Claim Missing Document
Check
Articles

Karakteristik Mikoriza Anggrek Dendrobium sp. dan Spathoglottis sp. pada Media PDA dengan perbedaan pH Ana Li'atul Mufidah; Ahmad Syauqi; Tintrim Rahayu
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 3 (2017): Edisi Khusus: Manfaat Metabolit dan Aktivitas Interaksi Makhluk Hidup
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1040.096 KB)

Abstract

Mycorrhizal is relationship mutualism between root and fungi. Examination of fungi requires environment outside of the orchid body. Most fungi grow up at relatively low pH. The aim of research is to identify the variety of mycorrhizal orchid isolates which in the orchid root of Dendrobium sp. (epiphytic orchids) and Spathoglottis sp. (Terrestrial orchids) and that in two kinds of growth media pH. The research method is descriptive experimental design with combination of treatments toward two orchid species, PDA media (Potato Dextrose Agar) by without and adding HCl 10% and types of cutting orchid root is cross and longitudinal. The technique of growth fungi consists of eight treatments those are code of SA1.1, SA2.1, SB1.1, SB2.1, DA1.1, DA2.1, DB1.1, and DB2. Root pieces had been isolated into Potato Dextrose Agar media and incubated for 2-5 days. Colonies of fungi that grow had been purified isolate and incubated for 2-3 days. Identification is based on the macroscopic morphology and microscopic characters and is used determination key. The media with low pH show more growth of isolate fungi variety. The result of this research is growth of orchid’s mycorrizhal there was a genus, Mucor. Isolate from low pH of media, root of Spathoglottis sp. terrestrial orchids that longitudinal cut there were two genuses, Mucor and Rhizoctonia. Keywords: Mycorrizal, PDA Media, Orchid Root ABSTRAK Mikoriza adalah hubungan simbiosis mutualisme antara akar dan jamur. Pemeriksaan jamur membutuhkan lingkungan diluar tubuh tanaman anggrek. Jamur pada umumnya tumbuh pada pH relatif rendah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis isolat jamur mikoriza yang terdapat pada akar anggrek Dendrobium sp. (anggrek epifit) dan Spathoglottis sp. (anggrek terrestrial) pada dua macam pH media pertumbuhan. Metode penelitian ini menggunakan percobaan dengan rancangan deskriptif kepada kombinasi perlakuan yaitu dua spesies anggrek, media PDA (Potato Dextrose Agar) tanpa dan dengan penambahan HCl 10%, tipe potongan akar melintang dan membujur. Pertumbuhan jamur terdiri atas delapan perlakuan yaitu kode SA1.1, SA2.1, SB1.1, SB2.1, DA1.1, DA2.1, DB1.1 dan DB2.1. Potongan akar diisolasi ke dalam media PDA (Potato Dextrose Agar) dan diinkubasi selama 2-5 hari. Selanjutnya, koloni jamur yang tumbuh dilakukan biakan murni dan diinkubasi selama 2-3 hari. Identifikasi berdasarkan karakter morfologi makroskopis dan mikroskopis dan digunakan kunci determinasi. Media dengan pH rendah menunjukkan pertumbuhan jenis isolat jamur lebih banyak. Hasil dari penelitian ini yaitu pertumbuhan mikoriza anggrek pada isolat terdapat satu genus yaitu Mucor. Isolat dari media pH rendah berasal dari akar anggrek terrestrial Spathoglottis sp. dipotong membujur terdapat dua genus yaitu Mucor dan Rhizoctonia.. Kata kunci: Mikoriza, Media PDA, Akar Anggrek
Aktivitas Jamur Trichoderma viride Pada Substrat Pasta Tepung Kulit Buah Rambutan (Nephelium lappaceum) Menggunakan Tolok Ukur Glukosa Rukhil Lailah; Ahmad Syauqi; Hari Santoso
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 3 (2017): Edisi Khusus: Manfaat Metabolit dan Aktivitas Interaksi Makhluk Hidup
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.513 KB)

