Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

GENERASI CERDAS TANPA PORNOGRAFI: PENYULUHAN PENCEGAHAN KONSUMSI PORNOGRAFI MEDIA DIGITAL DI SMP NEGERI 2 BANDUNG Puji Prihandini; Putri Limilia; Benazir Bona Pratamawaty

Publisher : Universitas Muhammadiyah Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.87 KB) | DOI: 10.31850/jdm.v2i2.399

Abstract

Penggunaan Internet di Indonesia sudah sangat mengalami perkembangan yang signifikan. Hal ini dapat terlihat dari data hasil survey yang dilakukan APJI (Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia) pada tahun 2017 terlihat bahwa penetrasi pengguna internet di Indonesia sebanyak 143,26 Juta Jiwa dari total pupulasi penduduk Indonesia 262 juta orang. Pengguna internet tersebut 75 persen didomniasi oleh remaja. Realitas bahwa remaja adalah usia mayoritas pengguna internet membawa kita kepada kenyataan yang dilematis. Seperti yang kita ketahui bahwa konten internet bermacam-macam bentuknya. Beberapa mengandung konten positif, dan juga sebaliknya. Adapun konten-konten negatif yang berbahaya bagi remaja, salah satunya yang perlu diwaspadai adalah konten pornografi. Hal ini bisa dicegah jika kita melakukan kesadaran keamana pornografi bagi remaja sejak dini, maka penyuluhan bertujuan untuk melakukan pencegahan konsumsi pornografi bagi remaja. Penyuluhan Pencegahan Konsumsi Pornografi dilakukan bagi remaja di kawasan SMP Negeri 2 Bandung. Kegiatan PPM dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2018. Materi PPM terdiri dari pengertian dan bentuk-bentuk pornografi, dampak negatif dari konsumsi pornografi serta cara mencegah dari konsumsi dan paparan konten pornografi. Hasil PPM menunjukan bahwa mayoritas remaja masih belum paham dengan definisi dan bentuk pornografi, mereka cenderung tidak sadar bahwa dalam kehidupan sehari-hari mereka sering terpapar konten pornografi.
Sosialisasi Bahaya Media Sosial sebagai Modus Perdagangan Orang pada Remaja di Jatinangor Benazir Bona Pratamawaty; Evie Ariadne Shinta Dewi; Putri Limilia
MENARA RIAU Vol 15, No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.007 KB) | DOI: 10.24014/menara.v15i2.13968

Abstract

In the period of January to April 2021, 234 children were found to be the victims of the children trafficking and 60% of them were recruited through the social media. Children and young adults were told that they will be hired as employee and earn sophisticated salary while in fact they were tricked into sexual exploitation. Pandemic and high internet penetration results in increasing internet use for children and young adults. Hence, both children and young adults are prone to the human trafficking practices. Therefore, it is urgent to conduct socialization and education towards children and young adults regarding the high risks of social media use as the recruitment tools for human trafficking perpetrators. This community service aimed to increasing knowledge and rising awareness of the young adults in Jatinangor with regard to the threat of social media as the human trafficking modus of practices. The data collection comprised of online survey before and after the socialization. Because of the pandemic, the socialization took place online or known as Webinar. The webinar was divided into three session which consisted of polling session (pre-test), talks and discussion session, then post-test session. The objectives of this webinar were to socialize, educate, and develop social awareness with regard to the human trafficking threats. The online survey results were analyzed using quantitative descriptive technique. The results indicate that after the webinar the participant succeed in gaining knowledge and understanding of the human trafficking recruitment modus and how the social media used as one of the modus.
Pengetahuan dan persepsi politik pada remaja Putri Limilia; Evie Ariadne
Jurnal Psikologi Sosial Vol 16 No 1 (2018): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.678 KB) | DOI: 10.7454/jps.2018.5

