Claim Missing Document
Check
Articles

Found 97 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Analisis Ekspansi Kapasitas Produksi Biogas Dengan Substrat Sampah Organik Di Kelurahan Cibangkong Bandung Ian Hariananda; M. Ramdlan Kirom; Amaliyah Rohsari Indah Utami
eProceedings of Engineering Vol 2, No 3 (2015): Desember, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permintaan masyarakat akan teknologi biogas belakangan ini semakin meningkat, karena seluruh kalangan masyarakat juga ingin merasakan manfaat biogas tersebut, sehingga mendorong untuk dilakukannya ekspansi kapasitas pada biogas-biogas yang sudah ada saat ini di masyarakat. Sebelum dilakukan ekspansi kapasitas ada dua hal prinsip yang harus ditinjau terlebih dahulu yaitu, substrat atau bahan baku dari biogas dan instrumen biogas itu sendiri. Pada tugas akhir ini akan dibahas mengenai penambahan kapasitas produksi biogas dengan rekayasa substrat sampah organik yang digunakan sebagai bahan baku dari biogas di Kelurahan Cibangkong. Hasil pengukuran gas dengan metode Kromatografi diperoleh bahwa susbstrat yang mampu menghasilkan biogas yang optimal adalah substrat yang diperhalus dan ditambah zat aditif (sampel 4) yaitu sebesar 45920 ppm metana, hasil pengukuran tekanan diperoleh substrat yang diperhalus dan ditambah zat aditif (sampel 4) memiliki tekanan yang paling besar yaitu 174 psi pada hari ke-10. Setelah dilakukan ujicoba pemasangan biogas untuk 6 rumah tangga diperoleh hasil sampel 4 mampu memenuhi kebutuhan 6 rumah tangga selama 10 hari, berbeda jauh dengan sampel 1 yang hanya bertahan 3 hari.
Prediksi Beban Listrik Jangka Pendek Berbasis Algoritma Feedforward Backpropagation Dengn Mempertimbangkan Variasi Tipe Hari Ramadani Dwisatya; M. Ramdlan Kirom; Ade Gafar Abdullah
eProceedings of Engineering Vol 2, No 3 (2015): Desember, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi komputasi yang sudah mengarah kepada teknologi soft computing mendorong para peneliti untuk mencoba mencari suatu metode alternatif untuk memprediksi beban listrik berbasis kecerdasan buatan (yang populer dan banyak digunakan: Adaptive Neural Network / Jaringan Syaraf Tiruan). Prediksi beban listrik jangka pendek memegang peranan yang sangat penting bagi efisiensi energi listrik. Untuk itu akan dilakukan prediksi beban listrik jangka pendek untuk 3 tipe hari yaitu hari kerja, hari libur akhir pekan, dan hari libur nasional dengan metode Jaringan Syaraf Tiruan (JST) menggunakan algoritma feedforward backpropagation, dan data yang digunakan adalah data aktual sepanjang tahun 2013 dan tahun 2014. Software pendukung untuk merancang program digunakan Matlab. Untuk mendapatkan hasil optimal, dilakukan optimasi pada aspek jumlah input pembelajaran, learning rate, dan fungsi aktivasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa algoritma JST (Jaringan Syaraf Tiruan) sangat handal dalam memprediksi beban listrik jangka pendek jika dibandingkan dengan metode Time Series dan prediksi yang dilakukan PLN, baik dalam tipe hari kerja, hari libur akhir pekan, dan hari libur nasional. Kata kunci: Peramalan, JST, Beban listrik
Pengaruh Ph Terhadap Produktivitas Gas Di Reaktor Anaerob Dengan Substrat Limbah Makanan M An Naas M S; Muhamad Ramdlan Kirom; Reza Fauzi Iskandar
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biogas adalah campuran gas yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau bakteri anaerob. Biogas dapat dihasilkan dari substrat seperti limbah pertanian, pupuk kandang, sampah kota dan limbah makanan. Biogas dapat diproduksi oleh siklus hidup bakteri secara alami sebagai produk samping dari proses metabolisme. Produksi biogas pada proses ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti nilai pH. Diketahui bahwa produksi biogas pada nilai pH 6.8-7.2 lebih efektif[1].Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisa produksi biogas dengan nilai pH dengan kondisi nilai pH yang berbeda yaitu, dikondisikan di nilai pH 6,8-7,2, dan tanpa dikondisikan. Serta mengukur nilai COD (Chemical Oxigen Demand ) dan TSS (Total Susppended Solid ) dengan kondisi nilai pH yang sama.Pada penelitian ini, substrat yang digunakan adalah nasi. Dari percobaan diperoleh jumlah volume gas yang dihasilkan, penurunan nilai COD dan nilai TSS dari nilai pH yang dikondisikan dan tidak pada setiap harinya.. Kata kunci : Biogas; Volume Gas; Nilai pH ;nilai COD ; Nilai TSS .