Abstract

The rind of rambutan (Nepehelium lappaceum) fruit there is a cellulosa high contain of 24.28%. However, the utilization of rambutan rind is still rare and tends to become agricultural waste. This research used rambutan’s rind for glucose production in fermentation with Trichoderma viride fungi. The aim of this research is to study the pH of substrate and fermentation time in producing the highest value of glucose. This research is an experimental study with Randomized Block Design with replications of fermentation time category; 0, 3,6, and 9 days and two replicates of research unit. Analyzed data with ANOVA α = 0.95% and polynomial regression test. Determination of glucose was used phenol sulphate method with UV-vis spectrophotometer technique. pH treatments do not haveeffect toward fungi activity and pH of substrate with high activity of Trichoderma viride is on pH 5. The optimum fermentation time in producing glucose is 112.104 hours produce 38.552 mg/mL. Keywords: Rind of rambutan fruit, Trichoderma viride, cellulosa ABSTRAK Selulosa yang cukup tinggi didalam kulit buah rambutan (Nephelium lappaceum) sebesar 24,28%. Namun, pemanfaatan kulit buah rambutan masih jarang dilakukan dan cenderung menjadi limbah pertanian. Penelitian ini menggunakan kulit buah rambutan untuk produksi glukosa secara fermentasi dengan jamur Trichoderma viride. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pH substrat dan waktu fermentasi dalam menghasilkan nilai glukosa tertinggi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok dengan ulangan kategori waktu fermentasi; 0, 3, 6, dan 9 hari dan dan dua ulangan unit penelitian untuk masing masing perlakuan, diambil rata-rata sehingga berjumlah 12 unit penelitian. Data dianalisis dengan ANOVA α= 0,95% serta uji regresi polinomial. Penentuan kadar glukosa dengan metode sulfat fenol dengan teknik spektrofotometer UV-sinar tampak. Perlakuan pH tidak mempunyai pengaruh kepada aktivitas jamur dan pH substrat dengan aktivitas Trichoderma viride tertinggi pada pH 5. Waktu fermentasi optimum dalam menghasilkan glukosa pada jam ke 112,104 menghasilkan 38.552 mg/mL. Kata kunci: Kulit buah rambutan, Trichoderma viride, Selulosa,
Profil Bioaktif pada Tanaman Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) dan Beluntas (Pluchea indica Less) Mutrikah Mutrikah; Hari Santoso; Ahmad Syauqi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 4 No 1 (2018): Sehat Lingkungan
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.976 KB)

Abstract

“Temulawak” (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) is one of the raw materials to makes traditional medicine that many spreads in Indonesia and many had been cultivated by society. Utilization of “temulawak” empirically that is one of them as an appetite enhancer. “Beluntas” (Pluchea indica Less) is one of plants in Indonesia that is able to used as herbal medicine from generation to generation used as drug relief body odor. Bioactive contained in the plants is the active compounds are utilized in the field of health, particularly Pharmacology. The research aim to know the active compound that is in the combination of” temulawak” and” beluntas”, and to know the correlation between the compounds in the correlation test. The research method in this research study is experimental laboratory by complete random design by scale of the value of the ring Newton upside down. The data analyzed by Pearson correlation testing. The qualitative result for the active compound test by variety combinations between “temulawak” (Curcuma xanthorriza Roxb) and “Beluntas” (Pluchea indica Less) was positive and contain alkaloid, flavonoid, and kuinon. Tannin and saponin were undetected. The results of the correlation test showed a positive relationship in alkaloid Mayer 1:1; dragondroff 2:1 alkaloid and alkaloid Meyer 2:1; alkaloid meyer 1:2. The alkaloids 2:1 and dragondroff 1:1 flavonoids; dragendroff 1:2 alkaloids and flavonoids 1:2; Quinones and 1:2 and alkaloids dragendroff 1:2 shows a negative relationship. Keywords: Temulawak, Beluntas, bioactive ABSTRAK Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan salah satu bahan baku obat tradisional yang banyak tersebar di Indonesia dan telah banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Pemanfaatan temulawak secara empiris yaitu salah satunya sebagai penambah nafsu makan. Beluntas (Pluchea indica Less) merupakan salah satu tanaman Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal yang secara turun temurun dimanfaatkan sebagai obat penghilang bau badan. Bioaktif yang terkandung dalam tanaman tersebut merupakan senyawa aktif yang dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, khususnya farmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan atau bioaktif yang terkandung dalam kombinasi temulawak dan beluntas serta mengetahui hubungan antar senyawa dalam uji korelasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode eksperimental laboratorik dengan Rancangan Acak Lengkap (RAK) dengan menggunakan skala nilai cincin newton terbalik. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil analisis fitokimia pada kombinasi antara Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) dan Beluntas (Pluchea indica Less) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan positif mengandung alkaloid, flavonoid dan kuinon. Sedangkan tanin dan saponin tidak terdeteksi. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yaitu pada alkaloid mayer 1:1 ; alkaloid dragondroff 2:1 dan alkaloid meyer 2:1 ; alkaloid meyer 1:2. Alkaloid dragondroff 2:1 dan flavonoid 1:1; alkaloid dragendroff 1:2 dan flavonoid 1:2; dan Kuinon 1:2 dan alkaloid dragendroff 1:2 menunjukkan hubungan yang negatif. Kata Kunci : Temulawak, Beluntas, bioaktif
Penambahan Nutrisi Pottato Dextrose Agar pada Pembuatan Starter Mikroorganisme Jamur dengan Bahan Baku Tepung Beras Ririn Saputri; Ahmad Syauqi; Hari Santoso
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 4 No 2 (2019): Ekstrak dan Nutrisi
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.792 KB)

