Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Deteksi Dini Penyakit Arteri Perifer pada Pasien Diabetes Melitus di Kota Mataram Yanna Indrayana; Herpan Syafii Harahap; Ilsa Hunaifi
Jurnal Gema Ngabdi Vol. 2 No. 3 (2020): Jurnal Gema Ngabdi
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jgn.v2i3.118

Abstract

Diabetes mellitus is currently becoming a major public health problem in the world. The prevalence of diabetes mellitus globally in 2019 is estimated at 9.3% and will increase to 10.9% in 2040. Peripheral artery disease is one of the important complications of diabetes mellitus. Patients with diabetes mellitus accompanied by peripheral artery disease have high morbidity and. Therefore, early detection of peripheral artery disease in diabetic patients is important. This event is carried out with the aim of early detection of peripheral artery disease in diabetes mellitus sufferers in Mataram. A total of 183 diabetes mellitus patients at the Siti Hajar Hospital, Mataram, were participated in this event, with an average age of 57 years and 67.8% of them were women. Most of the patients (75.4%) had poor blood glucose control. Of these, 26.8% of patients had peripheral artery disease. Patients and/or caregivers showed high enthusiasm during the education regarding the detection results of the peripheral artery disease. This event was very useful in increasing the knowledge of diabetic patients, especially in terms of blood sugar control, prevention, and management of peripheral artery disease.
Deteksi Dini Penurunan Status Fungsi Kognitif dan Edukasi Terkait Upaya Pencegahannya pada Pasien Stroke Iskemik di Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram Herpan Syafii Harahap; Yanna Indrayana; Hendra Susana Putra; Indah Retnowati; Asriningrum Asriningrum; Christabella Natalia Wijaya; Qisthinadia Hazhiyah Setiadi; Silmina Alifiya; Fatarosdiana Fatarosdiana
Jurnal Gema Ngabdi Vol. 3 No. 1 (2021): Jurnal Gema Ngabdi
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jgn.v3i1.123

Abstract

Penurunan fungsi kognitif merupakan salah satu komplikasi penting dari stroke, terutama pada stroke iskemik. Prevalensi penurunan kognitif pada pasien stroke iskemik sendiri saat ini diatas 70%. Deteksi dini terhadap penurunan fungsi kognitif terkait stroke iskemik dan faktor-faktor yang menyertainya dapat memberikan luaran klinis yang baik pada pasiennya. Dengan demikian, kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang ditujukan untuk deteksi dini penurunan kognitif pada pasien stroke iskemik dan edukasi terkait upaya pencegahannya sangat penting untuk dilakukan. Sebanyak 51 pasien stroke iskemik dewan waktu awitan stroke iskemik 3 bulan pertama yang datang ke Poliklinik Saraf RSI Siti Hajar Mataram mampu menyelesaikan partisipasinya secara penuh dalam kegiatan ini. Sebagian besar pasien memiliki rerata usia 54 tahun, sebagian besar laki-laki, memiliki pendidikan SMA, awitan stroke dalam 4 minggu pertama, dan memiliki hipertensi dan dislipidemia. Karakteristik pasien yang berhubungan secara signifikan dengan frekuensi terjadinya penurunan fungsi kognitif terkait stroke iskemik antara lain usia pasien, hipertensi, dan atrial fibrilasi (p<0.05). Seluruh pasien dan anggota keluarga penyerta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Kegiatan deteksi dini penurunan fungsi kognitif ini sangat bermanfaat bagi pasien stroke iskemik dan edukasi yang diberikan bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan mereka terkait langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penurunan fungsi kognitif terkait stroke iskemik.
Pemeriksaan Elektroensefalografi dan Edukasi Kontrol Bangkitan pada Pasien Epilepsi di Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Herpan Syafii Harahap; Muhammad Ghalvan Sahidu; Ilsa Hunaifi; Yanna Indrayana; Enny Ratna Indriyani; Mega Adwiatin; Rosmalasari Rosmalasari
Jurnal Gema Ngabdi Vol. 3 No. 2 (2021): JURNAL GEMA NGABDI
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jgn.v3i2.137

