Yohanes Kartika Herdiyanto
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Hubungan intensitas menonton film porno terhadap maskulinitas remaja laki-laki di Bali Ryoningrat, Ratih; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 6 No 01 (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.172 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2019.v06.i01.p02

Abstract

Masa remaja sebagai periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Remaja ingin mengetahui banyak hal serta ingin selalu mencoba berbagai hal baru dan ingin mengetahui berbagai informasi tentang seksualitas, karena berhubungan dengan perubahan dan perkembangan aspek fisiologis yang dialaminya. Oleh karena itu, pada masa ini, remaja mulai tertarik untuk mengeksplorasi pengetahuan tentang seksualitas dari berbagai macam sumber, termasuk mengaksesnya dari pornografi salah satunya film porno karena dianggap lebih membangkitkan gairah seksual remaja. Selain itu film porno juga memengaruhi konsep “maskulinitas” ketika remaja ingin menunjukkan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya dan ingin di akui oleh teman sebayanya. Maskulinitas adalah peran gender, kedudukan, perilaku, dan bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki yang dihubungkan dengan kualitas seksual kemudian dibentuk oleh kebudayaan (Barker, 2001). Maskulinitas yang tinggi juga ditemukan pada budaya yang menganut garis keturunan patrilineal yang mengganggap posisi laki-laki lebih dominan dibandingkan perempuan dalam segala hal. Darwin (2001) mengemukakan bahwa timbulnya “maskulinitas yang tinggi” pada budaya patriarki karena adanya anggapan bahwa laki-laki menjadi sejati jika berhasil menunjukkan kekuasaannya atas perempuan. Berdasarkan pemaparan diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan intensitas menonton film porno terhadap maskulinitas remaja laki-laki di Bali Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan subjek sejumlah 243 remaja laki-laki pada rentang usia 15-18 tahun dan tengah menempuh pendidikan di SMAN Bali yang dipilih dengan menggunakan teknik probability sampling yaitu cluster sampling. Instrumen penelitian ada dua, yaitu skala intensitas menonton film porno (r= 0,925) dan skala sifat maskulinitas (r= 0.882). Metode analisis data menggunakan korelasi product moment dengan hasil signifikansi sebesar 0,136 (p>0,05), sehingga kesimpulan penelitian ini yaitu tidak terdapat hubungan intensitas menonton film porno terhadap maskulinitas remaja laki-laki di Bali. Kata kunci: Intensitas menonton film porno, maskulinitas, remaja Bali.
Penerapan Kearifan Lokal Masyarakat Bali yang dapat Mengurangi Stigma terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa Pramana, Ida Bagus Gde Agung Yoga; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.23 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p01

Abstract

Hasil riset kesehatan dasar pada tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi kasus gangguan jiwa dengan tipe skizofrenia di Indonesia sebesar 1,7 per seribu jumlah penduduk dan untuk prevalensi kasus gangguan jiwa tipe skizofrenia di Bali adalah sebesar 2,3 per seribu jumlah penduduk. Sebagian masyarakat Indonesia memandang gangguan jiwa dengan sudut pandang negatif atau yang biasa disebut dengan stigma. Stigma adalah bentuk prasangka yang mendeskreditkan atau menolak seseorang maupun kelompok karena individu atau kelompok yang ditolak tersebut dianggap berbeda dengan diri kita atau kebanyakan orang. Bali yang dikenal sebagai pulau yang sarat akan budaya dan memiliki kearifan lokal yang mengikat masyarakatnya. Kearifan lokal atau yang dikenal dengan istilah kearifan tradisional merupakan semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, dan wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntut perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Berbagai nilai atau kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Bali seharusnya mampu menekan stigma yang diterima oleh ODGJ di Bali karena nilai atau kearifan lokal tersebut secara langsung mengajarkan individu untuk berperilaku saling menghargai, peduli, dan menjaga keharmonisan satu sama lain, namun pada kenyataannya ODGJ di Bali masih mendapatkan stigma negatif dari lingkungan sekitar. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini difokuskan untuk membahas penerapan kearifan lokal masyarakat Bali yang dapat menurunkan stigma terhadap ODGJ. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi pada total tujuh responden masyarakat Bali dengan dua kategori yaitu masyarakat umum berjumlah empat responden dan tokoh agama berjumlah tiga responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat empat konsep kearifan lokal masyarakat Bali yang dapat menurunkan stigma terhadap ODGJ yaitu tat twam asi, karma phala, tri kaya parisudha dan tri pramana. Temuan lainnya menunjukkan bahwa selain dapat menurunkan stigma, konsep karma phala ternyata dapat mendorong terbentuknya stigma masyarakat Bali terhadap ODGJ. Kata kunci: Kearifan lokal, stigma, ODGJ, masyarakat Bali.
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana Fitrianti, Eka Indah; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.433 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i02.p13

