Claim Missing Document
Check
Articles

Found 97 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Pengaruh Ph Terhadap Produksi Biogas Dengan Campuran Substrat Kotoran Hewan Dan Limbah Kulit Pisang Pada Reaktor Anaerob Muhammad Ilham Kurniawan; M. Ramdlan Kirom; Asep Suhendi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biogas adalah gas mudah terbakar yang merupakan gas campuran metana (CH4), karbondioksida (CO2) dan gas lainnya yang didapat dari hasil penguraian material organik seperti kotoran hewan, kotoran manusia, sampah organik, limbah buah pada alat digester atau reaktor. Pada penelitian ini substrat yang digunakan adalah campuran substrat limbah kulit pisang nangka dan limbah kotoran hewan dengan perbandingan 3:1. Dalam proses biogas tersebut, ada beberapa parameter salah satunya yaitu pH. Pada penelitian kali ini peneliti menggunakan variasi pH yang dikodisikan yaitu pH 6,8, pH 7,0, dan pH 7,2, serta variasi pH yang tidak dikondisikan. Dalam pengaturan nilai pH tersebut maka dibutuhkan sebuah proses pengkondisian pH menggunakan larutan NaOH. Dari penelitian tersebut diperoleh jumlah volume gas yang dihasilkan setiap hari serta kandungan gas yang diukur pada hari ke 7. Hasil yang didapatkan selama penelitian yaitu pada saat pH tidak dikondisikan diukur mempunyai volume harian paling banyak sebanyak 1610mL, sedangkan berturut-turut pH dikondisikan pada pH 7,0, pH 7,2 dan pH 6,8 adalah 1550mL, 1490mL dan 1400mL. Untuk Kandungan Biogas pada kondisi pH 6,8 sebesar H2=3,11% CH4=25,26%, selanjutnya pada kondisi pH 7.0 sebesar H2=3,58% CH4=68,92%, kemudian pada kondisi pH 7,2 sebesar H2=28,69% CH4=8,93% dan pH tidak dikondisikan sebesar H2=1,1% CH4=19,8% maka kandungan gas metana yang paling bagus adalah pada saat dikondisikan pH 7,0
Analisis Pengaruh Material Logam Sebagai Elektroda Microbial Fuel Cell Terhadap Produksi Energi Listrik T. Nuzul Akbar; M Ramdlan Kirom; Reza Fauzi Iskandar
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem MFC merupakan perangkat yang menggunakan bakteri sebagai katalis untuk mengoksidasi zat organik dan anorganik sehingga menghasilkan arus listrik. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menyelidiki kaitan pemilihan material logam berupa seng, aluminium, dan tembaga yang berbentuk pelat dengan luas permukaan 10 cm2 , sebagai elektroda terhadap kinerja dari sistem MFC. Reaktor yang digunakan adalah MFC dual-chambers dengan setiap kompartemen memiliki dimensi 5 cm × 10 cm × 10 cm. Pada sistem MFC dual-chambers, elektron yang dihasilkan oleh bakteri dari substrat pada kompartemen anoda ditransfer menuju elektroda anoda dan mengalir menuju elektroda katoda, sedangkan proton ditransfer menuju kompartemen katoda melalui jembatan garam. Lumpur sawah digunakan sebagai substrat pada kompartemen anoda, akuades pada kompartemen katoda, serta jembatan garam (NaCl 1 M) sebagai media transfer proton. Hasil penelitian menujukkan bahwa kerapatan daya maksimum yang dapat dihasilkan dari sistem MFC mencapai 30,54 mW/m2 (menit ke-65) dengan elektroda Cu/Zn untuk pengukuran pertama, dan 32,62 mW/m2 (menit ke-145) dengan elektroda Zn/Cu untuk pengukuran kedua. Perolehan kuat arus dan tegangan pada kedua pengukuran tidak berbeda secara signifikan, secara keseluruhan nilai kuat arus semakin meningkat seiring dengan lamanya waktu pengukuran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa produksi energi listrik tertinggi dihasilkan oleh kombinasi elektroda dengan material seng dan tembaga. Kata kunci: Microbial Fuel Cell, lumpur sawah, elektroda
Rancang Bangun Kontrol Sistem Peringatan Dini Bencana Banjir Hybrid Pada Purwarupa Bendungan Berbasis Sms Dan Twitter Nugroho Wisnu Murti; M Ramdlan Kirom; Asep Suhendi
