Ririn Setyowati
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

SLAVERY OF THE MAIN CHARACTER SOLOMON NORTHUP IN THE 12 YEARS A SLAVE MOVIE Alfred Alfred; M Natsir; Ririn Setyowati
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.49 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i3.670

Abstract

ABSTRACT This research revolve around a movie based on real life experience that show us about the two sides of ideology that clash between each other and the result because of it, learning from history is crucial in order to prevent society to commit the same mistake or experience the same tragedy. Descriptive qualitative approach was used in this research. The research focused on two purposes namely to identify the form of slavery that occur in the movie and the effects of slavery toward the main character Solomon Northup`s mental state during his 12 years enslavement. There are five types of slavery that occurred in the movie which are debt bondage, contract slavery, forced labor, human trafficking, and sexual slavery. Solomon showed six kinds of psychological arousal throughout the entire movie which are anger, disappointment, frustration, hate, sad, and happiness and all those emotions were related to his 12 years of enslavement. Furthermore, cognitive label was used to classify those six psychological arousals into three forms. Those three forms of cognitive label are crying, laughing, and screaming. The psychological arousal happiness belonged to both crying and laughing cognitive label. Psychological arousal anger and disappointment belong to cognitive label screaming. Psychological arousal sad and frustration belong to cognitive label crying. Key words: slavery, human rights  ABSTRAK Penelitian ini mengkaji sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Tujuan dari penelitian ini adalah agar masyarakat bisa mengenali sejarah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian ini memiliki dua tujuan yakni mengidentifikasi bentuk-bentuk perbudakan yang terjadi dalam film dan efek perbudakan terhadap karakter Solomon Northup selama 12 tahun perbudakan yang dialaminya. Ada lima jenis perbudakan yang ditunjukkan di film, yakni perbudakan piutang, perbudakan kontrak, kerja paksa, perdagangan manusia, dan perbudakan seksual. Solomon menunjukkan enam macam dorongan psikologi, yakni amarah, kekecewaan, frustasi, benci, sedih dan bahagia, seluruh emosi itu berkaitan dengan perbudakannya selama 12 tahun. Selanjutnya, label kognitif digunakan untung mengklasifikasi keenam dorongan psikologis tersebut menjadi tiga kategori. Ketiga kategori label kognitif tersebut adalah menangis, tertawa, dan berteriak. Dorongan psikologi bahagia masuk di label kognitif menangis dan tertawa. Dorongan psikologis amarah dan kekecewaan masuk di label kognitif berteriak. Dorongan psikologi sedih dan frustasi masuk di label kognitif menangis. Kata kunci: perbudakan, hak asasi manusia
African American Vernacular English in Shrek Movie Devi Indah Anggreeni; M. Bahri Arifin; Ririn Setyowati
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.668 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i2.904