Abstract

Every human being has a unique meaning of life, as well as individuals with schizotypal disorder. One characteristic of schizotypal patients is the distortion of mind that leads to something mystical (Halgin & Whitbourne, 2009), in this case it includes the ability to perform telepathy, know events in the past and future, as well as super abilities more similar to the characteristics of indigo people. The term children with special abilities includes the ability to perform telepathy, know events in the past and future, as well as super abilities more similar to the characteristics of indigo people. The term children with special abilities includes special and gifted children, such as genius children, gifted children, talented children, as well as indigo children who have a sixth sense or supernatural capability (Sunartini, 2009). Indigo people are also believed to have a purpose of life that is different from ordinary people generally. It leads to Frankl’s theory which states that purpose of life is part of the meaning of life (Bastaman, 2007). Therefore, researchers consider that the uniqueness of the meaning of life of indigo people and its association with the concept of self and distorted thinking on people with schizotypal disorder is important to investigate more deeply.This study used a type of qualitative research with case study approach. The study involved one respondent along with the support of informants. Data collection was done through observation, interviews, and the use of relevant documents. The results of the study were able to explain the meaning of the respondents’ lives tied to the aspects of meaningfulness of life assessment, the factors that affect the meaningfulness of life, factors of meaning formation, and the meaning of life deformation processes. Other findings were the respondents’ self-concepts and abnormalities which then lead to a result which indicates that the relationship between the meaning of life, self-concept, and abnormalities.Keywords: indigo, the meaning of life, self-concept, schizotypal disorder.
Hubungan Antara Rasa Komunitas dengan Motivasi Kerja Pengurus Subak Prayoga, Yande; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.313 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2014.v01.i02.p16

Abstract

Subak is a traditional organization of irrigation that have been known as one of the world heritages. However, it recognition should be done with the way to accomplish real problems that happened in itself, which supposed to have particular concerns. One thing that could be done is increasing the sense of community among subak's committee so that they will have job motivation to run subak. Based on that fact, the aim of this study is to know the relationship between sense of community with job motivation among subak's committee.   Methods used in this study was quantitative research methods with product-moment correlation to do data analysis. The subjects were choosen with cluster sampling technique for the total number of 58 subjects. The measurements used were sense of community modified scales from McMillan and Chavis (1986) with 34 items (cronbach's alpha is 0,898 and validity coefficient ranged from 0,314-0,637) and job motivation modified scales from Dewi (2008) with 27 items (cronbach's alpha is 0,885 and validity coefficient ranged from 0,308-0,617).   The result of this study indicates that the correlation values of sense of community and job motivation is 0,696 with 0,00 probability (p<0,05). It explained that Ho rejected and Ha accepted. Those values indicates that there are positive and significant relationship between sense of community and job motivation of subak's comittee. In addition, determinant coefficient result is 0,484 that pointed the relative contribution among sense of community with job motivation is 48,4%. This result is similiar with the theory from Hughey, et.al. (1999) which reveals that sense of community will encouraged maningful results for organization.   Keywords: sense of community, job motivation, work motivation and subak’s committee
DINAMIKA MOTIVASI KERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL WANITA TERKAIT STATUS PERNIKAHAN Putra, I P Sonny Mandala; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.096 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i02.p18

Abstract

The phenomenon of working woman is a common thing in life. Data from Central Statistic Department (BPS) stated that around 47.91 of the productive worker are women population and relatively balanced with men population which describes women could have the same opportunity with men for work. Civil servant is one of the most occupations that intensively hiring for worker especially in Bali (BPS, 2012). It is an interesting phenomenon to know the working motivation of civil servant whom hired a lot of worker related into marriage status. This explanation were supported by the preliminary finding on preliminary study that shows there are differences working motivation between civil servant who were married and unmarried.This study used qualitative research method with case study design. Collecting data use interview and observation. Respondents in this study were four civil servant women which consist of two unmarried and married respondents. To strengthen data, interview were also conducted with significant others of respondents.The results showed that working motivation on civil servant women can be drawn from: (1) the reason for choosing job is both internal and external; (2) working purpose is goal of independence, self-exploration, economics, and recognition or existence; and (3) income issues for their future. Difference in the use of income is affected by marriage system related to patrilineal system of inheritance law regarding women status in law. Based on three findings and analysis of cultural studies, found that between married and unmarried respondents have differences related needs of motivation.Keywords: work motivation, female civil servants, marital status
Dukungan Sosial Keluarga terhadap Pemulihan Orang dengan Skizofrenia (ODS) di Bali Eni, Kadek Yah; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.755 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p04

