layer Chromatography Profile Rohama Rohama; Melviani Melviani; Rahmadani Rahmadani
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v9i1.5194

Abstract

Traditionally the people of Kalimantan use kalangkala (Litsea angulata) to treat various diseases, one of which is diarrhea. It is known that kalangkala contains flavonoids that have antibacterial activity. Kalangkala leaf extract was tested for antibacterial activity against Escherichia coli which is one of the bacteria that causes diarrhea by diffusion and dilution. Then flavonoid levels are determined by the Spectophotometry UV-Vis method and see how thin layer chromatography profiles at the fraction level to find out how much flavonoid compounds there are. The results showed that kalangkala leaf extract has antibacterial activity against E.coli by diffusion obtained the diameter of the inhibitory zone already visible at a concentration of 20 mg / ml. Dilutionally obtained the value of KHM at a concentration of 50% and KBM at a concentration of 100%. Flavonoid levels in the extract were 71,367 mg QE(Quercetin Equialen)/g, at the n-Hexane fraction of 8,367 mg QE(Quercetin Equialen)/g, at the ethyl acetate fraction of 6,700 mg QE(Quercetin Equialen)/g and at the aquadest fraction of 5,700 mg QE(Quercetin Equialen)/g. Profile of Thin-Layered Chromatogaphy of the n-Hexane fraction with n-Hexane : Ethyl Acetate (8:12) eluene appeared 7 stains, ethyl acetate fraction with ethyl acetate : N-Hexane (3:7) eluene appears 5 stains and aquadest fraction with butanol: acetic acid : aquadest (4:1:5) eluent appears 2 stains.
Aktivitas Antibakteri Sediaan Kapsul Ekstrak Daun Kalangkala (Litsea angulata Bl) Serta Formulasi Dan Evaluasi Fisik Aditha Wulandari; Rohama Rohama; Setia Budi
Sains Medisina Vol 1 No 6 (2023): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu masalah yang dihadapi negara berkembang adalah penyakit diare, diare dapat disembuhkan salah satunya dengan pengobatan tradisional menggunakan tanaman. Dimana tanaman yang memiliki manfaat sebagai antidiare salah satunya adalah tanaman kalangkala, namun pengolahan yang rumit membuat peneliti tertarik untuk membuat ekstrak daun kalangkala dalam bentuk sediaan kapsul. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi formulasi yang tepat, menguji konsentrasi hambat minimum dan menguji konsentrasi bunuh minimum. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu eksperimental murni, daun kalangkala dibuat menjadi ekstrak dengan metode maserasi, selanjutnya dibuat menjadi sediaan kapsul, dan di uji antibakteri dengan menggunakan metode dilusi. Hasil yang didapatkan yaitu semua formulasi memenuhi persyaratan evaluasi fisik, kecuali uji kelembapan. Dimana formulasi terbaik terdapat di formula I dengan konsentrasi ekstrak sebanyak 100 mg. Dari hasil uji antibakteri dengan metode dilusi,didapatkan semua formula memiliki daya hambat terhadap bakteri Escherichia coli, namun belum memiliki daya bunuh terhadap bakteri Escherichia coli pada semua formula. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu formulasi terbaik terdapat di formula I dengan konsentrasi ekstrak sebanyak 100 mg, dan pada semua formula sudah memiliki daya hambat namun belum memiliki daya bunuh pada semua formula.
Uji Keseragaman Bobot dan Kadar Racikan Puyer Paracetamol di Apotek Kota Banjarmasin Tengah Hernaldi Jihan Alfiyandi; Tuti Alawiyah; Rohama Rohama; Rahmadani Rahmadani
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 6 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i6.6486

Abstract

Latar Belakang: Puyer adalah sediaan serbuk yang dibagi dalam bobot yang kurang lebih sama, dibungkus menggunakan kertas perkamen atau pengemas lainnya. Puyer yang baik harus homogen, kering, memenuhi syarat keseragaman bobot dan kadar. Berdasarkan hasil penelitian di Kecamatan Ciputat Timur menunjukkan bahwa uji keseragaman bobot dan kadar dari 8 apotek belum ada yang memenuhi persyaratan. Keseragaman bobot dapat mencerminkan dosis obat puyer yang menjadi penentu keberhasilan suatu terapi yaitu ketepatan dosis obat. Tujuan: Mengetahui keseragaman bobot dan kadar puyer paracetamol yang diracik oleh apotek kota Banjarmasin Tengah. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional. Metode uji dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan timbangan analitik dan spektrofotomerter visible. Validasi metode menggunakan LOD & LOQ, Akurasi dan Presisi. Hasil: Berdasarkan hasil uji keseragaman bobot diperoleh nilai penerimaan sebesar apotek 1 = 186,061%, apotek 2 = 172,324%, dan apotek 3 = 186,224%. Hasil uji keseragaman kadar diperoleh nilai penerimaan sebesar 233,042%. Hasil uji keseragaman bobot dan kadar dinyatakan memnuhi syarat apabila nilai penerimaan (NP) yaitu L1% ≤ 15%. Simpulan: Keseragaman bobot dan kadar racikan puyer paracetamol terhadap 3 apotek di Kecamatan Banjarmasin Tengah tidak ada satupun yang memenuhi persyaratan menurut Farmakope Indonesia V.