Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

THE RESISTANCE OF TREATED RUBBERWOOD PARTICLEBOARD TO THE DRYWOOD TERMITE Cryptotermes cynocephalus Light. Jasni Jasni; I M Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2004.22.2.69-74

Abstract

Papan partikel banyak digunakan sebagai bahan mebel dan dalam jumlab terbatas digunakan sebagai bahan bangunan yang tidak menyangga beban. Kelemahan papan partikel sebagai bahan mebel dan bahan bangunan tersebut adalah mudah diserang organisme perusak kayu, misalnya rayap karena bahan bakunya berasal dari kayu dengan kelas awet rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan serangan rayap pada papan partikel dengan meningkatkan ketahanannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kadar bahan pengawet alfametrin minimum yang ditambahkan dalam ramuan perekat fenol formaldehida, yang cukup eJektif untuk mencegah serangan rayap kayu kering pada papan partikel.Dalam penelitian ini papan partikel dibuat dari limbah serutan kayu karet yang dibedakan antara partikel kasar dengan partikel halus. Perekat yang digunakan adalah fenol formaldehida dengan kadar perekat 12% dari berat partikel kering. Kedalam perekat fenol formaldehida cair ditambahkan larutan bahan pengawet alfametrin dengan kadar 0%; 0,25%; 0,50%; 0, 75%; dan 1%. Kandungan bahan aktif alfametrin dalam larutan bahan pengawet yang digunakan adalah 15 git. Pengujian ketahanan papan partikel dilakukan terhadap rayap kayu kering.Di samping itu dilakukan juga pengujian ketahanan kayu karet utuh sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar alfametrin 0,50% atau lebih dari berat fenol formaldehida cair pada pembuatan papan partikel kasar maupun halus sudah cukup efektif untuk menahan serangan rayap kayu kering, mortalitas mencapai 100%, dan kelas ketahanan papan partikel meningkat dari kelas III menjadi kelas I. Papan partikel tanpa bahan pengawet (kontrol) mempunyai kelas ketahanan lebih tinggi (III) dari pada kelas ketahanan kayu karet utuh (IV).
PENGARUH PENGERINGAN TERHADAP DAYA HIDUP DAN INTENSITAS SERANGAN BUBUK KAYU KERING HETEROBOSTRYCHUS AEQUALIS WAT PADA KAYU PULAI (ALSTONIA SCHOLARIS R.Br) Ginuk Sumarni; Jasni Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 3 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1989.6.3.178-186

Abstract

Heterobostrychus aequalis  Wat is very  important   wood  destroying   insect  other  than  termites.  In  this experiment pulai  wood  samples  (Alstonia  scholaris  R.Br)  taken  from  above  and  under  a girdle  of  cut  around  tree stem  were dried at temperature   40˚C,  60˚C,  90°C,   100°c,    120°c,    150°C, 200°c    and  air  temperature.   On  each  side  of  the  samples  of 1,5  cm  x  5  cm  x  7 cm.  Into   in  dimension   ten  holes  were  made  the  hole  larvaes of  1,5  month   old  were  placed.   The observations  were  made after  six  week  period.Wood dried at  temperature  40°C  had the lowest starch content  i.e 13,40  % for wood  samples  the girdle and 11,15  % for  wood  samples  under  the  girdle,  white   the  intensity   of  insect's  attack   can  be  rated  os moderate   (with  score  67,25 and  65,75).
RESISTENSI KAYU PLASTIK TERHADAP TIGA JENIS JAMUR PERUSAK KAYU Ginuk Sumarni; Jasni Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 2 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3407.111 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1989.6.2.117 -120

Abstract

Wood plastic  composite   samples  made,  from  rubber  wood  (Hevea brasilliensis  Muell.  Arg.)  were tested  for durability againts  Shizophyllum commune Fr,  Pycnoporus sanguineus (Fr.) Karst  and  Dacryopinax  spathularia   (Schw.)  Mart,  fungi. The  results  shows  that   rubber  wood  plastic  composite   is not  resistance  againts  the above  three  wood  destroying   fungus.
DAYA HIDUP DAN INTENSITAS SERANGAN BUBUK KAYU KERING HETEROBOSTRYCHUS AEQUALIS WAT PADA KAYU PULAI (ALSTONIA SCHOLARIS R.Br) Ginuk Sumarni; Jasni Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 5 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1988.5.5.287-289

