Claim Missing Document
Check
Articles

Found 97 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Analisis Pengaruh Temperatur Terhadap Produksi Hidrogen Pada Reaktor Anaerob Dengan Substrat Kulit Pisang Wenny Harifadillah. A; M Ramdlan Kirom; Ahmad Qurthobi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu bentuk dari energi terbarukan adalah biomassa, biomassa diperoleh dari bahan organik dan biasanya merupakan produk buangan. Biomassa merupakan salah satu energi terbarukan yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan. Dari bahan tersebut, dihasilkan beberapa gas yang bermanfaat seperti hidrogen. Hidrogen memiliki kalor pembakaran tertinggi yaitu dan merupakan energi bersih karena hasil pembakaran hanya menghasilkan uap air. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah proses fermentasi anaerobik. Pada proses ini tidak menggunakan bakteri tambahan, atau enzim, hanya melakukan tahap pre-treatment dengan melakukan pemanasan substrat selama 15 menit. Selama proses berlangsung suhu akan dijaga konstan dalam kondisi mesophilic. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah digester anaerob berbahan kaca dengan dimensi tinggi 23 cm, diameter sebesar 11 cm dan volume substrat sebesar 1.4 liter. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar gas hidrogen tertinggi dihasilkan mencapai 47% pada hari kedua untuk substrat kulit pisang. Dimana temperatur substrat dijaga konstan pada 25ºC. kata kunci : biomassa, hidrogen, fermentasi, digester anaerob
Analisis Produksi Hidrogen Dalam Pengolahan Limbah Kacang Kedelai Menggunakan Digester Anaerobik Muhammad Manarul Huda; M. Ramdlan Kirom; Ahmad Qurthobi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah kulit ari dan cair kacang kedelai mengandung senyawa-senyawa organik seperti karbohidrat. Limbah tersebut dapat digunakan sebagai bahan biomassa. Pengolahan biomassa seperti fermentasi gelap secara anaerob dapat menghasilkan gas hidrogen. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui potensi biogas dan membandingkan produksi biogas dari limbah kulit ari dan cair kacang kedelai dengan lumpur hasil fermentasi sebagai kultur bakteri. Hasil menunjukkan bahwa gas hidrogen dari substrat yang terdiri campuran limbah kulit ari kacang kedelai dan lumpur hasil fermentasi adalah sangat rendah, sedangkan campuran limbah cair dan lumpur hasil fermentasi adalah tinggi. Substrat yang terdiri campuran limbah cair kacang kedelai dan lumpur hasil fermentasi menghasilkan biogas dengan volume kumulatif sebanyak 14.026 liter dan rata-rata produksi biogas adalah 1.275 liter/hari. 
Efektivitas Pendingin Menggunakan Termoelektrik Pada Panel Surya Joko Suryo Sumbodo; M. Ramdlan Kirom; Porman Pangaribuan
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Peningkatan kebutuhan listrik saat ini mengakibatkan terjadinya krisis energi. Berdasarkan permasalahan tersebut, energi surya yang termasuk dalam energi terbarukan dipilih sebagai energi alternatif untuk menghasilkan energi listrik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh efektivitas pendingin pada perangkat solar cell, pendinginan oleh angin tidak diperhitungkan. Parameter yang diukur dalam penelitian ini yaitu suhu, arus dan tegangan output. Alat yang digunakan di sini adalah solar cell, karena solar cell dapat mengkonversikan langsung radiasi sinar matahari menjadi energi listrik (proses photovoltaic) dan juga sistem thermoelectric sebagai pendingin untuk solar cell. Pada penelitian ini juga digunakan sistem tanpa pendingin untuk dibandingkan dengan yang memakai pendingin agar dapat diketahui seberapa besar efektivitas pendingin pada perangkat solar cell dan juga efisiensinya. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa panel surya dengan pendingin yang berupa thermoelectric lebih efisien daripada panel surya tanpa pendingin. Pada panel surya dengan pendingin didapatkan presentase peningkatan efisiensi sebesar 18,53%, presentase peningkatan daya keluaran sebesar 18,59%, presentase pendinginan suhu sebesar 19,53% jika dibandingkan dengan panel surya tanpa pendingin. Kata Kunci : solar cell, , photovoltaic, energi terbarukan, thermoelectric Abstract The current increase in electricity demand has resulted in an energy crisis. Based on these problems, solar energy included in renewable energy is chosen as an alternative energy to produce electricity. The purpose of this study was to determine the effect of cooling effectiveness on solar cell devices, cooling by wind was not taken into account. The parameters measured in this study are temperature, current and output voltage. The tool used here is a solar cell, because solar cells can convert direct solar radiation into electrical energy (photovoltaic process) and also thermoelectric system as a cooling for solar cells. In this study also used a system without cooling to be compared with the use of coolant in order to know how much the effectiveness of cooling on solar cell devices and also its efficiency. From this research found that solar panels with Thermoelectric cooler more efficient than solar panel without cooling. In solar panels with coolant obtained percentage increase in efficiency of 18.53%, percentage increase in output power of 18.59%, percentage of cooling temperature of 19.53% when compared with solar panels without cooling. Keywords: solar cell, , photovoltaic, energi terbarukan, thermoelectric
Pengaruh Kadar Keasaman (ph) Terhadap Produksi Biogas Dengan Menggunakan Campuran Kotoran Hewan Dan Substrat Kentang Busuk Pada Reaktor Anaerob Satria Pambudi; M Ramdlan Kirom; Asep Suhendi
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Biogas merupakan produk akhir pencernaan atau degradasi anaerobik bahan – bahan organik yang dilakukan oleh mikroorganisme anaerob dalam lingkungan yang kedap udara atau bebas dari oksigen. Penggunaan limbah sebagai bahan baku untuk penelitian ini berupa limbah kotoran ternak yaitu kotoran sapi dan kentang yang dibusukkan. Biogas memiliki kondisi optimum sebagai patokan apakah produksi suatu biogas sesuai dengan kriteria atau tidak, salah satunya tentang pengkondisian derajat keasaman (pH). Dengan menggunakan larutan NaOH, variasi nilai pH yang dikondisikan yaitu 6.8, 7.0, 7.2 dan 7.4. Dari hasil pengukuran yang dilakukan diketahui bahwa lama waktu produksi gas (Hydraulic Retention Time) dari setiap nilai pH berbeda, dengan pH 6.8 memiliki nilai HRT 29 kali pengukuran. Untuk pH 7.2 memiliki nilai HRT 27 kali pengukuran, sedangkan pH 7.0 dan pH 7.4 sama-sama memiliki nilai HRT 26. Dengan total volume gas pH 6.8 sebesar 2040 mL, total volume gas pH 7.0 sebesar 1880 mL dan untuk total volume gas pH 7.2 dan pH 7.4 sama besar yaitu 1670 mL. Untuk hasil uji kandungan gas metana tidak terlalu bagus, dengan pH 6.8 tertinggi dari yang lainnya yaitu 0.002 %. Kata Kunci: Biogas, bahan baku, derajat keasaman (pH), HRT, volume gas, kandungan gas Abstract Biogas is the final product of digestion or anaerobic degradation of organic matter carried out by anaerobic microorganisms in an air-free or oxygen-free environment. The use of waste as a raw material for this research in the form of livestock manure