Abstract

Rice flour is a raw material that is often used for starter. Rice flour has a starch content of 90% of dry weight. Starter is collection of mushroom cultur that is ready to be inoculatedfor fermentation. Mushrooms commonly used in making yeast are Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp, Candida sp. This study aims to determine the process of making a starter using rice flour and knowing the number of microbes that grow on pottato dextrose agar (PDA) media with concentrations of 0%, 4%, 8%, and 12%. This study used acompletely randomized design with 6 replications with 4 concentrations. Data analysis used ANOVA SPSS 17.1 program. The result of the analysis shows that the difference (P <0.05) is smaller than 0.05 (0.0152). From the result of the study, the starter of fungal microorganisms mixed with rice flour and PDA for the highest fungal growth was found at concentrations of 4%, 8% and 12%, namely 5,70, 6,14 and 6,13 with the addition of PDA media while at a concentration of 0% without PDA got 5,40 results. Keywords: Rice Flour, PDA Media, Mushrooms Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp, Candida sp ABSTRAK Tepung beras merupakan bahan baku yang sering digunakan untuk pembuatan starter. Tepung beras memiliki kadar pati 90% dari berat kering. Starter merupakan kumpulan biakakn jamur yang siap diinokulasi untuk fermnetasi. Jamur yang biasa digunakan dalam pembuatan starter yaitu Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp, Candida sp. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan starter dengan menggunakan tepung beras dan mengetahui jumlah mikroba yang tumbuh pada media PDA dengan konsentrasi 0%, 4%, 8%, dan 12%. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 kali ulangan dengan 4 konsentrasi. Analisis data menggunakan ANOVA program SPSS 17.1. Hasil analisa didapatkan perbedaan nyata karena nilai P > 0,05 yaiitu (0,0152). Dari hasil penelitian starter mikroorganisme jamur yang dicampur dengan tepung beras serta PDA untuk pertumbuhan jamur tertinggi terdapat pada konsentrasi 4 %, 8% dan 12% yaitu 5,70, 6,14 dan 6,13 dengan penambahan media PDA sedangkan pada konsentrasi 0% (tanpa PDA) didaptkan hasil 5,40. Kata kunci: PDA, Tepung Beras, Jamur Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp, Candida sp
Dinamika Populasi Jamur Pada Media Starter Tepung Beras Diperkaya Nutrisi Potato Dextrose Agar Anindyta Robiatul Adawiyah; Ahmad Syauqi; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 1 (2019): Keragaman Populasi Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.644 KB)

