Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PEREMPUAN DAN KESENJANGAN DIGITAL DI DALAM KELUARGA Putri Limilia
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 2, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.155 KB) | DOI: 10.30983/jh.v2i1.510

Abstract

The rapid development of information and communication technology was given a new hope and advantages for their users. Therefore, people didn’t feel anxious to adopt a new technology. It is just, sometimes, the development occurred a side effect namely digital divide. Digital divide has a big chance to occurs when technology develop in rapid way. In Indonesia, digital divide could be seen from various form such as infrastructure, accesses, skills, behavior, and content. Digital divide was influenced by several factors. They are age, gender, education, and income. This research examines the digital divide among man (father) and female (mother) inside a family. Qualitative method was used by this research with case study as a research design. There are ten woman who are a sample of this research. The result shows that there is a digital divide among man and female. The gap related to motivation (female had less motivation in using digital technology), material (woman had less material than man), skills (most of female only had a operational skilss), and usage (female is a passive users).      Pertumbuhan teknologi komunikasi informasi yang begitu cepat memberikan harapan baru serta manfaat bagi penggunanya. Sehingga, masyarakat tidak merasa ragu untuk mengadopsi setiap teknologi baru dilahirkan. Hanya saja, terkadang, pertumbuhan tersebut menimbulkan dampak negatif berupa kesenjangan digital. Semakin pesat perkembangan teknologi maka akan semakin memperbesar peluang terjadinya kesenjangan digital. Di Indonesia, kesenjangan digital dapat dilihat dari berbagai macam bentuk seperti kesenjangan infrastruktur atau perangkat, akses, keterampilan, perilaku, dan konten. Kesenjangan digital dipengaruhi oleh berbagai macam faktor personal seperti usia, gender, pendidikan, dan pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kesenjangan digital antara perempuan dan laki-laki (ibu dan ayah) dalam sebuah keluarga. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan desain studi kasus. Sampel yang digunakan sebanyak sepuluh orang dengan menggunakan teknik sampel purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan digital antara perempuan dan laki-laki. Kesenjangan tersebut terkait dengan motivasi (perempuan memiliki motivasi yang rendah), material (tingkat pendidikan dan pendapatan yang rendah membuat perempuan memiliki akses yang rendah ke teknologi digital), keterampilan (sebagian besar perempuan hanya sampai pada tahapan keterampilan operasional), dan penggunaan (perempuan merupakan pengguna pasif).Keywords: female, digital divide, family, qualitative, van dijk. 
Research and publication trends: Sports branding on the movie Hanny Hafiar; Putri Limilia; Ari Agung Prastowo; Kholidil Amin; Davi Sofyan
ProTVF Vol 6, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v6i2.39909

Abstract

Many films have raised the story of sports as the major story or as the background of a film. However, so far, no research has been obtained that analyzes the mapping of research results related to film and sports. Therefore, this study intends to examine various studies related to film and sports that global researchers have produced. This research uses the bibliometric method. The data source used is the Web of Science, while the tools used to process and display the data are ScientoPy and VosViewer. The results showed that the development of scientific publications starts 2000 to 2021 related to films and sports experienced fluctuating developments. Authors from America and England occupy the top positions for the number of publications. However, in the period 2020 and 2021, researchers from France and Canada are researchers who are more productive in publishing their scientific works. They included most published scientific works related to films and sports in the WoS version of the Social science category. However, Between 2020-2022, more are categorized into the subject of Communication and Film, Radio, & Television. Reference sources widely cited in scientific publications related to film and sports are books by Beeton with the title film-induced tourism (2005) and Crosson's work with the title sport and film (2013). The results of the keyword mapping show that six clusters represent some keywords used by the author in scientific works related to films and sports. In conclusion, sports and cinema research are fully developed in this research.
Literasi media, chilling effect, dan partisipasi politik remaja Putri Limilia; Ikhsan Fuady
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 9, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.994 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v9i1.31939