Analisa Hasil Pencampuran Gas Hho Dengan Lpg Untuk Menambah Energi Kalor Pada Pembakaran Lpg Raafi Nindyo Haswoto; M Ramdlan Kirom; Eddy Ariffin
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mayoritas rumah tangga di Indonesia menggunakan LPG sebagai sumber bahan bakar kompor mereka. Tanpa kita sadari penggunaan LPG tersebut sudah mulai mencapai batasnya (Adi Nugroho, 2008). Maka dari itu dilakukan sebuah penelitian dibidang energi khususnya LPG yang dilakukan di laboratorium biomassa kampus Universitas Telkom dengan cara melakukan penyempurnaan pembakaran dan akan berdampak kepada penghematan LPG, alat yang digunakan untuk penelitian tersebut adalah generator gas HHO dengan variasi konsentrasi elektrolit NaOH sebesar 3 gram, 4 gram, 6 gram, 10 gram dan 12 gram, penggunaan gas HHO tersebut dengan cara mencampurkan gas HHO dengan LPG ketika memasak air yang mana akan berdampak pada proses memasak yang lebih cepat yang dilakukan pengujian masing – masing elektrolit sebanyak tiga kali. Larutan elektrolit NaOH yang paling optimal yang berdampak pada proses memasak menjadi lebih cepat yaitu sebesar 6 gram dengan prosentase penghematan sebesar antara 26,849 - 27,422 dan konsumsi LPG untuk memasak air hanya sebesar 0,297 kg yang menghabiskan waktu sebesar 8,917 menit, disisi lain energi kalor dari pembakaran LPG juga bertambah sebesar 2.01 kJ/kg dibandingkan tanpa menggunakan HHO proses memasak air menghabiskan LPG berkisar antara 0,406 - 0,407 kg dengan menghabiskan waktu sebesar 12,17 - 12,22 menit. Kata kunci : HHO, LPG, Elektrolit NaOH, Energy Kalor
Mesinpengering Pakaian Menggunakan Elemen Pemanas Ptc Susetyo Agung Prabowo; Tri Ayodha Ajiwiguna; M.Ramdlan kirom
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pengeringan adalah proses perpindahan panas dan uap air secara simultan yang memerlukan energi panas untuk menguapkan kandungan air. Energi panas ini biasanya bisa didapatkan dari sinar matahari. Namun ketika musim penghujan, kondisi ini menghambat segala sesuatu yang sangat bergantung pada sinar matahari, salah satunya dalam hal mengeringkan pakaian. Maka dari itu diperlukan suatu alat bantu yang dapat mengeringkan pakaian tanpa tergantung pada sinar matahari. Mesin pengering pakaian adalah mesin yang digunakan untuk mengeringkan pakaian dengan energi panas buatan, salah satu penghasil pemanas buatan adalah elemen pemanas. Elemen pemanas buatan yang digunakan pada penelitian ini adalah elemen pemanas PTC. Elemen pemanas PTC ini akan memanaskan suhu dalam ruangan segienam hingga 50º C sehingga panas yang dihasilkan elemen pemanas PTC dapat mengubah air yang terkandung dalam pakaian menjadi uap air yang kemudian akan dilepas ke lingkungan dengan bantuan kipas. Berdasarkan hasil perhitungan dan pengujian, beban pemanasan total dari rancang bangun mesin ini sebesar 817,8 Watt, kemampuan mesin menguapkan massa air rata-rata 557.03 gram/jam dengan kelembaban ruang pengeringan ketika pakaian kering 30,06% dan mesin ini mencapai titik optimumnya untuk jumlah pengeringan pakaian sebanyak 12 pakaian. Kata kunci : Pengeringan, mesin pengering pakaian, elemen pemanas PTC, beban pemanasan Abstract Drying is a simultaneous process of heat transfer and water vapor that requires heat energy to evaporate water content. This heat energy can usually be obtained from sunlight. But during the rainy season, this condition inhibits everything that is very dependent on sunlight, one of which is in drying clothes. Therefore it is necessary a tool that can dry clothes without depending on sunlight. Clothes dryer is a machine used to dry clothes with artificial heat energy, one of the producers of artificial heating is a heating element. The artificial heating element used in this study is the PTC heating element. This PTC heating element will heat the ambient heating temperature up to 50º C so that the heat generated by the PTC heating element can change the water contained in the garment into water vapor which will then be released into the environment with the help of the fan. Based on the calculations and tests, the total heating load from the engine design is 817,8 Watt, the machine's ability to evaporate the average water mass 557.03 gram / h with the humidity of the drying chamber when 30.06% dry clothing and the machine reaches its optimum point for the number of clothes drying is 12 clothes. Keywords: Drying, clothes drying machine, PTC heating element, heating load