is cow manure and decomposed potatoes. Biogas has an optimum condition as a benchmark whether the production of biogas in accordance with the criteria or not, one of them about conditioning the degree of acidity (pH). By using the NaOH solution, the variation of pH values conditioned were 6.8, 7.0, 7.2 and 7.4. From the measurement results, it is know that the duration of gas production (Hydraulic Retention Time) of each pH value is different, with pH 6.8 having HRT value 29 times the measurement. For pH 7.2 has an HRT value of 27 times the measurement, whereas pH 7.0 and pH 7.4 have an HRT value of 26. With a total gas volume of pH 6.8 is 2040 mL, the total gas volume of pH 7.0 is 1880 mL and for total gas volume pH 7.2 and pH 7.4 as large as 1670 mL. For the test results of methane gas content is not very good, with the highest pH 6.8 from the other is 0.002%. Keywords: Biogas, raw material, acidity degree (pH), HRT, gas volume, gas content
Analisis Produksi Energi Listrik Sistem Sel Tunam Mikroba (stm) Menggunakan Lumpur Sawah Dan Limbah Tebu Muhammad Farhan Nur Islam; M. Ramdlan Kirom; Ahmad Qurthobi
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sel Tunam Mikroba (STM) adalah salah satu energi terbarukan yang merupakan sistem bio-elektrokimia yang dapat menghasilkan energi listrik dengan memanfaatkan metabolisme bakteri dari berbagai substrat organik sebagai katalis untuk mengoksidasi zat organik dan anorganik sehingga dapat menghasilkan arus listrik. Penelitian bertujuan untuk menyelidiki kaitan pengaruh dari variasi substrat lumpur sawah dan limbah tebu terhadap besarnya potensi energi listrik yang dihasilkan. Reaktor STM yaitu dual-chambers dengan ukuran kompartemen 5×10×10 cm. Elektroda yang digunakan tembaga sebagai katoda, dan seng sebagai anoda. Elektron yang dihasilkan oleh bakteri pada substrat di kompartemen anoda ditransfer ke elektroda anoda, sedangkan proton ditransfer ke kompartemen katoda melewati jembatan garam. Pada kompartemen katoda terisi aquades, dan jembatan garam (NaCl 1 M) sebagai media transfer proton. Hasil penelitian menunjukkan perolehan tegangan dan kuat arus listrik pada keempat variasi substrat tidak berbeda secara signifikan kecuali dengan menggunakan tetes tebu. Sedangkan rata-rata kerapatan daya yang dihasilkan yaitu dengan menggunakan ampas tebu 8.97 mW/m2, tetes tebu 57.41 mW/m2, abu ampas tebu 6.27 mW/m2, dan blotong 14.33 mW/m2. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa produksi listrik tertinggi dihasilkan oleh kombinasi substrat lumpur sawah dan tetes tebu. Kata kunci : Sel Tunam Mikroba, limbah tebu, substrat Abstract Microbial Fuel Cell (MFC) is one of renewable energy which is bio-electrochemical system which can generate electrical energy by utilizing the metabolism of bacteria from various organic substrate as a catalyst to oxidize organic and inorganic substances to produces electric current. The study aimed to investigate the relationship of the effects of variations in mud farmland and sugarcane waste on the magnitude of the potential electrical energy produced. MFC reactor is dual-chambers with compartment size 5×10×10 cm. Electrodes are used copper as cathode, and zinc as anode. The electrons produced by bacteria on the substrate in the anode compartment are transferred to the anode electrode, while the protons are transferred to the cathode compartment across the salt bridge. The cathode compartment is filled with aquades, and a salt bridge (NaCl 1 M) as a proton transfer medium. The acquisition of electric current and voltage on the four substrate variations are not different significantly, except using molasses. While the average of power density produced is by using bagasse 8.97 mW/m2, molasses 57.41 mW/m2, bagasse ash 6.27 mW/m2, and filter mud 14.33 mW/m2. Based on the result of this research, it can be concluded that the highest production of electric is produced by the combination of mud farmland and molasses. Keywords : Sel Tunam Mikroba, sugarcane waste, substrate