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang tingkat pengetahuan dan persepsi pemilih pemula terhadap partai politik. Hal ini penting dilakukan karena pengetahuan dan persepsi politik merupakan faktor-faktor yang berperan penting dalam memahami partisipasi politik. Secara praktis, penelitian ini juga penting untuk dilakukan karenapemilih pemula memiliki peranan penting dalam demokrasi dan disaat bersamaan memiliki partisipasi dan ketertarikan politik yang rendah. Oleh karena itu, pada penelitian ini, peneliti berupaya untuk memahami pengetahuan dan persepsi poltik remaja. Secara spesifik, penelitik mengkaji pengetahuan dan persepsi terhadap partai politik sebagai salah satu institutasi politik. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah wawancara. Partisipan penelitian ini adalah 20 orang siswa sekolah menengah atas yang berusia 16 hingga 18 tahun dan belum pernah memilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilih pemula memiliki pengetahuan yang rendah tentang konsep, peran, dan fungsi partai politik. Rendahnya tingkat pengetahuan tersebut diiringi dengan persepsi negatif terhadap partai politik. Pemilih pemula mempersepsikan secara negatif parpol sebagai organisasi yang hanya mementingkan diri sendiri, korupsi, dan hanya melakukan pencitraan.
PELESTARIAN NILAI BUDAYA LOKAL MELALUI SENI KRIYA, SEBAGAI INOVASI PELAKU EKONOMI KREATIF DI MASA PANDEMI COVID-19 Evie Ariadne; Benazir Bona Pratamawaty; Putri limilia
LOGISTA - Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Department of Agricultural Product Technology, Faculty of Agricultural Technology, Universitas Andalas Kampus Limau Manis - Padang, Sumatera Barat Indonesia-25163

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/logista.4.2.615-624.2020

Abstract

Artikel ini merupakan hasil kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) dengan sasaran utama kelompok masyarakat di desa yang produktif secara ekonomi, yakni kelompok usaha yang dirintis oleh beberapa orang anggota masyarakat di Desa Sukagalih Kabupaten Sumedang bernama Galery Leuit. Kegiatan utama mereka adalah membuat kerajinan tangan (handycraft) berbahan dasar Bambu, Batok Kelapa dan Buah Brenuk (Maja) serta membuat kain batik dengan motif khusus berupa huruf Sunda Kuna Kaganga. Tujuan kegiatan PPM ini untuk membantu Mitra memperluas jaringan komunikasi agar karya-karyanya bisa dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Permasalahan yang dihadapi oleh mitra adalah 1) belum memiliki peralatan kriya yang memadai, 2) belum mempunyai bengkel kerja yang memadai, 3) Belum memiliki konsep strategi dan media promosi serta pemasaran. Target dan luaran yang dihasilkan dari PPM ini antara lain Mitra dapat memiliki akses komunikasi terhadap pemerintah daerah untuk mengembangkan jaringan penjualan. Metode yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut adalah 1) Membuka jalur komunikasi dengan pemerintah daerah kabupaten Sumedang, Pemerintah provinsi dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Barat melalui diskusi dalam bentuk Webinar dengan menjadikan Mitra sebagai nara sumber dan pemerintah daerah sebagai penanggap. Program ini diharapkan mampu memfasilitasi perkembangan usaha mitra sehingga dapat memberikan multiflier effect bagi usaha sejenis dan usaha lain yang terkait (bermitra) dengannya. Kata Kunci: Nilai Budaya Lokal, Pelaku Usaha Kecil, Kerajinan Tangan, Seni Batik, Aksara Sunda ABSTRACT The target of this Community Service activity is a group of people who are economically productive, namely a business group initiated by several community members in Sukagalih Village, Sumedang Regency who have produced several handicrafts and made batik motif designs for the Sundanese Kuna Kaganga letter as an icon of the batik motif. The aim of the program is to help Partners expand communication networks so that their works can be recognized and utilized by the public. Business partners in this program are small businesses making and selling handicraft objects (craft art) made from Brenuk Fruit (Maja fruit) and making Batik cloth with the main motif in the form of Old Sundanese Script (Kaganga letter). The problems faced by partners are 1) not having adequate craft tools, 2) not having adequate workshops, 3) Not having a strategic concept and promotional and marketing media. The targets and outputs that resulted from the PKM's community service program at the Leuit Batik Rineka Sundanese Gallery in Suka Galih Village, Sumedang, West Java, among others, partners can have communication access to local governments to develop sales networks. The methods used to achieve these goals are 1) Open lines of communication with the regional government of Sumedang district, West Java Provincial Government and West Java Dekranasda. 2) create a discussion in the form of a Webinar by making Partners as resource persons and local government as responders. This program is expected to be able to facilitate partner development so that it can have a multiplier effect for similar businesses and other businesses related (partnering) with it. Keywords: Government Communication, small and medium enterprises / SMEs, Handy Craft, Batik Art, ancient Sundanese script
PEREMPUAN DAN KESENJANGAN DIGITAL DI DALAM KELUARGA Putri Limilia
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 2, No 1 (2018): Januari - Juni 2018
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.011 KB) | DOI: 10.30983/jh.v2i1.510