Abstract

Proses pemulihan orang dengan skizofrenia (ODS) tidak terlepas dari peran keluarga. Keluarga merupakan bagian yang penting dalam proses pengobatan ODS. Dukungan keluarga sangat diperlukan oleh ODS dalam memotivasi selama perawatan dan pengobatan. Di sisi lain, terdapat tindakan-tindakan yang dilakukan oleh keluarga yang dapat menghambat pemulihan ODS, seperti penelantaran, pengucilan dan pemasungan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan dukungan sosial keluarga pada orang dengan skizofrenia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data melalui wawancara semi tersruktur, wawancara kelompok dan observasi. Subyek penelitian ini adalah 32 responden yang merupakan keluarga ODS dan 10 significant others yang merupakan ODS dan keluarga besar. Data dianalisis dengan theoretical coding yang terdiri dari open, axial, dan selective coding. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan sosial keluarga kepada ODS terdiri dari dukungan pendampingan, dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan kelompok atau persahabatan, dan dukungan informasi. Dukungan sosial keluarga memiliki pengaruh kepada keluarga yang meliputi pekerjaan/ aktivitas, emosi dan sosial serta pengaruh terhadap ODS meliputi kemandirian, keterampilan sosial, aktivitas dan emosi. Faktor-faktor yang dapat mendukung keluarga dalam memberikan dukungan sosial kepada ODS dan berperan dalam pemulihan ODS, antara lain strategi koping keluarga, motivasi, dan pengetahuan. Selain dukungan keluarga, terdapat dua faktor utama dalam proses pemulihan ODS, yaitu peran pengobatan dan peran sosial. Kata kunci: Dukungan Sosial, peran pengobatan, peran sosial, keluarga, dan ODS.
GAMBARAN COPING GAY MUSLIM TERKAIT KONFLIK IDENTITAS Faradina, Made Dwi; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.483 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p12

Abstract

Menurut Erickson (dalam Papalia & Old, 2001) identitas diri adalah proses menjadi seseorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup. Terdapat berbagai jenis identitas diri yang terbentuk pada diri seseorang seperti identitas gender, identitas agama, identitas seksual dan masih banyak lagi. Identitas homoseksual dan identitas keagamaan merupakan identitas yang saling bertentangan yang dibuktikan dengan adanya nilai-nilai dalam agama yang menentang keberadaan dari kaum homoseksual sehingga individu yang memiliki kedua jenis identitas tersebut akan mengalami suatu konflik identitas. Untuk dapat mengatasi konflik identitas tersebut kemudian dibutuhkan suatu strategi coping yang tepat dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bagaimana gambaran bentuk coping pada gay Muslim terkait konflik identitas. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang mewawancarai tiga subjek laki-laki yang memiliki orientasi seksual sebagai homoseksual gay dan beragama Islam. Penelitian ini menggunakan analisis theoretical coding. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah jenis coping yang dipilih oleh homoseksual untuk menghadapi konflik identitas adalah dengan menggunakan problem-focused coping dengan strategi playful problem solving dengan mengurangi aktivitas seks bersama pasangan homoseksual. Selain itu homoseksual juga menggunakan jenis emotional-focused coping dengan strategi seeking social support dengan bercerita dan menerima nasehat dari teman, positive repraisal dengan kembali rajin beribadah, self-control dengan mengontrol diri agar tidak terlalu jauh terjerumus ke dalam dunia negatif homoseksual dan accepting responsibility dengan mengakui kesalahan menjadi homoseksual dan bertanggung jawab dengan keputusan menjadi homoseksual. Kata kunci: Gay, konflik identitas, coping.
HUBUNGAN KONFORMITAS DAN HARGA DIRI DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA REMAJA PUTRI DI KOTA DENPASAR Yuliantari, Made Indah; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.942 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i01.p09