Metode Benchmarking Energi Bangunan Dengan Menggunakan Building Energy Map (bemap) Berbasis Web Tantri Apriyaningrum; Ery Djunaedy; M. Ramdlan Kirom
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Benchmarking merupakan metode untuk menentukan kinerja energi bangunan dengan cara menghitung dan mengontrol kinerja satu set bangunan serupa dengan membandingkan antara bangunan tersebut. Metode benchmarking di Indonesia masih sangat sederhana. Untuk menilai kinerja bangunan, variabel yang digunakan hanya IKE (Intensitas Konsumsi Energi dalam kWh/m2) sebagai parameter boros atau tidaknya konsumsi energi bangunan. Oleh karena itu diperlukan variabel lain agar metode benchmarking lebih akurat dengan ditampilkan pada skor benchmarking. Variabel yang ditambahkan pada penlitian ini yaitu luas total bangunan dan CDD (Cooling Degree Days) yang dikalikan dengan luas bangunan ber-AC. Variabel tersebut berpengaruh sebesar 63% terhadap IKE dengan analisis regresi linier berganda. Hasil persamaan regresi tersebut digunakan untuk mencari IKE adjusted, lalu didapat skor benchmarking dengan menghitung persentil IKE adjusted. IKE aktual yang besar belum tentu menunjukkan bangunan dengan penggunaan energi yang tinggi atau boros. Karena skor bergantung dari IKE adjusted yang relatif dengan variabel luas bangunan total, luas ber-AC, dan CDD. Pada penelitian ini, skor benchmarking yang dihasilkan tersebut selanjutnya ditampilkan pada website BeMap (Building Energy Map) agar mempermudah pemilik bangunan melakukan benchmarking.
Analisis Eksergi Pada Proses Biogas Menggunakan Abr (anaerobic Baffled Reactor) Dengan Substrat Nasi Basi Andre Farlianto; M Ramdlan Kirom; Tri Ayodha Ajiwiguna
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biogas adalah salah satu inovasi dalam pengembangan energi alternatif. dapat diperoleh dengan proses anaerob. Namun proses produksi dan sejauh mana penggunaan energi pada biogas masih menjadi permasalahan dalam produksi biogas. Efisiensi dari berbagai proses produksi biogas harus dikaji lebih dalam dengan tujuan agar biogas yang dihasilkan dapat seoptimal mungkin. salah satu aspek yang harus di dikaji adalah efisiensi penggunaan energi. Analisa eksergi merupakan metode yang dapat mengidentifikasi kerugian energi yang terjadi pada proses biogas. Identifikasi kerugian ini bertujuan untuk evaluasi serta perbaikan proses biogas. Analisa eksergi dapat memberikan informasi yang diperlukan untuk meningkatkan performa sistem biogas secara efisien. Adapun metode dalam penelitian ini yaitu mengumpulkan data dari percobaan proses biogas, kemudian menganalisis secara eksergi untuk menentukan degradasi energi. Metoda ini coba diterapkan pada proses biogas menggunakan ABR (Anaerobic Baffled Reactor) menggunakan substrat nasi basi yang dilakukan dengan 2 jenis percobaan, tanpa pengondisian suhu dan dengan pengondisian suhu. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa masih besarnya rasio pemusnahan eksergi pada sistem dan masih relatif rendahnya efisiensi dari proses biogas yang dilakukan Kata Kunci : Biogas, Analisa Eksergi, Anaerobic baffled reactor, Efisiensi eksergetik.