Abstract

 In  Indonesia  Heterobostrychus  aequalis  Wat is  a large size powder  post  beetle.  This species very commonly attacks highly  stachy  wood,  the  main  reason  why   they  are  used  in  this  experiment.In  this research pulai wood  (Alstonia  scholaris R.Br)  has been used for sample,  dried at temperature levels for 40°C, 60oC, 90oC, 100oC, 120oC, 150oC, 200oC and ambien air temperature.  On each side  of  wood  samples  ten  holes  were made  with  dimension  of 1,5 cm x 5 cm x 7 cm. Into  the hole larvaes of 1,5  month  old were placed.  The observations  were made  after  six  week  period.The result showed  that wood  dried on temperature  40°C could  reduce  the starch of about  9,08% so that  intensity of insect's  attack  were lower (score 44,2). High starch  content   was found  in the  wood  dried  at  temperature 200°C, that is 17,94%. In  this  sample  the  intensity   of  the  attack was higher,  that  scale  at  scoring.
PENGARUH P'ERMETRIN TERHADAP SIFAT FISIS, MEKANIS DAN KEAWETAN PAPAN PARTIKEL I M Sulastiningsih; Jasni Jasni; M I lskandar
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 4 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1999.16.4.219-229

Abstract

Industri papan partikel di Indonesia pada umumnya menggunakan jenis kayu dengan kelas awet rendah sebagai bahan bakunya sehingga mudah diserang oleh organisme perusak kayu misalnya rayap. Oleh karena itu untuk meningkatkan keawetan papan partikel tersebut perlu dilakukan pengawetan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan pengawet permetrin terhadap sifat fisis, mekanis dan keawetan papan pertikel kayu karet dengan menggunakan perekat urea formaldehida cair. Kandungan bahan aktif permetrin dalam larutan bahan pengawet yang digunakan adalah 36,8% dan kodar bahan pengawet yang ditambahkan dalam perekat urea formaldehida adalah 0%; 0,25%; 0,50%; 0,75% dan 1% dan berat perekat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan pengawet permetrin dalam perekat urea formaldehida pada pembuatan papan partikel kayu karet hanya berpengaruh pada sifat pengembangan tebal setelah direndam air dingin selama 24 jam, modulus patah dan kuat pegang sekrup tegak lurus permukaan papan partikel. Secara keseluruhan penambahan bahan pengawet permetrin pada perekat urea formaldehida dalam pembuatan papan partikel dapat meningkatkan kestabilan dimensi dan sifat mekanis papan partikel. Pemberian bahan pengawet permetrin dengan kadar 0,25% dalam perekat urea formaldehida efektif untuk menahan serangan rayap kayu kering pada papan partikel.
KOMPOSISI KIMIA DAN KEAWETAN ALAMI DELAPAN JENIS KAYU DI BAWAH NAUNGAN Heru Satrio Wibisono; Jasni Jasni; Wa Ode Muliastuty Arsyad
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2018.36.1.59-65

