Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Uji Aktivitas Ekstrak Kloroform Daun Sangkareho (Callicarpa longifolia Lam.) terhadap Penyembuhan Luka Sayat pada Tikus Jantan Galur Wistar Theresia Carolina; Dyan Fitri Nugraha; Umi Hanik Fetriyah
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol 7 No 2 (2022): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v7i2.2698

Abstract

Wounds that are not treated properly could lead to infections and the worst result would be death. Meanwhile, people in Central Kalimantan use the Sangkareho (Callicarpa longifolia Lam.) leaf as wound medicine without any scientific proof. The research aims to analyze the activity of chloroform extract of Sangkareho (Callicarpa longifolia Lam.) leaf on wound healing in male Wistar rats. This research used a true experimental method with a post-test-only control group design. The sample is 25 male Wistar rats that were randomly selected into 5 groups. Rats were wounded by a 10 mm incision wound with a depth of 2 mm in regio vertebralis thoracis and regio interscapularis. Data collection based on observed the incision for 10 days (changed in wound length and wound phase). Statistically, the analysis used the Kruskal Wallis test and Mann Whitney test. The result is chloroform extract of Sangkareho (Callicarpa longifolia Lam.) leaf dose 200 mg/200 g BW enter remodeling phase with wound length 0 mm on the sixth day faster than the positive control. The results of statistical data analysis show significant differences between chloroform extract of Sangkareho (Callicarpa longifolia Lam.) leaf dose 200 mg/200 g BW group and positive control group. Chloroform extract of Sangkareho (Callicarpa longifolia Lam.) leaf dose 200 mg/200 g BW group help wound healing faster than positive controls based on change on wound length and wound phase. Wound healing is suspected because of secondary metabolites in Sangkareho (Callicarpa longifolia Lam.) leaf.
Aktivitas Fisik, Asupan Serat dan Status Ekonomi dengan Kejadian Obesitas pada Remaja di SMP Negeri 11 Kota Banjarmasin Nida Wati; Malisa Ariani; Umi Hanik Fetriyah
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 5 (2023): Volume 5 Nomor 5 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i5.8188

