Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

NILAI KEARIFAN LOKAL SAKAI SAMBAYAN (STUDI PADA KEHIDUPAN MASYARAKAT ADAT DI DESA MAJA, KECAMATAN KALIANDA LAMPUNG SELATAN) Abdulsyani ,; Pairulsyah ,; Suwarno ,; Anita Damayantie
SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya Vol 22 No 1 (2020): SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya
Publisher : Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sosiologi.v22i1.50

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui praktik perilaku nilai kearifan lokal Sakai-Sambayan, dan berbagai faktor penghambat dalam pelaksanaan dan pelestariannya dalam kehidupan masyarakat adat sehari-hari di Desa Maja, Kecamatan Kalianda Lampung Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dianggap sebagai cara yang relevan untuk memperoleh informasi yang valid, khususnya tentang realitas praktik perilaku kearifan lokal Sakai-Sambayan dalam kehidupan masyarakat adat sehari-hari pada umumnya. Berdasarkan hasil penelitan ini diketahui bahwa pelaksanaan tradisi Sakai-Sambayan dalam kehidupan masyarakat adat di lingkungan Desa Maja masih berjalan dalam batas waktu dan tempat yang tidak mengikat peluang warga untuk kepentingan memenuhi kebutuhan internal keluarga. Secara umum diketahui ada 3 (tiga) faktor penghambat pelaksanaan dan pelestarian kegiatan Sakai-Sambayan yaitu faktor pertambahan penduduk, perubahan pola pikir warga dan kurangnya frekuensi sosialisasi terhadap keluarga dan warga pada umumnya.
STRATEGI PELESTARIAN MAKNA DAN FUNGSI KEARIFAN LOKAL NENGAH-NYAPPUR PADA MASYARAKAT ADAT MARGA LEGUN PAKSI BULOK, KALIANDA, LAMPUNG SELATAN Damar Wibisono; Anita Damayantie; Pairul Syah; Suwarno Suwarno; Abdul Syani
SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya Vol 23 No 2 (2021): SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya
Publisher : Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sosiologi.v23i2.162

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pelestarian makna dan fungsi kearifan lokal nengah-nyappur pada masyarakat adat Marga Legun Paksi Bulok, Kalianda, Lampung Selatan. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini merupakan pendekatan kualitatif. Metode kualitatif ini dalam prakteknya akan berusaha memahami dan menafsirkan interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tetentu yang mengutamakan penghayatan (verstehen). Tujuannya adalah untuk membuat sebuah gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Metode ini cukup relevan untuk diterapkan dalam memperoleh gambaran mengenai nilai kearifan lokal nengah-nyappur latar, makna dan fungsi nengah-nyappur dalam kehidupan masyarakat di wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Di samping untuk dapat menggali lebih dalam tentang realitas sikap perilaku kearifan lokal nengah-nyappur dalam masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pelestarian makna dan fungsi kearifan lokal nengah-nyappur pada masyarakat adat Marga Legun Paksi Bulok, Kalianda, Lampung Selatan dapat dilakukan dengan cara: membuat sanggar budaya, membuat lembaga penyibang adat, dan memperkuat sumber daya masyarakat. Kata Kunci: Nengah-Nyappur, Makna dan Fungsi Kearifan Lokal, Masyarakat Adat
KUALITAS PELAYANAN PUBLIK SAMSAT LAMPUNG DALAM PERSPEKTIF BUDAYA PIIL PESENGGIRI Pairul Syah
Fiat Justisia: Jurnal Ilmu Hukum Vol 7 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25041/fiatjustisia.v7no2.376