Abstract

The rapid development of information and communication technology was given a new hope and advantages for their users. Therefore, people didn’t feel anxious to adopt a new technology. It is just, sometimes, the development occurred a side effect namely digital divide. Digital divide has a big chance to occurs when technology develop in rapid way. In Indonesia, digital divide could be seen from various form such as infrastructure, accesses, skills, behavior, and content. Digital divide was influenced by several factors. They are age, gender, education, and income. This research examines the digital divide among man (father) and female (mother) inside a family. Qualitative method was used by this research with case study as a research design. There are ten woman who are a sample of this research. The result shows that there is a digital divide among man and female. The gap related to motivation (female had less motivation in using digital technology), material (woman had less material than man), skills (most of female only had a operational skilss), and usage (female is a passive users).      Pertumbuhan teknologi komunikasi informasi yang begitu cepat memberikan harapan baru serta manfaat bagi penggunanya. Sehingga, masyarakat tidak merasa ragu untuk mengadopsi setiap teknologi baru dilahirkan. Hanya saja, terkadang, pertumbuhan tersebut menimbulkan dampak negatif berupa kesenjangan digital. Semakin pesat perkembangan teknologi maka akan semakin memperbesar peluang terjadinya kesenjangan digital. Di Indonesia, kesenjangan digital dapat dilihat dari berbagai macam bentuk seperti kesenjangan infrastruktur atau perangkat, akses, keterampilan, perilaku, dan konten. Kesenjangan digital dipengaruhi oleh berbagai macam faktor personal seperti usia, gender, pendidikan, dan pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kesenjangan digital antara perempuan dan laki-laki (ibu dan ayah) dalam sebuah keluarga. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan desain studi kasus. Sampel yang digunakan sebanyak sepuluh orang dengan menggunakan teknik sampel purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan digital antara perempuan dan laki-laki. Kesenjangan tersebut terkait dengan motivasi (perempuan memiliki motivasi yang rendah), material (tingkat pendidikan dan pendapatan yang rendah membuat perempuan memiliki akses yang rendah ke teknologi digital), keterampilan (sebagian besar perempuan hanya sampai pada tahapan keterampilan operasional), dan penggunaan (perempuan merupakan pengguna pasif).Keywords: female, digital divide, family, qualitative, van dijk. 
Pelatihan Literasi Media Digital sebagai Penanggulangan Dampak Negatif Internet pada Ketahanan Keluarga Putri Limilia; Benazir Bona Pratamawaty
ABDI MOESTOPO: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 1, No 01 (2018): Januari 2018
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.216 KB) | DOI: 10.32509/am.v1i01.480

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tidak hanya memberikan dampak positif tetapi juga negatif bagi penggunanya. Salah satu dampak negatif yang sangat dikhawatirkan adalah konten-konten negatif yang dapat merusak nilai-nilai dan identitas bangsa. Selain itu, perkembangan tersebut juga dapat menimbulkan perubahan sosial dan mengancam ketahanan sosial psikologis sebuah keluarga. Misalnya saja dengan adanya teknologi, komunikasi orangtua dan anak secara tetap muka mulai berkurang intensitasnya. Masyarakat, khususnya orangtua, perlu dibekali dengan keterampilan literasi media digital agar dapat membentengi anak dari dampak negatif. Metode yang digunakan dalam pelatihan literasi media ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu: (1) survei;( 2) pembuatan modul; (3) pelatihan; (4) evaluasi. Hasil pelatihan memperlihatkan bahwa, pasca pelatihan, pengetahuan peserta mengenai dampak negatif internet bertambah. Peserta mulai menyadari bahwa mereka memiliki peran penting dalam mengurangi dampak negatif. Selain itu, perserta juga berhasil memiliki keterampilan baru dalam melakukan aduan konten negatif di setiap media sosial.
AKSESIBILITAS MEDIA SOSIAL DALAM INTERAKSI ANTAR ANGGOTA KELUARGA URBAN Ditha Prasanti; Putri Limilia
REFORMASI Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.366 KB) | DOI: 10.33366/rfr.v9i1.1237