Abstract

Yeast and fungus are important biomass in the food industry. Rice flour is one of the alternative basic ingredients of composite flour and consists of carbohydrates, fats, proteins, minerals and vitamins. Yeast multiplies by a process known as germination, which causes fermentation. This study aims to determine the development of fungal cell population dynamics in making starter with rice flour rich in PDA (Potato Dextrose Agar) nutrition. PDA (Potato Dextrose Agar) is one of the good media used to breed a microorganism, either in the form of fungus / function, bacteria, or living cells. The method used in this study is a different test method for two populations with 2 variables with PDA levels of 0% and 4% with 9 times of repetition. Which is observed once every eight hours the growth dynamics of the fungus by identifying the following fungal species Aspergillus niger is white and has a good composition, Candida utilis is white, Hansenulla anomala is opaque, Trichoderma viride is clear. Keywords: Rice flour, Yeast, PDA (Potato Dextrose Agar), Aspergillus niger, Candida utilis, Trichoderma viride, Hansenula saturnus. ABSTRAK Jamur adalah biomasa yang penting di dalam industri makanan. Tepung beras merupakan salah satu alternatif bahan dasar dari tepung komposit dan terdiri atas karbohidrat, lemak, protein, mineral dan vitamin. Starter adalah populasi mikroba dalam jumlah dan kondisi fisiologis yang siap diinokulasikan pada media fermentasi. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui perkembangan dinamika populasi sel jamur pada pembuatan starter dengan media tepung beras kaya nutrisi PDA (Potato Dextrose Agar). PDA (Potato Dextrose Agar) merupakan salah satu media yang baik digunakan untuk membiakkan suatu mikroorganisme, baik itu berupa cendawan/fungsi, bakteri, maupun sel mahluk hidup. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Uji beda rerata dua populasi dengan 2 variabel dengan kadar PDA 0% dan 4% dengan 9 kali ulangan waktu. Yang mana pada setiap 8 jam sekali diamati dinamika pertumbuhan jamurnya dengan mengidentifikasi spesies jamur sebagai berikut Aspergillus niger berwarna putih dan berbenang, Candida utilis berwarna putih, Hansenulla saturnus berwarna buram, Trichoderma viride berwarna bening. Kata Kunci : Tepung beras, Ragi, PDA (Potato Dextrose Agar), Aspergillus niger, Candida utilis, Trichoderma viride, Hansenula saturnus.
Persepsi Masyarakat Terhadap Ruang Terbuka Hijau di Alun – alun Kota Malang dan Kota Batu Ramly Abdullah Subianto; Saimul Laili; Ahmad Syauqi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.803 KB)

Abstract

Ruang terbuka hijau merupakan komponen yang selalu diperhitungkan dalam proses perencanaan perkotaan apabila ruang terbuka hijau berkurang akan menimbulkan suatu permasalahan lingkungan. Menurut undang – undang no. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang perkotaan, bahwa minimal untuk memenuhi ketentuan 20 % RTH publik dan 10 % RTH privat, diketahui area ruang terbuka hijau di wilayah Kota Malang dan Kota Batu maksimal dari ketentuan tersebut. Maka dibutuhkan peran dan tanggapan dari masyarakat tentang ruang terbuka hijau. Berdasarkan analisa data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan jumlah vegetasi di area ruang terbuka hijau di Alun – alun Kota Malang ada 49 jenis tanaman dan rata rata suhu 29,9 ̊C, kelembaban udara 60,6 % dan kecepatan angin 1,26 m/s. Sedangkan jumlah vegetasi di area ruang terbuka hijau Alun – alun Kota Malang ada 40 jenis tanaman rata – rata suhu 28,1 ̊C, kelembaban udara 60,7 dan kecepatan angin 1,9 m/s. Persepsi pengunjung terhadap ruang terbuka hijau di Alun – alun Kota Malang tentang area ruang terbuka hijau memberikan kesan yang baik dan menarik mempunyai kategori tinggi dengan nilai sebesar 70,33 %, sedangkan untuk vegetasi di area ruang terbuka hijau sudah tertata rapi dan indah mempunyai kategori rendah dengan nilai sebesar 45,67 %. Persepsi pengunjung terhadap ruang terbuka hijau di Alun – alun Kota Batu tentang Kondisi ruang terbuka hijau sudah bebas dari banjir mempunyai kategori tinggi dengan nilai sebesar 69,00 %, sedangkan untuk Kondisi ruang terbuka hijau sudah bebas dari pencemaran udara mempunyai kategori tinggi dengan nilai sebesar 56,00 %.
Persepsi Masyarakat terhadap Sanitasi Pasar Tradisional (Pasar Blimbing dan Pasar Mergan) di Kota Malang Ainul Yaqin; Saimul Laili; Ahmad Syauqi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.762 KB)

Abstract

Traditional market condition currently have cleanless image, especially in Malang district needed more attention to be reapired soon, if this not done immediately traditional market will be leaved by consumer alongside with the increasing amount of modern market. This research located at blimbing traditional market and mergan traditional market. The firts aim of this research to know condition of sanitation in both market, and the second aim to know society perception againts condition of sanitation in both market. Method of this research use quantitative descriptive and direct observation on field. Questionnaire is data collection technique that use to give some written question to respondent. In this research data source is market buyers in both market. determination of respondent sample use purposive sampling. Based on outcome research indicate sanitiation of blimbing and mergan traditional market still poor. This statetement based on the high of disagree answer on questionnaire.
Keanekaragaman Koloni Mikroorganisme Rizosfer Lahan Tebu (Saccharum officinarum) Pada Penggunaan Pupuk Bio-Slurry dan Pupuk Kimia Adifatul Ismy; Ahmad Syauqi; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 1 (2019): Keragaman Populasi Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.477 KB)