Analisis Pengaruh Temperatur Terhadap Produksi Biogas Pada Reaktor Anaerobic Buffled Reactor (abr) Mega Anita Sari; M. Ramdlan Kirom; Ahmad Qurthobi
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Biomassa merupakan sumber energi terbarukan dengan memanfaatkan limbah organik. Proses tersebut memiliki tiga proses fermentasi anaerob yaitu hidrolisis, asidogenesis, dan metanogenesis. Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi hasil produksi biogas adalah pH, dan temperatur. Penelitian ini menggunakan reaktor anaerobic buffled reactor (ABR) dengan kapasitas total 15 liter yang terdiri dari 2,5 liter ruang gas, 8 liter substrat nasi dan 4,5 liter bakteri rumen sapi. Meningkatnya pengkondisian temperatur maka hasil produksi gas juga akan semakin banyak. Volume total gas yang paling optimum dihasilkan pada temperatur 40 oC yaitu 11100 ml. Pada persentase gas hidrogen yang paling maksimum pada temperatur 35 oC yaitu 50,637 % dan jumlah padatan atau partikel terlarut di dalam air 1380 ppm. Temperatur 30 oC yang paling optimum dalam hasil produksi biogas dengan persentase metana 7,669 % menunjukkan pengkondisian mesofilik yang mampu bertahan pada fluktuasi temperatur ± 1 oC. Kata Kunci: Biomassa, anaerobic baffled reactor (ABR), pengkondisian temperatur. Abstract Biomass is a renewable energy source by utilizing the organic waste. This process has three anaerobic fermentation processes, such as hydrolysis, acidogenesis, and methanogenesis. Environmental factors which may affect the biogas production are pH and temperature. This research utilized an anaerobic buffled reactor (ABR) with a total capacity of 15 liters consisting of 2.5 liters of a gas chamber, 8 liters of rice substrate, and 4.5 liters of cow rumen bacteria. The enhancement of temperature conditioning, gas production would also have more result. Volume of total gas which was the most optimum was generated in temperature 40 oC was 11100 ml. The most optimum percentage of hydrogen gas in temperature 35 C was 50.637 % and total solids or soluble particles in the water was 1380 ppm. At a temperature of 35oC in the fermentation was 50.63 7% and the number of solids or particles dissolved in the water was 1380 ppm. The temperature of 30oC was the optimum temperature for biogas production with 7.669 % of methane indicated a mesophilic conditioning which as able to withstand the temperature fluctuations ±1oC. Keyword : Biomassa, anaerobic baffled reactor (ABR), temperature condition
Evaluasi Sistem Pendinginan Malam Hari Di Kota Bandung Mochamad Firman Muzaqi Alhaq; Tri Ayodha Ajiwiguna; M.Ramdlan kirom
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Nocturnal cooling merupakan alternatif pemanfaatan energi yang didapat dari radiasi stratosfer malam hari. Sistem nocturnal cooling berkerja secara pasif tanpa ada alat bantu lain dan dapat dilihat terjadi perbedaan antara temperatur dalam sistem dengan lingkungan. Pada penelitian ini akan dirancang sistem yang terisolasi dengan bagian atas menggunakan kaca sebesar 45 x 45 cm yang memiliki ketebalan sebesar 3 mm dan memanfaatkan lempengan stainless steel dan aluminium sebesar 40 x 40 cm yang memiliki ketebalan 2 mm berwarna hitam sebagai objek penerima radiasi. Pada bagian dalam terdapat fluida sebagai media yang akan didinginkan dan sebagai alat ukur menggunakan sensor temperatur DS18B20. Pengujian dilakukan pada malam hari yaitu pukul 20.00 sampai 05.00 WIB. Data hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi fenomena nocturnal cooling. Pada kedua sistem mengalami perbedaan selisih penurunan temperatur, pada stainless steel mengalami penurunan sebesar 3,25 °C dan pada sistem yang menggunakan aluminium mengalami penurunan sebesar 3 °C. Penurunan sistem yang menggunakan stainless steel mengalami penurunan temperatur lebih besar dibandingkan aluminium, karena stainless steel memiliki nilai emisivitas 0,98 lebih besar dari aluminium yang memiliki nilai emisivitas sebesar 0,82. ada pengujian sistem bergantung pada kondisi aktual seperti berawan dan cerah. Pada kondisi berawan selisih temperatur dari kedua sistem dengan lingkungan mengalami perbedaan yang kecil, berbanding terbalik dengan kondisi cerah. Penurunan temperatur terbesar rata-rata terjadi diantara pukul 23.30 sampai 00.30 WIB. . Kata kunci : nocturnal cooling, stratosfer, radiasi, emisivitas Abstract Nocturnal cooling is an alternative energy utilization derived from night stratosphere radiation. The nocturnal cooling system works passively without any other assistive devices and it can be seen that there is a difference between the temperature in the system and the environment. In this study will be designed an isolated system with the top using a glass of 45 x 45 cm which has a thickness of 3 mm and uses a stainless steel plate and aluminum of 40 x 40 cm which has a thickness of 2 mm black as the object of receiving radiation. On the inside there is a fluid as a medium to be cooled and as a measuring instrument using the temperature sensor DS18B20. Tests are carried out at night at 20.00 to 05.00 WIB. The results of the study showed that there was a nocturnal cooling phenomenon. In both systems, there was a difference in the difference in temperature reduction, in stainless steel decreased by 3.25 ° C and in systems using aluminum decreased by 3 ° C. The decrease in the system using stainless steel has a greater temperature decrease than aluminum, because stainless steel has an emissivity value of 0.98 greater than aluminum which has an emissivity value of 0.82. there is a system test depending on actual conditions such as cloudy and bright. In cloudy conditions the temperature difference of the two systems with the environment has a small difference, inversely proportional to the clearly conditions. The largest average temperature drop occurred between the hours of 11:30 to 12:30pm. Keywords: nocturnal cooling, stratosphere, radiation, emissivity
Analisis Produksi Energi Listrik Dari Microbial Fuel Cell Dengan Pengolahan Limbah Air Fajri Amenda Putra; M Ramdlan Kirom; Reza Fauzi Iskandar
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Microbial fuel cell (MFC) dapat dijadikan sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. MFC dapat mengubah energi kimia menjadi energi listrik melalui reaksi katalitik dengan bantuan mikroorganisme. Selain permasalahan energi, Indonesia juga dihadapkan dengan permasalahan pengolahan limbah. Zat organik yang terdapat pada limbah dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon untuk pertumbuhan mikroba pada sistem MFC. Limbah yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengolahan limbah air inlet dan outlet. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu operasi, diameter elektroda dan volume reaktor terhadap kinerja MFC. Reaktor dirancang berdasarkan pada prinsip kerja reaktor sel elektrokimia dimana terdapat dua kompartemen yaitu kompartemen anoda dan katoda. Kedua kompartemen tersebut dipisahkan oleh jembatan garam dan pada masing-masing kompartemen diberikan elektroda. Kemudian dilakukan preparasi berupa substrat, dan alat elektrolisis. Kompartemen anoda akan diisi dengan substrat air limbah inlet dan outlet dari Instalasi Pengolahan Limbah Air di Cikoneng. Pemilihan air limbah ini sebagai substrat karena banyak terdapat biokatalisator yang merupakan elemen penting dalam sistem ini. Pada hasil