Abstract

Abstract: This article is the result of further research on the study of the resilience of urban families in the digital era, which focuses on the accessibility of social media in the interaction between members of the urban family. Urban family is an interesting study to be discussed because of the current concept that demands the development of the digital era. Urban families, as family members living in urban areas, have a large level of social media accessibility, so interaction between family members is also possible through social media. This is interesting to discuss because the author wants to reveal the accessibility of social media in the interaction between members of the urban family. In this study, the author uses a qualitative approach, with data collection techniques, in the form of interviews; observation; and documentation study. Accessibility of social media in the interaction between members of the urban family produces varied findings, including the existence of family conflicts caused by the accessibility of social media; enabling the dissemination of information on social media as a result of the interaction of members of the urban family; the emergence of social media group networks as a forum for interaction between members of the urban family. Based on these findings, the authors see the existence of positive and negative points that can be generated as a result of the accessibility of social media used by members of urban families. Keywords: Accessibility, Social Media, Interaction, Urban Family. Abstrak: Artikel ini merupakan hasil penelitian lanjutan tentang kajian ketahanan keluarga urban di era digital, yang memfokuskan pada aksesibilitas media sosial dalam interaksi antar anggota keluarga urban tersebut. Keluarga urban menjadi kajian menarik untuk dibahas karena konsep kekinian yang menuntut perkembangan era digital. Keluarga urban, sebagai anggota keluarga yang tinggal di perkotaan, memiliki tingkat aksesibilitas media sosial yang besar, sehingga interaksi antar anggota keluarga pun sangat memungkinkan dilakukan melaui media sosial tersebut. Hal ini menarik untuk dibahas karena penulis ingin mengungkapkan aksesibilitas media sosial dalam interaksi antar anggota keluarga urban. Dalam kajian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data, berupa wawancara; observasi; dan studi dokumentasi. Aksesibilitas media sosial dalam interaksi antar anggota keluarga urban ini menghasilkan temuan yang bervariatif, di antaranya adalah adanya konflik keluarga yang disebabkan oleh aksesibilitas media sosial tersebut; memungkinkan terjadinya penyebaran informasi hoaks dalam media sosial sebagai hasil dari interaksi anggota keluarga urban; munculnya jaringan group media sosial sebagai wadah interaksi antar anggota keluarga urban tersebut. Berdasarkan temuan tersebut, penulis melihat adanya point positif dan negatif yang dapat ditimbulkan sebagai hasil dari aksesibilitas media sosial yang digunakan oleh anggota keluarga urban. Kata Kunci: Aksesibilitas, Media Sosial, Interaksi, Keluarga Urban.
Google Trends and Information Seeking Trend of COVID-19 in Indonesia Putri Limilia; Benazir Bona Pratamawaty
Jurnal ASPIKOM - Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.67 KB) | DOI: 10.24329/aspikom.v5i2.741

Abstract

WHO has declared COVID-19 as a pandemic due to its rapid increase in cases outside China. COVID-19 has also affected a growing number of countries. However, the Indonesia government responded to the declaration in a not-serious manner, which has generated uncertainty circumstance among its public. This circumstance has driven people to consume information as much as they are possible to consume. This study aims to map out the trend of information-seeking concerning COVID-19 in Indonesia using Google Trends and to compare it to the information available on Indonesia's Ministry of Health official website from January until March. This study was descriptive quantitative, which used Google Trends as data collection tools. The research found that information seeking concerning COVID-19 has been increasing since the end of January. Government statements were found as the trigger of the information-seeking activity escalation and also served as the reason behind different information-seeking trends each month.
GAYA PENGELOLAAN KONFLIK DALAM KOMUNIKASI KELUARGA URBAN DI ERA DIGITAL Ditha Prasanti; Putri Limilia
Metacommunication Journal of Communication Studies
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.971 KB) | DOI: 10.20527/mc.v2i2.4084