Abstract

Pemanfaatan kayu dipengaruhi oleh komposisi kimia dan keawetan alaminya pada kondisi tertentu. Penelitian ini mempelajari komposisi kimia dan keawetan alaminya delapan jenis kayu yang berasal dari Banten dan Jawa Barat. Komposisi kimia kayu diuji berdasarkan metode Norman dan Jenkins, SNI 14-0492-1989, dan SNI 14-1032-1989. Pengujian keawetan alami kayu dilakukan di lapangan dengan cara memberi naungan sampel uji di alam terbuka. Hasil penelitian menunjukkan komposisi kimia kayu yang dipelajari berada dikisaran rata-rata komposisi kimia kayu daun lebar. Dari seluruh sampel uji kayu yang dipelajari, kadar holoselulosa tertinggi tercatat pada jenis kayu baros (Michelia champaca L.) sebesar 75,64% dan terendah pada kayu pasang taritih (Lithocarpus elegans Blume Hatus ex Supadmo) sebesar 60,19%. Kayu pasang taritih (Lithocarpus elegans Blume Hatus ex Supadmo) memiliki kadar lignin tertinggi (35,14%), sedangkan kayu ki hiyang (Albizia procera (Roxb.) Benth) memiliki kada lignin terendah (25,35%). Kadar zat ekstraktif tertinggi tercatat pada kayu tarisi (Albizia lebbeck (L.) Benth) sebesar 7,9% dan terendah pada kayu tangkalang (Litsea roxburghii Hassk) sebesar 1,54%. Uji keawetan alami kayu di bawah naungan menunjukkan kayu pasang taritih tergolong awet (kelas II) dan tujuh jenis kayu lainnya tergolong sangat tidak awet (kelas V) yaitu jenis kayu tarisi, ki hiyang, hanja, cerei, tangkalang, baros, dan kapinango.
KETAHANAN ALAMI JENIS-JENIS BAMBU YANG TUMBUH DI INDONESIA TERHADAP RAYAP TANAH (Coptotermes curvignathus Holmgren) Jasni Jasni; Ratih Damayanti; Rohmah Pari
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 4 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2017.35.4.289-301

Abstract

Ketahanan alami setiap jenis bambu berbeda sehingga informasi mengenai ketahanan alami setiap jenis bambu penting diketahui sebagai dasar pemanfaatannya. Tulisan ini mempelajari ketahanan alami dan pengelompokan dua puluh jenis bambu terhadap serangan rayap tanah. Dua puluh jenis bambu yang tumbuh dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Kebun Raya Bogor, dan Lampung diuji ketahanannya terhadap rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren berdasarkan SNI 7204-2014. Parameter yang diamati meliputi persentase penurunan berat bambu, persentase jumlah rayap yang hidup, dan derajat serangan secara subyektif. Berdasarkan persentase penurunan berat, tiga jenis bambu termasuk dalam kelas ketahanan I, lima jenis kelas II, tiga jenis kelas III, tujuh jenis kelas IV, dan dua jenis kelas V. Berdasarkan jumlah rayap yang hidup, satu jenis termasuk dalam kelas ketahanan I, empat jenis kelas II, satu jenis kelas III, 11 jenis kelas IV, dan tiga jenis kelas V.
KOMPOSISI KIMIA DAN KEAWETAN ALAMI 20 JENIS KAYU INDONESIA DENGAN PENGUJIAN DI BAWAH NAUNGAN Jasni Jasni; Gustan Pari; Esti Rini Satiti
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 4 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2016.34.4.323-333

Abstract

Pemanfaatan kayu untuk berbagai produk seperti konstruksi bangunan, mebel, dan barang kerajinan perlu memperhatikan sifatnya, antara lain komponen kimia dan keawetannya, karena sifat ini saling berhubungan. Tulisan ini mempelajari komposisi kimia dan keawetan alami 20 jenis kayu dari berbagai daerah di Indonesia. Kandungan selulosa dianalisa berdasarkan metode Norman dan Jenkins, lignin berdasarkan SNI 14-0492-1989 dan zat ekstraktif berdasarkan SNI 14-1032-1989. Pengujian keawetan di lapangan dilakukan dengan pengujian kayu di bawah naungan. Pengujian keawetan tersebut dilaksanakan di kebun percobaan Cikampek, Jawa Barat. Pengamatan dilakukan setelah satu tahun pengujian, dengan cara menilai persentase kerusakan contoh uji yang disebabkan oleh organisme perusak kayu. Hasil penelitian menunjukkan kadar selulosa tertinggi pada jenis kayu Jaha (Terminalia arborea K. et. V.) (61,35%) dan terendah kayu bambang lanang (Michelia champaca L. var. pubinervia) (43,30%). Kadar lignin tertinggi 35,80% pada jenis kayu mahang putih (Macaranga hypoleuca Muell. Arg.) dan terendah 23,67% pada jeniskayu cempaka ( Elmerrillia papuana Dandy).Kadar zat ek straktif tertinggi (7,87%) ditemukan pada jenis kayu bawang (Azadirachta excelsa (Jack) M. Jacobs) dan terendah (1,52%) pada jenis kayu kandis (Pentaphalangium pachycarcum A. C. Smith.). Hasil penelitian keawetan alami kayu dari 20 jenis kayu terhadap organisme perusak kayu di lapangan, menunjukkan bahwa sebanyak empat jenis termasuk  awet (kelas II), enam jenis termasuk agak awet (kelas III), tiga jenis termasuk tidak awet (kelas IV) dan tujuh jenis termasuk sangat tidak awet (Kelas V).
PENCEGAHAN SERANGAN RAYAP PADA PAPAN PARTIKEL I M Sulastiningsih; Jasni Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 4 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2000.17.4.179-188

