Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search
Journal : Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)

PENGARUH KECEPATAN PENGADUKAN DAN DOSIS PENAMBAHAN KOAGULAN ALAMI DARI SELULOSA KULIT BIJI BUNGA MATAHARI (Helianthus annus L) TERHADAP PENURUNAN KADAR TSS DAN TDS Nurul Azizah; Masrulita Masrulita; Suryati Suryati; Syamsul Bahri
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 1, No 2 (2021): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Oktober 2021
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v1i2.5036

Abstract

Laundry merupakan suatu proses kompleks yang melibatkan interaksi antara beberapa faktor fisik dan kimiawi. Air limbah yang dihasilkan dari proses laundry mempunyai komposisi dan kandungan yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh waktu pengadukan dan dosis penambahan koagulan terhadap penurunan, TDS dan TSS pada limbah laundry. Penelitian dilakukan dengan mengambil ekstrak selulosa kulit biji bunga matahari melalui proses ekstraksi menggunakan larutan asam nitrit yang selanjutnya dipanaskan di atas hot plate kemudian dicuci. Selanjutnya didelignifikasi dengan larutan NaOH kemudian dicuci lalu dilakukan pemutihan dengan NaOCl kemudian dimasukkan ke dalam oven sehingga diperoleh selulosa. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode jar tes, selanjutnya dianalisa kadar TDS dan TSS, serta suhu dan pH. yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan kadar TDS dan TSS pada sampel masing-masing mencapai 450 mg/l, dan 400 mg/l. Selanjutnya dilakukan proses flokulasi dan koagulasi dengan metode jar tes didapatkan hasil penurunan kadar TDS dengan koagulan selulosa kuit biji bunga matahari 387 mg/l (dosis 700 mg/l, 40 rpm). Dalam penurunan kadar TSS diperoleh 100 mg/l (dosis 700 mg/l, 40 rpm). Berdasarkan hasil yang diperoleh selulosa kulit biji bunga matahari mampu menurunkan kadar TDS dan TSS pada limbah laundry.
PROSES PEMBUATAN MINYAK KEMIRI HITAM DENGAN METODE PENYANGRAIAN (ROASTING) Safrina Melya; Sulhatun Sulhatun; Suryati Suryati; Masrulita Masrulita; Syamsul Bahri
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 1, No 4 (2022): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - April 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v1i4.6101

Abstract

Pembuatan minyak kemiri hitam menggunakan metode penyangraian. Rancangan penelitian menggunakan beberapa variable yaitu variable tetap pada penelitian ini menggunakan biji kemiri sebanyak 5 kg. Variable bebas pada penelitian ini diantaranya ada waktu penyangraian suhu 300̊C, waktu penyangraian suhu 150̊C dan waktu pengendapan, dan variable terikat diantaranya ada uji pH, uji warna, uji GCMS dan % yield.Hasil yang paling bagus pada saat uji warna waktu penyangraian 25 menit menggunakan suhu 300̊C minyak berwarna hitam. Uji pH  yang paling bagus pada saat menggunakan suhu 300̊C waktu penyangraian 25 menit hasil yang didapat 5,3. % yield  yang paling banyak didapatkan dari hasil penelitian menggunakan suhu 300̊C waktu penyangraian 25 menit sebanyak 29,8%. Hasil analisa GCMS menunjukkan bahwa Kandungan yang terdapat pada sampel hasil analisa GCMS ada asam palmitat sebanyak 3,09%, asam linoleat sebanyak 31,12%, asam linolenat sebanyak 20,84%, asam oleat sebanyak 34,95% dan asam margarin sebanyak 5,51%. Maka penelitian ini menunjukkan mampu menumbuhkan rambut pada kulit kepala manusia dan mampu menumbuhkan bulu.
PEMANFAATAN BUAH BELIMBING WULUH (Averhoa blimbi.L) SEBAGAI PENGAWET DALAM PEMBUATAN SAUS SAMBAL R.A Nita Rosalinda Muttaqin; Dr. Suryati ST MT; Dr. Masrulita S.Si MT; Novi Sylvia; Meriatna Meriatna
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 1, No 2 (2021): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Oktober 2021
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v1i2.5054