Abstract

ABSTRACTAs social beings, humans learn to communicate in the smallest layer of society, the family. Without us knowing, in family relationships, humans experience various kinds of interactions that often also trigger the occurrence of conflict. This is what is interesting to study. Everyone in a family certainly has a conflict management style different from each other, especially for urban families. Moreover, the current digital era requires humans to use a variety of sophisticated digital media that continues to grow. Therefore, the researcher were interested to raise this research with the focus of study that is "Conflict Management Style in Urban Family Communication in Digital era".The focus of this research are: (1) to know the conflict management style that happened in urban family communication in digital era; (2) to know the type of media used in the communication process for urban families in the digital era.This research uses qualitative approach with descriptive method. Researchers using data collection techniques include: observation, in-depth interviews, and documentation studies. The results of this study indicate that: (1) conflict management styles used in urban family communication include avoiding, competing, and compromising; (2) the type of media used in the communication process for urban families in this digital age is social media including BBM group, Whatsapp group, LINE, facebook, and instagram.Keywords: Style, Management, Conflict, Communication, Family, Digital era ABSTRAKSebagai makhluk sosial, manusia belajar berkomunikasi dalam lapisan terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Tanpa kita sadari, dalam hubungan keluarga, manusia mengalami berbagai macam interaksi yang tak jarang pula memicu terjadinya konflik. Hal inilah yang menarik untuk diteliti. Setiap orang dalam sebuah keluarga tentu memiliki gaya pengelolaan konflik yang berbeda satu sama lain, khususnya bagi keluarga urban. Apalagi era digital saat ini menuntut manusia untuk menggunakan beragam kecanggihan media digital yang terus berkembang. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengangkat penelitian ini dengan fokus kajian yakni “Gaya Pengelolaan Konflik dalam Komunikasi Keluarga Urban di era Digital”.Adapun yang menjadi fokus penelitian ini adalah: (1) mengetahui gaya pengelolaan konflik yang terjadi dalam komunikasi keluarga urban di era digital; (2) mengetahui jenis media yang digunakan dalam proses komunikasi bagi keluarga urban di era digital.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data meliputi: observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) gaya pengelolaan konflik yang digunakan dalam komunikasi keluarga urban meliputi menghindari, bersaing, dan berkompromi; (2) jenis media yang digunakan dalam proses komunikasi bagi keluarga urban di era digital ini adalah media sosial meliputi BBM group, Whatsapp group, LINE, facebook, dan instagram.Kata Kunci:Gaya, Pengelolaan, Konflik, Komunikasi, Keluarga, era Digital
KONSTRUKSI SOSIAL IBU BEKERJA VS IBU RUMAH TANGGA: ANALISIS SEMIOTIKA TERHADAP IKLAN FRISIAN FLAG MAMA Putri Limilia
SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi Vol 10, No 1 (2016): SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/s:jk.v10i1.29

Abstract

Mommy wars is a phenomenon that occurs in worldwide through daily conversation and digital media conversation. This phenomenon potraits the debate about ideal motherhood, where society's opinion devided into two group. First group said that full-time mother is an ideal motherhood. While another groups said that working mother is a new concept of ideal motherhood. This conception occurs whe society try to construct it through several medium. In another word, the concept of ideal motherhood is the result of social construction. Severals medium are used for mediating the process of social construction. Such as mass media. In this research, author use advertisement to clarify the social contruction of ideal motherhood. The advertisement is produced by a milk producer in Indonesia, i.e. Frisian Flag Mama. They produce an advertisement about mommy's experience in pregnancy (both working and full-time mother). Author use semiotic analysis to clarify the process of social construction, where the unit analysis are visual and text only. The research shows that this advertisement try to construct about concept of ideal motherhood within another way. They said that working mom is a modesty person, profesional, and has an equal position inside the family. Meanwhile, full-time mother is a person who has traditional taste in fashion and has lower position inside the family. The advertisement doesn't has a spesific intention to one group. Therefore, audience can have a neutral conception about ideal motherhood.Keywords: Semiotic, Advertisement, Ideal Motherhood, Social Construction.