penelitian, kuat arus maksimum yang mampu dihasilkan oleh sistem MFC ini sebesar 0,9201 mA dengan substrat air limbah inlet dengan elektroda Zn/Cu pada pengukuran pertama, dan sebesar 0,91824 mA pada pengukuran kedua dengan elektroda Zn/Cu dan substrat air limbah inlet. Tembaga dan seng sebagai elektroda, mampu mengkonversi substrat tersebut menjadi energi listrik dengan nilai antara 1,508733646 mJ sampai 155,3877914 mJ. Nilai daya maksimum yang dapat dihasilkan dari sistem MFC untuk dua kali pengukuran mencapai 1,255529949 mW dengan menggunakan pelat elektroda Cu dan Zn. Kata Kunci: Microbial Fuel Cell, limbah air, elektroda, kuat arus, tegangan, energi listrik, daya maksimum. Abstract Microbial fuel cell (MFC) can be used as an alternative energy source that is environmentally friendly and sustainable. MFC can convert chemical energy into electrical energy through catalytic reactions with the help of microorganisms. In addition to energy problems, Indonesia is also faced with waste processing problems. Organic substances present in waste can be used as carbon sources for microbial growth in MFC systems. Waste used in this research is inlet waste water treatment and outlet. This research has purpose to know the influence of operation time, electrode diameter and reactor volume to MFC performance. The reactor is designed based on the working principle of an electrochemical cell reactor in which there are two compartments ie anode and cathode compartments. Both compartments are separated by salt bridges and in each compartment are given electrodes. Then do the preparation of substrate, and electrolysis tool. The anode compartment will be filled with inlet and outlet wastewater substrates from the Wastewater Treatment Plant in Cikoneng. The selection of this waste water as a substrate because there are many biocatalisator which is an important element in this system. In the experiments, the maximum current strength produced by this MFC system is 0.9201 mA with an inlet wastewater substrate with Zn / Cu electrodes at first measurement, and 0.91824 mA in the second measurement with Zn / Cu electrode and water substrate waste inlet. Copper and zinc as electrodes, capable of converting the substrate into electrical energy with a value between 1.508733646 mJ to 155.3877914 mJ. The maximum power value that can be generated from the MFC system for two measurements reaches 1.255529949 mW by using Cu and Zn electrode plates. ISSN : 2355-9365 e-Proceeding of Engineering : Vol.5, No.3 Desember 2018 | Page 5610 Keywords: Microbial Fuel Cell, waste water, electrode, strong current, voltage, electrical energy, maximum power.
Pemodelan Bukaan Untuk Ventilasi Alami Dalam Bangunan Sampoerna Romadhona; M Ramdlan Kirom; Ery Djunaedy
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Rancangan arsitektur bangunan di wilayah yang beriklim tropis selalu dilengkapi dengan berbagai jenis bukaan yang bertujuan untuk memasukkan angin dari luar ke dalam ruangan sehingga berfungsi sebagai ventilasi alami. Namun, pada saat tahap perancangan bangunan, belum ada upaya untuk merumuskan bagaimana cara untuk memodelkan bukaan tersebut dengan cara yang mudah. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui cara memodelkan bukaan untuk ventilasi alami. Pemodelan bukaan tersebut dibutuhkan untuk menghitung aliran udara dalam bangunan. Ventilasi dibutuhkan agar udara di dalam ruangan tetap sehat dan nyaman bagi manusia. Pada penelitian ini telah dilakukan pemodelan bukaan untuk ventilasi alami pada tiga studi kasus dengan menggunakan model AirflowNetwork pada perangkat lunak EnergyPlus. Objek penelitian pada tugas akhir ini adalah bangunan Belgian PASSYS cell, bangunan kotak dan bangunan masjid. Berdasarkan studi kasus kedua, bukaan tipe casement menghasilkan aliran udara tertinggi sedangkan bukaan tipe hung, sliding dan hopper menghasilkan aliran udara terendah. Pada model bangunan masjid telah dilakukan