Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

DESAIN PELAT CENDAWAN PADA STRUKTUR GEDUNG BETON BERTULANG BERDASARKAN SNI Kurniati, Dwi; Saputro, Imam Trianggoro
Jurnal Karkasa Vol 10 No 1 (2024): Jurnal Karkasa - Juli 2024
Publisher : LPPM Politeknik Saint Paul Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32531/jkar.v10i1.791

Abstract

Selama lebih dari dua dekade ke belakang, perkembangan pembangunan gedung bertingkat di Indonesia cukup signifikan. Beton bertulang merupakan material utama yang digunakan dalam konstruksi pembangunan gedung-gedung tersebut. Konstruksi beton bertulang memiliki elemen struktur pelat lantai, kolom, balok, serta pelat atap. Konstruksi beton bertulang sangat umum, hal ini dikarenakan konstruksi beton bertulang lebih murah dibandingkan dengan konstruksi baja. Semakin berkembangnya teknologi informasi, semakin berkembang pula desain teknologi flatsalab menggunakan pelat cendawan tanpa adanya elemen balok. Metode flatslab ini mulai menjadi trend di Indonesia sejak sepuluh tahun belakangan ini, terdapat beberapa keuntungan dari pemanfaatan flat slab ini. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui ketebalan dari pelat, dan kolom dengan metode flatslab. Flatslab merupakan teknologi konstruksi bangunan gedung tanpa menggunakan stuktur balok. Dari analisa didapatkan bahwa tebal pelat sebesar 200mm dengan tulangan menggunakan diameter 13 dengan jarak 150mm. Sedangkan pelat cendawan memiliki ketebalan 350mm, dengan dimensi 2800mm x 2800mm dengan tulangan D13-10mm. terdapat dua tipe kolom yang digunakaan k1 800mm x 800mm dan k2 600mm x 600mm. Dapat disimpulkan bahwa desain gedung dengan menggunakan pelat cendawan aman dan dapat digunakan.
EVALUASI KUAT LENTUR BETON BERTULANG BAMBU Kurniati, Dwi; Saputro, Imam Trianggoro
Jurnal Karkasa Vol 10 No 2 (2024): Jurnal Karkasa - Desember 2024
Publisher : LPPM Politeknik Saint Paul Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32531/jkar.v10i2.894

Abstract

Beton bertulang bambu merupakan alternatif konstruksi yang semakin diperkenalkan di dunia teknik sipil, terutama dalam rangka meningkatkan keberlanjutan dan efisiensi biaya. Selama sepuluh tahun belakangan telah banyak penelitian yang menggabung berbagai formula guna mendapatkan standar yang pas dan bisa digunakan selutuh manusia di dunia. Penelitian ini mengkaji implikasi kuat lentur beton bertulang bambu, yang menggabungkan dua material berbeda, beton sebagai bahan struktur utama dan bambu sebagai material penguat. Dalam penelitian ini, fokus diberikan pada kekuatan lentur beton bertulang bambu, serta pengaruh bambu terhadap kinerja struktural komposit ini dalam berbagai kondisi beban. Pengujian material dilakukan terlebih dahulu, kemudian job mix design menggunakan metode Standar Nasional Indonesia tahun 2000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beton bertulang bambu memiliki potensi yang signifikan dalam meningkatkan daya dukung lentur, dengan keuntungan ekologis dan ekonomis, meskipun memerlukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh bambu terhadap ketahanan jangka panjang dan keawetan material. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beton normal memiliki kekuatan lentur maksimum rat-rata sebesar 3,89 MPa, beton bertulang bambu pada 28 hari memiliki kekuatan lentur maksimum 4,12 MPa.
ANALISIS PERBANDINGAN PERHITUNGAN STRUKTUR BETON PADA BANGUNAN GEDUNG ASTON SORONG CITY HOTEL BERDASARKAN STANDAR SNI DENGAN EUROCODE Al kautsar, Rakha H.; Saputro, Imam Trianggoro; Samaila, Muh. Akhsan
Jurnal Karkasa Vol 10 No 2 (2024): Jurnal Karkasa - Desember 2024
Publisher : LPPM Politeknik Saint Paul Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32531/jkar.v10i2.895

Abstract

Standarisasi yang diterapkan pada setiap Negara pastinya memiliki keistimewaan masing – masing sehingga dapat dijadikan acuan perencanaan dalam pembangunan, dalam penelitian ini ditujukan untuk mengetahui perbandingan antar standarisasi yang telah diterapkan. Dalam hal ini penulis mencoba menerapkan Standar Eurocode pada bangunan gedung Aston Sorong City Hotel dapat memenuhi perencanaan di daerah rawan gempa. Struktur yang berdiri 8 lantai dengan ketinggian 29,5 m. Input pembebanan dan dimensi struktur pada permodelan sama dengan aslinya yang dibantu perhitungannya menggunakan program SAP2000. Standarisasi yang dibandingkan antara SNI 2847:2019 dengan EN 1992-1-1:2004. Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan maka diperoleh kebutuhan penulangan D12-250 pada plat menurut SNI lebih renggang dari kebutuhan Eurocode D12-200, sedangkan kebutuhan penulangan Balok 9D-19 menurut SNI yang lebih banyak dari Eurocode 8D-19, dan kebutuhan penulangan Kolom pada kedua standarisasi ini memiliki nilai yang sama sebesar 6869mm2.