Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

RESISTENSI KAYU PLASTIK TERHADAP TIGA JENIS JAMUR PERUSAK KAYU Ginuk Sumarni; Jasni Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 2 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1989.6.2.117 -120

Abstract

Wood plastic  composite   samples  made,  from  rubber  wood  (Hevea brasilliensis  Muell.  Arg.)  were tested  for durability againts  Shizophyllum commune Fr,  Pycnoporus sanguineus (Fr.) Karst  and  Dacryopinax  spathularia   (Schw.)  Mart,  fungi. The  results  shows  that   rubber  wood  plastic  composite   is not  resistance  againts  the above  three  wood  destroying   fungus.
DAYA HIDUP DAN INTENSITAS SERANGAN BUBUK KAYU KERING HETEROBOSTRYCHUS AEQUALIS WAT PADA KAYU PULAI (ALSTONIA SCHOLARIS R.Br) Ginuk Sumarni; Jasni Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 5 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2606.037 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1988.5.5.287-289

Abstract

 In  Indonesia  Heterobostrychus  aequalis  Wat is  a large size powder  post  beetle.  This species very commonly attacks highly  stachy  wood,  the  main  reason  why   they  are  used  in  this  experiment.In  this research pulai wood  (Alstonia  scholaris R.Br)  has been used for sample,  dried at temperature levels for 40°C, 60oC, 90oC, 100oC, 120oC, 150oC, 200oC and ambien air temperature.  On each side  of  wood  samples  ten  holes  were made  with  dimension  of 1,5 cm x 5 cm x 7 cm. Into  the hole larvaes of 1,5  month  old were placed.  The observations  were made  after  six  week  period.The result showed  that wood  dried on temperature  40°C could  reduce  the starch of about  9,08% so that  intensity of insect's  attack  were lower (score 44,2). High starch  content   was found  in the  wood  dried  at  temperature 200°C, that is 17,94%. In  this  sample  the  intensity   of  the  attack was higher,  that  scale  at  scoring.
PENGARUH P'ERMETRIN TERHADAP SIFAT FISIS, MEKANIS DAN KEAWETAN PAPAN PARTIKEL I M Sulastiningsih; Jasni Jasni; M I lskandar
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 4 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1999.16.4.219-229

Abstract

Industri papan partikel di Indonesia pada umumnya menggunakan jenis kayu dengan kelas awet rendah sebagai bahan bakunya sehingga mudah diserang oleh organisme perusak kayu misalnya rayap. Oleh karena itu untuk meningkatkan keawetan papan partikel tersebut perlu dilakukan pengawetan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan pengawet permetrin terhadap sifat fisis, mekanis dan keawetan papan pertikel kayu karet dengan menggunakan perekat urea formaldehida cair. Kandungan bahan aktif permetrin dalam larutan bahan pengawet yang digunakan adalah 36,8% dan kodar bahan pengawet yang ditambahkan dalam perekat urea formaldehida adalah 0%; 0,25%; 0,50%; 0,75% dan 1% dan berat perekat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan pengawet permetrin dalam perekat urea formaldehida pada pembuatan papan partikel kayu karet hanya berpengaruh pada sifat pengembangan tebal setelah direndam air dingin selama 24 jam, modulus patah dan kuat pegang sekrup tegak lurus permukaan papan partikel. Secara keseluruhan penambahan bahan pengawet permetrin pada perekat urea formaldehida dalam pembuatan papan partikel dapat meningkatkan kestabilan dimensi dan sifat mekanis papan partikel. Pemberian bahan pengawet permetrin dengan kadar 0,25% dalam perekat urea formaldehida efektif untuk menahan serangan rayap kayu kering pada papan partikel.
KOMPOSISI KIMIA DAN KEAWETAN ALAMI DELAPAN JENIS KAYU DI BAWAH NAUNGAN Heru Satrio Wibisono; Jasni Jasni; Wa Ode Muliastuty Arsyad
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.654 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2018.36.1.59-65