Abstract

ABSTRACT One of the problems of nutrition and poor nutrition in adolescents is obesity. Obesity can occur in infants, children, adolescents, adults and the elderly. Obesity can cause diseases such as cardiovascular disease, diabetes mellitus, osteoarthritis and even death. Several factors that influence the occurrence of obesity are physical activity, nutritional intake (fiber), economic factors. To determine the relationship between physical activity, fiber intake and economic status with the incidence of obesity in adolescents at SMPN 11 Banjarmasin City. Quantitative research with observational analytic cross sectional design. The sample of this study amounted to 209 adolescents. The sampling technique in this research is random sampling. Collecting data using a questionnaire, measuring height with a microtoise and weight with a digital scale. Data analysis using Chi Square test. Adolescents who are obese are 23 people (11.0%), some teenagers have inactive physical activity with obesity of 12.2%, fiber intake is not as recommended with obesity of 11.1% and high economic status with obesity of 12, 8%. The relationship between physical activity and the incidence of obesity (p = 0.422), the relationship between fiber intake and the incidence of obesity (p = 1,000), economic status and the incidence of obesity (p = 0.432). There is no relationship between physical activity, fiber intake and economic status with the incidence of obesity in adolescents at SMPN 11 Banjarmasin. Parents are expected to encourage motivation or invite children to do physical exercise by exercising 3-5 times a week. Organize meals in a day such as reducing fast food and eating foods that are high in fiber and low in calories and can calculate pocket money with children's needs at school. Keywords: Economic Status, Fiber Intake, Obesity, Physical Activity, Teenager  ABSTRAK Salah satu permasalahan gizi dan nutrisi yang kurang baik pada remaja adalah obesitas. Obesitas bisa terjadi pada bayi, anak-anak, remaja, dewasa serta lanjut usia. Obesitas dapat menyebabkan penyakit seperti kardiovaskuler, diabetes mellitus, osteoartritis hingga kematian. Beberapa faktor yang memengaruhi terjadinya obesitas yaitu aktivitas fisik, asupan gizi (serat), faktor ekonomi.  Mengetahui adanya hubungan aktivitas fisik, asupan serat dan status ekonomi dengan kejadian obesitas pada remaja di SMPN 11 Kota Banjarmasin.  Penelitian kuantitatif dengan analitik observasional desain cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 209 remaja. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, pengukuran tinggi badan dengan microtoise dan berat badan dengan timbangan digital. Analisis data menggunakan uji Chi Square. Remaja yang mengalami obesitas sebanyak 23 orang (11,0%), sebagian remaja memiliki aktivitas fisik tidak aktif dengan obesitas sebesar 12,2%, asupan serat tidak sesuai anjuran dengan obesitas sebesar 11,1% dan status ekonomi tinggi dengan obesitas sebesar 12,8%. Hubungan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas (p = 0,422), hubungan asupan serat dengan kejadian obesitas (p = 1,000), status ekonomi dengan kejadian obesitas (p = 0,432). Tidak ada hubungan aktivitas fisik, asupan serat dan status ekonomi dengan kejadian obesitas pada remaja di SMPN 11 Banjarmasin. Orang tua diharapkan mendorong untuk menumbuhkan motivasi atau mengajak anak latihan fisik dengan berolahraga 3-5x dalam seminggu. Mengatur makanan dalam sehari seperti mengurangi makanan cepat saji dan mengonsumsi makanan yang tinggi serat rendah kalori serta dapat memperhitungkan uang saku dengan keperluan anak di sekolah. Kata Kunci: Aktivitas Fisik, Asupan Serat, Obesitas, Remaja, Status Ekonomi
Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Anak Usia Sekolah dengan Thalasemia di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Nida Wati; Umi Hanik Fetriyah; Paul Joae Brett Nito
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 6 (2024): Volume 6 Nomor 6 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i6.12393