Abstract

Epilepsi merupakan salah satu penyakit dibidang neurologi dengan prevalensi yang tinggi. Pasien epilepsi merupakan merupakan pengunjung terbanyak di poli saraf Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit epilepsi menimbulkan beban sosial dan ekonomi bagi pasien dan keluarganya. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) untuk konfirmasi diagnosis dan menentukan lokasi lesi pada pasien rawat jalan epilepsi di RSJ Mutiara Sukma dan memberikan edukasi kepada mereka mengenai upaya mencapai kontrol bangkitan yang baik. Sebanyak 59 pasien epilepsi di RSJ Mutiara Sukma turut berpatisipasi dalam kegiatan ini, dengan karakteristik sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, berusia lebih dari 20 tahun, dan memiliki tingkat pendidikan rendah (sekolah dasar). Sekitar 40,7% dari jumlah tersebut menunjukkan hasil abnormal pada pemeriksaan EEG dengan lokasi terbanyak di lobus temporal. Seluruh pasien epilepsi dan anggota keluarga pendampingnya menunjukkan perhatian yang tinggi terhadap seluruh rangkaian kegiatan ini, termasuk pada sesi edukasi. Kegiatan ini memberikan manfaat yang besar bagi pasien dan keluarga pengasuhnya. Perlu dilakukan evaluasi secara berkala terkait jumlah pasien epilepsi yang dilakukan pemeriksaan EEG dan yang mencapai kontrol bangkitan epileptik optimal sebagai indikator penting dari keberhasilan kegiatan ini.
Deteksi Dini dan Edukasi Pentingnya Penatalaksanaan Depresi dan Faktor-Faktor Risikonya pada Pasien Stroke Iskemik di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat Herpan Syafii Harahap; Yanna Indrayana; Hendra Susana Putra; Indah Retnowati
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sains Indonesia Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.955 KB) | DOI: 10.29303/jpmsi.v3i1.109

Abstract

Depresi merupakan salah satu komplikasi penting dari stroke iskemik. Prevalensi depresi pada pasien stroke secara global cukup tinggi, yaitu sekitar 55%. Pengabaian kondisi depresi pada pasien stroke akibat rendahnya pemahaman mereka mengenai pentingnya penanganan depresi dan faktor-faktor risikonya akan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas hidup pasiennya. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat yang ditujukan untuk deteksi dini depresi pasca stroke dan edukasi terkait pentingnya penatalaksanaan depresi dan faktor-faktor risiko penyertanya pada pasien stroke iskemik penting untuk dilakukan. Sebanyak 22 pasien stroke iskemik dengan waktu awitan stroke 3 bulan pertama yang datang ke Poli Saraf Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat selama Bulan Agustus 2019 sampai dengan Maret 2020 turut berpartisipasi sebagai subjek dalam kegiatan ini. Frekuensi depresi pada subjek dengan stroke iskemik yang berpartisiapasi dalam kegiatan pengabdian ini cukup tinggi (45%). Sebagian besar subjek memiliki rentang usia produktif, berjenis kelamin laki-laki, memiliki tingkat pendidikan rendah, memiliki lokasi infark pada hemisfer kiri, dan memiliki hipertensi. Seluruh karakteristik demografik dan klinik yang teridentifikasi tidak berhubungan secara signifikan dengan frekuensi kejadian depresi pasca stroke (p<0.05). Seluruh subjek dan anggota keluarga yang mendampinginya menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam kegiatan ini. Kegiatan deteksi dini depresi ini sangat bermanfaat bagi subjek dan edukasi terkait pentingnya penatalaksanaan depresi dan faktor-faktor risikonya ini bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan mereka terkait tindak lanjut yang harus dilakukan untuk mencegah atau mengatasi depresi pasca stroke.
Tingginya Risiko Penyakit Kardiovaskular Pada Populasi Dengan Risiko Tinggi Obstructive Sleep Apnea Berdasarkan Kuesioner STOP-Bang yanna indrayana; herpan syafii harahap; rina lestari
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol 39 No 3 (2018): Indonesian Journal of Cardiology: July-September 2018
Publisher : The Indonesian Heart Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30701/ijc.v39i3.683