Abstract

Pemanfaatan kayu dipengaruhi oleh komposisi kimia dan keawetan alaminya pada kondisi tertentu. Penelitian ini mempelajari komposisi kimia dan keawetan alaminya delapan jenis kayu yang berasal dari Banten dan Jawa Barat. Komposisi kimia kayu diuji berdasarkan metode Norman dan Jenkins, SNI 14-0492-1989, dan SNI 14-1032-1989. Pengujian keawetan alami kayu dilakukan di lapangan dengan cara memberi naungan sampel uji di alam terbuka. Hasil penelitian menunjukkan komposisi kimia kayu yang dipelajari berada dikisaran rata-rata komposisi kimia kayu daun lebar. Dari seluruh sampel uji kayu yang dipelajari, kadar holoselulosa tertinggi tercatat pada jenis kayu baros (Michelia champaca L.) sebesar 75,64% dan terendah pada kayu pasang taritih (Lithocarpus elegans Blume Hatus ex Supadmo) sebesar 60,19%. Kayu pasang taritih (Lithocarpus elegans Blume Hatus ex Supadmo) memiliki kadar lignin tertinggi (35,14%), sedangkan kayu ki hiyang (Albizia procera (Roxb.) Benth) memiliki kada lignin terendah (25,35%). Kadar zat ekstraktif tertinggi tercatat pada kayu tarisi (Albizia lebbeck (L.) Benth) sebesar 7,9% dan terendah pada kayu tangkalang (Litsea roxburghii Hassk) sebesar 1,54%. Uji keawetan alami kayu di bawah naungan menunjukkan kayu pasang taritih tergolong awet (kelas II) dan tujuh jenis kayu lainnya tergolong sangat tidak awet (kelas V) yaitu jenis kayu tarisi, ki hiyang, hanja, cerei, tangkalang, baros, dan kapinango.
KETAHANAN ALAMI JENIS-JENIS BAMBU YANG TUMBUH DI INDONESIA TERHADAP RAYAP TANAH (Coptotermes curvignathus Holmgren) Jasni Jasni; Ratih Damayanti; Rohmah Pari
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 4 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1557.633 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2017.35.4.289-301

Abstract

Ketahanan alami setiap jenis bambu berbeda sehingga informasi mengenai ketahanan alami setiap jenis bambu penting diketahui sebagai dasar pemanfaatannya. Tulisan ini mempelajari ketahanan alami dan pengelompokan dua puluh jenis bambu terhadap serangan rayap tanah. Dua puluh jenis bambu yang tumbuh dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Kebun Raya Bogor, dan Lampung diuji ketahanannya terhadap rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren berdasarkan SNI 7204-2014. Parameter yang diamati meliputi persentase penurunan berat bambu, persentase jumlah rayap yang hidup, dan derajat serangan secara subyektif. Berdasarkan persentase penurunan berat, tiga jenis bambu termasuk dalam kelas ketahanan I, lima jenis kelas II, tiga jenis kelas III, tujuh jenis kelas IV, dan dua jenis kelas V. Berdasarkan jumlah rayap yang hidup, satu jenis termasuk dalam kelas ketahanan I, empat jenis kelas II, satu jenis kelas III, 11 jenis kelas IV, dan tiga jenis kelas V.
KOMPOSISI KIMIA DAN KEAWETAN ALAMI 20 JENIS KAYU INDONESIA DENGAN PENGUJIAN DI BAWAH NAUNGAN Jasni Jasni; Gustan Pari; Esti Rini Satiti
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 4 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (885.499 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2016.34.4.323-333