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur Kualitas Pelayanan Publik Samsat Lampung dalam Perspektif Budaya Piil Pesenggiri. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam penelitian dengan menggunakan teknik sampel semi terbuka untuk menganalisis berbagai fenomena proses penyelenggaraan otonomi daerah yang disajikan dalam bentuk deskripsi dengan menggunakan angka-angka statistik. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa penilaian yang diberikan masyarakat terhadap pelayanan publik yang dilakukan oleh Samsat rata-rata dinilai cukup baik dan sesuai dengan aturan yang telah digariskan. Pelayanan yang diberikan Samsat baik dalam prinsip nemui nyipah (sopan santun pada pengguna jasa). Penilaian yang kurang baik, terletak pada variabel nengah nyappur, indikator toleransi ( 48,3 %), indikator memegang teguh prinsip ( 55 %), indikator bersaing dalam memberikan pelayanan terbaik (53,3 % ). Prinsip Sakai Sambayan, beberapa indikator yang dinili kurang baik dalam pelayanan publik adalah indikator kedua mampu menjadi pemersatu ketika ada masalah dalam melayani (dinilai responden kurang mampu dengan skor 40,7 %, dan tidak mampu dengan skor 53,3 %). Indikator ketiga mampu bekerjasama dengan pegawai lain dalam melayani pengguna jasa (dinilai kurang mampu dengan skor 30 %).Kata Kunci : Pelayanan Publik, Samsat , Piil Pesenggiri.
PENGEMBANGAN KOMIK FABEL UNTUK MEDIA KOMUNIKASI DAN SUPLEMEN PENDIDIKAN LINGKUNGAN DALAM RANGKA KAMPANYE PELESTARIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DI KAWASAN PENYANGGA TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS-LAMPUNG Ida Nurhaida; Agus Setiawan; Samsul Bakri; Gede A.B. Wiranata; Pairul Syah
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 11 No 2 (2011)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The severity of human-wildlife conflict in buffer zone of The Way Kambas National Park (WKNP) Lampung Indonesia is a symptom of the biodiversity deterioration undergoing in the region. The absentia of local knowledge, lack of migrant’s knowledge about the intangible relation between land productivity degradation and biodiversity loss, the stagnation of ecological knowledge cascading to their migrant’s off spring are the special challenge both for communication development planners and educators to design communication medium or teaching material so that the cascading process works well. This research was objected to develop fable as communication medium or teaching material for elementary school especially for the local issues compatibility. This research consisted of field work and laboratory exercises from April to September 2008. The fieldwork was conducted in three villages in buffer zone of the District of East Lampung i.e: Brajayekti, Braja Luhur, and Braja Asri villages as the representation of Balinese, Javanese, and Sundanese respectively. The laboratory activities were conducted at the Lab of Photography and Lab of Multimedia of the University of Lampung. The essential messages contents were extracted from the previous research results (Nurhaida et al., 2007a and 2008a). The development of story setting, story boarding, graphical sketching, lettering, typographic and lay outing for the fable design were conducted by brain storming and discussion among us, the researchers. Whereas for graphical drawing was ordered to a professional painter. The graphical symbols were reproduced by digital camera then manipulated using computer software of Adobe Photoshop. Very firstly, Bahasa Indonesia was applied as the language then we translated to Balinese, Javanese and Sundanese languages. Draft of a-40 page of comic fable was printed on glossy white papers of A5 dimension. The media pre testing conducted by following Bertrand (1978 as adopted by Nurhaida, 2001 and 2007a) to measure the fabels’ effectiveess (their attraction, their self-involvement, their acceptability and their comprehension) for the elementary students. The results showed that the media reliability in conveying those messages were 78.4%; 78.7%; 79.0% and 79.9% for edition of the Bahasa Indonesia, the Javanese, the Sundanese, and the Balinese respectively. Because the readability of the student was in low continum i.e. 61.5 [Sd=13.8] words per minute, the media were considered as reliable for conveying the messages. It is strongly recommend that use media for extension program and teaching material for the aim at promoting biodiversity in NPWK bufferzone. Adapting the media for applying in the 23 other deteriorated Indonesian national parks’ bufferzone is strongly recommended as well.
MAKNA DAN FUNGSI NILAI KEKERABATAN PADA MASYARAKAT ADAT LAMPUNG SAIBATIN MARGA LEGUN, DI DESA BULOK, KECAMATAN KALIANDA, KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Suwarno Suwarno; Damar Wibisono; Pairul Syah
SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya Vol 24 No 2 (2022): SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya
Publisher : Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sosiologi.v24i2.341

Abstract

Salah satu unsur kearifan lokal masyarakat adat Lampung adalah sistem kekerabatan. Secara harfiah kata kekerabatan memiliki makna antara lain kerabat, bersaudara dan satu hubungan garis keturunan. Jadi kekerabatan berarti hubungan dua orang atau lebih yang dianggap memiliki ikatan persaudaraan. Sedangkan fungsi kekerabatan dalam kehidupan masyarakat antara lain adalah memelihara kepedulian dalam pelayanan kepada masyarakat, memelihara rasa tanggungjawab, meningkatkan disiplin kerja, dan menumbuhkan toleransi sosial dalam masyarakat multikultural serta memperkuat ikatan solidaritas sosial. Sementara itu ada beberapa strategi penerapan prinsip kekerabatan diantaranya adalah membuat sanggar budaya dan memperkuat sumber daya masyarakat. Kekerabatan dalam masyarakat adat Lampung pada umumnya terdiri dari 4 (empat) bentuk, yaitu: kerabat atas dasar garis keturunan, kerabat atas dasar perkawinan, kerabat atas dasar ikatan persabatan dan kerabat atas dasar angkon muari (angkat saudara). Sedangkan beberapa faktor yang dapat menghambat pelestarian nilai-nilai kekerabatan, diantaranya adalah masuknya budaya asing, perubahan pola pikir masyarakat dan kesalahpahaman terhadap nilai-nilai kekerabatan. Kata Kunci: Sistem Kekerabatan, Fungsi Kekerabatan, Pelestarian Nilai Kekerabatan
FAKTOR PENGHAMBAT PELESTARIAN NILAI-NILAI KEKERABATAN PADA MASYARAKAT ADAT MARGA LEGUN, DI DESA BULOK, KECAMATAN KALIANDA, LAMPUNG SELATAN Pairul Syah; Suwarno Suwarno
SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya Vol 22 No 2 (2020): SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya
Publisher : Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sosiologi.v22i2.453