Abstract

Abstract Language is influenced by social differences that appear in society, such as age, gender, religion, power, economic status, and ethnicity. Those social factors produce different kinds of language which is called as variety. Ethnicity as one of the social factors influences the emergence of variety that comes from African American people who lives in United States of America. The variety is called as African American Vernacular English (AAVE). AAVE is often used in literary works to represent African American ethnicity as occurred in Shrek movie through the character of Donkey.This research focused on analyzing the grammatical characteristics of Donkey’s AAVE utterances and the factors underlying them through descriptive qualitative research. The result of this research showed that Donkey’s AAVE utterances have three AAVE’s grammatical features which are verb phrase, negation, and nominal and all four factors which consist of social class, gender, age, and linguistic environment underlying those grammatical characteristics. AAVE grammatical characteristics that appeared in Donkey’s utterances are Copula/Auxiliary Absence, Invariant be, Subject-Verb-Agreement, Other Verb Phrase Structure, ain’t, multiple negation, ain’t with but, and second person plural y’all. Those grammatical characteristics are influenced by Donkey’s working class status, his male gender, teenage age, and his mood when the utterances were taking place whether he was comfortable or not. AAVE grammatical characteristics indicate that Donkey’s character represents African American ethnicity through his utterances and the factors underlying them show that Donkey’s variety is influenced by the social factors that appear in society.Key words: Language, Sociolinguistics, Ethnicity, AAVE, Shrek Movie AbstrakBahasa dipengaruhi oleh perbedaan sosial yang timbul di masyarakat, seperti umur, gender, agama, kekuasaan, status ekonomi, dan etnis. Faktor-faktor sosial tersebut menghasilkan berbagai tipe dari bahasa yang disebut dengan variasi. Etnis sebagai salah satu sosial faktor tersebut mempengaruhi kemunculan sebuah variasi yang berasal dari orang Afrika Amerika yang tinggal di Amerika. Variasi tersebut dinamakan bahasa Inggris Vernakular Afrika Amerika atau AAVE dalam istilah bahasa Inggris. AAVE sering digunakan di karya sastra untuk merepresentasikan etnis Afrika Amerika seperti yang terjadi di film Shrek melalui karakter Donkey.Penelitian ini berfokus pada analisa karakteristik gramatikal dari ujaran AAVE oleh Donkey dan faktor yang mempengaruhi melalui penelitian kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ujaran AAVE Donkey terdiri dari tiga fitur gramatikal, yaitu frasa kata kerja, negasi, dan nominal, dan keempat faktor yang mempengaruhinya, yaitu kelas sosial, gender, umur, dan lingkungan linguistik. Karakteristik gramatikal yang muncul pada ujaran Donkey adalah Ketiadaan Copula/Auxiliary, Invariant be, Subjek-Predikat-Object, Frasa Kata Kerja yang Lain, ain’t, negasi ganda, ain’t dengan but, dan orang kedua jamak y’all. Karakteristik gramatikal tersebut dipengaruhi oleh kelas sosial Donkey yang adalah kelas bawah, gender laki-lakinya, umur remaja, dan suasana hatinya apakah dia merasa nyaman atau tidak ketika sedang berdialog. Karakteristik gramatikal AAVE dalam ujaran Donkey mengindikasikan bahwa karakter Donkey merepresentasikan etnis Afrika Amerika melalui ujarannya dan faktor yang mendasarinya menunjukkan bahwa variasi bahasa Donkey dipengaruhi oleh faktor sosial yang muncul dalam masyarakat. Kata kunci: Bahasa, Sosiolinguistik, Etnis, AAVE, Film Shrek
SPEECH DISORDER OF STUTTERING CHARACTER IN "ROCKET SCIENCE" MOVIE Mayang Hima Sari; M. Bahri Arifin; Ririn Setyowati
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 4, No 3 (2020): Juli 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v4i3.2992

Abstract

AbstractStuttering is a speech disorder in which repetition and prolongation of syllables, sound, and phrase interfere with fluency. Someone who experiences stuttering will have a hard time to start the word because of disruption in repetition, vocals and articulation involve the throat, palate, tongue, lips, and teeth. Stuttering may be worse when the person is excited, tired or under stress, or when feeling self-conscious, hurried or pressured. A situation such as speaking in front of a group or talking to the phone can be particularly difficult for people who stutter. As a reflection of real life, a movie can also contain the phenomena of stuttering such as in Rocket Science movies. This research aimed to describe the types of stuttering and also the consequences of being stuttering in social life that experienced by Hal Hefner in Rocket Science movies. This research was conducted by using content analysis qualitative method. The data were generated from movie and movie script in the form of utterances, dialogues, words, and conversations. The result of this research shows that there are ninety-five data which are indicated as the types of stuttering experienced by Hal Hefner in Rocket Science movie. Besides, it was also found the consequences of being stuttering in social life experienced by Hal Hefner in the movie. The researcher shows that there are twelve data of consequences that the researcher found in the movie. The most common consequence that the researcher found in the film is fear to talk.  AbstrakGagap adalah gangguan berbicara yang mana terjadinya pengulangan dan perpanjangan suku kata, suara, dan frasa yang dapat menganggu kefasihan. Seseorang yang mengalami gagap akan mengalami kesulitan untuk memulai kata karena gangguan dalam pengulangan, vokal, dan artikulasi yang melibatkan tenggorokan, langit-langit mulut, lidah bibir, dan gigi. Gagap akan lebih buruk ketika bersemangat, lelah atau dibawah tekanan, atau ketika merasa sadar diri, tergesa-gesa atau tertekan. Situasi ketika berbicara didepan kelompok atau berbicara di telepon dapat menjadi sangat sulit bagi orang yag gagap. Sebagai cerminan dari dunia nyata, sebuah film juga mengandung fenomena kegagapan seperti dalam film Rocket Science. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis gagap dan juga konsekuensi dari kegagapan dalam kehidupan sosial yang dialami oleh Hal Hefner dalam film Rocket Science. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis isi kualitatif. Data dihasilkan dari skrip film dan film dalam bentuk ucapan, dialog, kata-kata dan percakapan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada Sembilan puluh lima data yang diidentifikasi sebagai jenis gagap yang dialami oleh Hal Hefner dalam film Rocket Science. Selain itu, ditemukan juga konsekuensi kegagapan dalam kehidupan sosial yang dialami Hal Hefner dalam film tersebut. Peneliti menunjukkan bahwa ada dua belas data dari konsekuensi yang ditemukan oleh peneliti di dalam film. Konsekuensi yang paling banyak ditemukan dalam film tersebut adalah takut untuk berbicara.
POLITENESS STRATEGIES USED BY THE CHARACTERS IN FINDING NEVERLAND MOVIE (2004) Karina Sari; Surya Sili; Ririn Setyowati
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 1, No 4 (2017): Edisi Oktober 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.397 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i4.714