Abstract

Dewasa ini papan partikel banyak digunakan sebagai bahan mebel dan dalam jumlah terbatas digunakan sebagai bahan bangunan yang tidak menyangga beban. Kelemahan papan partikel sebagai bahan mebel dan bahan bangunan tersebut adalah mudah diserang organisme perusak kayu misalnya rayap karena bahan bakunya berasal dari kayu dengan kelas awet rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan serangan rayap pada papan partikel dengan meningkatkan keawetannya. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan kadar bahan pengawet alfametrin minimum yang ditambahkan dalam ramuan perekat urea formaldehida yang cukup efektif untuk mencegah serangan rayap pada papan partikel yang dibuat dari kayu karet. Kandungan bahan aktif alfametrin dalam laHutan bahan pengawet yang digunakan adalah 15 g/l dan kadar bahan pengawet yang ditambahkan dalam perekat urea formaldehida adalah 0%; 0,25%; 0,50%; 0,75% dan 1% dari berat perekat cair.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar alfametrin 0,75% atau lebih dari berat perekat cair dalam perekat urea formadehida pada pembuatan papan partikel sudah cukup efektif un menahan serangan rayap kayu kering maupun rayap tanah. Kelas awet papan partikelpun meningkat dari kelas IV menjadi kelas I.
PENGARUH BAHAN PENGAWET TERHADAP KETEGUHAN REKAT DAN KEAWETAN KAYU LAPIS TUSAM (Pinus merkusii) l M Sulastiningsih; Jasni Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 4 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.4.235-246

Abstract

Jenis kayu yang digunakan di lndustri kayu lapis di Indonesia pada umumnya mempunyai kelas awet rendah. Oleh karena itu untuk meningkatkan keawetan kayu lapis tersebut perlu dilakukan usaha pengawetan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan pengawet permetrin terhadap keteguhan rekat dan keawetan kayu lapis tusam yang direkat dengan fenol formaldehida. Kandungan bahan aktif permetrin dalam larutun bahan pengawet yang digunakan adalah 36,8 % dan konsentrasi bahan pengawet yang ditambahkannke dalam perekat fenol formardehida adalah 0.0. 0.25, 0.50, 0. 75, 1.0, 1.25, 1.50, 1. 75 dan 2.0% dari berat perekat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan pengawet permetrin dalam perekat fenol formaldehida pada pembuatan kayu lapis tusam tidak berpengaruh terhadap keteguhan rekat kayu lapis tusam baik yang diuji menurut standar Indonesia maupun standar Jepang. Sebaliknya penambahan bahan pengawet permetrin tersebut berpengaruh pada keawetan kayu                                                                                                                                                                                        235 lapis tusam terhadap serangan rayap tanah dan rayap kayu kering. Kematian rayap.tanah dan rayap kayu kering meningkat dengan meningkatnya konsentrasi permetrin. Kehilangan berat dan derajat serangan menurun dengan meningkatnya konsentrasi permetrin. Penambahan bahan pengawet permetrin sebanyak 2 % dari berat perekat fenol formadehida dapat menahan serangan rayap tanah maupun rayap kayu kering. Keteguhan rekat kayu lapis tusam yang dibuat dengan berbagai konsentrasi permetrin semuanya memenuhi standar Indonesia dan standar Jepang.