Abstract

Saus adalah gabungan dari beberapa bahan yang diolah baik dari bahan utama maupun bahan tambahan lainnya yang dicampurkan, Sehingga didapatkan nya sebuah poduk dalam berbentuk cairan yang kental, bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan saus sambal antara lain cabe merah segar, bawang putih, garam, tomat, gula, asam cuka, air dan bahan pengental seperti tepung maizena. Sedangkan bahan tambahan lain yang digunakan sebagai bahan pembantu dalam pembuatan saus sambal ini yaitu: belimbing wuluh sebagai pengawet alami, labu kuning sebagai bahan yang meningkatkan volume dari hasil olahan saus, wortel sebagai pewarna dalam kategori alami, dan Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan, dalam pembuatan saus sambal, buah belimbing wuluh yang dipakai ada dua jenis yaitu buah belimbing wuluh yang masih segar dan buah belimbing wuluh yang sudah dijemur atau dikeringkan (belimbing wuluh kering). Untuk mengetahui pengaruh penambahan buah belimbing wuluh dan berapa lama umur daya simpan saus sambal tersebut, maka diperlukan analisa kadar air, analisa derajat keasaman (pH), analisa viskositas, analisa jamur (angka kapang dan khamir) dan analisa bakteri (angka lempeng total). Jenis pengawet yang memliki kandungan kadar air terbaik terdapat pada buah belimbing wuluh segar dengan massa 80 gram sebesar 49,87%. Jumlah derajat keasaman (pH) terbaik terdapat pada buah belimbing wuluh segar dengan massa 80 gram yakni 3,21. Perlakuan terbaik pada analisa angka kapang dan khamir yakni pada buah belimbing wuluh kering dengan massa 80 gram yaitu sebanyak 1 koloni/gr
EKSTRAKSI OLEORESIN DARI AMPAS JAHE (ZINGIBER OFFICINALE ROSC) LIMBAH PENGOLAHAN JAHE DENGAN METODE EKSTRAKSI PADAT-CAIR (LEACHING) Khoirunnisa Al Fadhilah Ritonga; Muhammad Muhammad; Masrullita Masrullita; Syamsul Bahri; Azhari Azhari
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 1 (2022): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Mei 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i1.6391

Abstract

Oleoresin merupakan salah satu produk hasil ekstraksi rempah-rempah yang digunakan untuk bahan perasa karena lebih mudah penggunaannya. Oleoresin jahe yang dikenal dengan gingerol diperoleh dari hasil ekstraksi jahe menggunakan pelarut yang memiliki sifat-sifat tertentu dan tidak beracun bagi makanan. Pemanfaatan ampas pengolahan jahe sebagai bahan baku penelitian pembuatan oleoresin jahe menggunakan pelarut etanol dan aseton dengan variasi volume pelarut, suhu dan ukuran ampas jahe dengan metode ekstraksi pada-cair (Leaching). Ampas jahe dilakukan pengeringan dan pengecilan ukuran menjadi mesh 50 dan mesh 80, lalu diekstraksi persampel dengan variabel bebas variasi suhu 35⁰C, 45⁰C dan 55⁰C, dan volume pelarut 300 ml, 400ml, dan 500 ml menggunakan pelarut etanol dan aseton. Adapun variabel tetapnya berupa massa tiap sampel yaitu 100gr, waktu ekstraksi selama 3 jam dengan kecepatan pengadukan 150 rpm. Dari penelitian didapatkan kondisi terbaik untuk menghasilkan rendemen, densitas oleoresin dari ekstraksi ampas jahe yaitu pada kondisi suhu ekstraksi 55⁰C, volume 500ml dan mesh 50 menggunakan pelarut etanol dengan rendemen 21%, densitas 0,838 gr/cm³ dan indeks bias 1,496535. Sedangkan, esktrasi menggunakan pelarut aseton dengan perlakuan yang sama didapatkan rendemen 5,3%, densitas 0,826 gr/cm³ dan indeks bias 1,407505.
Pengambilan Zat Betasianin Dari Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) sebagai pewarna makanan alami dengan metode esktraksi Cut Sisin Mehita; Ishak Ishak; Syamsul Bahri; Masrullita Masrullita; Rizka Nurlaila
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 1, No 2 (2021): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Oktober 2021
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v1i2.4910