Abstract

ABSTRACT Politeness is one of important thing in doing conversation to avoid misunderstanding between speaker and hearer during the conversation to make the social interaction running more harmony. The purposes of this research were to find out types of politeness strategies, factors influencing the characters in using politeness strategies and the dominant politeness strategy used by the characters in Finding Neverland movie. The research method in this research was descriptive qualitative research, the theory of politeness strategies by Brown and Levinson (1987) was used to analyze the four types of politeness strategy. The result of this research showed that there were fifty eight utterances represented four politeness strategies used by the characters in Finding Neverland movie. Fourteen utterances represented of bald on record strategy, twenty seven utterances represented of positive politeness strategy, sixteen utterances represented of negative politeness strategy and oneutterance represented bald off record strategy. There are 2 factors influencing the choice of politeness strategies used by the characters in Finding Neverland movie. They are intrinsic payoff and relevant circumstances. Fifty eight utterances categorized as politeness strategies, twenty seven of them belong to positive politeness strategy, so that positive politeness strategy is the most dominantly used by the characters in Finding Neverland movie. Keywords: pragmatics, context, politeness strategies, movie  ABSTRAK Kesantunan merupakan satu hal penting dalam melakukan suatu percakapan untuk menghindari kesalahpaham antara pembicara dan pendengar dalam melakukan percakapan agar interaksi sosial berjalan lebih harmonis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tipe - tipe strategy kesantunan, factor - faktor yang mempengaruhi karakter dalam menggunakan strategi kesantunan dan juga strategi kesantunan yang paling dominan digunakan oleh karakter dalam film Finding Neverland. Metode penelitian ini adalah bersifat deskripsi kualiatif dengan menggunakan teori strategi kesantunan oleh Brown dan Levinson (1987) yang digunakan untuk menganalisa tipe strategi kesantunan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat lima puluh delapan ujaran yang mewakili keempat strategi kesantunan yang digunakan oleh karakter dalam film Finding Neverland. Empat belas ujaran mewakili strategi kesantunan langsung (tanpa basa basi), dua puluh tujuh ujaran mewakili strategi kesantunan positif, enam belas ujaran mewakili strategi kesantunan negatif, dan satu ujaran mewakili strategi kesantunan tak langsung (basa basi). Terdapat dua faktor yang mempengaruhi pemilihan strategi kesantunan yang digunakan oleh karakter dalam film Finding Neverland. Faktor tersebut adalah faktor payoff dan faktor keadaan. Lima puluh delapan ucapan yang dikategorikan kedalam strategi kesantunan, dua puluh tujuh diantaranya merupakan startegi kesantunan positif, oleh karena itu strategi kesantunan positif adalah strategi yang paling dominan digunakan oleh karakter dalam film Finding Neverland. Kata Kunci: pragmatik, konteks, strategi kesantunan, film
CODE SWITCHING IN "DIOR AND I" FILM Rini Rini; M Natsir; Ririn Setyowati
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.582 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v3i1.1582