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Banjir merupakan salah satu peristiwa alam dimana volume air berlebihan merendam daratan. Ketidakmampuan bendungan menampung volume air tersebut mengakibatkan potensi banjir menjadi semakin besar. Penelitian ini dilakukan di purwarupa bendungan berukuran 200x90x50 cm berbahan akrilik. Penelitian ini menggabungkan dua sistem penyampaian informasi yaitu SMS dan Twitter. Penelitian ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1) pengukuran waktu tempuh air hingga mencapai ketinggian maksimum untuk semua kondisi, 2) pengaruh luas permukaan pintu terhadap ketinggian maksimal air, dan 3) pengujian sistem SMS dan Twitter. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada sistem purwarupa bendungan yang digunakan terdapat 4 kondisi level yakni NORMAL, SIAGA 2, SIAGA 1, dan AWAS. Masing-masing debit pada setiap kondisi tersebu berturut-turut yaitu 1,17 liter/detik, 1,89 liter/detik, 2,58 liter/detik, 4,94 liter/detik. Sedangkan pengontrolan pintu purwarupa bendungan sesuai kondisi yaitu NORMAL seluas 0,24 m2, SIAGA 2 seluas 0,32 m2, SIAGA 1 seluas 0,40 m2, dan AWAS seluas 0,48 m2. Untuk waktu delay SMS adalah 0,125 menit sedangkan Twitter adalah 0,913 menit. Kata kunci: sistem peringatan dini, purwarupa bendungan Abstract Flood is one of the natural disasters where exessive water volume soaked the land. The inability of the dams to acccomodate the volume of water causes the greater potential of flooding. This study was conducted in a 200x90x50 cms dams prototype made of acrylic. This research combines two information delivery system, that were SMS and Twitter. This experiment was divided into 3 secctions. The sections were: 1) measurement of water time testing to reach maximum height for all conditions, 2) the influence of surface area to maximum height of water, and 3) experiment of SMS and Twitter system. The results of this experiment are 4 level conditions that is NORMAL, SIAGA 2, SIAGA 1, and AWAS. Eacch disccharge at each condition is 1.17 liter/second, 1.89 liter/second, 2.58 liter/second, and 4.94 liter/second. While controlling the door of dam prototype to the condition that is NORMAL area of 0,24 m2, SIAGA 2 area of 0,32 m2, SIAGA 1 area of 0,40 m2, dan AWAS area of 0,48 m2. For SMS delay time is 0.125 minutes while Twitter is 0.913 minutes. Keywords: early warning system, dam prototype
Analisis Pengaruh Suhu Dan Ph Terhadap Penurunan Kadar Chemical Oxygen Demand Dalam Sistem Temperature Phased Anaerobic Digestion Dengan Substrat Limbah Makanan Roma Danil; M Ramdlan Kirom; Ahmad Qurtobi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk itu dilakukan langkah pencegahan, penanggulangan, dan pengelolaan. Salah satu cara pengolahan limbah yaitu menggunakan sistem Temperature Phased Anaerobic Digestion (TPAD) yang menghasilkan biogas. Parameter yang digunakan untuk mengukur limbah adalah chemical oxygenn demand (COD). Pada penelitian ini dilakukan uji kadar COD pada tangki hidrolisis dalam sistem TPAD. Uji dilakukan dengan mengubah variabel bebas yaitu suhu dan pH. Ada lima jenis penelitian yaitu sebelum masuk tangki hidrolisis, sesudah masuk tangki hidrolisis tanpa kontrol suhu dan pH, kontrol suhu, kontrol pH, dan kontrol suhu dan pH. Sampel sebelum masuk tangki hidrolisis merupakan pembanding nilai COD pada sampel lainnya. Pada sampel tanpa kontrol suhu dan pH mengalami penurunan nilai COD sebesar 24,1% dari sampel sebelum masuk tangki hidrolisis, sampel kontrol suhu mengalami penurunan sebesar 33,94%, sampel kontrol pH mengalami penurunan sebesar 43,52%, dan sampel kontrol suhu dan pH mengalami penurunan sebesar 59,12%. Dari lima jenis penelitian ini sampel kontrol suhu dan pH mengalami penurunan yang paling besar. Kata kunci : limbah; COD; suhu; pH.