Abstract

Pemanfaatan kayu untuk berbagai produk seperti konstruksi bangunan, mebel, dan barang kerajinan perlu memperhatikan sifatnya, antara lain komponen kimia dan keawetannya, karena sifat ini saling berhubungan. Tulisan ini mempelajari komposisi kimia dan keawetan alami 20 jenis kayu dari berbagai daerah di Indonesia. Kandungan selulosa dianalisa berdasarkan metode Norman dan Jenkins, lignin berdasarkan SNI 14-0492-1989 dan zat ekstraktif berdasarkan SNI 14-1032-1989. Pengujian keawetan di lapangan dilakukan dengan pengujian kayu di bawah naungan. Pengujian keawetan tersebut dilaksanakan di kebun percobaan Cikampek, Jawa Barat. Pengamatan dilakukan setelah satu tahun pengujian, dengan cara menilai persentase kerusakan contoh uji yang disebabkan oleh organisme perusak kayu. Hasil penelitian menunjukkan kadar selulosa tertinggi pada jenis kayu Jaha (Terminalia arborea K. et. V.) (61,35%) dan terendah kayu bambang lanang (Michelia champaca L. var. pubinervia) (43,30%). Kadar lignin tertinggi 35,80% pada jenis kayu mahang putih (Macaranga hypoleuca Muell. Arg.) dan terendah 23,67% pada jeniskayu cempaka ( Elmerrillia papuana Dandy).Kadar zat ek straktif tertinggi (7,87%) ditemukan pada jenis kayu bawang (Azadirachta excelsa (Jack) M. Jacobs) dan terendah (1,52%) pada jenis kayu kandis (Pentaphalangium pachycarcum A. C. Smith.). Hasil penelitian keawetan alami kayu dari 20 jenis kayu terhadap organisme perusak kayu di lapangan, menunjukkan bahwa sebanyak empat jenis termasuk  awet (kelas II), enam jenis termasuk agak awet (kelas III), tiga jenis termasuk tidak awet (kelas IV) dan tujuh jenis termasuk sangat tidak awet (Kelas V).
PENCEGAHAN SERANGAN RAYAP PADA PAPAN PARTIKEL I M Sulastiningsih; Jasni Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 4 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4115.708 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2000.17.4.179-188

Abstract

Dewasa ini papan partikel banyak digunakan sebagai bahan mebel dan dalam jumlah terbatas digunakan sebagai bahan bangunan yang tidak menyangga beban. Kelemahan papan partikel sebagai bahan mebel dan bahan bangunan tersebut adalah mudah diserang organisme perusak kayu misalnya rayap karena bahan bakunya berasal dari kayu dengan kelas awet rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan serangan rayap pada papan partikel dengan meningkatkan keawetannya. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan kadar bahan pengawet alfametrin minimum yang ditambahkan dalam ramuan perekat urea formaldehida yang cukup efektif untuk mencegah serangan rayap pada papan partikel yang dibuat dari kayu karet. Kandungan bahan aktif alfametrin dalam laHutan bahan pengawet yang digunakan adalah 15 g/l dan kadar bahan pengawet yang ditambahkan dalam perekat urea formaldehida adalah 0%; 0,25%; 0,50%; 0,75% dan 1% dari berat perekat cair.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar alfametrin 0,75% atau lebih dari berat perekat cair dalam perekat urea formadehida pada pembuatan papan partikel sudah cukup efektif un menahan serangan rayap kayu kering maupun rayap tanah. Kelas awet papan partikelpun meningkat dari kelas IV menjadi kelas I.
PENGARUH BAHAN PENGAWET TERHADAP KETEGUHAN REKAT DAN KEAWETAN KAYU LAPIS TUSAM (Pinus merkusii) l M Sulastiningsih; Jasni Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 4 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7069.941 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.4.235-246

Abstract

Jenis kayu yang digunakan di lndustri kayu lapis di Indonesia pada umumnya mempunyai kelas awet rendah. Oleh karena itu untuk meningkatkan keawetan kayu lapis tersebut perlu dilakukan usaha pengawetan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan pengawet permetrin terhadap keteguhan rekat dan keawetan kayu lapis tusam yang direkat dengan fenol formaldehida. Kandungan bahan aktif permetrin dalam larutun bahan pengawet yang digunakan adalah 36,8 % dan konsentrasi bahan pengawet yang ditambahkannke dalam perekat fenol formardehida adalah 0.0. 0.25, 0.50, 0. 75, 1.0, 1.25, 1.50, 1. 75 dan 2.0% dari berat perekat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan pengawet permetrin dalam perekat fenol formaldehida pada pembuatan kayu lapis tusam tidak berpengaruh terhadap keteguhan rekat kayu lapis tusam baik yang diuji menurut standar Indonesia maupun standar Jepang. Sebaliknya penambahan bahan pengawet permetrin tersebut berpengaruh pada keawetan kayu                                                                                                                                                                                        235 lapis tusam terhadap serangan rayap tanah dan rayap kayu kering. Kematian rayap.tanah dan rayap kayu kering meningkat dengan meningkatnya konsentrasi permetrin. Kehilangan berat dan derajat serangan menurun dengan meningkatnya konsentrasi permetrin. Penambahan bahan pengawet permetrin sebanyak 2 % dari berat perekat fenol formadehida dapat menahan serangan rayap tanah maupun rayap kayu kering. Keteguhan rekat kayu lapis tusam yang dibuat dengan berbagai konsentrasi permetrin semuanya memenuhi standar Indonesia dan standar Jepang.
PENGUJIAN RESIN BERBASIS LIGNIN SEBAGAI BAHAN PENCEGAH SERANGAN RAYAP KAYU KERING (Cryptotermes cynocepbalus LIGHT.) Jasni Jasni; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2006.24.4.301-308