Abstract

The diversity of microorganisms is very important in the balance of soil ecosystems is also an indicator of soil health and can affect the condition of plants that grow on it. Rizosphere is a part of the soil around the root of a plant. The activity of some rhizosphere microorganisms plays a role in the nutrient cycle and the process of soil formation, plant growth, affecting microorganism activity, and as biological control of root pathogens. The research objective was to determine the value of the sugarcane (Saccharum officinarum) rhizosphere microorganism index using Bio-slurry and chemical fertilizers. This study uses descriptive explorative methods. The data analyzed in the form of measurement of pH, number of microorganism colonies and diversity index. Diversity of Colonies Rhizosphere microorganisms Sugarcane land that uses Bio-slurry and those using Chemical Fertilizer are classified as low respectively 0.47 and 0.69. Colony groups found in each land are bacteria and fungi. Keywords: Diversity, Rizosphere, Saccharum officinarum, Bio-slurry, Chemical Fertilizers ABSTRAK Keanekaragaman mikroorganisme sangat penting dalam keseimbangan ekosistem tanah juga merupakan indikator kesehatan tanah dan dapat mempengaruhi kondisi tanaman yang tumbuh di atasnya. Rizosfer merupakan bagian tanah yang berada di sekitar perakaran tanaman. Aktivitas beberapa mikroorganisme rizosfer berperan dalam siklus hara dan proses pembentukan tanah, pertumbuhan tanaman, memengaruhi aktivitas mikroorganisme, serta sebagai pengendali hayati terhadap patogen akar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai indeks keanekaragaman mikroorganisme rizosfer tebu (Saccharum officinarum) yang menggunakan Bio-slurry dan pupuk kimia. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif eksploratif. Data yang dianalisis berupa hasil pengukuran pH, jumlah koloni mikroorganisme dan indeks keragaman. Keanekaragaman koloni mikroorganisme rizosfer lahan tebu yang menggunakan Bio-slurry dan yang menggunakan Pupuk kimia tergolong rendah masing-masing bernilai 0,47 dan 0,69. Kelompok koloni mikroorganisme yang ditemukan pada masing-masing lahan yaitu bakteri dan jamur. Kata kunci: Keanekaragaman, Rizosfer, Saccharum officinarum, Bio-slurry, Pupuk Kimia
Isolasi dan Analisis Koloni Bakteri Rizosfer Untuk Agen Pengendali Penyakit Layu Fusarium Pada Tanaman Stroberi (Fragaria sp) Aza Zunairoh; Ahmad Syauqi; Tintrim Rahayu
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 1 (2019): Keragaman Populasi Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.403 KB)

Abstract

Rhizosphere bacteria are soil microbes that can be isolated from the rhizosphere of strawberry plants (Fragaria sp). Rhizosphere bacteria are included in the group of antagonistic microbes which have the potential to inhibit the growth of the pathogenic fusarium sp fungi that infect plants that cause fusarium wilt in the roots of strawberry plants. This study aims to determine the diversity index of rhizosphere bacteria isolated from strawberry plants which are antagonistic to Fusarium sp. This study uses descriptive and experimental methods. The results of the analysis of the diversity of rhizosphere bacteria have a diversity index value of 1.35. This indicates that the diversity of rhizosphere bacteria isolated from the rhizosphere of strawberry plants is in the moderate category (1.0 <H '<3.322). Analysis of potential friendship of 5 types of colonies (R1, R2, R3, R4, R5) were obtained, rhizosphere bacteria R5 had a percentage of inhibition of 51.9%. So that this R5 bacteria has the potential and inhibits the growth of Fusarium sp fungi, because the R5 bacteria have the same macroscopic and microscopic characteristics and characteristics as those possessed by the bacterium Pseudomonas fluorescens. Keywords: Rhizosphere bacteria, strawberry plants, Fusarium sp ABSTRAK Bakteri rizosfer merupakan mikroba tanah yang dapat diisolasi dari rizosfer tanaman stroberi (Fragaria sp). Bakteri rizosfer termasuk dalam kelompok mikroba antagonis yang berpotensi dalam menghambat pertumbuhan jamur patogen Fusarium sp yang menginfeksi tanaman yang menyebabkan penyakit layu fusarium pada akar tanaman stroberi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks keragaman bakteri rizosfer yang diisolasi dari tanaman stroberi yang bersifat antagonis terhadap jamur Fusarium sp. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan eksperimen. Hasil analisis keragaman bakteri rizosfer memiliki nilai indeks keragaman sebesar 1,35. Hal ini menandakan bahwa keanekaragaman bakteri rizosfer yang diisolasi dari rizosfer tanaman stroberi termasuk dalam kategori sedang (1,0<H’<3,322). Analisis potensi penghamabatan dari 5 macam koloni (R1, R2, R3, R4, R5) yang didapatkan, bakteri rizosfer R5 memiliki persentase daya hambat sebesar 51,9%. Sehingga bakteri R5 ini memiliki potensi dan menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp, sebab bakteri R5 memiliki ciri-ciri dan karakter makroskopis dan mikroskopis yang sama dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh bakteri Pseudomonas fluorescens. Kata kunci: Bakteri rizosfer, tanaman stroberi, Fusarium sp
Isolasi Bakteri Endofit pada Tanaman Jeruk Keprok (Citrus reticulata) Madura dan Uji Potensi Antagonis dengan jamur Diplodia sp. Nurul Afiyatul Jannah; Ahmad Syauqi; Hari Santoso
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 1 (2019): Keragaman Populasi Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.385 KB)

