Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : MATHEdunesa

PROFILE OF STUDENTS’ ANALOGICAL REASONING IN SOLVING MATHEMATICS PROBLEMS: A STUDY BASED ON SELF-REGULATED LEARNING Mar'atus Solehah; Masriyah Masriyah
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.208 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p220-229

Abstract

Analogical reasoning is an important ability for students related to reasoning activities by thinking carefully about the regularity of patterns found in mathematics. One of the factors that influence analogical reasoning is self-regulated learning, which shows the ability of the student to analyze, take strategies, and the ability to control their learning environment. This research aims to describe students’ analogical reasoning in solving mathematics problems based on self-regulated learning. The subjects were one student with low self-regulated learning and one student with high self-regulated learning. The research method used is descriptive qualitative, and data were obtained through analogical problem-solving tests and interviews. Subjects were chosen based on the questionnaire instruments’ categorization regarding the student's self-regulated learning and the mathematical ability test instruments. The results of this study were (1) Analogical reasoning of a student with low self-regulated learning: passed through the stages of structuring, mapping, and applying. At the structuring, the student identified all the information completely, but did not understand the problem correctly and could found the relationship between the source problem and the target problem. At the mapping stage, the mapping process only appears in the student’s mind. At the applying stage, not completely mentioned all the possible solutions to the given problems. Meanwhile, (2) Analogical reasoning of a student with high self-regulated learning passed all the analogical reasoning stages of structuring, mapping, applying, and verifying. At the structuring, the student identified all the information completely and understand the problem. At the mapping stage, the student built a new mathematical model for the target problem. At the applying, the student mentioned all the possible solutions correctly. And student did the verification. Keywords: analogical reasoning, self-regulated learning, problem-solving
PROSES BERPIKIR KRITIS SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF REFLEKTIF DAN IMPULSIF Vebyka Iwala Awaliya; Masriyah Masriyah
MATHEdunesa Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.701 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n1.p70-79

Abstract

Proses berpikir kritis merupakan suatu tahapan yang menggunakan keterampilan berpikir untuk membantu seseorang dalam menciptakan, menilai, dan menarik kesimpulan sesuai dengan keyakinan yang dimiliki meliputi empat tahap yaitu pengenalan (Recognition), analisis (Analysis), evaluasi (Evaluation), dan alternatif penyelesaian (Thinking about alternative). Proses berpikir kritis seseorang dapat dilihat melalui kegiatan pemecahan masalah matematika. Ada beberapa aspek yang memengaruhi proses berpikir kritis seseorang diantaranya adalah adanya perbedaan gaya kognitif. Gaya kognititf yang digunakan adalah gaya kognitif reflektif dan impulsif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan proses berpikir kritis siswa SMA dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari gaya kognitif reflektif dan impulsif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari dua orang siswa kelas X yang memiliki gaya kognitif reflektif dan gaya kognitif impulsif dengan kemampuan matematika setara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa dengan gaya kognitif reflektif melewati 4 tahap proses dari berpikir kritis yaitu Pengenalan, Analisis, Evaluasi, dan Memikirkan Alternatif Penyelesaian. Soal dipecahkan siswa dengan langkah-langkah yang sistematis, rinci, cermat, dan jelas meskipun waktu yang dibutuhkan cenderung lama. Pada tahap Evaluasi dan Memikirkan Alternatif Penyelesaian, siswa kembali memeriksa jawaban secara teliti dan memikirkan alternatif jawaban yang lain meskipun ketika mencobanya, masih belum sampai pada hasil akhir. Sedangkan siswa bergaya kognitif impulsif hanya melalui 2 proses berpikir kritis, yaitu Pengenalan, dan Analisis. Siswa memecahkan soal dengan langkah-langkah singkat, kurang jelas, tidak beralasan logis, meskipun waktu yang dibutuhkan cenderung cepat. Pada tahap Evaluasi dan Memikirkan alternatif penyelesaian, siswa tidak berpikir untuk memeriksa kembali atau memikirkan cara lain untuk menyelesaikan soal. Kata Kunci: Proses berpikir kritis, Masalah matematika, Gaya kognitif reflektif dan impulsif.
Berpikir Aljabar Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Ditinjau dari Gaya Belajar Visual, Auditori, dan Kinestetik. Aghni Mey Azahra; Masriyah Masriyah
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.207 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p744-753