pemodelan bukaan dengan dua simulasi yang berbeda, aliran udara dalam bangunan masjid mengalami penurunan seiring dengan pengurangan bukaan yang didefinisikan. Kenyamanan termal model bangunan kotak sederhana berada pada rentang -1.04 sampai 2.22 dan pada model bangunan masjid berada pada rentang -1.26 sampai 3.26. Kata kunci: bukaan, ventilasi alami, kenyamanan termal. Abstract Architectural buildings in tropical regions are always equipped with various types of openings that aim to enter the wind from the outside into the room so that it serves as a natural ventilation. However, during the design stage of the building, there has been no attempt to formulate how to model the openings in an easy way. This research was conducted to find out how to model openings for natural ventilation. Modeling the openings required to calculate the air flow in a building. Ventilation is needed to keep the air in the room healthy and comfortable for humans. In this research, there has been modeling of openings for natural ventilation in three case studies using the AirflowNetwork model on the EnergyPlus software. In this model we need input data that is discharge coefficient and opening factor value. The object of this research is Belgian PASSYS cell building, box building and mosque building. Based on a second case study, casement type openings produce the highest airflow while hung, sliding and hopper type openings produce the lowest airflow. In the model of mosque building has been done with the modeling of openings with two different simulations, air flow within the mosque building decreased along with the reduction of defined openings. The thermal comfort of the box building model is in the range of -1.04 to 2.22 and the mosque building model is in the range of -1.26 to 3.26. Keywords: opening, natural ventilation, thermal comfort
Pemanfaatan Thermoelectric Cooler Pada Photovoltaic Sebagai Pembangkit Faris Akhmad Diawan; M.Ramdlan Kirom; Porman Pangaribuan
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Thermoelectric Genereator (TEG) adalah perangkat generator listrik yang dapat mengonversi perbedaan suhu menjadi energi listrik secara langsung, menggunakan fenomena yang disebut dengan efek seebeck. TEG kini sering diaplikasikan sebagai pembangkit yang melibatkan panas sebagai medianya seperti pembangkit tenaga matahari. Menurut penelitian Indonesia memiliki potensi surya sebesar 112.000 GWp, namun yang baru dapat dimanfaatkan baru sekitar 10MWp. Penelitian mengenai PhotoVoltaic/Thermal (PV/T) heat pipe hybrid system adalah salah satu upaya penggabungan antara solar thermal dan solar cell yang berawal dari sistem pendingin untuk photoVoltaic (PV), lalu dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan suhu (thermal), kelistrikan, dan efisiensi energi mendekati 63.65%, 8.45% dan 10.26%. dari hasil panas tersebut yang menjadi uap dimaanfaatkan kembali. Ada juga yang memanfaatkan thermoelectric (TE) sebagai media pendingin sekaligus untuk hybrid dengan memanfaatkan suhu (thermal) yang akan diubah menjadi listrik. Pemanfaatan TE sebagai pendingin sekaligus pembangkit digunakan oleh penulis sebagai penelitian Tugas Akhir. Dengan demikian penulis merancang sistem pembangkit dan pendingin yang diterapkan pada PV. Menggunakan 10 buah TEC-12706 yang disusun seri sebagai pembangkit sekaligus pendingin PV. Lalu menggunakan air yang disirkulasikan dengan menggunakan pompa untuk bagian dingin dari TE Berdasarkan hasil pengujian menggunakan TEC-12706, pada hari pertama penurunan suhu PV rata-rata 5,5 ºC dan hasil tegangan pada saat waktu puncak 0,73 V. Sedangkan pada hari kedua menggunakakan air es dan memperoleh penurunan suhu rata-rata 16,5 ºC dan tegangan 0,9 V. . Kata Kunci : renewable energy, solar thermal, thermoelectric, photovoltaic, perbedaan suhu Abstract Thermoelectric Genereator (TEG) is an electric generator device that can convert temperature differences into electrical energy