Pemanfaatan Limbah Cair Tahu Sebagai Penghasil Energi Listrik Menggunakan Sistem Microbial Fuel Cell Annisa Nabilah Kalzoum; M Ramdlan Kirom; Ahmad Qurthobi
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Telah dilakukan penelitian untuk sistem sel tunam mikroba (STM) dari limbah cair tahu, tujuan penelitian ini adalah untuk memanfaatkan limbah cair tahu sebagai sumber energi listrik. Sistem STM yang dipakai adalah kompartemen dual chamber yaitu anoda dan katoda, penelitian ini menggunakan variasi volume dari campuran limbah cair tahu, lumpur dan air pada kompartemen anoda, serta larutan aquadespadakompartemen katoda.PadapenelitianSTMinielektrodayangdipakaiadalahtembaga(Cu) dan seng (Zn) dengan luas permukaan sebesar 30 cm2 dan jembatan garam yang terbuat dari sumbu kompor yang sebelumnya sudah direndam menggunakan larutan NaCl. Pengambilan data dilakukan selama 30 hari, data tegangan diambil menggunakan datalogger sedangkan untuk data arus menggunakan multimeter. Kompartemen pertama dengan variasi volume substrat limbah cair tahu sebesar 250 ml dan 400 ml lumpur memperoleh hasil produksi listrik paling tinggi dibandingkan kompartemen lain yaitu sekitar 6121526,4 mJ dan terendah yaitu sekitar 956707,2 mJ. Sedangkan untuk nilai tegangan dan arus tertinggipun dihasilkan oleh kompartemen pertama yaitu 0,78 V dan 0,29 mA dandihasilkanpadaharike-17.KataKunci:STM,limbahcairtahu,variasi volumesubstrat Abstract Research has beenconducted formicrobialfuelcellsystem (MFC) fromtofuliquid waste, the purpose of this research is to utilize the tofu liquid waste as a source of electrical energy. The MFC system used is a dual chamber compartment of anode and cathode, this study uses volume variation from the mixture of liquid waste tofu, mud and water in the anode compartment, and aquadest solution in the cathode compartment. In this MFC study the electrodes used were copper (Cu) and zinc (Zn) with a surface area of 30 cm2 and a salt bridge made from a stove axis that had been previously soakedusing NaCl solution. Data retrieval is done for 30 days, the voltage data is retrieved using datalogger while for current data using multimeter. The first compartment with a volume variation of liquid waste substrate of 250 ml and 400 ml of mud obtained the highest electricity production compared to other compartments of about 6121526,4 mJ and the lowest was about 956707.2 mJ. As for the highest voltage and current value is also produced by the first compartment thatis0.78Vand0.29mAandproducedonthe17thday.Keywords:MFC,tofuliquidwaste,variationsubstratevolume
Pengaruh Beban Kalor Terhadap Thermal Resistance Pada Heat Sink Fan Rozan Widhi Jatnika; Tri Ayodha Ajiwiguna; M Ramdlan Kirom
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Thermal Resistance dapat menjadi salah satu aspek yang dapat mempengaruhi proses penyebaran kalor khususnya pada Heat Sink Fan. Nilai Thermal Resistance dan pengaruhnya terhadap performa Heat Sink Fan ini tidak lepas dari kalor yang dibebankan pada Heat Sink Fannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh beban kalor terhadap Thermal Resistance pada Heat Sink Fan dengan menguji 5 Heat Sink Fan yang berbeda. Untuk mendapatkan hubungan pengaruh beban kalor dengan Thermal Resistance pada Heat Sink Fan dan mendapatkan Heat Sink Fan yang paling efektif melakukan penyebaran dan pembuangan kalor, pengujian dilakukan dengan memvariasikan keluaran sumber kalor yang dibebankan pada sistem dengan menaikkan tegangannya sedikit demi sedikit dengan menggunakan dimmer dan sumber kalornya adalah modul termoelektrik TEC 12706. Dari pengujian yang dilakukan, didapatkan heatsink