Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENGARUH FORMULASI PENAMBAHAN TEPUNG SUKUN DALAM PEMBUATAN MIE KERING Rizki Amalia; Ak Qoyum Finarifi
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.027 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v3i2.5

Abstract

Program penganekaragaman pangan dari buah sukun dilakukan sebagai salah satu cara untuk memanfaatkan buah sukun yang berlimpah pada musim panen dan mengembangkan produk pangan. Salah satu upaya penganekaragaman sukun yaitu pembuatan tepung sukun sebagai formulasi penambahan dalam proses pembuatan mie kering. Tujuan dari penelitian ini adalah optimasi formulasi penambahan tepung sukun dalam pembuatan mie kering. Analisa terhadap mie kering dilakukan dengan uji organoleptik dan kadar air. Hasil uji organoleptik diolah menggunakan uji ANOVA yang dilanjutkan dengan uji DMRT. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa mie kering perlakuan terbaik adalah 100 g tepung sukun dan 900 g tepung terigu dengan suhu dan waktu pengukusan 80oC selama 30 menit dan rata-rata kadar air 28,2%.Kata Kunci : Sukun, Tepung Sukun, Mie Kering
PENGARUH PENGGUNAAN PEWARNA ALAMI, WAKTU PENGUKUSAN DAN SUHU TERHADAP PEMBUATAN SNACK MIE KERING RAINBOW Rizki Amalia; Hamdan Auli
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 3 No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.129 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v3i1.10

Abstract

Snack mie kering merupakan makanan ringan siap saji yang dikemas dan biasanya menggunakan bahan pewarna untuk menjaga konsistensi warna pada produk mie. Penggunaan pewarna sintetik dapat mengakibatkan efek samping yang menunjukkan sifat karsinogenik, sehingga penggunaan pewarna alami menjadi upaya untuk mencegah penggunaan pewarna sintetik yang berbahaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan pewarna alami terhadap kualitas inderawi snack mie kering rainbow pada aspek warna dan mengetahui pengaruh variasi suhu dan waktu pengukusan terhadap tingkat kesukaan masyarakat pada snack mie kering rainbow. Tahapan pembuatan snack mie kering rainbow terdiri dari tahap pencampuran, pembentukan lembaran, pembentukan mie, pengukusan dan penggorengan. Hasil terbaik untuk kualitas organoleptik pewarna alami diperoleh pada perlakuan 30% dengan skor 8,1 untuk warna hijau (B30), skor 7,4 untuk warna jingga (T30) dan skor 3,6 untuk warna kuning (J30). Pengaruh suhu dan waktu pengukusan terbaik terhadap tingkat kesukaan panelis adalah suhu 800C selama 30 menit pada aspek tekstur, aroma dan rasa sedangkan pada aspek warna pengaruh suhu dan waktu pengukusan terbaik adalah suhu 800C selama 20 menit berdasarkan hasil uji tingkat kesukaan, uji ANOVA dan uji DMRT.Kata kunci : pewarna alami, snack mie kering rainbow
Optimasi Metode Ekstraksi Terhadap Parameter Mutu Ekstrak Daun Ketepeng Cina (Senna alata) Nuryati Nuryati; Raden Rizki Amalia; Nina Hairiyah; Nanis Nurisyah
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol. 10 No. 02 (2023): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jtai.v10i02.183

Abstract

Ketepeng Cina (Cassia alata) is a plant that is widely used to treat various skin problems caused by bacteria or fungi. Various studies have been carried out to obtain optimal extract results such as the influence of the type of drying or solvent used. The optimal extract can be used for applications in making products based on Chinese ketepeng extract such as gel, cream or soap preparations. In this research, optimization of the extraction method will be carried out to obtain extracts with the best parameters in terms of water content, yield and flavonoid values ​​resulting from extraction methods using cold methods (maceration) and hot methods (sochlet and reflux). The research results showed that the optimal extract produced was using the reflux method with a yield value of 23,24%, water content of 4,02%, total ash content of 1,20%, non-acid ash content of 1,04%, and flavonoids of 8,78%.
Model Formulasi dan Pengendalian Mutu Berkelanjutan Food Grade Grease Berbasis Sumber Daya Agroindustri untuk Mendukung Keamanan dan Kehalalan Produk Pangan Nina Hairiyah; Nuryati; Raden Rizki Amalia; Fatimah; Imron Musthofa
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Agroindustri Halal
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v12i1.24111

Abstract

Food safety and halal assurance of food products are influenced not only by the primary food ingredients but also by processing aids, one of which is food grade grease used in food processing equipment. Dependence on imported products and the lack of integration between formulation and process-based quality control highlight the need for the development of a sustainable scientific model based on local agroindustry resources. This study aims to develop a sustainable formulation and quality control model for agroindustry-based food grade grease to support food safety and halal assurance. The study employed a fundamental research approach, with food grade grease as a case study for model development. The research stages included the identification of Critical Quality Characteristics (CQC), selection and physicochemical characterization of agroindustry-based materials, formulation design using Design of Experiment (DOE), and the application of Statistical Quality Control (SQC) to analyze process stability and capability. The results indicate that the developed formulation model successfully identified quantitative relationships between material composition and critical quality parameters, with product quality consistency maintained within statistical control limits. The implementation of SQC demonstrated that the formulation process was stable, with process capability indices (Cp and Cpk) greater than 1.33 for key quality parameters. The integration of formulation and quality control models produced a conceptual framework capable of mapping critical quality points, process variability, and sustainability indicators, including resource-use efficiency and potential agroindustrial waste reduction. The proposed model is expected to serve as a scientific reference for the development and quality supervision of food processing aids that support food safety, halal assurance, and sustainable agroindustry principles.