Abstract

Kayu karet dan tusam banyak digunakan sebagai bahan mebel. Kelemahan kedua kayu tersebut mudah diserang organisme perusak kayu. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan untuk meningkatkan keawetannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis bahan pencegah serangan rayap kayu kering menggunakan resin lignin formaldehida.Dalam penelitian ini resin dibuat dari 3 jenis lignin yang dihidroksimetilasi kemudian dikondensasi dengan larutan NaOH 50% dan formaldehida 37%. Reaksi dilangsungkan pada suhu 70 -80OC selama 1 jam. Nisbah mol lignin: formalin = 1 : 2. Resin tersebut diaplikasikan pada kayu karet dan tusam, masing-masing mewakili kayu daun lebar dan kayu daun jarum yang selanjutnya diuji ketahanannya terhadap serangan rayap kayu kering.Hasil penelitian menunjukkan bahwa resin berbasis lignin formaldehida yang dibuat dari ke-3 jenis lignin efektif dalam mencegah serangan rayap kayu kering pada kayu karet dan tusam dengan tingkat kematian rayap kayu kering antara 62,4 - 100,0% dan mampu meningkatkan kelas ketahanan kayu karet maupun tusam dari kelas IV (tanpa perlakuan) menjadi kelas II.
PENGARUH JENIS KAYU DAN PERMETHRIN TERHADAP KETEGUHAN REKAT DAN KEAWETAN KAYU LAPIS*) I M Sulastiningsih; Jasni Jasni; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 18, No 2 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2000.18.2.55-67

Abstract

Industri kayu lapis di Indonesia umumnya menggunakan jenis kayu yang mempunyai kelas awet rendah. Oleh karena itu untuk meningkatkan keawetan kayu lapis perlu dilakukan usaha pengawetan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis kayu dan konsentrasi bahan pengawet permethrin terhadap keteguhan rekat dan keawetan kayu lapis. Metode pengawetan yang dipakai adalah metode pelaburan bahan pengawet pada venir. Bahan pengawet yang digunakan adalah larutan yang menganduug bahan aktif permetrin 36,8%. Konsentrasi bahan pengawet yang digunakan adalah 0%; 0,10%; 0,25%; 0,50%; 0,75% dan 1,00%. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu karet dan kayu durian dengan tebal venir 1,5 mm. Kayu lapis yang dibuat berupa tripleks dengan perekat urea formaldehida. Pengujian keteguhan rekat dilakukan menurut Standar Indonesia dan Standar Jepang. Pengujian keawetan dilakukan terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus Light) dan rayap tanah (Coptotermes curvignatus Holmgren).Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kayu berpengaruh terhadap keteguhan rekat kayu lapis. Keteguhan rekat kayu lapis durian (16-32,91 kg/cm2) lebih tinggi daripada kayu lapis karet (12,07-27 kg/cm2). Konsentrasi bahan pengawet permethrin yang dilaburkan pada venir kayu karet dan kayu durian tidak mempengaruhi keteguhan rekat kayu lapis. NIlai keteguhan rekat kayu lapis semuanya memenuhi persyaratan Standar Indonesia dan Standar Jepang. Pelaburan bahan pengawet permethrin pada venir kayu karet dan kayu durian dengan konsentrasi 0,1% sudah cukup efektif menahan serangan rayap kayu kering maupun rayap tanah.