Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

STUDI POTENSI SENYAWA TURUNAN KUMARIN-KALKON-UREA SEBAGAI ANTI-KANKER HATI SECARA IN SILICO: PENELUSURAN FARMAKOFOR, SKRINING VIRTUAL, DAN PENTAUTAN MOLEKUL Nur Syamsi Dhuha; Haeria Haeria; Alfiana Dwi Puspita
Jurnal Farmasi UIN Alauddin Makassar Vol 6 No 2 (2018): Jurnal Farmasi
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jurfar.v6i2.7055

Abstract

Kanker hati (HCC) merupakan penyakit karsinoma mematikan kedua setelah karsinoma pankreas. Hal ini berkaitan dengan sulitnya diagnosis awal serta sifat asimptomatik penyakit ini yang menyebabkan HCC terdiagnosa setelah pasien ada di stadium lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan senyawa baru sebagai calon obat berdasarkan kajian farmakofor dari turunan kumarin-kalkon-urea secara in silico. Prosedur dilakukan dengan melakukan pemodelan tiga dimensi senyawa dan optimasi geometri oleh HyperChem 8.0. Selanjutnya, penelusuran farmakofor, skrining virtual dari Zinc Database, serta pentautan molekul dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak MOE 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa dengan kode ZINC12138892 merupakan senyawa yang memilki potensi sebagai calon obat kanker hati berdasarkan analisis kesesuaian pada farmakofor reseptor protein serta pentautan molekul
Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Daun Bidara (Ziziphus spina-christi L.) berdasarkan Gambaran Morfologi dan Histologi Hati Mencit Nur Syamsi Dhuha; Haeria Haeria; Hardiyanti Eka Putri
Ad-Dawaa: Journal of Pharmaceutical Sciences Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.92 KB) | DOI: 10.24252/djps.v2i1.6706

Abstract

Daun bidara (Ziziphus spina-christi L.) digunakan sebagai obat tradisional. Daun Bidara memiliki khasiat antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, antifungi dan mencegah timbulnya tumor. Penggunaan daun bidara berkhasiat berdasarkan bukti empiris, tetapi belum diteliti keamanannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui batas toksisitas ekstrak etanol daun bidara berdasarkan gambaran morfologi dan histologi hati mencit. Prosedur dimulai dengan ekstraksi simplisia daun bidara secara maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Mencit sebanyak 15 ekor yang dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok I (kontrol) yang hanya diberi Na-CMC 1%. Kelompok II, III, IV, dan V adalah kelompok perlakuan yang diberi ekstrak etanol daun bidara dengan dosis berturut-turut 60, 200, 600, dan 2000 mg/kgBb. Pemberian ekstrak dilakukan per oral selama 14 hari kemudian pada hari ke-15, toksisitas diamati. Toksisitas diamati dari preparat histologi hati mencit berdasarkan nilai kerusakan parenkimatosa, hidropik dan nekrosis. Ekstrak etanol daun bidara memberi pengaruh pada gambaran morfologi yaitu pada warna dan berat basah hati mencit serta adanya kerusakan histopatologi. Batas toksisitas diamati pada dosis 600 mg/kgBB. Kata kunci: Daun bidara, toksisitas, morfologi, histologi.
UJI EFEK IMUNOMODULATOR EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum. L) DENGAN PARAMETER AKTIVITAS DAN KAPASITAS FAGOSITOSIS SEL MAKROFAG PADA MENCIT (Mus musculus) JANTAN Haeria Haeria; Nur Syamsi Dhuha; Muhammad Ikram Hasbi
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Farmasi Galenika Volume 4 No 1, 2017
Publisher : Universitas Bhakti Kencana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang Uji Efek Imunomodulator Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum Basilicum. L) dengan Parameter Aktivitas dan Kapasitas Fagositosis Sel Makrofag Pada Mencit (mus musculus) Jantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek imunomodulator dari ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum. L) yang berdasarkan pada aktivitas dan kapasitas fagositosis sel makrofag dari mencit jantan dengan pemberian variasi dosis. Pada Kelompok I diberi control positif Imboost force® 0,795 mg/kg BB mencit dan kelompok II diberi Na CMC 1 %, Kelompok III, IV dan V masing-masing diberi perlakuan dengan memberikan dosis acuan ekstrak yang berbeda sebanyak 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB, dan 800 mg/kg BB. Proses perlakuan di berikan selama 7 hari dan pada hari ke-8 mencit di induksi bakteri Stapylococcus aureus secara Intraperitoneal, lalu dibedah dan diambil cairan peritoneumnya. Selanjutnya diamati di bawah mikroskop dengan bantuan alat hemositometer. Berdasarkan analisis statistik aktivitas fagositosis sel makrofag, pada dosis 400 mg/kg BB dan 800 mg/kg BB tidak beda nyata atau dikatakan memiliki efek yang sama dengan kontrol positif Imboost Force. Sedangkan pada analisis statistik kapasitas fagositosis sel makrofag tidak berbeda nyata antara 3 variasi dosis dengan kontrol positif Imboost force.