Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Anak Usia Sekolah dengan Thalasemia di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Nida Wati; Umi Hanik Fetriyah; Paul Joae Brett Nito
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 6 (2024): Volume 6 Nomor 6 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i6.12393

Abstract

ABSTRACT Thalassemia cases have increased every year since 2012, there were 4,896 people until 2018, there were 9,028 people. Thalassemia also has a physical, psychological and social impact on children and families due to the lifelong treatment and treatment that Thalassemia sufferers undergo. To obtain a detailed and in-depth description of nursing care for child clients with Thalassemia, emphasizing aspects of nursing care for child clients with Thalassemia. Descriptive research with case studies and quantitative and qualitative descriptive research designs. The respondent is 1 family who has a child with Thalassemia. Data collection used primary data, namely observations, short interviews and family nursing care assessment sheets as well as secondary data, namely laboratory results with data analysis using univariate analysis. The signs and symptoms obtained are that the patient's face looks facies Colley (widening of the forehead, the bridge of the nose goes inward, and the nasal bones protrude), the conjunctiva of the eye looks anemic and the eyelids are deep, on inspection the abdomen looks distended. The diagnoses that have been obtained are acute pain, knowledge deficit and nutritional deficit. Interventions from diagnosing acute pain with a pain management label, diagnosing nutritional deficits with a nutrition management label and health management diagnoses being ineffective with a health education label. Implementation was carried out in 3 x 30 minutes on 25, 26 and 27 August 2023. Evaluation obtained all diagnoses. The gap between theory and practice shows that patients have not yet experienced complications. The evaluation shows that the diagnosis of nutritional deficit has not been resolved due to metabolic complications as evidenced by the patient's poor nutritional status. Keywords: Age Child, Family, Nursing Care, School, Thalassemia  ABSTRAK Kasus Thalasemia setiap tahunnya mengalami peningkatan sejak tahun 2012 terdapat 4.896 orang sampai tahun 2018 terdapat 9.028 orang. Thalasemia juga memiliki dampak pada fisik, pikologis, sosial bagi anak dan keluarga dikarenakan pengobatan dan penanganan seumur hidup yang dijalani penderita Thalasemia.  Memperoleh gambaran asuhan keperawatan pada klien anak dengan thalasemia secara rinci dan mendalam yang ditekankan pada aspek asuhan keperawatan pada klien anak dengan Thalasemia. Penelitian deskriptif dengan studi penelaahan kasus (case study) dan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif serta kualitatif. Responden merupakan 1 keluarga yang memiliki anak dengan Thalasemia. Pengumpulan data menggunakan data primer yaitu observasi, wawancara singkat dan lembar pengkajian asuhan keperawatan keluarga serta data sekunder yaitu hasil laboratorium dengan analisis data menggunakan analisis univariat kuantitatif dan kualitatif. Tanda dan gejala yang didapatkan ialah tampak wajah pasien facies colley (pelebaran dahi, batang hidung masuk ke dalam, dan menonjol pada tulang hidung), bagian mata konjungtiva tampak anemis dan kelopak mata dalam, inspeksi bagian abdomen tampak buncit. Diagnosa yang sudah didapatkan nyeri akut, defisit pengetahuan dan defisit nutrisi. Intervensi dari diagnosa nyeri akut dengan label manajemen nyeri, diagnosa defisit nutrisi dengan label manajemen nutrisi dan diagnosa manajemen kesehatan tidak efektif dengan label edukasi kesehatan. Implementasi dilakukan 3x30 menit pada tanggal 25, 26 dan 27 Agustus 2023. Evaluasi didapatkan semua diagnosa. Kesenjangan antara teori dan praktik didapatkan bahwa pada pasien belum4 didapatkan komplikasi. Evaluasi yang didapat bahwa diagnosa defisit nutrisi belum teratasi dikarenakan terjadi komplikasi metabolik yang dibuktikan dengan status gizi pasien masih kurang. Kata Kunci: Anak, Asuhan Keperawatan, Keluarga, Thalasemia, Usia Sekolah
EFEKTIVITAS COOPERATIVE LEARNING MODEL (JIGSAW) TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN BULLYING PADA REMAJA BANJARMASIN Siti Aisyah; Paul Joae Brett Nito; Umi Hanik Fetriyah; Malisa Ariani
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 14, No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.14.1.2026.%p