Abstract

Betasianin adalah pigmen berwarna merah-violet dan kuning-orange yang banyak terkandung pada buah, bunga, dan jaringan vegetatif. Betalain adalah pigmen kelompok alkaloid yang larut air, pigmen bernitrogen , dan merupakan pengganti  anthocyanin  pada setiap  bagian  besar  family  tanaman  ordo  Caryophyllales, termasuk Amaranthaceae, dan bersifat mutual eksklusif dengan pigmen antosianin. Waktu ekstraksi dan suhu ekstraksi sangat mempengaruhi pH, kadar air, intensitas warna dan masa penyimpanan zat warna. Semakin tinggi waktu ekstrak dan semakin rendah suhu nya maka semakin tinggi intensitas warna yang dihasilkan. Suhu ekstraksi lebih dari 50ᵒC menyebabkan penurunan intensitas warna, hal ini disebabkan karena zat betasianin tidak mampu bertahan atau rusak pada suhu tinggi. Kualitas zat warna betasianinnya tidak pengaruh dengan meningkatnya kadar air yang dihasilkan oleh suhu yang rendah. Akan tetapi masa ketahanan zat pewarnanya saja yang tidak bisa bertahan dalam jangka yang panjang. Didapatkan intensitas warna terbaik pada suhu 40ᵒC dalam waktu perebusan selama 3 jam. Dengan pH 5,1, nilai absorbansi 1,725, kadar air 30,9, dan masa penyimpanan sampai 5 hari.
PEMBUATAN GLUKOSA DENGAN MEMANFAATKAN LIMBAH BONGGOL JAGUNG Nurdina Hayati; Masrullita Masrullita; Ishak Ishak; Suryati Suryati; Sulhatun Sulhatun
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 1 (2022): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Mei 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i1.6009

Abstract

Jagung adalah salah satu bahan makanan yang sangat potensial dijadikan produksi berbagai makanan. Hasil panennya melimpah di Indonesia, begitu pula dengan limbah bonggol jagung yang dihasilkan. Bonggl jagung merupakan bahan lignoselulosa yang berpotensi tinggi untuk diolah menjadi berbagai produk. Gula sederhana yang dihasilkan dapat dimanfaatkan antara lain untuk bioetanol, asam karboksila tdan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan glukosa dari limbah bonggol jagung. Hidrolisis asam encer dari bonggol jagung untuk produksi glukosa mengalami hambatan karena adanya lignin. Untuk menghilangkan lignin yang terkandung didalam bonggol jagung digunakan proses delignifikasi basa menggunakan larutan NaOH dengan konsentrasi 5%, 10% dan 15% dengan waktu selama 4 jam. Dari penelitian yang telah dilakukan hasil menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH yang optimal untuk pengurangan lignin adalah konsentrasi 15% dengan kadar lignin yang diperoleh yaitu sebesar 5%. Bonggol jagung yang telah didelignifikasi selanjutnya dihidrolisis menggunakan larutan H2SO4dengan konsentrasi 0.75%. Waktu yang digunakan bervariasi yaitu 60 menit, 120 menit, 180 menit dan 240 menit dan suhu yang digunakan yaitu 80oC, 90 oC dan 100oC. Setelah dianalisis kandungan glukosanya menggunakan spectrometer didapatkan glukosatertinggi yaitu sebesar 19% pada suhu 100oC dan pada waktu 240 menit. 
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK BONGGOL NANAS (ENZIM BROMELIN) PADA PEMBUATAN KECAP IKAN DARI IKAN LEMURU (SARDINELLA LEMURU) Reza Dwi Fani; Meriatna Meriatna; Masrullita Masrullita; Suryati Suryati; Agam Muarif
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 2 (2022): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i2.7295

Abstract

Ikan merupakan sumber protein hewani utama, yang kaya akan protein dan mempunyai daya cerna mencapai 80%. Karena sifat fisik ikan cepat mengalami pembusukan, khususnya pada iklim tropis dan kelembapan yang tinggi, maka perlu dilakukan pengawetan dan pengolahan salah satunya adalah dengan mengolah ikan menjadi kecap ikan melalui proses fermentasi, ikan yang digunakan pada penelitian ini adalah ikan lemuru, Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh waktu fermentasi dan pengaruh lama fermentasi terhadap kadar protein, kadar air, dan pH. Pada penelitian ini proses hidrolisis dilakukan dengan menambahkan ektrak bonggol nanas (Enzim Bromelin) kedalam daging ikan yang sudah dihaluskan, dengan kosentrasi ekstrak bonggol nanas 5%, 10%, 15%, dan 20% , dan waktu fermentasi selama 1, 3, 5, dan 7 hari. Analisis dilakukan terhadap produk kecap ikan yang meliputi uji kadar protein, kadar air dan pH. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kecap ikan secara optimum dapat diproduksi dari ikan lemuru dengan ekstrak bonggol nanas (Enzim Bromelin) sebanyak 20% dan waktu fermentasi 7 hari.
PENGARUH LAMA WAKTU FERMENTASI TERHADAP KADAR BIOETANOL DARI PATI UBI JALAR UNGU (Ipomea batata L) Mauleny Gustina; Jalaluddin Jalaluddin; Nasrul ZA; Syamsul Bahri; Masrullita .
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 2 (2022): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i2.6604