fan dengan thermal resistance paling kecil adalah 0,064 oC/W dan thermal resistance paling kecil adalah 0,164 oC/W, semakin tinggi beban kalornya, maka thermal resistancenya semakin rendah, Hal ini disebabkan oleh perbedaan temperatur karena adanya peningkatan temperatur pada permukaan heat sink fan yang mempengaruhi nilai laju perpindahan kalor (q) sehingga terjadi peningkatan perpindahan kalor konveksi dan nilai thermal resistancenya menjadi kecil. Kata Kunci: Thermal Resistance, pengaruh beban kalor, Heatsink Fan Abstract Thermal Resistance can be one aspect that can affect the heat dissemination process especially on Heat Sink Fan. Thermal Resistance value and its effect on Heat Sink Fan performance is not free from the heat that is charged to the Heat Sink Fan. This study aims to determine and analyze the influence of heat load on Thermal Resistance on Heat Sink Fan by testing 5 different Heat Sink Fan. To obtain the relationship of heat load effect with Thermal Resistance on Heat Sink Fan and get Heat Sink Fan which is most effective at disseminating and discharging heat, the test is done by varying the output of heat source which is charged to the system by increasing the voltage bit by bit by using dimmer and the source of calor is a TEC 12706 thermoelectric module. From this experiment, the heatsink fan with the lowest thermal resistance is 0.064 oC / W and the highest thermal resistance is 0.164 oC / W, the higher the heat load, the lower thermal resistance. This is caused by temperature differences due to an increase in temperature on the surface of the heat sink fan which affects the heat transfer rate (q) so that an increase in heat transfer of convection and the thermal resistance value becomes small. Keywords: Thermal Resistance, Heating Load Effect, Heatsink Fan
Studi Pendingin Evaporatif Untuk Pendinginan Air Benny Sarihot Tua Silalahi; Tri Ayodha Ajiwiguna; M Ramdlan Kirom
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendingin evaporatif merupakan proses pendinginan yang dilakukan dengan membiarkan kontak langsung antara udara dengan uap air. Pendingin evaporatif pada penelitian ini digunakan untuk mendinginkan air pada wadah stainless steel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan arah aliran udara masuk terhadap penyerapan kalor yang terjadi pada pendinginan air dengan memanfaat efek pendingin evaporatif. Penelitian ini dilakukan dengan eksperimen pada wadah stainless steel dengan diameter 10cm dan tinggi 10 cm dengan ketebelan 3 mm yang berisi air dan dilapisi dengan kain basah. Variabel penelitian adalah arah aliran udara masuk dengan variasi secara horizontal dan vertikal terhadap wadah air. Kecepatan angin fan sebesar 3,3 m/s. Data yang diambil meliputi data temperatur air dan temperatur lingkungan. Data-data tersebut digunakan untuk menghitung besar penyerapan kalor yang terjadi pada air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah aliran udara masuk terhadap wadah air berpengaruh terhadap penyerapan kalor yang terjadi. Pada arah aliran udara masuk secara horizontal terhadap wadah air mempunyai penyerapan kalor sebesar 2,016 watt lebih tinggi dibandingkan dengan arah aliran udara masuk secara vertikal terhadap wadah yang hanya mempunyai penyerapan kalor sebesar 1,792 watt. Kata kunci : Pendingin Evaporatif, tidak langsung, kalor penyerapan Abstract Evaporative cooling is a process that carried out by connecting directly between air and water vapor. An evaporative cooler in this case to cooling the air in a stainless steel vessel. Evaporative cooling is a process that resulting a change from the sensible heat to latent