Abstract

Latar Belakang: Bullying pada remaja masih menjadi masalah di lingkungan sekolah, termasuk di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Banjarmasin, dimana sebagian siswa belum memahami bahwa perilaku seperti mengejek dan memberi julukan negatif termasuk bullying verbal. Kondisi ini berdampak pada kesehatan mental dan emosional korban maupun pelaku, seperti kecemasan, penurunan harga diri, dan berkembangnya perilaku agresif, serta diperparah oleh belum adanya program pencegahan bullying yang terstruktur di sekolah. Oleh karena itu, diperlukan intervensi edukasi melalui pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw sebagai solusi untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan mencegah terjadinya bullying. Tujuan: Mengetahui efektivitas model pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw dalam meningkatkan pengetahuan siswa tentang bullying. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra- eksperimen (One Group Pretest-Posttest Design). Sampel terdiri dari 161 siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Banjarmasin yang dipilih melalui teknik proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan bullying. Analisis data menggunakan uji statistik wilcoxon. Hasil: Mayoritas responden jenis kelamin perempuan sebesar 60,9% dan mayoritas umur berusia 13 tahun sebesar 76,4%. Rata-rata nilai pre-test tingkat pengetetahuan sebesar 82.23 meningkat menjadi 88.32 pada post-test, artinya ada peningkatan pengetahuan sebesar 6,09. Cooperative Learning tipe Jigsaw efektif untuk meningkatkan pengetahuan dengan nilai signifikansi α = 0,000 (p < 0,05). Simpulan: Model pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai bullying di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Banjarmasin. Metode ini disarankan untuk diterapkan pada remaja sebagai media edukasi dalam pencegahan bullying di lingkungan sekolah.
Hubungan Paparan Asap Rokok dan Pembakaran Sampah dengan Kejadian ISPA pada Anak Yulianti Yulianti; Umi Hanik Fetriyah; Adriana Palimbo; Paul Joae Brett Nito
Journal of Language and Health Vol. 7 No. 1 (2026): Journal of Language and Health: March 2026
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v7i1.1838

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak dan menjadi penyebab utama morbiditas. Anak memiliki sistem imun yang belum matang sehingga lebih rentan terhadap paparan polusi udara di lingkungan rumah tangga. Paparan asap rokok dan asap pembakaran sampah mengandung partikel berbahaya yang dapat mengiritasi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko ISPA. Kebiasaan merokok di dalam rumah serta praktik pembakaran sampah masih banyak ditemukan di masyarakat dan berpotensi meningkatkan paparan pada anak. Tujuan untuk mengetahui hubungan antara paparan asap rokok dan paparan asap pembakaran sampah dengan kejadian ISPA pada anak. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional dan rancangan cross-sectional. Sampel berjmla 35 orang yang diambil dengan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai paparan asap rokok, paparan asap pembakaran sampah, dan kejadian ISPA. Hasil uji validitas menunjukkan semua item kuesioner memiliki nilai r hitung > r tabel pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05), sehingga dinyatakan valid. Sementara itu, uji reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha memperoleh nilai α sebesar 0,842, yang berarti instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi dan konsisten. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Sebagian besar anak yang terpapar asap rokok  sebesar 60%, dan asap pembakaran sampah sebesar 31,1,  Sebagian anak mengalami ISPA sebesar 42,2%. Uji Fisher menunjukkan hubungan antara paparan asap rokok dan paparan asap pembakaran sampah dengan kejadian ISPA masing-masing nilai p-value nya 0.000 (α < 0,05). Paparan asap rokok dan pembakaran sampah berhubungan dengan kejadian ISPA pada anak.
PENGARUH PEMBERIAN POSISI SEMIPRONASI DENGAN NESTING TERHADAP PERUBAHAN SATURASI OKSIGEN DAN FREKUENSI NAFAS PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUANG KARAMUNTING RSUD SULTAN SURIANSYAH BANJARMASIN Mahbubah Mahbubah; Paul Joae Brett Nito; Bagus Rahmat Santoso; Umi Hanik Fetriyah
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 11, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v11i1.4806