Abstract

Latar belakang:Obstructive sleep apneu (OSA) merupakan gangguan pernafasan saat tidur (sleep-disordered breathing) yang paling tinggi prevalensinya. OSA secara independen berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular seperti gagal jantung dan penyakit arteri koroner begitu juga prediabetes dan diabetes. Penelitian yang menghubungkan risiko OSA yang dinilai menggunakan kuesioner STOP-Bang dengan risiko penyakit kardiovaskular belum pernah dikerjakan di Indonesia. Metode Penelitian : Penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross-sectional, dilakukanpada 62 orang penduduk di kota Mataram dengan rentang umur 40-74 tahun. Penilaian risiko terjadinya OSA dilakukan dengan menghitung skor total dari kuesioner menurut STOP-Bang. Individu memiliki risiko tinggi OSA jika memiliki skor total ?3. Penilaian risiko penyakit kardiovaskular dihitung menggunakan skor risiko Framingham yang selanjutnya dikonversikan menjadi persentase yang menggambarkan probabilitas penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun kedepan. Hasil Penelitian : Sebanyak 38 orang (61,29%) subyek penelitian memiliki risiko rendah dan 24 orang (38,71%) memiliki risiko tinggi untuk mengalami OSA. Persentase risiko penyakit kardiovaskular secara signifikan lebih tinggi pada kelompok risiko tinggi OSA dibandingkan dengan risiko rendah OSA (p=0,007). Selain itu didapatkan juga pada kelompok risiko tinggi OSA lebih banyak berjenis kelamin laki-laki (p=0,001), memiliki lingkar leher lebih besar (p=0,001), lingkar pinggang lebih besar (p=0,036), hipertensi lebih banyak (p=0,001) dan kadar gula darah puasa yang lebih tinggi (p=0,025). Kesimpulan : Jumlah subyek penelitian yang terdeteksi memiliki risiko tinggi OSA berdasarkan skrining sederhana menggunakan kuesioner STOP-Bang cukup besar. Dalam penelitian ini, risiko penyakit kardiovaskular secara signifikan lebih tinggipada kelompok risiko tinggi OSA.
EDUKASI KEJANG, PSEUDO KEJANG DAN PREPARASI OBAT KEJANG PADA TENAGA KESEHATAN RUMAH SAKIT UNIVERSITAS MATARAM Ilsa Hunaifi; Herpan Syafii Harahap; Muhammad Ghalvan Sahidu; Dewi Suryani; Yanna Indrayana; Ni Made Amelia Ratnata Dewi; Ika Nur Fitria
Jurnal Abdi Insani Vol 8 No 3 (2021): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v8i3.433

Abstract

Kejang adalah aktivitas listrik yang abnormal serta tidak sinkron di otak dan studi menunjukkan bahwa sekitar 8-10 % populasi akan mengalami bangkitan dalam masa hidupnya. Sebaliknya, terdapat gangguan yang menyerupai kejang yang dinamakan Psychogenic Non Epileptic Seizure (PNES) yang karakteristiknya menyerupai epilepsi. Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit harus mampu membedakan keduanya. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan dalam mengenali kejang, pseudo kejang dan preparasi obat kejang dengan baik dan benar. Edukasi menggunakan metode penyuluhan dengan menampilkan gambar dan video epilepsi dan PNES yang diikuti dengan materi preparasi obat kejang. Pre dan Post test dengan menggunakan aplikasi Kahoot digunakan untuk evaluasi pemahaman peserta. Evaluasi penyelenggaraan seminar menggunakan google form. Sebanyak 24 orang tenaga kesehatan ikut serta dalam kegiatan ini. Rerata pre dan post test masing-masing 43.6 dan 68.78 poin dengan peningkatan sebesar 25.18. Rerata nilai kepuasan peserta tergolong baik terhadap penyelenggaraan kegiatan yaitu 4,77 (dari skala likert 0-5). Aspek penyelenggaraan yang mendapatkan nilai tertinggi adalah pre dan post test dengan aplikasi kahoot dan penggunaan video untuk membedakan kejang dan pseudo kejang. Edukasi harus diberikan secara luas dan reguler kepada semua tenaga kesehatan di rumah sakit untuk meningkatkan pengetahuan terhadap kejang dan pseudo kejang
The effect of the onset of seizure on clock drawing test score of epilepsy patients Baiq Kania Kartika Yaksa; Herpan Syafii Harahap; Emmy Amalia; Yanna Indrayana
JKKI : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia JKKI, Vol 9, No 2, (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JKKI.Vol9.Iss2.art6