Abstract

Peningkatan pengguna Internet di Indonesia menjadi petanda baik bahwa akses masyarakat ke Internet semakin baik. Akan tetapi, peningkatan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terkait kesiapan masyarakat dalam berinteraksi di media sosial. Saat ini, media sosial tidak lagi menjadi ruang publik yang netral karena adannya penyalahgunaan oleh kelompok tertentu dengan menyebarkan berita palsu, propaganda, hate spin, dan lain-lain. Situasi ini diperparah dengan tingkat literasi media masyarakat yang rendah. Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) guna mengatur kegaduhan di media sosial. Namun, tindakan ini menuai banyak kritikan dari berbagai kalangan. Salah satunya terkait efek samping (berupa chilling effect) dari UU ITE yang dapat mengancam kebebasan berpendapat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh literasi media pada partisipasi politik di media sosial serta mengetahui apakah pengetahuan terkait UU ITE memoderasi pengaruh tersebut. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik sampling purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner yang kemudian dianalis menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat literasi media yang tinggi terutama pada kategori functional consumption, critical consumption, functional prosumer. Tidak ada perbedaan tingkat literasi media antara laki-laki dan perempuan. Peningkatan keterampilan literasi media tersebut akan diikuti oleh peningkatan partisipasi politik. Akan tetapi, pengetahuan terkait UU ITE tidak berkontribusi pada pengaruh tersebut. Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa keterampilan critical consuming dan critical prosumer memiliki hubungan positif yang signifikan dengan partisipasi politik di media sosial.
Self-harming: Reception in 27 steps of may film on Satu Persen community Nurvidha Qur’aini Suhaemi; Henny Sri Mulyani Rohayati; Putri Limilia
ProTVF Vol 7, No 1 (2023): March 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v7i1.39974

Abstract

Background: The rise of self-harm content in 2021 in the motion picture can give different reactions to everyone who sees it. Not infrequently, the person’s reaction harms them, which in this research is the self-harming scene in 27 Steps of May film. The self-harm scene in the film is quite explicit by showing razor blades and flowing blood. Purpose: Find out how the dominant, negotiation, and opposition audience’s meaning regarding those scenes. Methods: This research used a qualitative method with a reception analysis approach using the encoding-decoding model from Stuart Hall. The subjects of this study were eight members of the Satu Persen Community on Telegram. Data collection techniques in this study used in-depth interviews and documentation techniques. Results: Intrinsic elements such as location, setting, and storyline in scriptwriting can also influence the audience’s meaning. The meaning of audience in research also varies. In the self-harm scene, one informant is dominant, and seven informants are in the negotiation position. There are three dominant informants and five negotiation informants in the self-harm scene location setting. For the flashback plot meaning of the self-harm scene, all informants are in a dominant position. There are no informants on the opposition’s position on the meaning of the self-harm scene, location setting, and the flashback plot meaning of the self-harm scene. The informants’ reading is influenced by personal experiences/others, sociocultural background, and duration of informants being members of the Satu Persen Community. Implications: Provide public awareness that different opinions in receiving messages are natural, and the public as active audiences can use films as learning media. However, be careful about the meaning that contrasts with their values.
Literasi Media dan Digital di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sistematis Putri Limilia; Nindi Aristi
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 8 No. 2 (2019)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v8i2.2199

Abstract

Berbagai penelitian terakhir memperlihatkan bahwa teknologi khususnya internet menciptakan dampak negatif yang begitu besar. Oleh karena itu, peneliti-peneliti komunikasi sepakat bahwa literasi media sangat dibutuhkan untuk mencegah dampak tersebut. Berbagai penelitian literasi media pun dilakukan dalam rangka menemukan model literasi yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep literasi digital dan metode yang sering digunakan untuk mengukur literasi digital. Penelitian ini merupakan penelitian tinjauan sistematis (systematic review) dengan menggunakan analisis isi sebagai teknik analisis data. Ada beberapa kriteria yang digunakan dalam menyeleksi artikel. Diantaranya adalah artikel dipublikasikan di jurnal terakreditasi di Sinta 2,3, dan 4. Selain itu, penulis juga melakukan pembatasan kata kunci dalam pencarian artikel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa definisi konsep literasi digital sangat beragam. Bahkan istilah yang digunakan juga tidak seragam meskipun merujuk pada definisi yang sama. Metode penelitian yang paling banyak digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, sehingga pemetaan keterampilan literasi digital pun tidak cukup menggambarkan keterampilan informan. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan agar penelitian selanjutnya menggunakan metode performance-based research. Penelitian kedepannya juga diharapkan dapat mengelaborasi literasi digital dengan konsep-konsep lainnya.