Perancangan Instrument Pengukuran Konsentrasi Gas Hidrogen Pada Reaktor Biogas Bagian Anaerobic Digester Wisnu Abdiguna Surahman Murti; M. Ramdlan Kirom; Asep Suhendi
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Biogas merupakan salah satu cara untuk mendapatkan energi terbarukan. Biogas dapat diperoleh dengan proses anaerob. Salah satu produk biogas untuk energi terbarukan ialah hidrogen. Gas hidrogen merupakan unsur paling melimpah di alam semesta dengan persentase sekitar 75% dari total massa unsur di alam semesta. Hidrogen merupakan energi alternatif yang ramah lingkungan karena tidak menimbulkan emisi gas buang yang berbahaya. Gas hidrogen tidak berwarna, tidak berbau dan mudah terbakar. Karena sifatnya yang mudah terbakar, gas hidrogen dapat dijadikan sumber bahan bakar. Namun data konsentrasi gas hidrogen (H2) sulit didapatkan, karena pada saat ini alat untuk mengukur konsentrasi gas hidrogen sangat terbatas. Maka dari itu untuk memecahkan permasalahan diatas ialah dengan membuat suatu alat ukur. Pada penelitian ini dibuat instrumen pengukuran konsentrasi gas hidrogen (H2) pada biogas dari hasil fermentasi nasi, jagung, dan kentang dalam Anaerobic Digester Reactor dengan skala 10 liter menggunakan sensor MQ-8 dengan rentang pengukuran sebesar 100-10.000 PPM untuk mengukur konsentrasi gas hidrogen (H2). Instrument pengukuran yang sudah dibuat nantinya dilakukan kalibrasi agar layak digunakan untuk mengukur konsentrasi gas hidrogen (H2). Perancangan instrumen pengukuran ini menggunakan Arduino Uno sebagai mikrokontroler yang nantinya akan dikalibrasi dengan membandingkan hasil sensor MQ-8 dan hasil gas chromatograph sebagai nilai akhir. Kata kunci: Biogas, Konsentrasi Gas Hidrogen, MQ-8, Arduino Uno. Abstract Biogas is one way to get renewable energy. Biogas can be obtained by anaerobic process. One of the biogas products for renewable energy is hydrogen. Hydrogen gas is the most abundant element in the universe with a percentage of about 75% of the total mass of elements in the universe. Hydrogen is alternative energy that is eco friendly because it doesn’t cause harmful exhaust emissions. Hydrogen gas is colorless, odorless and flammable. Because of its flammability, hydrogen gas can be used as a fuel source. But the data on the concentration of hydrogen gas (H2) is difficult to obtain, because at this time the equipment for measuring the concentration of hydrogen gas is very limited. Therefore to solve the above problems is to make a measuring instrument. In this study, there will be made a set of measurement instrument for the concentration of hydrogen gas (H2) in biogas was made from fermented rice, corn, and potatoes with a scale 10-liter Anaerobic Digester Reactor using MQ-8 sensor with a measuring range of 100- 10,000 PPM to measure hydrogen gas concentration ( H2). Measurement instruments that have been made will then be calibrated so that they are suitable to be used to measure the concentration of hydrogen gas (H2). The design of this measurement instrument uses Arduino Uno as a microcontroller which will be calibrated by comparing the results of the MQ-8 sensor and the gas chromatograph result as the final value. Key word: Biogas, Hydrogen Gas Concentration, MQ-8, Arduino Uno..