Abstract

Berpikir aljabar merupakan aktivitas mental seseorang dalam menyelesaikan masalah yang ditentukan dari enam aktivitas berpikir matematis untuk menganalisis, menggunakan simbol-simbol aljabar, menggunakan model matematika untuk mengetahui dan mewakili hubungan situasi matematika dengan aljabar serta perubahan dalam berbagai konteks. Pendekatan yang paling tepat untuk membangun dan mengembangkan berpikir aljabar siswa adalah pemecahan masalah Salah satu karakteristik siswa yang harus dipahami dan diperhatikan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran adalah gaya belajar siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan berpikir aljabar siswa SMP dalam menyelesaikan masalah aljabar ditinjau dari gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket gaya belajar, soal tes proses berpikir aljabar siswa, dan pedoman wawancara. Subjek penelitian 3 siswa kelas VIII di SMPN 1 Krian berdasarkan gaya belajar yang diperoleh dari hasil angket gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik dengan kemampuan matematika yang setara yaitu kemampuan matematika sedang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga subjek melakukan keenam indikator dari tahap generalisasi, abstraksi, berpikir dinamis, pemodelan, berpikir analitis, dan organisasi. Siswa gaya belajar visual dan kinestetik menentukan aturan umum persamaan yang digunakan dalam memecahkan masalah menggunakan simbol aljabar. Sedangkan siswa gaya belajar auditorial mengungkapkan penjelasan secara verbal (kata-kata). Kata Kunci: Berpikir aljabar, masalah aljabar, gaya belajar.
Kemampuan Numerasi Siswa SMP/MTs yang Bergaya Belajar Visual, Auditorial, dan Kinestetik pada Konten Pengukuran dan Geometri Resti Elmi Mubarkah; Masriyah Masriyah
MATHEdunesa Vol 12 No 1 (2023): Jurnal Mathedunesa Volume 12 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mathedunesa.v12n1.p176-193

Abstract

UNESCO emphasizes that one of the determinants of the progress of a nation is numeracy skills. The numeracy skills of Indonesian students are still unsatisfactory. Students' understanding of measurement and geometry content is very low so their learning outcomes are also low. Low numeracy skills and poor understanding of the material in measurement and geometry content are caused by various things, such as learning styles. Each student has a different learning style, such as visual, auditory, and kinesthetic learning styles. This research is qualitative descriptive research according to its aim to describe the numeracy abilities of SMP/MTs students with visual, auditory, and kinesthetic learning styles in measurement and geometry content. The subjects of this study were three students of class VIII-B at MTs Negeri 1 Magetan with different learning styles and equal mathematical abilities. Methods of data collection in this study are through a learning style questionnaire, written tests, and interviews. The written test is in the form of a math ability test and a numeration assignment. The results of this study were: 1) student with a visual learning style mastered the indicators of communication skills, mathematization, choosing strategies to solve problems, and using language and symbolic, formal, and technical operations while indicators of numeracy skills that were not mastered were indicators of representational and reasoning abilities and argument; 2) student with an auditory learning style master indicators of communication skills, mathematization, and choosing strategies to solve problems while indicators of numeracy skills that are not mastered are indicators of representation, reasoning and argument abilities, and using language and symbolic, formal, and technical operations; 3) student with a kinesthetic learning style only master indicators of mathematical ability and choose strategies to solve problems while indicators of numeracy skills that are not mastered are indicators of communication, representation, reasoning and argument abilities, and using language and symbolic, formal, and technical operations.