heat because of allowed direct contact between the air and water vapor. The objective of this research is to know the influence of the difference beetwen incoming airflow direction to the heat absorption which occurs on water-cooling by utilizing the effect of evaporative cooling. This research was conducted by experiment on stainless steel vessel with 10cm of height, 10cm of diameter and 3mm of thickness which is filled by water and coated with wet cloth. The research variable is the direction of airflow with variation horizontally and vertically to water vessel. Wind fan speed is 3.3 m / s. The required data are water temperature and ambient temperature data. The data is used to calculate the amount of heat absorption that occurs in water. The results of this research shows that the direction of the airflow that enter the water vessel give an effect on the absorption of heat that occurs. In the direction of the airflow vertically to the water vessel, the heat absorption is 2,016 watt, higher than the direction of the airflow vertically to the vessel which has only 1,792 watt of heat absorption. Keywords: Evaporative cooling, indirect, heat absorbtion
Co-Authors Abrar Ismardi Ade Gafar Abdullah Adi, Yeremia Kristianto Aditya Pratama Rusdiyono Adrian Muhammad Irwansyah Ahmad Qurthobi Ahmad Qurtobi Ahmad Rizal D. Akhmad Hambali Amaliyah Rohsari Indah Utami Andhika Pratama Andre Farlianto Annisa Nabilah Kalzoum Antita Kusuma Putri Aprilianto, Khoirul Tri Ardisurya Ardisurya Arika Primayosa Asep Suhendi Atika Rizkiyatul Faizah Bahtiar Yoga Prasetyo Bayu Setiawan Bella Pratiwi Benny Sarihot Tua Silalahi Chaidir Azwin Dani Gustaman Syarif Daulat Kliston Simatupang Dede Wega Ningsih Devi Silfia Istiqomah Dodi Herman Dyan Franco Sinulingga Eddy Ariffin Edric Sunfresly Zalukhu Eka Vonia Nurcahyani Elsa Krisdiana Elza Anggia Putri Endang Rosdiana Erik Deardo Purba Ery Djunaedy Fahad Hermawan Widodo Faiz Auliya Ramadhan Fajri Amenda Putra Faris Akhmad Diawan Fasha, Muhammad Aderaka Febriansah Setiawan Geraldo Cakrawala Herman Ghani Gumilang Heliadi Hafidah, Fiolyta Hertiana Bethaningtyas I Putu Arya Suarsana Ian Hariananda Ihsan Adhi Nugroho Ihsan Saputro Indah Utami, Amaliyah Rohsari Indra Wahyudin Fathonah Ismudiati Puri Handayani Joko Suryo Sumbodo Kartika Dian Kurniasari Koko Friansa M An Naas M S Mahesa Agni Mega Anita Sari Mochamad Firman Muzaqi Alhaq Moh Riswandha Imawan Muhammad Alfi Sazali Muhammad Aslam Muhammad Farhan Nur Islam Muhammad Ilham Kurniawan Muhammad Manarul Huda Muhammad Yusuf Darmawan Musfar, Syafrialdi Musrinah Musrinah Nanda Salsabila Nadhifa Nirwana Prasetia Sipayung Novian Lisdi Wahyoto Novika Fithrah Ulfa Nugroho Wisnu Murti Nur Hidayat Syamsul Nur Putrialita Nurwulan Fitriyanti Oki Maulana Rosadi Paramitha Octavia Porman Pangaribuan Pristian Firzatama Putri, Monica Tri Buana R. Biantoro Kusumo Setiawan Raafi Nindyo Haswoto Raden Rizki Mulia Putra Radian Maulana Muhamad Rahmat Awaludin Salam Ramadani Dwisatya Ramadani Dwisatya Reza Ayu Febriana Reza Fauzi Iskandar Rifqi Firdaus Roma Danil Royhan Ardhi Bachtiar Rozan Widhi Jatnika Rubensio Arigeni Sampoerna Romadhona Satria Pambudi Shelvy Adila El Safura Siti Nurdianti Sholihat Sucika Nandiati Sugianto Sugianto Susetyo Agung Prabowo Suwandi Suwandi Syamhudi, Moch. Ahkas Rezky T. Nuzul Akbar Tagrid Ruwaida Tantri Apriyaningrum Tesla Pinantun Hamonangan Tri Ayodha Ajiwiguna umi nihayah Valentisa Zulviana Vebby Tjahyono Wenny Harifadillah. A Wildan Fauzan Wisnu Abdiguna Surahman Murti Yan Dewa Prabawa Yan Khairul Akbar Yandi Firdaus Yasir Rizki Yeremia Kristianto Adi Yohana Tisca Tiurma Limbong Zulhendri Zulhendri