Abstract

Background: Epilepsy is one of the causing factors of cognitive impairment which affects the patient’s quality of life. The most critical risk factor for cognitive impairment in epilepsy patients is the onset of seizure. Performing detection of cognitive impairment in those patients is crucial. Clock Drawing Test (CDT) is a validated instrument for the detection of cognitive impairment in epilepsy patients.Objective: This study was aimed to investigate the effect of the onset of seizure on CDT score in epilepsy patients.Methods: This study was a cross-sectional study involving 64 epilepsy patients of Mutiara Sukma Mental Hospital, West Nusa Tenggara, who met the inclusion but not exclusion criteria. The clinical and demographic characteristics data collected in this study were age, gender, type of seizure, etiology, length of education, duration of treatment, and antiepileptic drugs (AED). Cognitive function evaluation has been done by using the CDT instrument. Analysis of the effect of the beginning of seizure on CDT score was carried out by observing the influence of the clinical and demographic characteristics data.Results: There was a significant difference between the onset of seizure on CDT score (p<0.05). There were significant differences in aetiology and age in both groups of onsets of the seizure (p <0.05), but not in the characteristics of gender, type of seizure, level of education, duration of treatment and AED in both groups of onsets of the seizure (p>0.05).Conclusion: The onset of the seizure in epilepsy patients affect CDT score. This effect might be attributed to etiology and age of epilepsy patients.
Perbandingan Hasil Clock Drawing Test Pasien Epilepsi dengan Terapi Karbamazepin dan Fenitoin di Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Astrid Claudya; Herpan Syai Harahap; Emmy Amalia; Yanna Indrayana
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i5.781