Produksi Energi Listrik Dengan Sistem Microbial Fuel Cell Menggunakan Substrat Limbah Tempe Edric Sunfresly Zalukhu; M. Ramdlan Kirom; Ahmad Qurthobi
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kebutuhan akan energi listrik di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat. Namun dilain sisi kita mengetahui bahwa penggunaan minyak bumi sebagai sumber penghasil energi sekarang masih mendominasi, padahal cadangan minyak bumi di indonesia sekarang ini kian menipis. Oleh karena itu, perlu dikembangkan alternatif penghasil sumber energi yang lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan yaitu salah satunya MFC (Microbial Fuel Cell) yang berbasis prinsip bioelektrokimia dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk memecah substrat sehingga dapat menghasilkan energi listrik. Penelitian kali ini difokuskan pada pemanfaatan limbah industri tempe sebagai substrat pada sistem MFC dual-chamber yang dilengkapi dengan membran penukar kation atau jembatan garam. Variasi lama waktu inkubasi substrat juga dilakukan yaitu selama 1 hari, 3 hari, 8 hari, dan 10 hari. Riset lebih lanjut pada pemanfaatan limbah industri tempe sebagai substrat dalam sistem MFC dapat mereduksi biaya operasi sistem MFC, sekaligus menjadikan MFC sebagai teknologi penghasil listrik yang ekonomis, ramah lingkungan dan dapat berkelanjutan. Dari penelitian ini dihasilkan beberapa data berupa tegangan maksimum 1,308 V dan arus maksimum 3,01 mA menggunakan elektrolit KMnO4 serta pula power density sebesar 2696,630137 mW/m2 pada reaktor seri. Kata Kunci : Microbial Fuel Cell,Energi Listrik,Limbah Industri Tempe Abstract The need for electrical energy in Indonesia is expected to continue to increase. But on the other hand we know that the use of petroleum as a source of energy now is still dominating, whereas oil reserves in Indonesia is now increasingly thinning. Therefore, it is necessary to develop alternative energy source more effective, efficient and environmentally friendly one of them is MFC (Microbial Fuel Cell) based on bioelectrochemical principle by utilizing microorganism to break up the substrate so that it can generate electrical energy. The present study focused on the utilization of tempe industrial waste as a substrate on a dual-chamber MFC system equipped with a cation exchange membrane or a salt bridge. Variations in the length of incubation time of the substrate were also carried out for 1 day, 3 days, 8 days, and 10 days. Further research on the utilization of tempe industrial waste as a substrate in the MFC system can reduce the operating costs of the MFC system, while making MFC as an economical, environmentally friendly and sustainable electricity generating technology. From this study some data were generated in the form of a maximum voltage of 1.308 V and a maximum current of 3.01 mA using KMnO4 electrolytes and also power density of 2696.630137 mW / m2 in a series reactor. Keynote : Microbial Fuel Cell, electrical energy, industrial waste tempe
Analisis Pengaruh Temperatur Terhadap Produksi Arus Listrik Pada Reaktor Stm Dengan Substrat Limbah Ruminansia Yasir Rizki; M. Ramdlan Kirom; Ahmad Qurthobi