Abstract

ABSTRACT Language is a term we know very well in our lives and has an important role in society to convey a message or meaning to audience between community members exchange opinions and interact with each other with variations of language and dialect. Language and society are two terms we can find in sociolinguistics. Sociolinguistics conclusions consist of three things, language, society and the relationship between language and society. In addition, the level of education, social status or profession is very important also to the use code. Often the language code that covers these things becomes the main cause of someone choosing the appropriate words in establishing the communication. In addition to the issues of code switching, code mixing, and bilingualism. This research used code switching as the theory from Hoffman (1991). The purpose of this study was to investigate the types and the reasons of code switching uttered in Dior and I film . The study used descriptive qualitative design. The subject used in this study was Dior and I film, the scene of Dior and I film and the object is the main character in Dior and I film of the collected data related. Based on the result of this research, it is found that there are three types of code switching in Dior and I film by Hoffman (1991), such as inter-sentential switching, intra-sentential switching and emblematic/tag switching. It was clear that inter-sentential switching was more frequently types found in Dior and I film. In addition, the researcher also finds that the reasons code switching in Dior and I film by theory Hoffman (1991) are such as talking about a particular topic, quoting somebody else, being empathic about something, interjection, repetition used for clarification, intention of clarifying the speech content for the interlocutor and expressing group identity. It was clear that talking particular a topic was more frequently reasons found in Dior and I film. Keywords: sociolinguistics, code, code switching, Dior and I film, documentary film  ABSTRAK Bahasa adalah istilah yang kita kenal sangat baik dalam kehidupan kita dan memiliki peran penting dalam masyarakat untuk menyampaikan pesan atau makna kepada audiens antara anggota komunitas bertukar pendapat dan berinteraksi satu sama lain dengan variasi bahasa dan dialek. Bahasa dan masyarakat adalah dua istilah yang dapat kita temukan dalam sosiolinguistik. Kesimpulan sosiolinguistik terdiri dari tiga hal, bahasa, masyarakat dan hubungan antara bahasa dan masyarakat. Selain itu, tingkat pendidikan, status sosial atau profesi sangat penting juga untuk menggunakan kode. Seringkali kode bahasa yang mencakup hal-hal ini menjadi penyebab utama seseorang memilih kata-kata yang tepat dalam membangun komunikasi. Selain masalah alih kode, pencampuran kode, dan bilingualisme. Penelitian ini menggunakan alih kode sebagai teori dari Hoffman (1991). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki jenis dan alasan pengalihan kode yang diucapkan dalam film Dior dan saya. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah Dior and I film, ujaran pada Dior and I dan objeknya adalah karakter utama yang terkait pada Dior and I film. Berdasarkan hasil penelitian ini, ditemukan bahwa ada tiga jenis kode switching di Dior and I difilmkan oleh Hoffman (1991), seperti inter-sentential switching, switching intra-sentential dan emblematic / tag switching. Sudah jelas bahwa peralihan antar-sentimen lebih sering ditemukan dalam film Dior and I. Selain itu, peneliti juga menemukan alasan dilakukannya pengalihan kode dalam Dior and I film menurut teori Hoffman (1991) adalah seperti berbicara tentang topik tertentu, mengutip orang lain, bersikap empatik tentang sesuatu, penolakan, pengulangan yang digunakan untuk klarifikasi, maksud mengklarifikasi konten pidato untuk teman bicara dan mengekspresikan identitas kelompok. Sudah jelas bahwa membicarakan topik tertentu lebih banyak alasan yang ditemukan di Dior and I film. Kata kunci: sosiolingustik, kode, alih kode, Dior and I film, dokumentar film
Radical Feminism of Natalie Artemis' Character in Monster Hunter Film F. Sandro Asshary; Fatimah Muhajir; Ririn Setyowati
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 7, No 4 (2023): Oktober 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v7i4.8431

