Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

ANALISIS USAHA PADA INDUSTRI KECIL TAHU SMY DI KAMPUNG KORONG GADANG KECAMATAN KURANJI, KOTA PADANG SUMATERA BARAT Ahlul Bait; Rini Hakimi; Nur Afni Evalia
JAS (Jurnal Agri Sains) Vol 10, No 1: Juni 2026
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jas.v10i1.1980

Abstract

Kenaikan harga bahan baku kedelai menjadi tantangan utama bagi keberlanjutan agroindustri tahu, termasuk Usaha Tahu SMY di Kampung Korong Gadang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Pada periode April hingga Agustus 2025, harga kedelai yang dibeli oleh Agroindustri Tahu SMY mengalami kenaikan dari Rp 445.000 menjadi Rp498.000 per karung (50 kg), atau meningkat sebesar ±11,91%. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas usaha dan menganalisis keuntungan, titik impas, serta sensitivitas usaha terhadap kenaikan harga bahan baku kedelai. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Agroindustri Tahu SMY merupakan industri kecil dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 7 orang dan total produksi sebesar 206.890 potong tahu per bulan. Total pendapatan usaha mencapai Rp126.683.560 dengan total biaya produksi sebesar Rp89.016.463, laba bersih sebesar Rp37.667.097 dan nilai R/C ratio sebesar 1,42 yang menunjukkan usaha layak secara ekonomi. Analisis titik impas menunjukkan bahwa BEP kuantitas tercapai pada 35.676 potong tahu dan BEP penjualan sebesar Rp21.845.294,51, jauh di bawah realisasi produksi dan penjualan. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan baku kedelai sebesar 61,5% menurunkan laba usaha menjadi Rp54.432, sedangkan kenaikan harga bahan baku sebesar 62% menyebabkan usaha mengalami kerugian sebesar Rp236.479. Hal ini menunjukkan bahwa struktur biaya usaha yang didominasi bahan baku kedelai membuat usaha rentan terhadap fluktuasi harga, sehingga diperlukan penyesuaian harga jual atau efisiensi biaya untuk menjaga keberlanjutan usaha.
THE GEN Z’s PREFERENCES IN CONSUMING TRADITIONAL FOOD widya fitriana; rudi febriamansyah; nofialdi nofialdi; nur afni evalia; syofyan fairuzi
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 35 No 3 (2025): Jurnal Agroteksos Desember 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agroteksos.v35i3.1514

Abstract

Traditional food plays a vital role in supporting agriculture and strengthening local industries, yet globalization and lifestyle changes have shifted consumer preferences. This study analyzes Gen-Z’s attitudes toward traditional food in Padang City, West Sumatra, a well-known culinary tourism destination. Using a qualitative approach, 185 Gen-Z consumers were interviewed through non-probability accidental sampling.Results indicate that 54.6% of respondents know how to prepare traditional food, with knowledge largely inherited from parents or family (70.5%). Consumption occurs several times a week (53.5%), most often with family (53.5%) and during cultural ceremonies (25.2%). Purchases are primarily made at food stalls or canteens (68.1%) and outlets (25.4%), rather than cafés or restaurants. Digital platforms are widely used for purchasing (59.4%), with Shopee (39.5%) and Go-Food (26.9%) being the most popular. The main reasons for consumption are authentic taste (50.8%) and affordable price (38.9%). Gen-Z expresses pride in consuming traditional food (52.9%) and a strong willingness to promote it (84.6%), though they also show a considerable tendency toward fast food (52.9%). Future efforts should emphasize food parenting, packaging innovation, and digital marketing to attract Gen-Z preferences and ensure the preservation of traditional culinary heritage.