Abstract

ABSTRACT Thalassemia cases have increased every year since 2012, there were 4,896 people until 2018, there were 9,028 people. Thalassemia also has a physical, psychological and social impact on children and families due to the lifelong treatment and treatment that Thalassemia sufferers undergo. To obtain a detailed and in-depth description of nursing care for child clients with Thalassemia, emphasizing aspects of nursing care for child clients with Thalassemia. Descriptive research with case studies and quantitative and qualitative descriptive research designs. The respondent is 1 family who has a child with Thalassemia. Data collection used primary data, namely observations, short interviews and family nursing care assessment sheets as well as secondary data, namely laboratory results with data analysis using univariate analysis. The signs and symptoms obtained are that the patient's face looks facies Colley (widening of the forehead, the bridge of the nose goes inward, and the nasal bones protrude), the conjunctiva of the eye looks anemic and the eyelids are deep, on inspection the abdomen looks distended. The diagnoses that have been obtained are acute pain, knowledge deficit and nutritional deficit. Interventions from diagnosing acute pain with a pain management label, diagnosing nutritional deficits with a nutrition management label and health management diagnoses being ineffective with a health education label. Implementation was carried out in 3 x 30 minutes on 25, 26 and 27 August 2023. Evaluation obtained all diagnoses. The gap between theory and practice shows that patients have not yet experienced complications. The evaluation shows that the diagnosis of nutritional deficit has not been resolved due to metabolic complications as evidenced by the patient's poor nutritional status. Keywords: Age Child, Family, Nursing Care, School, Thalassemia  ABSTRAK Kasus Thalasemia setiap tahunnya mengalami peningkatan sejak tahun 2012 terdapat 4.896 orang sampai tahun 2018 terdapat 9.028 orang. Thalasemia juga memiliki dampak pada fisik, pikologis, sosial bagi anak dan keluarga dikarenakan pengobatan dan penanganan seumur hidup yang dijalani penderita Thalasemia.  Memperoleh gambaran asuhan keperawatan pada klien anak dengan thalasemia secara rinci dan mendalam yang ditekankan pada aspek asuhan keperawatan pada klien anak dengan Thalasemia. Penelitian deskriptif dengan studi penelaahan kasus (case study) dan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif serta kualitatif. Responden merupakan 1 keluarga yang memiliki anak dengan Thalasemia. Pengumpulan data menggunakan data primer yaitu observasi, wawancara singkat dan lembar pengkajian asuhan keperawatan keluarga serta data sekunder yaitu hasil laboratorium dengan analisis data menggunakan analisis univariat kuantitatif dan kualitatif. Tanda dan gejala yang didapatkan ialah tampak wajah pasien facies colley (pelebaran dahi, batang hidung masuk ke dalam, dan menonjol pada tulang hidung), bagian mata konjungtiva tampak anemis dan kelopak mata dalam, inspeksi bagian abdomen tampak buncit. Diagnosa yang sudah didapatkan nyeri akut, defisit pengetahuan dan defisit nutrisi. Intervensi dari diagnosa nyeri akut dengan label manajemen nyeri, diagnosa defisit nutrisi dengan label manajemen nutrisi dan diagnosa manajemen kesehatan tidak efektif dengan label edukasi kesehatan. Implementasi dilakukan 3x30 menit pada tanggal 25, 26 dan 27 Agustus 2023. Evaluasi didapatkan semua diagnosa. Kesenjangan antara teori dan praktik didapatkan bahwa pada pasien belum4 didapatkan komplikasi. Evaluasi yang didapat bahwa diagnosa defisit nutrisi belum teratasi dikarenakan terjadi komplikasi metabolik yang dibuktikan dengan status gizi pasien masih kurang. Kata Kunci: Anak, Asuhan Keperawatan, Keluarga, Thalasemia, Usia Sekolah
EFEKTIVITAS COOPERATIVE LEARNING MODEL (JIGSAW) TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN BULLYING PADA REMAJA BANJARMASIN Siti Aisyah; Paul Joae Brett Nito; Umi Hanik Fetriyah; Malisa Ariani
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 14, No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.14.1.2026.%p

Abstract

Latar Belakang: Bullying pada remaja masih menjadi masalah di lingkungan sekolah, termasuk di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Banjarmasin, dimana sebagian siswa belum memahami bahwa perilaku seperti mengejek dan memberi julukan negatif termasuk bullying verbal. Kondisi ini berdampak pada kesehatan mental dan emosional korban maupun pelaku, seperti kecemasan, penurunan harga diri, dan berkembangnya perilaku agresif, serta diperparah oleh belum adanya program pencegahan bullying yang terstruktur di sekolah. Oleh karena itu, diperlukan intervensi edukasi melalui pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw sebagai solusi untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan mencegah terjadinya bullying. Tujuan: Mengetahui efektivitas model pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw dalam meningkatkan pengetahuan siswa tentang bullying. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra- eksperimen (One Group Pretest-Posttest Design). Sampel terdiri dari 161 siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Banjarmasin yang dipilih melalui teknik proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan bullying. Analisis data menggunakan uji statistik wilcoxon. Hasil: Mayoritas responden jenis kelamin perempuan sebesar 60,9% dan mayoritas umur berusia 13 tahun sebesar 76,4%. Rata-rata nilai pre-test tingkat pengetetahuan sebesar 82.23 meningkat menjadi 88.32 pada post-test, artinya ada peningkatan pengetahuan sebesar 6,09. Cooperative Learning tipe Jigsaw efektif untuk meningkatkan pengetahuan dengan nilai signifikansi α = 0,000 (p < 0,05). Simpulan: Model pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai bullying di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Banjarmasin. Metode ini disarankan untuk diterapkan pada remaja sebagai media edukasi dalam pencegahan bullying di lingkungan sekolah.
Manajemen Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis dengan Gangguan Pola Napas dan Intoleransi Aktivitas: Studi Kasus Jimmi Jimmi; Umi Hanik Fetriyah; Latifah Latifah
Journal of Language and Health Vol. 7 No. 1 (2026): Journal of Language and Health: March 2026
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v7i1.1794