directly, using a phenomenon called the seebeck effect. TEG is now often used as a generator that involves heat as a medium such as a solar power plant. According to research, Indonesia has a solar power potential of 112,000 GWp, but only 10MWp can be utilized. Research on photoVoltaic / thermal hybrid (PV / T) heat pipe systems is one attempt to combine solar and solar solar cells derived from cooling systems for photoVoltaics (PV), then can be used to increase temperature (thermal), electricity and efficiency energy is approaching 63.65%, 8.45% and 10.26%. from the heat produced to steam, it is reused. There are also those who use thermoelectric (TE) as a cooling medium and for hybrids by utilizing temperature (thermal) which will be converted into electricity. The use of TE as a cooler or generator is used by the author as a Final Project research. Thus the author designs generators and cooling systems that are applied to PV. Using 10 pieces of TEC12706 arranged in series as generators and PV coolers. Then use water that is circulated using a pump for the cold part of TE Based on the results of testing using TEC-12706, on the first day the PV temperature decreased on average 5.5 ºC and the results of stress when the peak time was 0.73 V. Whereas on the second day ice water was used and a decrease in average temperature was used. 16.5 ºC and Voltage 0.9 V. Keywords: Seebeck effect, solar thermal, thermoelectric, photoVoltaic,temperature difference
Co-Authors Abrar Ismardi Ade Gafar Abdullah Adi, Yeremia Kristianto Aditya Pratama Rusdiyono Adrian Muhammad Irwansyah Ahmad Qurthobi Ahmad Qurtobi Ahmad Rizal D. Akhmad Hambali Amaliyah Rohsari Indah Utami Andhika Pratama Andre Farlianto Annisa Nabilah Kalzoum Antita Kusuma Putri Aprilianto, Khoirul Tri Ardisurya Ardisurya Arika Primayosa Asep Suhendi Atika Rizkiyatul Faizah Bahtiar Yoga Prasetyo Bayu Setiawan Bella Pratiwi Benny Sarihot Tua Silalahi Chaidir Azwin Dani Gustaman Syarif Daulat Kliston Simatupang Dede Wega Ningsih Devi Silfia Istiqomah Dodi Herman Dyan Franco Sinulingga Eddy Ariffin Edric Sunfresly Zalukhu Eka Vonia Nurcahyani Elsa Krisdiana Elza Anggia Putri Endang Rosdiana Erik Deardo Purba Ery Djunaedy Fahad Hermawan Widodo Faiz Auliya Ramadhan Fajri Amenda Putra Faris Akhmad Diawan Fasha, Muhammad Aderaka Febriansah Setiawan Geraldo Cakrawala Herman Ghani Gumilang Heliadi Hafidah, Fiolyta Hertiana Bethaningtyas I Putu Arya Suarsana Ian Hariananda Ihsan Adhi Nugroho Ihsan Saputro Indah Utami, Amaliyah Rohsari Indra Wahyudin Fathonah Ismudiati Puri Handayani Joko Suryo Sumbodo Kartika Dian Kurniasari Koko Friansa M An Naas M S Mahesa Agni Mega Anita Sari Mochamad Firman Muzaqi Alhaq Moh Riswandha Imawan Muhammad Alfi Sazali Muhammad Aslam Muhammad Farhan Nur Islam Muhammad Ilham Kurniawan Muhammad Manarul Huda Muhammad Yusuf Darmawan Musfar, Syafrialdi Musrinah Musrinah Nanda Salsabila Nadhifa Nirwana Prasetia Sipayung Novian Lisdi Wahyoto Novika Fithrah Ulfa Nugroho Wisnu Murti Nur Hidayat Syamsul Nur Putrialita Nurwulan Fitriyanti Oki Maulana Rosadi Paramitha Octavia Porman Pangaribuan Pristian Firzatama Putri, Monica Tri Buana R. Biantoro Kusumo Setiawan Raafi Nindyo Haswoto Raden Rizki Mulia Putra Radian Maulana Muhamad Rahmat Awaludin Salam Ramadani Dwisatya Ramadani Dwisatya Reza Ayu Febriana Reza Fauzi Iskandar Rifqi Firdaus Roma Danil Royhan Ardhi Bachtiar Rozan Widhi Jatnika Rubensio Arigeni Sampoerna Romadhona Satria Pambudi Shelvy Adila El Safura Siti Nurdianti Sholihat Sucika Nandiati Sugianto Sugianto Susetyo Agung Prabowo Suwandi Suwandi Syamhudi, Moch. Ahkas Rezky T. Nuzul Akbar Tagrid Ruwaida Tantri Apriyaningrum Tesla Pinantun Hamonangan Tri Ayodha Ajiwiguna umi nihayah Valentisa Zulviana Vebby Tjahyono Wenny Harifadillah. A Wildan Fauzan Wisnu Abdiguna Surahman Murti Yan Dewa Prabawa Yan Khairul Akbar Yandi Firdaus Yasir Rizki Yeremia Kristianto Adi Yohana Tisca Tiurma Limbong Zulhendri Zulhendri