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sel Tunam Mikroba (STM) merupakan salah satu energi terbarukan yang dapat memproduksi energi listrik melalui proses metabolisme bakteri pada bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kaitan antara pengaruh temperatur terhadap kinerja dari sistem STM. Reaktor yang digunakan berkonfigurasi dual chamber berdimensi 5 cm x 10 cm x 10 cm, dengan elektroda yang digunakan berupa seng dan tembaga dengan dimensi sebesar 2 cm x 5 cm. Pada penelitian ini subsrat yang digunakan adalah rumen sapi yang dicampur dengan lumpur sawah dengan elektrolit berupa KMnO4. Pada sistem STM dual chamber; elektron yang dihasilkan oleh bakteri dari subsrat pada anoda ditransfer menuju elektroda katoda, sedangkan proton ditransfer melalui jembatan garam (NaCl 1M) sebagai media transfer proton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya maksimum yang dapat dihasilkan sistem STM mencapai 0,82 W (temperatur 30o C) dan energi maksimum sebesar 0,54 J (t= jam ke-28, temperatur 32o C). Perolehan tegangan dan kuat arus bervariasi untuk tiap-tiap percobaan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disumpulkan bahwa produksi kuat arus tertinggi dihasilkan pada temperatur 37o C. Kata kunci : Sel Tunam Mikroba, rumen, elektroda, temperatur Abstract Micobial Fuel Cell (MFC) is the one of renewable energies that can produce electrical energy through the process of bacterial metabolism in organic matter. This study aims to investigate the influence of temperature on the performance of the MFC system. The reactor used in dual chamber configuration has dimensions of 5 cm x 10 cm x 10 cm, with 2 cm x 5 cm zinc and copper as electrodes. In this study ruminant waste mixed with the mud use as subsrate with electrolytes of KMnO4. In dual chamber system; electrons produced by bacteria from the substrate on the anode are transferred to electrode on the cathode, while the protons are transferred via a salt bridge (1M NaCl) as a proton transfer medium. The results showed that the maximum power that can be produced by the MFC system reached 0,82 W (temperature 30o C) and maximum energy was 0,54 J (t= 28th hours, temperature 32o C). Voltage gain and current strength vary for each experiment. Based on the results of the study, it can be concluded that the highest current production is produced at 37o C. Keywords: Microbial Fuel Cell, ruminant waste, electrode, temperature
Analisis Pengaruh Waktu Pembusukan Substrat Roti Basi Terhadap Produksi Energi Listrik Pada Microbial Fuel Cell Yohana Tisca Tiurma Limbong; M Ramdlan Kirom; Ahmad Qurthobi
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengenai analisis pengaruh waktu pembusukan substrat roti basi terhadap produksi energi listrik pada microbial fuel cell. Tujuan dari penelitian ini untuk menyelidiki keberadaan roti basi yang mengandung bahan organik, hal ini memiliki potensi besar sebagai sumber energi listrik dengan menggunakan microbial fuel cell. Reaktor yang digunakan adalah MFC dual-chambers dengan setiap kompartemen memiliki dimensi 5 cm x 10 cm x 10 cm. Pada sistem MFC dual-chambers, elektron dihasilkan oleh bakteri dari substrat pada kompartemen anoda dan mengalir menuju elektron katoda, sedangkan proton ditransfer menuju kompartemen katoda melalui jembatan garam. Roti basi digunakan sebagai substrat pada anoda, akuades pada katoda, serta jembatan garam (NaCl 1 M) sebagai media trasnfer proton. Variasi lama waktu inkubasi substrat yaitu selama 1 hari, 3 hari dan 5 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembusukan roti basi paling lama dapat menghasilkan produksi energi listrik yang tertinggi dengan tegangan 0,03669 volt, kuat arus 0,33 miliampere, daya 0,050 mW.m-2 dan energi 12,56989 kilojoule. Kata kunci : Microbial Fuel cell, roti basi, elektroda Abstract Alternative energy sources for fossil-based energy substitutes are needed because fossil energy reserves are decreasing every day. One alternative technology that can be developed is Microbial Fuel Cell (MFC) which utilizes microorganisms to break down the substrate to produce electrical energy. Stale bread is chosen as