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang menjadi masalah kesehatan utama karena dapat menimbulkan gangguan sistem pernapasan dan penurunan kondisi fisik pasien. Tujuan untuk menggambarkan penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan Tuberkulosis di RSUD Sultan Syuriansyah Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan pendekatan proses asuhan keperawatan meliputi pengkajian, penegakan diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Penelitian dilakukan pada satu pasien dengan Tuberkulosis selama 2 hari perawatan. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, serta dokumentasi rekam medis. Analisis dilakukan dengan membandingkan kondisi pasien dengan standar asuhan keperawatan (SDKI, SIKI, SLKI). Hasil pengkajian pada pasien Tn. A menunjukkan keluhan sesak napas, batuk berdahak sejak dua minggu, serta mudah lelah saat beraktivitas. Ditegakkan empat diagnosis keperawatan yaitu pola napas tidak efektif, bersihan jalan napas tidak efektif, intoleransi aktivitas, dan perfusi perifer tidak efektif. Intervensi jalan nafas, batuk efektif, manajeme energi dan perawatan sirkulasi menunjukkan keempat masalah keperawatan teratasi sebagian. Pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien Tn. A dengan Tuberkulosis di RSUD Sultan Syuriansyah Banjarmasin, dengan empat masalah keperawatan pola napas tidak efektif, bersihan jalan napas tidak efektif, intoleransi aktivitas, dan perfusi perifer tidak efektif. telah mendapatkan intervensi namun belum optimal sehingga seluruh masalah keperawatan dinyatakan teratasi sebagian.
Hubungan Paparan Asap Rokok dan Pembakaran Sampah dengan Kejadian ISPA pada Anak Yulianti Yulianti; Umi Hanik Fetriyah; Adriana Palimbo; Paul Joae Brett Nito
Journal of Language and Health Vol. 7 No. 1 (2026): Journal of Language and Health: March 2026
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v7i1.1838

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak dan menjadi penyebab utama morbiditas. Anak memiliki sistem imun yang belum matang sehingga lebih rentan terhadap paparan polusi udara di lingkungan rumah tangga. Paparan asap rokok dan asap pembakaran sampah mengandung partikel berbahaya yang dapat mengiritasi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko ISPA. Kebiasaan merokok di dalam rumah serta praktik pembakaran sampah masih banyak ditemukan di masyarakat dan berpotensi meningkatkan paparan pada anak. Tujuan untuk mengetahui hubungan antara paparan asap rokok dan paparan asap pembakaran sampah dengan kejadian ISPA pada anak. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional dan rancangan cross-sectional. Sampel berjmla 35 orang yang diambil dengan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai paparan asap rokok, paparan asap pembakaran sampah, dan kejadian ISPA. Hasil uji validitas menunjukkan semua item kuesioner memiliki nilai r hitung > r tabel pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05), sehingga dinyatakan valid. Sementara itu, uji reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha memperoleh nilai α sebesar 0,842, yang berarti instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi dan konsisten. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Sebagian besar anak yang terpapar asap rokok  sebesar 60%, dan asap pembakaran sampah sebesar 31,1,  Sebagian anak mengalami ISPA sebesar 42,2%. Uji Fisher menunjukkan hubungan antara paparan asap rokok dan paparan asap pembakaran sampah dengan kejadian ISPA masing-masing nilai p-value nya 0.000 (α < 0,05). Paparan asap rokok dan pembakaran sampah berhubungan dengan kejadian ISPA pada anak.