Abstract

Latar Belakang: Obat antiepilepsi (OAE) dapat menurunkan fungsi kognitif penderita epilepsi. Efek samping OAE terhadap fungsi kognitif dapat dievaluasi dengan menggunakan instrumen clock drawing test (CDT). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pemeriksaan CDT pada pasien epilepsi pengguna OAE karbamazepin dan fenitoin. Metode: Penelitian analitik komparatif observasional dengan pendekatan potong lintang. Populasi adalah 42 pasien epilepsi dengan usia >14 tahun di RSJ Mutiara Sukma. Data karakteristik pasien diuji dengan kai kuadrat, data komparasi tes CDT kedua jenis pengobatan dianalisis menggunakan uji Mann Whitney. Hasil: Dari 42 subjek penelitian, 62% menggunakan karbamazepin dan 38% menggunakan fenitoin. Tidak terdapat perbedaan bermakna jenis kelamin, usia, etiologi, tipe bangkitan, dan onset bangkitan (p>0,05), terdapat perbedaan bermakna pada pendidikan terakhir dan lama penggunaan obat (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna skor CDT pada pasien epilepsi pengguna karbamazepin dan fenitoin (p=0,284). Simpulan: Skor CDT pasien epilepsi pengguna karbamazepin dan fenitoin di RSJ Mutiara Sukma tidak berbeda bermakna.   Background: Antiepilepsy drug (AED) can decrease cognitive function in epileptic patient. The effect of AED on cognitive function can be evaluated with clock drawing test (CDT). This study is to compare CDT score of epileptic patients on carbamazepine and phenytoin therapy. Method: A cross-sectional comparative analytic observational study on 42 epileptic patients aged >14 years old in Mutiara Sukma Mental Hospital. Patients characteristic data were analyzed with Chi-sRuare, CDT data were analyzed with Mann 8hitney. Result: Among 42 epileptic patients, 62% were using carbamazepine and 38% were using phenytoin. No significant difference in gender, age, etiology, type of seizure, onset of seizure (p>0.05), and a significant difference in highest education and duration of therapy (p<0,05). Mann-8hitney test showed no difference between CDT score of epileptic patients using carbamazepine and phenytoin (p=0,284). Conclusion: CDT score of epileptic outpatients on carbamazepine and phenytoin therapy at Mutiara Sukma Mental Hospital NTB were not significantly different.
Penyuluhan mengenai Gangguan Kognitif Pasca Stroke di Poliklinik Neurologi Rumah Sakit Universitas Mataram Herpan Syafii Harahap; Ilsa Hunaifi; Muhammad Ghalvan Sahidu; Yanna Indrayana; Fitriannisa Faradina Zubaidi; Silmi Chairan Andi; Putri Nurhayati; Anjely Doni Lasmi; Ni Komang Miraditi; Yudika Ilhami Rusdi; Muhammad Ibnu Annafi; Lillah Faizah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sains Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmsi.v5i1.205

Abstract

Cognitive impairment is one of the important complications of stroke with a high prevalence. If not detected and managed properly, this cognitive disorder can worsen into post-stroke severe cognitive impairment (vascular dementia) with social and economic impacts on the family. This community service activity aims to increase public understanding of the importance of recognizing memory loss in stroke patients. This activity is carried out in the form of counseling at the Neurology Polyclinic at UNRAM Hospital once a week for a period of 3 weeks involving visitors to the Neurology Polyclinic at UNRAM Hospital, both outpatients and their caregivers. The participants were asked to take part in a whole series of activities which included pre-test, counseling, discussion, and post-test. The number of participants who took part in this counseling activity were 36 subjects. The participants' relatively high interest in participating in this activity can be seen from the documentation of the entire series of activities and the significant increase in the post-test mean score compared to the pre-test average score at the statistical analysis stage (p <0.05). This activity showed high effectiveness in increasing participants' understanding of memory loss in stroke patients.
Edukasi tentang Penyakit Myastenia Gravis pada Pengunjung Poliklinik Neurologi Rumah Sakit Universitas Mataram Herpan Syafii Harahap; Ilsa Hunaifi; Muhammad Ghalvan Sahidu; Yanna Indrayana; Susilawati Ni Nyoman Ayu; Diayanti Tenti Lestari; Fitriannisa Faradina Zubaidi; Nurhidayati Nurhidayati; Legis Ocktaviana Saputri
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sains Indonesia Vol. 4 No. (1) (2022)
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Myasthenia gravis is one of the most common autoimmune diseases at the neuromuscular junction. Although this disease is rare, the incidence of this disease is believed to have increased in the last seven decades. This community service activity aims to provide education to the public regarding myasthenia gravis. This community service activity was carried out in the form of counseling at the Neurology Polyclinic of UNRAM Hospital on Friday, January 20 2023. All participants were asked to take part in all counseling activities which consisted of pre-test activities, delivery of material on the topic of myasthenia gravis, and post-test. The enthusiasm of the participants in this activity was presented in the form of photo documentation. Statistical analysis using paired t-test was carried out to analyze the difference between the pre-test and post-test mean values ​​and the results were considered significant if a p value <0.05 was obtained. As many as 23 participants who attended the Neurology Polyclinic at UNRAM Hospital enthusiastically participated in the whole series of activities. The average participant post-test score was significantly higher than the pre-test means score (p = 0.025). This activity was able to increase the participants' knowledge about myasthenia gravis.