Abstract

Bioetanol merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari pengolahan tumbuhan) disamping Biodiesel. Bioetanol adalah etanol yang dihasilkan dari fermentasi glukosa (gula) yang dilanjutkan dengan proses destilasi. Ubi jalar yang berwarna ungu merupakan salah satu yang karbohidratnya tinggi, sehingga dapat dijadikan salah satu bahan baku alternative bioetanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar etanol ubi jalar ungu melalui fermentasi dengan menggunakan ragi roti dengan variasi waktu 4, 5 dan 6 hari pada suhu kamar. Hasil penelitian menunjukkan kadar glukosa yang berasal dari proses hidrolisis menggunakan asam HCl 7% dengan kadar etanoltinggi yang optimum diperoleh melalui fermentasi penggunaan ragi Saccharomyces cerevisiae sebesar 30% diperoleh yield sebesar 54.1% pada hari ke 5 urea 5 gram dengan waktu distilasi selama 2 jam pada suhu 90 oC. Hal ini disebabkan karena perbedaan hari dan urea yang berbeda yaitu hari ke 4, 5 dan 6 dan pada urea 3 gram, 4 gram dan 5 gram. Dimana semakin tinggi urea maka kadar etanol semakin tinggi, dan dimana semakin lama fermentasi semakin tinggi kadar etanol, namun setelah hari ke 5 akan terjadi penurunan kembali, karena waktu terbaik untuk fermentasi bioetanol adalah 5 hari setelah 5 hari maka akan terjadi penurunan kadar etanol.
PEMBUATAN TAWAS DARI LIMBAH KALENG MINUMAN BEKAS Rati Halimatussakdiyah; Jalaluddin Jalaluddin; Agam Muarif; Masrullita Masrullita; Sulhatun Sulhatun
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 2 (2022): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i2.7437

Abstract

Semua kaleng minuman rata-rata terbuat dari aluminium sehingga sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan dalam pembuatan tawas. Tawas atau alum adalah suatu senyawa aluminium sulfat dengan rumus kimia [Al2(SO4)212H2O].  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kualitas kadar tawas sintesis yang dihasilkan dari limbah   kaleng minuman dan menentukan pengaruh rasio alunimium (Al), kalium hidroksida (KOH) dalam pembuatan tawas. Pada penelitian ini digunakan konsentrasi KOH 10 %, 20%, 30% 40%, 50% dan H2SO4 8M dengan berat sampel 5 gram. Dari penelitian ini diperoleh yield tawas yang paling besar (maksimum) diperoleh pada konsentrasi KOH 30% dengan konsentrasi H2SO4 8M. Yield tawas yang diperoleh oleh tawas dari kaleng lasegar yaitu 88,45%, sedangkan tawas yang dihasilkan dari kaleng redbull yaitu 75,48%. Yield tawas dari kaleng lasegar lebih baik daripada kaleng redbull dikarenakan jumlah yield mendekati 100%. Tawas yang berasal dari kaleng lasegar lebih baik dibandingkan tawas yang berasal dari kaleng redbull dengan kadar alumunium 4,64%. Tawas yang diperoleh berbentuk kristal berwarna putih.
Pembuatan Sabun Mandi Padat Dengan Minyak Nilam Sebagai Anti Septik Agus Salim; Masrullita Masrullita; Eddy Kurniawan; Zainuddin Ginting; Syamsul Bahri
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 4 (2022): Chemical Engineering Journal Storage - Oktober 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i4.6616

Abstract

Minyak kelapa sawit merupakan minyak nabati yang didapat dari buah kelapa sawit yang diolah menjadi sabun karena memiliki kandungan asam lemak jenuh tinggi yang merupakan komponen utama dalam pembuatan sabun mandi padat. Pembuatan sabun mandi padat dapat dilakukan dengan reaksi saponifikasi yaitu reaksi hidrolisa asam lemak dengan alkali (NaOH). Pada penelitian ini variabel yang diukur adalah pengaruh volume minyak kelapa sawit (20,25, 30, dan 35 ml) terhadap kualitas sabun mandi padat dengan penambahan minyak nilam. Kemudian di karakterisasi untuk mengetahui persen asam lemak bebas, kadar air, fraksi tak tersabunkan, pH, dan uji organoleptik sesuai dengan standar SNI. Dari hasil pengujian ternyata sabun dengan volume minyak kelapa sawit 20 ml dengan penambahan minyak nilam 3 ml memenuhi standar SNI yaitu asam lemak bebas 0,49%, kadar air 19.6%, pH 9,75