Abstract

Feminism issues are often radically depicted in literary works, especially in a film today. Filmmakers emphasize these issues to raise women’s awareness about the oppression that might happen to them. This radical movement happens because they try to create an idealistic society for women. From this premise, radical feminism was born because the previous movement could not undo the women’s oppression as time goes throughout the decades. Adjusting to the patriarchal system, women are often portrayed as unique and unusual to be treated as equal to men. This study aims to analyze the radical feminism of Natalie Artemis’ character in Monster Hunter film using Tong’s radical feminism and Petrie and Boggs’ characterization theories. This research used Uwe’s qualitative descriptive method and Mikos’ film analysis theory. The researcher confirms that Natalie Artemis’ character is portrayed as a radical feminist through radical libertarians and radical cultural feminists’ ideas in the Monster Hunter film. These ideas are portrayed through Natalie Artemis’ androgynous appearance and gender portrayal.
RELASI KARAKTERISTIK MUSIKAL TERHADAP TANDA PADA IKLAN DJARUM 76 TEMA ANJING Yofi Irvan Vivian; Ririn Setyowati; Nita Maya Valiantien
Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi membawa dampak positif bagi produsen dalam memasarkan produknya ke calon konsumen. Hal ini terlihat dari iklan yang hadir pada televisi, salah satunya iklan rokok. Iklan rokok tidak diperkenankan mempertunjukan barang jualannya karena mengikut i PeraturanPemerintahRepublik Indonesia, Nomor 108, Tahun 2012. Fokus penelitian ini adalah iklan Rokok 76 tema Anjing. Iklan ini tidak mempertunjukan rokoknya tetapi menghadirkan sebuah sosok Om Jin dan Perempuan. Banyak tanda yang memberikan makna dari adegannya, baik ekspresi maupun tuturan yang dihasilkan. Peneliti membagi tiga bagian pada musik backsound yang digunakan pada iklan Rokok Djarum 76 tema Anjing.
Investigating Lexical Diversity of Children Narratives: A Case Study of L1 Speaking Famala Eka Sanhadi Rahayu; Aries Utomo; Ririn Setyowati
Register Journal Vol 13, No 2 (2020): REGISTER JOURNAL
Publisher : UIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/rgt.v13i2.371-388

Abstract

Lexical diversity is one of the language tools to measure varied words or vocabulary produced by learners in a text both spoken and written. This research aims to investigate the lexical diversity of children narratives produced by children orally. The research design of this research was a case study supported by quantitative data. Meanwhile, the subjects of this research are seven children around 6-9 years old. In collecting data, the researchers employed narrative storytelling based on a picture which is drawn by the subjects. In analyzing data, TTR (Type-Token -Ratio) was used to measure the lexical diversity gained from the subject while the theory was used to explain the phenomena. Based on the findings, it is found that (1) older children have higher lexical diversity than the younger ones, (2) younger children produced higher lexical frequency (word tokens) than the older ones (3) individual variations caused an anomaly of the result in which older children were expected to have higher lexical frequency but the result showed the reverse. Keywords: Lexical Diversity, Children, Oral Narratives, Case Study. 
Peningkatan Pemahaman Konsep Perambatan Bunyi Dengan Karya Telepon Sederhana Melalui Metode Keterampilan Proses di Kelas IV SDN Bendogerit 2 Kota Blitar Ririn Setyowati
EDUKASIA Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 2 No. 2 (2021): Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
Publisher : LP. Ma'arif Janggan Magetan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62775/edukasia.v2i2.53

Abstract

Abstract: Science learning is expected to be a vehicle for students to learn about themselves and the natural surroundings, so that the prospect of further development in applying it in everyday life. The learning process emphasizes providing hands-on experience to develop competencies in order to explore and understand the natural surroundings scientifically. In class IV science content learning, teachers are less collaborative in learning in knowledge and skills. In fact, student learning outcomes tend to be less than the KKM content of the lesson, namely from 25 students who achieve completeness only 7 students or 28%. For this reason, research on science learning in grade IV is needed and a method that is more fun for students. The type of research used is Classroom Action Research (CAR). Data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The method used is Process Skills, which is a learning method that emphasizes the learning process, activities and creativity of students in acquiring knowledge, skills, values and attitudes, and applying them in everyday life. Abstrak: Pembelajaran IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, sehingga prospek perkembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pada pembelajaran muatan IPA kelas IV guru kurang mengkolaborasikan pembelajaran dalam pengetahuan dan keterampilan. Pada kenyataannya hasil belajar siswa cenderung kurang dari KKM muatan pelajaran, yaitu dari 25 siswa yang mencapai ketuntasan hanya 7 siswa atau 28%. Untuk itu perlu penelitian pada pembelajaran IPA di kelas IV dan adanya metode yang lebih menyenangkan bagi siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Metode yang digunakan adalah Keterampilan proses, yaitu metode pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.