Abstract

Latar Belakang: penyebab kematian pada bayi baru lahir terutama pada neonatal adalah BBLR. World Health Organization (WHO) bayi berat lahir rendah (BBLR) sebagai berat lahir <2500gr terlepas dari usia kehamilan. Di Kota Banjarmasin pada tahun 2023 menurut Kemenkes mengalami peningkatan prevalensi kelahiran BBLR hampir 2 kali lipat dari tahun sebelumnya. BBLR beresiko mengalami sesak nafas dan desaturasi oksigen. Salah satu upaya untuk meningkatkan saturasi oksigen (SpO2) dan perubahan frekunsi nafas (RR) yakni pemberian posisi semipronasi dengan nesting.Tujuan: untuk mengetahui pengaruh pemberian posisi semipronasi dengan nesting terhadap perubahan saturasi oksigen dan frekuensi nafas pada bayi berat lahir rendah (BBLR) di ruang Karamunting RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin.Metode: sampel berjumlah 30 bayi BBLR dengan teknik pengambilan total sampling. Penelitian kuantitatif dengan desain pra-experiment dengan One Group pretest-posttest only without control group. Pengumpulan data menggunakan pulse oxymetry dan ari-timer. Data diobservasi pada menit ke-0, ke-15, ke-30 dan menit ke-60. Analisis data yang digunakan uji Wilcoxon.Hasil: nilai rata-rata perubahan SpO2 sebesar 3,03% dan nilai rata-rata perubahan RR sebesar 3,6 x/m setelah pemberian intervensi selama 60 menit. Perubahan rata-rata nilai SpO2 dan RR paling banyak terjadi pada menit ke-30-60 menit. Pengaruh pemberian didapatkan nilai masing-masing p-value=0,003<?(0,05) pada SpO2 dan p-value= 0,000<?(0,05) pada RR.Kesimpulan: pemberian posisi semipronasi dengan nesting dapat memberi pengaruh pada saturasi oksigen dan frekuensi nafas pada bayi BBLR. Rekomendasi: untuk tenaga kesehatan memposisikan bayi BBLR yang mengalami desaturasi oksigen dan sesak nafas bisa diberikan posisi semipronasi dengan nesting.
Hubungan Respon Awal Saat Muncul Tanda dan Gejala dengan Pre Hospital Delay pada Pasien Acute Coroner Syndrome (ACS) Dessy Wulandari; Bagus Rahmat Santoso; Paul Joae Brett Nito; Umi Hanik Fetriyah
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 4 (2025): Agustus 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i4.234

Abstract

Acute Coronary Syndrome (ACS) merupakan kondisi kegawatan yang paling sering mengakibatkan kematian. Pasien dengan Acute Coroner Syndrome (ACS) dapat memiliki angka morbiditas dan mortilitas yang tinggi. Penyebab Acute Coronary Syndrome (ACS) adalah terjadinya oklusi mendadak arteri koroner, sehingga harus diobati dengan tepat dan cepat. Pentingnya respon awal keluarga untuk menentukan pre hospital delay setelah terjadinya serangan Acute Coroner Syndrome (ACS) sangat mempengaruhi ketercapaian kondisi klinis pasien yang lebih baik. Tujuan untuk mengetahui hubungan respon awal saat muncul tanda dan gejala dengan pre hospital delay pada pasien Acute Coroner Syndrome (ACS) di IGD RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin. Jenis penelitaian kuantitatif menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan data menggunakan Purposive sampling (judgmental sampling). Penelitian ini dilakukan pada 30 responden dengan kriteria inklusi. Data didapatkan dengan melakukan penyebaran kuesioner. Analisa data menggunakan analisa univariat dan bivariat. Hasil uji Two Sample kolmogrof-smirnov diperoleh nilai P Value = 0.452 (α>0.05), Two Sample kolmogrove-smirnov diperoleh nilai P Value = 0.115 (α>0.05), Fisher’s Exact diperoleh nilai P Value = 0.028 (α< 0.05). Tidak ada hubungan antara respon awal saat muncul tanda dan gejala dengan pre hospital delay pada pasien Acute Coroner Syndrome (ACS) di IGD RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin.
Hubungan antara Body Shaming dengan Tingkat Kepercayaan Diri pada Remaja Wahdatun Nisa; Paul Joae Brett Nito; Malisa Ariani; Umi Hanik Fetriyah
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 5 (2025): Oktober 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i5.762