Abstract

Endophytes can produce large quantities of bioactive metabolites, which are involved in the relationship between endophytes and hosts. Among the potential antagonistic bacteria that can be used as biological controllers are endophytic bacteria, namely bacteria that live in plant tissues and can move between tissues. One alternative to controlling diseases in citrus plants is to use biological agents that are antagonistic to the cause of the disease. Exploration of biological agents was carried out by isolating endophytic bacteria leaves of Madura varieties. The aim of researh was to determine the diversity index of endophytic bacteria from the leaves of Madura variety and to know the antagonistic colonies of endophytic bacteria toward Diplodia sp. The study used descriptive and experimental methods with taking into account the research objectives. Observations were carried out using PCA (Plate Count Agar) media, NA (Nutrient Agar), and MCA (Mac Conkey Agar). Diversity index of endophytic bacterial microorganisms isolated from the leaves of Madura varieties, namely 9 types of bacterial colonies obtained E1 milky white, E2 milky white, E3 milky white, E4 milky white, E5 white, E6 white, E6 white, E7 white, E8 Yellow and E9 clear white. After the antagonistic test of the nature of the bacterial colonies with the diplodia fungus sp, there were four types of antagonistic endophytic bacteria colonies namely E3 percentage (47.5%), E4 percentage (35.31%), E6 percentage (35%), lastly E9 percentage (63, 43%). Keywords: Endophytic bacteria, orange leaves, diplodia fungus. ABSTRAK Endofit dapat menghasilkan bioaktif metabolit dalam jumlah banyak, yang terlibat didalam hubungan antara endofit dan inang. Diantara bakteri potensial antagonis yang dapat digunakan sebagai pengendali hayati adalah bakteri endofit yaitu bakteri yang hidup didalam jaringan tanaman dan dapat berpindah antar jaringan. Salah satu alternatif pengendalian penyakit pada tanaman jeruk adalah menggunaan agen hayati yang bersifat antagonis terhadap penyebab penyakit. Eksplorasi agen hayati dilakukan dengan mengisolasi bakteri endofit daun tanaman jeruk keprok varietas Madura. Tujuan penelitian adalah menentukan indeks keragaman mikroorganisme bakteri endofit daun jeruk keprok varietas Madura dan mempelajari sifat Antagonis koloni bakteri Endofit kepada jamur Diplodia sp. Penelitian menggunakan metode deskrptif dan eksperimental dengan dengan mempertimbangkan tujuan penelitian. Pengamatan dilakukan dengan mengunakan media PCA (Plate Count Agar), NA (Nutrient Agar), dan MCA (Mac Conkey Agar). Indeks keragaman mikroorganisme bakteri endofit yang diisolasi dari daun jeruk keprok varietas Madura yaitu ada 9 macam koloni bakteri yang didapat E1 warna putih susu, E2 putih susu, E3 putih susu, E4 putih susu, E5 putih, E6 putih, E7 putih, E8 Kuning dan E9 putih bening. Setelah dilakukannya uji antagonis sifat dari koloni bakteri dengan jamur diplodia sp ada empat macam koloni bakteri endofit yang bersifat antagonis yaitu E3 persentase (47,5%), E4 persentase (35,31%), E6 persentase (35%), terakhir yaitu dari E9 persentase (63,43%). Kata kunci: Bakteri Endofit, daun jeruk, jamur Diplodia sp.