Abstract

Female teenager conformity behavior is caused by several factors, which is internal factor and external factor. One of the internal factor that caused female teenager has consumptive behavior is prestige. In the other hand, having a low prestige makes female teenager tense to make friends and join a certain group in accordance to lifting their prestige. There is a conformity factorin a teenager group. That result in one’s behavior which is based on their mate in that group. Because they want have a same norms which is expected with their group (Sarwono, 2002). If they can’t control consumptive behavior, it will give them bad impact such as wasteful, unproductive, a crime where a person will do something. On the other hand teenager is stage where a person tries to find their own identity through their friend of the same age. This will be very much related to conformity and self esteem female teenager consumptive behavior in Denpasar. There is a positive relationship between conformity and female teenager consumptive behavior and also there is a negative relationship between self esteem and female teenager consumptive behavior in Denpasar. This study was used quantitative method. There were 286 female teenager start from 10 and 11 grade student in Denpasar senior high school. They were selected by stratified random technique sampling. The data was obtain by using conformity scale (Reliability alpha 0,901), self esteem scale which was adopted by Wardhani (2009) (Reliability alpha 0,939), and consumptive behavior scale (Reliability alpha 0,900). The result of this study was showed there was a significant relationship between conformity and self esteem female teenager consumptive behavior in Denpasar (R=0,407; r2=0,165), by using multiple regression analysis. Partially there was a positive significant relationship between conformity and teenager consumptive behavior in Denpasar (r= 0,408); and also there was negative significant relationship between self esteem and female consumptive behavior in Denpasar (r= -0,124).   Keyword: Conformity, Self Esteem, Consumptive Behavior.  
DINAMIKA PENERIMAAN DIRI PADA REMAJA BROKEN HOME DI BALI Dewi, Ida Ayu Shintya; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.929 KB)

Abstract

Penerimaan diri merupakan kesadaran dan kemauan individu untuk hidup dengan kekurangan dan kelebihan dalam dirinya. Pada remaja broken home penerimaan diri menjadi hal penting yang harus dimiliki agar remaja mampu menyesuaikan diri dengan realitas yang dihadapi, sehingga dapat menumbuhkan toleransi terhadap peristiwa-peristiwa menyakitkan terkait konflik yang terjadi dalam keluarga. Berbeda dengan remaja pada umumnya, remaja broken home di Bali memiliki permasalahan yang lebih kompleks mengingat remaja Bali tumbuh dalam lingkungan sosial yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat, salah satunya adalah sistem kekerabatan patrilineal. Sistem kekerabatan patrilineal ini menuntut remaja broken home di Bali untuk menyesuaikan diri dengan pihak keluarga purusa (keluarga ayah) agar dapat meneruskan keturunan keluarga, walaupun remaja tidak memiliki kedekatan dengan pihak keluarga purusa. Merujuk dari permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika penerimaan diri pada remaja broken home di Bali. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif tipe fenomenologi dengan responden sejumlah lima remaja Bali yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara individu, wawancara kelompok, dan observasi dengan guideline yang mengacu pada teori penerimaan diri Kubler Ross yang terdiri dari lima tahap yaitu denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance. Adapun hasil dari penelitian ini, diantaranya: pertama adalah penerimaan diri remaja broken home di Bali dominan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yaitu keluarga dan sosial, kedua adalah wujud setiap tahap penerimaan diri berbeda pada setiap fase perkembangan, pada fase anak-anak wujud penerimaan diri dominan berbentuk emosi, pada fase remaja awal wujud penerimaan diri dominan berbentuk perilaku, dan pada fase remaja akhir wujud penerimaan diri dominan berbentuk pikiran, dan yang ketiga penerimaan diri pada remaja broken home di Bali merupakan proses dinamis dan terdapat perbedaan dinamika penerimaan diri antara responden dengan hak asuh patrilineal dan responden dengan hak asuh mandiri. Kata kunci: penerimaan diri, broken home, remaja Bali.
PROSES PENERIMAAN DIRI REMAJA TUNARUNGU BERPRESTASI Evitasari, Ida Ayu Gede Sri; Widiasavitri, Putu Nugrahaeni; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.574 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i02.p03

Abstract

Deaf is a term that used to explained condition of individual who losing or disability to catch audio sensory through their hearing sense (Musyarrafah & Djalal, 2011). This condition contributes to some development aspect of human being, which is, social aspect and emotional aspect. Some of them successfully reconciled with themselves and accept their condition with a lot of great achievement. One of the others factor that drive deaf situation who shows an achievement is family assistance, however, uniquely there is a case in deaf who were not get physical assistance by their family and also can get great achievement. Aritama (2010) told that acceptance in any condition in self is the most basic thing if individual want to success and reconciled with state. Havighurst (in Sarwono, 2013) also adding that accept physical condition is one of the task in adolescence development. According that fact, this study would like to know self-acceptance in deaf adolescent who had achievement without physical assistance by their family.   This study using qualitative method and case study design. Collecting data in this study using interview, observation, and projective test to two deaf adolescence who had achievement without family assistance with different deaf history, that is, congenitally deaf and adventitiously deaf. To strengthened data study, this study used interview and observation to significant other of deaf adolescence.   Result in this study shows that deaf adolescent passing three phases in the process of self-acceptance, which proximal phase, conflict phase and accepting phase. The dynamics in every phase completely will be discussed based to the chronology of the life journey adolescence until they can accept their condition.   Keyword: self-acceptance process, deaf, achievement.