a source of material to produce electricity because it is economical and can be found easily and abundantly in Indonesia. This research was conducted to investigate the existence of stale bread containing organic matter, this has great potential as a source of electrical energy using microbial fuel cells. The reactor used is a dual-chambers MFC with each compartment having a dimension of 5 cm x 10 cm x 10 cm. In dual-chambers MFC systems, electrons are produced by bacteria from the substrate in the anode compartment and flow into the cathode electrons, while the protons are transferred to the cathode compartment via a salt bridge. Stale bread is used as a substrate at the anode, distilled water on the cathode, and a salt bridge (1 M NaCl) as a proton transfer medium. Variation in substrate incubation time is 1 day , 2 day and 3 day. The results showed that the longest spoilage of bread can produce the highest production of electrical energy with a voltage of 0.03669 volts, current strength of 0.33 milliamperes, power density of 0,050 mW.m-2 and energy of 12,56989 kilojoules. Keywords: Microbial Fuel cell, stale bread, electrode
Analisis Produksi Energi Listrik Pada Microbial Fuel Cell Menggunakan Substrat Tongkol Jagung Dengan Kontrol Suhu Rubensio Arigeni; M. Ramdlan Kirom; Ahmad Qurthobi
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Microbial Fuel Cell (MFC) adalah salah satu sumber energi terbarukan yang menggunakan mikroorganisme untuk menghasilkan arus listrik dengan proses reduksi oksidasi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hasil dari MFC terhadap perubahan suhu yang bervariasi antara 28 – 30 ºC. Sistem dari MFC ini menggunakan reaktor bertipe dual-chambers dengan ukuran 5 x 5 x 10 cm yang menjadi kompartemen anoda dan katoda. Kompartemen anoda diisi oleh substrat lumpur dan tongkol jagung sebagai bahan makanan untuk mikroorganisme dan kompartemen anoda diisi oleh elektrolit akuades. Pada kompartemen anoda diberikan wadah yang lebih besar untuk menjadi wadah bagi sumber panas yang memberikan panas pada anoda. Elektroda yang digunakan pada penelitian ini adalah seng dan tembaga. Arus listrik dalam bentuk elektron ditransfer dari anoda menuju ke katoda dan proton dialirkan melalu jembatan garam yang terbuat dari pilinan sumbu kompor yang direndam pada larutan NaCl (1M). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa energi yang dapat dihasilkan dari skema MFC penelitian ini mampu mencapai 6046,54 mJ pada temperatur 30 ºC, dan daya sebesar 0,4199 mW pada temperatur 30 ºC. Sedangkan untuk pengukuran tegangan dan kuat arus tidak ada perbedaan yang cukup signifikan dengan tegangan tertinggi sebesar 0,9059 V pada temperatur 30 ºC dan kuat arus tertinggi sebesar 0,4679 mA pada temperatur 30 ºC. Berdasarkan hasil dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa produksi energi listrik tidak terlalu dipengaruhi perubahan suhu yang kurang signifikan dan suhu yang paling baik dihasilkan dengan temperatur 30 ºC. Kata kunci: Microbial Fuel Cell, lumpur, kontrol, suhu Abstract Microbial Fuel Cell (MFC) is one of the renewable energy sources that uses microorganisms to produce electric current with an oxidation reduction process. This study aims to analyze the results of MFC on changes in temperature that vary between 28-30 ° C. This system of MFC uses a dual-chambers type reactor with a size of 5 x 5 x 10 cm which becomes the anode and cathode compartment. The anode compartment is filled with mud substrate and corn maize as food ingredients for microorganisms and the anode compartment is filled with distilled water electrolytes. In the anode compartment a larger container