Abstract

Body shaming merupakan tindakan merendahkan fisik seseorang yang dapat memengaruhi kepercayaan diri, terutama pada remaja yang berada dalam tahap perkembangan identitas diri. Namun, tidak semua remaja yang mengalami body shaming mengalami penurunan kepercayaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Antara Body Shaming dengan tingkat kepercayaan diri pada remaja SMP. Jenis penelitian yaitu Kuantitatif Analitik dengan pendekatan Cross-Sectional. Sampel sebanyak 163 orang remaja kelas VIII SMP Negeri 3 Banjarmasin dipilih menggunakan Teknik Proportional Random Sampling. Instrumen yang digunakan kuesioner body shaming dan kepercayaan diri yang sudah di uji validitas. Analisis data dilakukan melalui uji chi square. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan 54,6%  dengan proporsi terbanyak berasal dari kelas B 13,5%. Mayoritas responden masuk Body Shaming kategori sedang (71,2%). Hasil tingkat kepercayaan diri mayoritas kategori tinggi (82,8%). Hasil uji hubungan Body Shaming dengan Tingkat Kepercayaan Diri didapatkan p-value 0,172 artinya tidak ada hubungan antara body shaming dengan tingkat kepercayaan diri. Meskipun banyak remaja mengalami body shaming kategori sedang, mayoritas tetap memiliki kepercayaan diri tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan diri remaja tidak hanya dipengaruhi oleh pengalaman negatif, melainkan juga oleh faktor lain seperti penerimaan diri dan dukungan sosial.
Hubungan Pengetahuan tentang Tablet Tambah Darah dengan Kejadian Anemia pada Siswi SMPN Leny Eviriana; Paul Joae Brett Nito; Malisa Ariani; Umi Hanik Fetriyah
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 1 (2026): Februari 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i1.1518

Abstract

Angka kejadian anemia pada remaja putri cenderung meningkat tiap tahunnya.  Anemia pada remaja dapat mengakibatkan lemah, letih, lesu, lelah dan cepat lupa. Selain itu anemia akan menurunkan daya tahan tubuh dan mengakibatkan mudah terkena infeksi. Salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian anemia remaja yaitu pengetahuan. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang tablet tambah darah dengan kejadian anemia di SMPN 1 Banama Tingang Tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan survei analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 47 remaja putri yang diambil dengan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan pemeriksaan HB dengan menggunakan alat hemaglobinmeter portable. Mayoritas responden memiliki pengetahuan cukup sebanyak 46,81% . Kejadian anemoia pada remaja sebanyak 40,43%. Analisis statistik menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara pengetahuan dengan kejadian anemia dengan nilai p-value = 0.110 (α > 0.05). Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kejadian anemia.
PENGARUH PEMBERIAN POSISI SEMIPRONASI DENGAN NESTING TERHADAP PERUBAHAN SATURASI OKSIGEN DAN FREKUENSI NAFAS PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUANG KARAMUNTING RSUD SULTAN SURIANSYAH BANJARMASIN Mahbubah Mahbubah; Paul Joae Brett Nito; Bagus Rahmat Santoso; Umi Hanik Fetriyah
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol. 11 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v11i1.4806