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dalam menjaga nilai-nilai kekerabatan di Masyarakat Adat Legun di Desa Bulok, Kalianda, Lampung Selatan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Praktik metode kualitatif ini berusaha memahami dan memaknai interaksi perilaku manusia dalam situasi tertentu yang mengutamakan penghayatan. Informan penelitian ditentukan dengan teknik pengambilan purposive sampling. Hasil penelitian ini memberikan gambaran beberapa faktor yang menghambat terpeliharanya nilai kearifan lokal kekerabatan, antara lain: Pertama, Masuknya budaya asing. Generasi baru menggunakan budaya asing untuk memperoleh rasa empati terhadap orang lain, belajar dari pengalaman, dan mempelajari pengalaman orang lain dengan cara yang lebih maju, praktis dan efisien, sehingga mulai meninggalkan tradisi terutama terait dengan sistem kekerabatan. Kedua, Perubahan pola pikir masyarakat. Perubahan kesadaran masyarakat juga dipengaruhi oleh kondisi masyarakat Lampung yang multikultural dan beragam. Dengan berubahnya pola pikir masyarakat, hal ini secara tidak langsung berdampak pada sulitnya kelompok kepentingan tradisional dalam mempertahankan nilai-nilai budaya lokal, terutama kearifan local; dan Ketiga adalah kesalahpahaman terhadap nilai-nilai kekerabatan. Sebagian warga masyarakat menganggap kekerabatan sebagai kegiatan pencitraan agar lebih banyak mendapatkan perhatian umum, lantaran tanpa sosialisasi yang konkrit. Dalam waktu yang cukup lama, maka ada kecenderungan terjadi penyimpangan dalam menafsirkan nilai-nilai kekerabatan dengan utuh dan murni.
MENAKAR PROGRAM SOFT POWER APPROACH DALAM PENCEGAHAN NARKOBA DI KOTA BANDAR LAMPUNG Rikhardo, Melvina Putri; Suwarno, Suwarno; Mahmud, Imam; Pairulsyah, Pairulsyah
Jurnal Education and Development Vol 13 No 3 (2025): Vol 13 No 3 September 2025
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/ed.v13i3.7329

Abstract

Penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja merupakan masalah serius yang menuntut pendekatan yang lebih humanis dan partisipatif dalam upaya pencegahannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Pendekatan Soft Power yang dilakukan oleh BNN Kota Bandar Lampung dalam membangun ketahanan sosial masyarakat terhadap narkoba. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan teori peran Biddle & Thomas, penelitian ini mendeskripsikan hubungan antara BNN sebagai aktor dan masyarakat sebagai sasaran dalam pelaksanaan program. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan edukatif, persuasif, dan partisipatif yang diterapkan oleh BNN melalui program-program seperti KIE, MIS U, Media Sosial, dan Desa Bersinar cukup efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa tantangan seperti keterbatasan penyuluh, rendahnya literasi digital, dan resistensi masyarakat. Meskipun demikian, peluang besar tetap ada melalui kolaborasi masyarakat dan optimalisasi media digital. Studi ini menyimpulkan bahwa keberhasilan pendekatan soft power sangat ditentukan oleh konteks sosial dan sejauh mana masyarakat merasa terlibat secara aktif dalam proses pencegahan narkoba.
Customary Sanctions: Social Control of Rural Development Nurdin, Bartoven Vivit; Asnani; Ratnasari, Yuni; Syah, Pairul
Jurnal Bina Praja Vol 15 No 2 (2023)
Publisher : Research and Development Agency Ministry of Home Affairs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21787/jbp.15.2023.325-337

Abstract

The whole community should be involved in rural development. However, occasionally, some obstacles cause a lack of community participation. Therefore, several aspects, like socio-cultural and customary practices, are utilized for the rural development of indigenous peoples. This study aimed to analyze customary sanctions' function as social control in rural development for the indigenous Pepadun community in Srimenanti Village, Negara Batin sub-districts, Way Kanan Regency. This field research used a descriptive qualitative approach. The primary data were collected from interviews and observations, while the secondary data were assembled from Statistics Indonesia and customary records owned by informants. Transcription and description were conducted for data processing and analysis. As a result, customary sanctions enforced by Members of the Indigenous Council (Anggota Dewan Adat) have an important role in the social control of deviant behavior through agreed Bia (Biaya Adat/Customary Fees). Additionally, customary rules also play a role in filling both physical and non-physical rural development of the skills in the rural government and customary administrators. These customary sanctions run on community participation in complying with agreed customary rules.