is provided to become a container for the heat source which gives heat to the anode. The electrodes used in this study were zinc and copper. Electric current in the form of electrons is transferred from the anode to the cathode and the proton is flowed through a salt bridge made of stove wick which is immersed in NaCl (1M) solution. The results of this study indicate that the energy that can be generated from the MFC scheme of this study is able to reach 6046.54 mJ at a temperature of 30 ºC, and a power of 0.4199 mW at a temperature of 30 ºC. Whereas for voltage and current strength measurements there is no significant difference with the highest voltage of 0.9059 V at a temperature of 30 ºC and the highest current strength of 0.4679 mA at a temperature of 30 ºC. Based on the results of this study, it can be concluded that the production of electrical energy is not too influential on temperature changes that are less significant and the best temperature is produced with a temperature of 30ºC. Keywords: Microbial Fuel Cells, mud, control, temperature
Perbandingan Kenyamanan Termal Dan Kualitas Udara Di Ruangan Ac Dan Tidak Ber – Ac Muhammad Alfi Sazali; Ery Djunaedy; M. Ramdlan Kirom
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kenyamanan ruangan merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan aktivitas ruangan. Untuk mewujudkan ruangan yang nyaman secara termal maka diperlukan sistem HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning). Pada penelitian kali ini bertujuan untuk membandingkan kenyamanan termal pada Mengetahui perbandingan kenyaman termal dan kualitas udara pada ruangan yang menggunakan pengkondisi udara (Air Conditioner) dan tidak menggunakan alat pengkondisi udara (Air Conditioner). metode yang digunakan untuk menentukan kenyamanan termal bagi pengguna ruangan adalah metode PMV. PMV (Predicted Mean Vote) merupakan nilai rata-rata yang menggambarkan bagaimana sensasi termal yang dirasakan penghuni terhadap ruangan yang ditempatinya. Sedangkan pada kualitas udara dilakukan pengukuran dengan mengetahui kadar CO2 pada ruangan ber - AC dan tidak ber – AC. Penelitian ini melakukan pengukuran dan pengambilan data menggunakan alat ukur yang telah ditentukan dan dilakukan pada ruangan yang telah diidentifikasi dan klasifikasi. Data yang diambil meliputi data temperatur, kelembaban, kadar karbondioksida pada ruangan dan data survey dari setiap mahasiswa yang ada pada ruangan. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan hubungan yang signifikan dengan analisis regresi linier antara AMV dan PMV, dimana nilai PMV memiliki nilai 1 poin lebih besar dari nilai AMV. Hal ini menunjukan bahwa responden yang melakukan kegiatan pada ruangan-ruangan tersebut sudah terbiasa dengan kondisi ruangan dan mereka dapat mentolerir kondisi yang tergolong hangat jika dilihat pada standar. Dan diperoleh dari pengukuran CO2 pada ruangan ber – AC dan tidak ber – AC didapatkan bahwa bahwa ruangan ber – AC memiliki konsentrasi rata – rata CO2 sebesar 1076.54 ppm lebih tinggi dibandingkan ruangan yang tidak ber – AC memiliki konsentrasi sebesar 683.65 ppm. Kata kunci: Kenyamanan termal, kualitas udara, PMV, HVAC. Abstract Comfortable is an aspect that need be considered when carrying out activities in the room. HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning) systems are needed to create a thermally comfortable room. This study aims to compare thermal comfort in knowing the ratio of thermal comfort and air quality in rooms using air conditioners and not using air conditioner. The method used to determine thermal comfort for room users is the PMV method. PMV (Predicted