Abstract

Latar Belakang: penyebab kematian pada bayi baru lahir terutama pada neonatal adalah BBLR. World Health Organization (WHO) bayi berat lahir rendah (BBLR) sebagai berat lahir <2500gr terlepas dari usia kehamilan. Di Kota Banjarmasin pada tahun 2023 menurut Kemenkes mengalami peningkatan prevalensi kelahiran BBLR hampir 2 kali lipat dari tahun sebelumnya. BBLR beresiko mengalami sesak nafas dan desaturasi oksigen. Salah satu upaya untuk meningkatkan saturasi oksigen (SpO2) dan perubahan frekunsi nafas (RR) yakni pemberian posisi semipronasi dengan nesting.Tujuan: untuk mengetahui pengaruh pemberian posisi semipronasi dengan nesting terhadap perubahan saturasi oksigen dan frekuensi nafas pada bayi berat lahir rendah (BBLR) di ruang Karamunting RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin.Metode: sampel berjumlah 30 bayi BBLR dengan teknik pengambilan total sampling. Penelitian kuantitatif dengan desain pra-experiment dengan One Group pretest-posttest only without control group. Pengumpulan data menggunakan pulse oxymetry dan ari-timer. Data diobservasi pada menit ke-0, ke-15, ke-30 dan menit ke-60. Analisis data yang digunakan uji Wilcoxon.Hasil: nilai rata-rata perubahan SpO2 sebesar 3,03% dan nilai rata-rata perubahan RR sebesar 3,6 x/m setelah pemberian intervensi selama 60 menit. Perubahan rata-rata nilai SpO2 dan RR paling banyak terjadi pada menit ke-30-60 menit. Pengaruh pemberian didapatkan nilai masing-masing p-value=0,003<?(0,05) pada SpO2 dan p-value= 0,000<?(0,05) pada RR.Kesimpulan: pemberian posisi semipronasi dengan nesting dapat memberi pengaruh pada saturasi oksigen dan frekuensi nafas pada bayi BBLR. Rekomendasi: untuk tenaga kesehatan memposisikan bayi BBLR yang mengalami desaturasi oksigen dan sesak nafas bisa diberikan posisi semipronasi dengan nesting.
Riwayat Anemia pada Ibu Hamil dengan Kejadian Stunting pada Balita Siti Fatimah; Malisa Ariani; Paul Joae Brett Nito; Umi Hanik Fetriyah
Surya Medika: Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 20 No. 2 (2025)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/sm.v20i2.1186

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan indikator yang menggambarkan kondisi sosial-ekonomi suatu negara dan masalah kesehatan yang berkaitan dengan kekurangan sumber daya manusia yang produktif dan berkualitas di masa depan. Jumlah anak stunting di Indonesia masih tinggi dan belum mencapai target nasional. Salah satu faktor risiko yang diduga menjadi penyebab stunting adalah kekurangan gizi dari ibu ke janin dalam kandungan akibat anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi antara riwayat anemia pada ibu hamil dengan prevalensi stunting pada anak di Pusat Kesehatan Pekauman. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain survei analitis dan pendekatan kohort retrospektif ini dilakukan pada 103 ibu yang memiliki balita berusia 2-5 tahun dengan teknik sampling acak. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dengan lembar observasi dan alat ukur mikrotis. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki riwayat anemia gestasional sebanyak 57 orang (55,3%), dan sebagian besar anak mengalami stunting sebanyak 63 anak (61,2%). Hasil analisis data menunjukkan nilai p = 0,000 dan OR 24,083. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara riwayat anemia pada ibu hamil dan insidensi stunting pada balita di Pusat Kesehatan Masyarakat Pekauman Banjarmasin. Pencegahan dapat dilakukan melalui minimal enam kunjungan antenatal care (ANC) dan kepatuhan terhadap suplementasi zat besi sebagai upaya promosi dan pencegahan untuk mengurangi angka stunting dan meningkatkan kesehatan ibu dan anak.