Mean Vote) is an average value that describes how the thermal sensation felt by residents to the room they occupy. While the air quality is measured by knowing the level of CO2 in the air-conditioned room and not airconditioned.This study measures and retrieves data using a predetermined measuring instrument and is carried out in the identified space and classification. The data taken included data on temperature, humidity, carbondioxide levels in the room and survey data of each student in the room.The results showed a significant relations that found with linear regression analysis between AMV and PMV, where the PMV value has a value of 1 point greater than the AMV value. This shows that respondents who do activities in the rooms are familiar with the condition of the room and they can tolerate conditions that are classified as warm when viewed in the standard. And obtained from the measurement of CO2 in air-conditioned and non-air-conditioned rooms found that the air-conditioned room has an average concentration of CO2 of 1076.54 ppm higher than the room that is not air-conditioned has a concentration of 683.65 ppm. Key word: Thermal comfort, air quality, PMV, HVAC
Co-Authors Abrar Ismardi Ade Gafar Abdullah Adi, Yeremia Kristianto Aditya Pratama Rusdiyono Adrian Muhammad Irwansyah Ahmad Qurthobi Ahmad Qurtobi Ahmad Rizal D. Akhmad Hambali Amaliyah Rohsari Indah Utami Andhika Pratama Andre Farlianto Annisa Nabilah Kalzoum Antita Kusuma Putri Aprilianto, Khoirul Tri Ardisurya Ardisurya Arika Primayosa Asep Suhendi Atika Rizkiyatul Faizah Bahtiar Yoga Prasetyo Bayu Setiawan Bella Pratiwi Benny Sarihot Tua Silalahi Chaidir Azwin Dani Gustaman Syarif Daulat Kliston Simatupang Dede Wega Ningsih Devi Silfia Istiqomah Dodi Herman Dyan Franco Sinulingga Eddy Ariffin Edric Sunfresly Zalukhu Eka Vonia Nurcahyani Elsa Krisdiana Elza Anggia Putri Endang Rosdiana Erik Deardo Purba Ery Djunaedy Fahad Hermawan Widodo Faiz Auliya Ramadhan Fajri Amenda Putra Faris Akhmad Diawan Fasha, Muhammad Aderaka Febriansah Setiawan Geraldo Cakrawala Herman Ghani Gumilang Heliadi Hafidah, Fiolyta Hertiana Bethaningtyas I Putu Arya Suarsana Ian Hariananda Ihsan Adhi Nugroho Ihsan Saputro Indah Utami, Amaliyah Rohsari Indra Wahyudin Fathonah Ismudiati Puri Handayani Joko Suryo Sumbodo Kartika Dian Kurniasari Koko Friansa M An Naas M S Mahesa Agni Mega Anita Sari Mochamad Firman Muzaqi Alhaq Moh Riswandha Imawan Muhammad Alfi Sazali Muhammad Aslam Muhammad Farhan Nur Islam Muhammad Ilham Kurniawan Muhammad Manarul Huda Muhammad Yusuf Darmawan Musfar, Syafrialdi Musrinah Musrinah Nanda Salsabila Nadhifa Nirwana Prasetia Sipayung Novian Lisdi Wahyoto Novika Fithrah Ulfa Nugroho Wisnu Murti Nur Hidayat Syamsul Nur Putrialita Nurwulan Fitriyanti Oki Maulana Rosadi Paramitha Octavia Porman Pangaribuan Pristian Firzatama Putri, Monica Tri Buana R. Biantoro Kusumo Setiawan Raafi Nindyo Haswoto Raden Rizki Mulia Putra Radian Maulana Muhamad Rahmat Awaludin Salam Ramadani Dwisatya Ramadani Dwisatya Reza Ayu Febriana Reza Fauzi Iskandar Rifqi Firdaus Roma Danil Royhan Ardhi Bachtiar Rozan Widhi Jatnika Rubensio Arigeni Sampoerna Romadhona Satria Pambudi Shelvy Adila El Safura Siti Nurdianti Sholihat Sucika Nandiati Sugianto Sugianto Susetyo Agung Prabowo Suwandi Suwandi Syamhudi, Moch. Ahkas Rezky T. Nuzul Akbar Tagrid Ruwaida Tantri Apriyaningrum Tesla Pinantun Hamonangan Tri Ayodha Ajiwiguna umi nihayah Valentisa Zulviana Vebby Tjahyono Wenny Harifadillah. A Wildan Fauzan Wisnu Abdiguna Surahman Murti Yan Dewa Prabawa Yan Khairul Akbar Yandi Firdaus Yasir Rizki Yeremia Kristianto Adi Yohana Tisca Tiurma Limbong Zulhendri Zulhendri